The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 11


__ADS_3

Sebuah pesta akan di gelar di kediaman Daneil, kali ini pesta itu diadakan di Oklahoma, salah satu Resort milik Tuan Robert, meskipun Daneil tidak memikirkan tentang ulang tahunnya sendiri, tetapi tuan Robert menginginkan agar pesta ulang tahun cucunya di adakan di sana, dia bisa mengundang seluruh teman-temannya untuk menginap di tempat itu.


"Entah dia datang atau tidak Neil, dia sedang kasmaran, kau harus mengundang gadisnya dan dia akan ikut kemanapun kekasihnya akan pergi." Ucap Dazon di telepon.


"Sebentar lagi aku akan menemui Ax, hari ini dia lagi-lagi tidak kembali ke mansionku, salah satu orangku bilang dia bermalam di rumah kekasihnya, Ax sekarang memiliki level yang berbeda dengan kita Neil, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mencemoohnya."


"Pastikan Ax datang Daz," ucap Neil kemudian dia mematikan ponselnya.


Dazon mendengar suara mobil di pelataran mansionnya, dia segera keluar ketika menatap Ax baru saja memarkirkan dan keluar dari mobilnya.


"Lihat, siapa yang datang?" Ucap Dazon menaikkan satu alisnya.


"Semalam di mana kau menginap sepupu?" Tanyanya.


Ax memasang wajah tidak tahu menahu dan tidak perduli. "Apa yang ingin kau dengarkan Daz, jika di dalam pikiranmu aku sudah tidur dengan Fairley, kali ini kau benar, sekarang apa lagi pertanyaanmu." Ucap Ax cuek dia berjalan dan melewati Dazon yang ternganga mendengar ucapan Ax.


"Hei, hei tunggu Ax, benarkah? Kau bisa menceritakan detailnya kepadaku." Ucapnya sambil menghalangi jalan Ax.


"Kau berisik sekali, aku harus mandi dan mengganti pakaianku," ucapnya.


Dazon masih ternganga di tangga, dia menggaruk kepalanya, dan turun ke lantai 1 sambil kembali ke meja sarapan.


~


Fairley sekarang ini berada di terowongan, di sana orang-orang berlalu lalang untuk naik kereta ekspres, dia menyebarkan brosur kepada orang-orang, masih ada puluhan brosur yang mesti dia bagikan, dia mungkin akan kembali ke rumahnya sore hari karena orang-orang yang lewat sangat sedikit di jam kerja seperti ini. Fairley mengambil napas panjang, dia mengingat kembali kejadian semalam dan sampai tadi pagi, membuat pipinya tiba-tiba merona.


Telepon di sakunya berdering, dia menatap nama yang ada di layar ponselnya dan segera menjawabnya.


"Kau di mana?" Tanya Ax.


"Aku..aku..,kenapa kau mau tahu aku dimana? Aku sedang kerja." Ucap Fairley.


"Kerja? Di Restaurant itu?"


"Bukan, aku sibuk." Ucap Fairley, dia segera menutup ponselnya.


Fairley kembali membagikan brosurnya dan berjalan sampai ke sudut terowongan.


Seseorang berdiri di antara tembok, dia mengambil beberapa foto Fairley yang sedang bekerja. "Gadis sepertimu tidak pantas bersama Ax, lihat saja aku akan membongkar kedokmu jika waktunya tiba." Ucapnya sambil tersenyum miring.


~


"Ck dia menutupnya." Ucap Ax menatap ponselnya. Dia kemudian mencari lokasi Fairley dari GPS-nya, dia sudah menghubungkan ponsel Fairley dengan ponselnya tanpa sepengetahuan Fairley sehingga Ax bisa melacak dimana saja Fairley berada.


"Aku pergi," ucap Ax kepada Dazon.


"Hei, hei tunggu dulu, dua hari lagi ulang tahun Daneil di Oklahoma, aku dan Jennifer akan berangkat besok pagi ke sana, jadi kalau kau mau ikut sebaiknya jangan terlambat, kami akan berangkat jam 8 pagi jadi....


"Aku naik jet pribadi milik kakek, jadi kau bisa berangkat lebih dahulu bersama Jennifer." Ucap Ax pergi dengan terburu-buru tanpa mendengarkan Dazon berbicara.


~


Fairley masih berada di terowongan siang itu padahal sudah lewat makan siang, dia tidak akan kembali ke rumahnya sebelum brosur di tangannya habis dan dia bisa membawa pulang sedikit dollar dan mengumpulkannya untuk ibunya yang ada di desa.


Fairley duduk di salah satu tempat duduk di terowongan, orang-orang masih berlalu lalang di sana, kakinya terasa letih karena seharian berdiri di sana. Sambil duduk dan membiarkan kakinya beristirahat, dia menyodorkan brosur-brosur kepada orang-orang yang lewat.


Dari kejauhan Ax menatapnya, melihat Fairley tersenyum sambil menyodorkan kertas-kertas itu, membuat Ax marah. Dia berjalan perlahan dan sekarang dia berdiri di hadapan Fairley.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ax.


"Aku sedang kerja, pergilah." Ucap Fairley. Dia tetap menyodorkan brosur-brosur kepada orang-orang yang lewat, Ax mengambil brosur itu dan melemparkannya di udara hingga beterbangan dan jatuh di lantai terowongan.


Fairley berdiri dan menatap marah kepada Ax. "Apa yang kau lakukan? Kau tahu yang sedang kau lakukan, ini pekerjaanku jadi sebaiknya kau minggir." Ucap Fairley.


Dia berdiri dan mengambil satu persatu kertas-kertas yang ada di lantai terowongan dan tidak memperdulikan Ax yang berdiri di sana.


"Berapa, berapa yang kau butuhkan, sampai kau harus berjongkok seperti itu dan seharian ada di terowongan berbahaya ini !" Ucap Ax.


Fairley berdiri di hadapannya. "Inilah hidupku Ax, aku mencari uang dengan seperti ini, jika kau tidak suka melihatnya kau bisa pergi dari sini." Ucap Fairley marah.


Ax kembali mengambil kertas-kertas yang ada di tangan Fairley dan kembali membuangnya di lantai terowongan.


"Apa yang kau lakukan?!" Fairley mencoba mengambilnya tetapi tangannya di pegang erat oleh Ax.


"Kau tidak bisa berada di tempat berbahaya seperti ini seharian, ikut aku sekarang !" Bentaknya. Dia menarik tangan Fairley keras membuat Fairley terpaksa mengikuti langkah besar Axton yang menariknya hingga keluar dari terowongan.


"Lepaskan aku Ax, lepaskan kataku, kau tidak punya hak melarangku melakukan apapun, aku harus kerja," Ucap Fairley.


"Aku punya hak, aku kekasihmu, jadi aku melarangmu melakukan pekerjaan itu," ucap Ax.


Fairley menggertakkan giginya kemudian menggeleng kepadanya. "Siapa yang kekasihmu? Apa kau pernah menanyakan bagaimana perasaanku? Kau sendiri yang memutuskan dengan seenaknya, aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai kekasihku jadi jangan campuri urusanku lagi." Ucap Fairley.


Wajah Ax yang marah bercampur kecewa terlihat jelas di wajahnya, dia tidak bisa menampik kata-kata Fairley yang memang benar.


Fairley menatapnya, dia terlihat canggung dengan kata-katanya sendiri, Fairley memutuskan untuk berbicara tegas dan mengakhiri segalanya.

__ADS_1


"Kau sudah lihat kan bagaimana kehidupanku, beginilah aku memenuhi kebutuhan hidupku, kau sudah lihat dari awal kehidupan kita sangat berbeda, jadi sebaiknya kita akhiri pertemuan kita kali ini, jangan pernah menemuiku lagi, itu sangat menggangguku, lebih baik kita tidak usah bertemu dan kembali ke kehidupan kita masing-masing." Ucap Fairley, genggaman Ax terlepas begitu saja dari tangan Fairley.


Fairley menatap tangannya yang bebas, dia segera meninggalkan Ax dan kembali ke terowongan, Ax masih berdiri di atas tangga terowongan itu menatap Fairley dari kejauhan.


~


"Thomas, kau mendengar semua kata-kata gadis itu? Hebat, baru kali ini seorang gadis menolak Axton." Ucap Dazon kepada Thomas.


Sejak Ax pergi dari mansion pagi tadi, dia memutuskan untuk mengikuti Ax yang pergi, dan dia membawa Thomas untuk mengikutinya.


Thomas memperhatikan tuan mudanya berdiri di sana seorang diri menatap kepergian gadis itu, dia berjalan perlahan dan naik ke dalam mobilnya.


"Thom, ikuti Axton, sekarang dia akan kemana? Kita harus mengikutinya, pria yang sedang putus cinta bisa melakukan hal-hal nekat yang berbahaya, apa dia akan mengiris tangannya dengan pisau tajam? Atau dia akan melompat dari Rollercoaster yang tinggi? Atau dia akan membeli senjata di tempat pembelian ilegal? aku tidak ingin kehilangan sepupuku secepat itu," ucap Dazon sambil berkhayal dan menggelengkan kepalanya.


Thomas mengikuti semua saran Dazon, meskipun dari nada suara Dazon hal yang di alami oleh Ax juga menarik baginya, dia memang selalu melakukan hal-hal konyol, kadang dia mengikuti ayahnya sembunyi-sembunyi, jika Xaphier pergi di malam hari bertemu orang-orangnya yang berbahaya di Milan, dia pasti melakukan sesuatu hal untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh ayahnya, keingintahuannya sangat besar bahkan berbahaya bagi dirinya sendiri, kadang dia menguntit kakeknya yang sedang rapat dengan orang-orang penting, karena keamanan yang sangat tinggi, dazon tentu saja ketahuan oleh kakeknya, Semua hal itu membuat tuan muda satu ini begitu tertarik, dia sangat bertolak belakang dengan sikap ayahnya yang tegas.


~


Ax memarkirkan mobilnya di salah satu Club tempat biasanya mereka berkumpul, dia berjalan dan langsung masuk di ruangan tertutup VVIP dan memesan minuman untuk menghilangkan rasa aneh yang mendekam di dadanya setelah mendengar ucapan Fairley siang itu.


Dia meneguk minuman langsung dari botolnya dan mengingat kembali ucapan Fairley kepadanya.


Pintu club terbuka, Dazon masuk dan dengan santainya mengangkat tangannya menyapa Ax.


"Kau disini?" Ucap Dazon.


"Kenapa kau tahu aku ada disini Daz?" Tanyanya.


"Tentu saja aku tahu karena aku mengikutimu Ax, aku datang bersama Thomas, tenang saja semua dapat di atasi kalau kau ingin mengamuk." Ucapnya, sambil duduk di samping Ax dan mengambil minuman dan menuangkan di gelasnya.


Dazon menatap Ax yang terlihat gusar dan merana, dia ingin sekali mengejeknya tetapi kali ini dia tidak tega kalau melihat raut kekecewaan di wajah Axton.


"Kau akan ikut dengan kami besok?" Tanyanya.


"Entahlah, aku..akan memikirkannya." Ucap Ax kembali meneguk minuman itu, matanya tidak fokus dia seperti kehilangan pegangan.


"Apa kau perlu seseorang untuk dipukul?" Tanya Dazon.


Ax menaikkan alisnya, "kenapa aku harus memukul orang?"


"Karena kau sedang, yah....apa aku harus mengatakannya, sebenarnya Thomas menyarankanku untuk tidak berbicara bahwa kau baru saja di tolak oleh seorang wanita, dia melarangku berkata seperti itu." Ucap Dazon.


Ax menggeleng tidak perduli. "Kau tidak ingin pulang? Kau sudah lama minum di club ini Ax." Ucap Dazon.


~


Fairley sudah tiba di rumahnya, sesampainya di rumah, dia segera mengambil cuciannya dan menaruhnya di keranjang, setelah itu dia memanaskan makanannya yang disimpannya di dalam kulkas dan segera masuk ke kamar mandi karena tubuhnya begitu gerah dan terasa lengket.


Ucapannya masih terngiang-ngiang di telinganya, ada perasaan aneh yang di rasakannya, seperti perasaan bersalah.


"Kenapa aku harus merasa bersalah? Aku harus mengatakan yang sebenarnya, aku dan dia sangat berbeda," ucapnya sambil mengambil handuknya kemudian mengenakannya dan keluar dari kamar mandi.


Suara piring pecah membuat Fairley terkejut, dia membulatkan matanya, tiba-tiba dia berhenti bergerak, "pencuri?" Gumamnya. Dengan cepat dan perlahan Fairley mengenakan pakaiannya dan mengintip dari balik pintu yang untungnya dia kunci.


Seorang pria berpakaian hitam sedang berada di dapurnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat, dia mengambil pemukul baseball di belakang lemarinya dan memegangnya kuat-kuat. Tangannya gemetar, dia menatap ponselnya dan memikirkan siapa yang bisa menolongnya tetapi sayangnya tidak ada seorangpun yang bisa dia mintai tolong.


"Tetangga sebelah, oh ya, aku bisa minta tolong kepadanya, tapi bagaimana caranya?" Gumamnya, dia sama sekali tidak memiliki nomor ponsel paman itu. Jantung Fairley berdetak kencang.


Seseorang begitu saja terbersit di benaknya pertama kali dia melihat pencuri itu, 'Axton', jawabannya ada di depan matanya, dia tinggal menghubungi Axton tetapi egonya menghentikan dirinya untuk meneleponnya.


Lemari di buka dengan cukup keras membuat Fairley ketakutan, tanpa menunggu lama, dia menekan 911 setelah itu tangannya yang bergetar segera menghubungi Ax.


~


Ponsel Ax berdering sejak tadi, dia tidak begitu memperhatikannya, tangannya meraba saku jaketnya dan mengambil ponselnya, tiba-tiba matanya membelalak ketika melihat siapa yang meneleponnya. Ax kemudian mengangkat teleponnya.


"Halo Fairley."


"Ax, ada pencuri di rumahku, aku sudah menghubungi 911 tetapi aku sangat takut, pencuri itu masih ada di sana, dia berada di dapur."


Ax lalu berdiri dengan segera, kesadarannya kembali pulih seketika, tanpa menunggu lama dia segera keluar dari club dengan tergesa-gesa dan segera naik ke mobilnya dan pergi.


~


"Tuan Dazon, bagaimana? Apakah berhasil?" Tanya Thomas yang berada di parkiran sedang menatap kepergian Ax yang tergesa-gesa.


"Tentu saja berhasil, gadis itu langsung menghubungi Ax." Ucapnya sambil tersenyum. Dia kemudian menelepon seseorang.


"Ax Segera datang sebaiknya kau keluar, gadis itu sepertinya menghubungi 911."


"Baik tuan."


"Lain kali Ax harus berterima kasih kepadaku." Ucap dazon. "Kita kembali ke mansion Thom."


"Baik tuan."

__ADS_1


~


Mobilnya melaju kencang melawan angin malam, setelah 15 menit perjalanan Ax tiba di depan rumah Fairley, dia segera masuk ke dalam tetapi dia berhenti dan mengambil kayu yang tersampir dari balik pagar, tangannya menggenggam erat kayu itu dan masuk ke dalam rumah Fairley.


Semuanya berantakan dan jatuh berserakan diantai, Ax memeriksa semuanya, sepertinya Pencuri itu sudah pergi. "Fairley ! kau dimana Fairley, ini aku Axton." teriak Ax.


Pintu kamar terbuka lebar, segera saja Fairley berlari dan menatap Ax yang berdiri di sana, tangannya masih memegang pemukul baseball dengan bergetar.


"Ax, kau..datang?" Ucapnya dengan suara bergetar, tanpa menunggu lama Ax menghampirinya dan memeluknya erat-erat.


"Kau tidak apa-apa? kau tidak luka," Ucap Ax sambil memeriksa kondisi tubuh Fairley. "Pencuri itu pergi ketika mendengar suara mobilmu, aku sangat takut." ucap Fairley memeluk erat Ax. Dia merasa begitu nyaman dan aman, Seakan-akan pelukan Axton adalah tempat teraman di dunia.


Fairley kini sudah tenang, setelah memeluk Ax hampir 15 menit lamanya. "Kenapa tidak ada yang datang? padahal aku sudah menghubungi polisi." Ucap Fairley.


Fairley menghapus air matanya, kini, matanya terarah kepada Ax yang berdiri di hadapannya. Dia berdiri dengan canggung.


"Kau sudah merasa baikan?" tanya Ax.


Fairley mengangguk, "Aku..aku meneleponmu karena aku sangat ketakutan dan...


"Apa kau hanya memanfaatkanku?" tanya Ax menatapnya tajam.


"Tidak Ax, tentu saja tidak." Ucapnya sambil menautkan jari-jarinya.


"Jadi kenapa kau meneleponku? kau bilang kau tidak menyukaiku, hidup kita berbeda, apa sekarang kau memanfaatkanku?" tanyanya.


Fairley menggelengkan kepalanya, "Jadi, katakan kepadaku bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Ax.


"Aku..aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku, aku tadi sangat ketakutan dan tiba-tiba dipikiranku hanya kau dan...


"Aku pulang, jika kau tidak bisa menjelaskan perasaanmu padaku, lebih baik aku menjauhimu sebelum kau akan menyesal telah memanggilku kemari, aku bisa saja menyerangmu kapan saja Fairley." ucap Ax.


Dia kemudian berbalik dan menuju ke pintu luar, Fairley berjalan beberapa langkah kemudian kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.


"Aku...aku menyukaimu." Ucap Fairley, dia menatap Ax yang berhenti di pintu masuk.


"Ulangi sekali lagi." pintanya.


"Aku menyukaimu Axton." ucap Fairley dengan kaku, pipinya merona menggemaskan. Ax tersenyum penuh kemenangan dia berjalan dan menarik Fairley ke pelukannya.


"Aku sudah lama ingin mendengar kata-kata itu dari bibirmu Fairley." ucapnya. Dia memeluknya erat dan mengangkat tubuh Fairley, mereka saling menatap, Ax tanpa ragu menciumnya dengan keras, tubuh Fairley seketika memeluk Ax dengan erat agar dia tidak terjatuh karena intensitas ciuman itu bisa membuatnya lupa diri.


Setelah beberapa menit yang membuat dua sejoli itu saling menautkan bibirnya, Ax akhirnya melepaskan bibir Fairley dan tersenyum melihat bibir Fairley sudah bengkak karena ulahnya.


"Kita ke mansionku, kau tidak bisa tinggal di tempat ini, di sini tidak aman lagi." ucap Ax.


Fairley mengangguk dan segera mengambil baju-bajunya di lemari, meskipun Ax melarang membawanya, dia bisa membelikannya baju yang lain tetapi Fairley bersikeras membawa pakaiannya dan barang-barang pentingnya.


"Sudah siap?" tanya Ax. Fairley menganggukkan kepalanya, Ax memegang tangan Fairley membawanya ke mobilnya di luar rumah.


Seseorang memperhatikannya sejak tadi, Erick mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Beres sir, dia sudah bersama tuan Axton."


~


Pukul 23.00 Mansion Burchard


Mereka telah tiba di mansion, setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk ke dalam mansion, suasananya begitu sepi meskipun beberapa pengawal masih berjaga di tempatnya masing-masing. Mereka hanya menunduk ketika Ax lewat, kepala pelayan di mansion membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


"Apakah anda ingin sesuatu tuan?" tanyanya.


Fairley menggelengkan kepalanya kepada Ax ketika Ax menatapnya. "Tidak perlu, kau bisa istirahat."


"Baik tuan."


Setelah memastikan kepala pelayan pergi Fairley memegang perutnya, "Aku lapar." ucapnya. Ax ingin memanggil kepala pelayannya tetapi Fairley menahannya.


"Aku tidak mau merepotkan mereka, biarkan aku yang memasak." Ucapnya.


"Kau tidak lelah?" tanyanya. Ax menarik tangan Fairley dan menyuruhnya duduk di depan pantry. "Kau duduk saja, biarkan aku yang membuatkan makanannya." Senyumnya.


Fairley menatap senyum itu dan cepat-cepat memalingkan wajahnya, dia kemudian memegang kedua pipinya, 'Mengapa jantungku berdetak hanya karena melihat senyumannya?' gumam Fairley, dia menggelengkan kepalanya agar dirinya sadar dari senyum Ax yang seakan menghipnotisnya.


"Sudah siap, kita makan bersama." Ax menghidangkan dua piring sandwich dengan isian daging dan sayuran, Fairley mencobanya dan menyukainya.


"Bagaimana rasanya? lezat?" tanyanya.


"Ya, aku suka." jawabnya.


Setelah makan, Ax menunjukkan kamar yang akan di gunakan oleh Fairley. Satu kamar kosong tepat di samping kamar Ax, meskipun begitu, kamar itu tidak kosong lagi karena sewaktu Fairley memutuskan menginap di mansion Ax, dia segera menelepon kepala pelayannya agar menyediakan satu kamar lengkap dengan pakaiannya.


"Kamarmu di sini, istirahatlah jika kau butuh sesuatu kau bisa mengetuk kamarku." Ax menunjuk kamarnya yang tepat di sebelahnya. Fairley masuk ke dalam kamarnya, dia hendak menutup pintu kamarnya, tetapi Ax menahannya, membuat Fairley menatapnya dengan heran.


"Ada apa?"


Ax memberikan kecupan dibibirnya. "Selamat tidur." Ucapnya, dia kemudian meninggalkan Fairley yang masih mematung di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2