The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Permintaan Lexia


__ADS_3

Ruangan itu terasa begitu sesak bagi lexia, meskipun ruangan itu begitu besar dan terlihat mewah, tetapi bagi lexia ruangan itu menyesakkan, dia merasa telah di bodohi dan telah tertangkap basah pula oleh Daren.


"Jadi ini yang kau maksud dengan kejutan Alvin? Aku tidak tahu itu, jadi yang menolongnya kabur adalah orang-orangmu." Ucap Daren dengan rahangnya yang mengeras.


Alvin tersenyum tenang di memegang erat tangan lexia, dan itu tidak terlepas dari pandangan Daren.


"Bukankah ini adalah hal wajar tuan Daren? Menangkap sosok wanita yang menyamar sebagai keponakanku? Bukankah lexia sudah berada di tempat yang tepat, lagi pula lexia lebih aman denganku dibandingkan denganmu atau ayahku, aku menjaganya dengan baik, benarkan lexia?" Ucap Alvin sambil mengeratkan genggamannya.


Lexia mencoba melepaskan tangan Alvin tetapi tangannya di genggam erat olehnya.


Daren tidak berhenti menatap sosok cantik lexia, apalagi gaunnya yang begitu menantang dan terbuka memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang seksi, hal ini menyiksa Daren, dia tidak ingin lexia menjadi pemandangan empuk pria-pria yang hadir di sana.


Daren maju beberapa langkah, tubuh tingginya sama persis dengan Alvin yang kini berambut coklat terang.


"Aku ingin berbicara dengan lexia, tentu kau tahu wanita yang ada di sampingmu itu milikku, dan kau telah mencurinya dariku." Ucap Daren dengan gigi menggertak.


Alvin tertawa mendengar uraian Daren. "Lexia bukan milik siapapun Daren, dia memiliki kebebasan memilih siapa yang akan menjadi pilihannya, aku sebagai temannya sudah tentu harus melindungi dari orang-orang yang merasa bahwa lexia adalah miliknya."


"Teman?? Jangan membuatku tertawa Alvin, apa sebenarnya yang kau inginkan dari lexia, kau tidak bisa menyembunyikannya, bagaimana jika ayahmu tahu keberadaan lexia yang sudah membohonginya." Bisik daren.


Jantung lexia seakan mau melompat, dia ingin sekali pergi dari kekacauan yang ditimbulkan oleh Alvin, tiba-tiba tangannya yang bebas di genggam oleh Daren, membuat lexia melotot memandangi mereka berdua.


Sial ! Sebentar lagi mereka jadi bahan perhatian orang-orang.


"Itu bukan masalah Daren, meskipun ayahku tahu dia tidak akan bisa melakukan apapun selama aku yang melindunginya, lagi pula lexia senang tinggal bersamaku. Benarkan lexia?" Ucap Alvin sok manis.


Lexia hanya menutup rapat bibirnya, Alvin sialan ini sepertinya merencanakannya dari awal, sepertinya dia memiliki dendam kepada daren, kenapa dia berbuat seperti ini?


"Kalau begitu aku ingin berbicara kepada lexia." Bisik daren menggenggam erat tangan lexia yang sudah gelisah, dia menyadari tatapan orang-orang kini mengarah kepada mereka bertiga.


"Tidak, aku yang bertanggung jawab dengan keamanan lexia, aku tidak bisa membiarkan dia pergi, bukankah pergi bersamamu hal yang paling membahayakan untuknya?" Ucap Alvin tajam.


Alvin melepaskan tangan Daren dari genggamannya kepada lexia, dia kemudian melangkah menjauhi Daren yang frustasi. Lexia berbalik menatap wajah Daren yang murka, ketika mata mereka bertemu jantung lexia berdegup kencang, tiba-tiba napasnya menjadi tidak teratur.


Daren menggertakkan giginya, menatap sosok lexia dari kejauhan dengan pria lain Yang berada di sampingnya seakan dia ingin membunuh Alvin sekarang juga.


"Lihat saja, siapa yang akan menang dengan permainan ini." Bisik daren.


~


Lexia melepaskan genggamannya kepada Alvin. Lalu menatapnya tajam.


"Jadi, ini yang kau rencanakan? Kau bilang Daren tidak akan ada di pesta ini, kau sengaja mempertemukan kami Alvin." Ucap lexia geram.


Alvin tersenyum. "Maafkan aku lexia, bukannya aku sengaja, ini hanya bentuk kejengkelanku kepadanya, bagaimana bisa dia menyembunyikan lovelia dengan kondisinya yang seperti itu? Biar bagaimanapun dia keponakanku satu-satunya." Ucap Alvin menaikkan bahunya.


"Erm..kau sudah bertemu dengan lovelia?" Tanyanya.


"Ya, aku sudah bertemu dengannya, aku senang karena perlahan dia mulai sembuh, kau tahu mereka keluarga Burchard terlalu berlebihan, mereka pikir ayahku seorang monster? Akan membuang cucunya jika kondisinya seperti itu?" Alvin menggeleng putus asa.


"Apakah aku disini juga bersalah karena berpura-pura menjadi keponakanmu? Aku kan hanya bekerja." Ucap lexia memainkan tangannya.

__ADS_1


"Ya, kau juga bersalah lexia, anggap saja ini hukumanmu." Ucap Alvin tiba-tiba mengecup pipi lexia lalu menatap Daren dari kejauhan.


Mata lexia melotot, wajah sumringah terpampang di wajahnya, senyum cerah menghiasai wajah alvin. "Jadi begini rasanya membalas dendam kepada Daren, lihat wajahnya sepertinya dia bisa membunuh seekor singa ketika aku mencium pipimu, sepertinya dia betul-betul jatuh cinta kepadamu."


Lexia melotot mendengar penuturan Alvin, 'jatuh cinta? Wajah murka seperti itu kau bilang dia sedang jatuh cinta?'


Lexia menggeleng melihat Alvin tertawa renyah melihat ekspresi lexia.


"Dia sinting." Ucap lexia.


Mereka berjalan bersama ketika lexia mengatakan sudah lelah dan ingin segera pergi dari pesta itu, apalagi tatapan Daren kepadanya terlihat begitu mengerikan. Beberapa bodyguard sudah mengelilingi mereka ketika mereka hendak berjalan di parkiran, mereka melindungi mereka dari setiap orang yang berada dekat dengan mereka.


Tetapi segerombolan pria berpakaian hitam memblokir keduanya, para bodyguard Alvin berjatuhan karena kalah jumlah ketika mereka bertarung, mereka menjatuhkan tubuh pengawal-pengawal itu begitu mudahnya. Sedangkan Alvin di serang pada Tengkuknya hingga dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Daren berjalan santai mengarah kepada lexia yang berdiri di tengah-tengah orang yang berjatuhan, dengan ketakutan lexia menatap sekitar puluhan pengawalnya sudah menghalangi jalan lexia, mata lexia melotot seketika berhadapan dengan Daren. Senyum terpampang di wajah daren yang licik.


"Kita bertemu lagi lexia, kali ini kau tidak akan bisa pergi dariku lagi." Ucapnya.


Satu kecupan dibibirnya membuat lexia kewalahan, apalagi kali ini Daren melakukannya dengan kasar dan intens, dia melepaskan ciumannya, Melihat bibir lexia berdarah membuatnya sedikit puas.


Tamparan telak mendarat di pipi Daren, dia masih tersenyum dengan tamparan lexia, dengan kedua tangannya dia mengangkat lexia ala bridal dan membawanya ke dalam mobilnya, tidak memperdulikan pemberontakan mati-matian lexia di tubuhnya.


"Kali ini aku tidak akan berlaku lembut lagi kepadamu lexia, malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya." Janji mengerikan yang didengar dari mulut daren membuat lexia bergerak keras di tubuhnya hingga Daren mengeratkan pelukannya dan kecupannya.


"Lepaskan aku brengsek, lepaskan aku!!" Teriak lexia mengerang dengan tindakan Daren pada tubuhnya.


"Kau harus belajar menjadi patuh lexia, dan kali ini aku sendiri yang akan mengajarimu bagaimana kau harus tunduk kepadaku." Bisiknya sambil menaikkan satu alisnya ketika menatap gaun seksi lexia dihadapannya.


"Aku akan membuatmu menderita lexia." Bisiknya. Lexia merasa dia tidak akan bisa lagi lepas dari pria iblis ini.


Selama di perjalanan Daren mengambil kesempatan yang ada untuk melepas segala frustasinya selama di tinggal lexia, kecupan-kecupan itu terus mendarat di tubuh lexia. Membuat tubuh lexia menggeliat di dalam mobil yang sempit itu.


"Tidak mau, berhenti...lepaskan aku brengsek." Ucapnya di sela-sela napasnya yang semakin melemah.


"Salahmu sendiri telah pergi dariku, seharusnya kau menyadari resiko jika kau melarikan diri dariku lexia, aku tidak membuatnya mudah sayang." Bisik daren.


Meskipun lexia membenci apa yang di lakukan daren, tetapi dia tidak bisa memungkiri dia merindukan wangi dari tubuh Daren serta ciumannya meskipun dia melakukannya dengan kasar. Lexia membalas kecupan Daren membuatnya tercengang, mereka bergelayut satu sama lain sampai tiba di apartemen Daren.


Supir Daren sudah keluar dari mobilnya dan tidak berniat mengganggu aktivitas mereka berdua, sudah beberapa menit mereka berada di dalam mobil, para pengawal saling melirik melihat mobil hitam mewah itu sesekali bergerak dengan sendirinya.


Daren melepaskan lexia Karena lexia sepertinya pingsan atau dia tertidur. Daren mengguncang lexia tetapi dia tertidur lelap, sebelum Daren keluar dia memperbaiki gaun lexia menutup kembali tubuhnya dan memakaikannya jas yang dilepaskannya.


Dia kembali menatap wajah cantik lexia lalu kembali mendaratkan bibirnya di pipinya kemudian dia membawa lexia masuk ke dalam apartemennya alih-alih di mansion Burchard.


~


Daren tersenyum puas, akhirnya apa yang menjadi miliknya telah kembali ke pelukannya, dia melepaskan beberapa kancing kemejanya lalu melangkah ke lexia dan melepaskan jas yang dikenakannya. Wajah polos lexia membuat Daren tidak berhenti untuk terus memandanginya.


Dia membaringkan tubuhnya di samping lexia menatapnya dengan penuh kerinduan, dia mendekati wajah lexia mengecup bibirnya sekilas kemudian menatap wajah cantik yang hobi melarikan diri darinya itu.


Daren tidak bosan-bosannya mengamati lexia ketika tertidur, sampai menatap tajam lekukan yang menggodanya.

__ADS_1


"Ugh sial! Kapan dia bangun." Umpat Daren. Dia menarik dagu lexia agar dia terbangun tetapi matanya masih terpejam rapat.


"Apakah lexia sedang berbohong lagi? Berpura-pura tidur agar dia terbebas dari seranganku?" Ucap Daren.


Daren menjalarkan tangannya di permukaan tubuh lexia, dia ingin melihat reaksi lexia, apakah dia memang tertidur atau sedang berpura-pura, tangannya sekarang berada di leher lexia hingga turun ke tempat privasi lexia, dia memainkan tangannya dengan ahli disana, lalu menatap wajah lexia yang masih tertidur.


"Sial ! Dia betul-betul tertidur? Di saat seperti ini?" Ucap Daren bangun dari tidurnya lalu melepaskan semua pakaiannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Lexia membuka kedua matanya, dia betul-betul menahan erangan dari mulutnya. "Dasar kau mesum Daren." Bisik lexia segera bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari menuju pintu kamar yang terkunci, dia menggerak-gerakkan gagang pintu itu tetapi sayang sekali Daren telah menguncinya.


Bunyi air dari dalam kamar mandi tidak terdengar lagi, lexia kemudian kembali ke ranjang dan berpura-pura tertidur dengan pulas, wangi Daren yang segar sehabis mandi menghantam hidung lexia, entah mengapa wangi ini sangat di sukai lexia.


Hanya mengenakan boxer, Daren bergabung dengan lexia yang ada di sampingnya di atas tempat tidur, dia sontak berbalik mendengar napas lexia yang terdengar tidak teratur.


"Lexia? Kau bangun?" Ucap daren memperhatikan wajah lexia dari jarak begitu dekat, kemudian kecupan mendarat di bibirnya, lalu melumatnya perlahan agar bibirnya membuka.


"Lexia? Ucap Daren. "Ck, bagaimana kau bisa tidur dengan gaun yang masih melekat di tubuhmu lexia, hei kau berpura-pura bukan?" Desisnya.


Lexia masih menutup rapat kedua matanya, dia mencoba menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya ketika daren sekali lagi bermain-main di sana, di kelembutan lexia lalu memancingnya agar dia terbangun dan membuka kedua matanya.


Lexia masih bertahan, meskipun tubuhnya sudah di permainkan oleh Daren tetapi lexia bertahan masih tetap tertidur pulas. "Kau betul-betul senang menyiksaku lexia." Ucap Daren menarik tubuh lexia dan memeluknya erat dan akhirnya dia tertidur pulas.


Setelah beberapa jam yang menyiksa lexia membuka kedua matanya karena dia begitu gerah dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya serta pelukan daren yang posesif membuat sekujur tubuhnya gerah dan keringatan.


Perlahan lexia mengangkat tangan Daren dari pinggangnya, kemudian dia merangkak Secara perlahan dan turun dari tempat tidur ketika merasa Daren tidak akan bangun. Dia berjalan dan mengambil handuk dan kemudian mandi setelah beberapa menit dari kamar mandi lexia dengan perlahan membuka kamar mandi dan keluar dari sana.


"Kau mandi lama sekali lexia, aku dari tadi sudah menunggumu." Ucap Daren yang telah tidur dengan menopang tangan pada kepalanya sambil menatap lexia dengan senyum di wajahnya.


Lexia melotot menatapnya, Daren kini bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah dan berdiri di hadapan lexia dengan angkuh.


"Tidak ada yang akan menghalangiku lagi untuk memilikimu malam ini sayang." Bisikan Daren bagai janji mengerikan dari kegelapan, lexia merinding mendengarnya.


"Kau harus menerimanya lexia, aku sudah pernah mengatakan kepadamu, disaat kau mengingkari kontrak kita maka aku bisa melakukan apapun padamu termasuk memilikimu malam ini." Lexia sedang berpikir keras bagaimana keluar dari situasi ini.


Tiba-tiba saja lexia mendekati daren dan memeluknya erat. "Ki..kita menikah, bagaimana? Itukan yang kau inginkan, kita menikah dan kau bisa memilikiku." Ucap lexia.


Daren menaikkan alisnya. "Apa kau berusaha berunding lagi denganku? Tidak akan lexia, aku sudah menunggu cukup lama dengan jawabanmu, jika kau ingin menikah hanya karena ingin menghindari aku memilikimu malam ini percuma saja, aku pasti tetap akan menikmati tubuhmu."


Daren mengangkat tubuh lexia dan membantingnya ke atas tempat tidur. Lexia begitu teledor karena handuk yang dipegangnya erat-erat di tubuhnya terlepas begitu saja, sehingga dia kembali menarik selimut agar Daren tidak melihat pemandangan yang membuat Daren menelan ludahnya beberapa kali.


"Jika kau menyentuhku malam ini, tanpa memperdulikan permintaanku, jangan berharap kau bisa memilikiku lagi, aku akan pergi darimu bagaimanapun caranya." Ancam lexia.


Daren menaikkan alisnya dia tertawa mengejek. Dia sudah menjulang di atas lexia.


"Bukan tempatmu mengancam di waktu seperti ini lexia, yang harus kau lakukan sekarang ini adalah tetap diam dan nikmati sentuhanku, kau mengerti." Geram daren menarik keras selimut lexia.


"Jika kau melakukannya tanpa memperdulikan permintaanku, aku akan membencimu seumur hidupku, jika kau melakukannya sekarang, kau akan bangun dan mendapati diriku tidak akan bernyawa lagi." Ancam lexia, menatap tajam kearahnya sambil menutup bagian tubuhnya yang privat meskipun tidak ada gunanya.


Daren tertawa tidak percaya, dengan mudahnya gairahnya memudar secepat ancaman lexia kepadanya.


"Jadi, yang kau inginkan pernikahan? Baik, jika itu yang kau inginkan, besok kita akan menikah dan kau tidak memiliki alasan lagi untuk menolakku, kau paham?" Ucap Daren, beranjak dari lexia dan tidur menyamping memandangi wajah lexia yang mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


Daren menarik tubuh lexia dan kemudian memeluknya erat. "Berhenti bergerak, aku ngantuk, kau juga harus tidur besok kita akan sibuk." Bisiknya.


__ADS_2