
Hari itu lexia sudah bersiap-siap akan berjalan-jalan dengan Daren, pukul 9 pagi mereka sudah berada di meja makan dan menikmati sarapan mereka sebelum berangkat.
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" Tanyanya. Pertanyaan Daren di jawab dengan mata menyipit lexia, karena Daren tahu betul bagaimana kegiatan panas mereka semalam menguras tenaga lexia hingga sekali lagi dia hampir tidak sadarkan diri.
Daren tersenyum mengejek, ketika mengingat wajah cantik lexia mendesah dan mengeluhkannya ketika Daren berhenti bergerak-gerak malam itu, ia ingin melihat respon lexia.
"Kau tidak menjawabku lexia." Ucap Daren berhenti menyantap sarapannya.
"Kau menyebalkan daren, bukankah kau tahu betul bagaimana tidurku semalam Karena ulahmu." Ucap lexia dengan semburat merah di pipi cantiknya. Daren tertawa melihat tingkah lexia yang masih malu jika pembicaraan mereka mengenai kegiatan panas mereka semalam.
Suara langkah kaki Evan membuat Daren dan lexia menatap kedatangannya.
"Sir, Ada masalah." Dia membisikkan sesuatu kepada daren. Lexia menatap mereka berdua. 'kenapa sih mereka berbisik-bisik, apa yang Evan katakan?' gumam lexia memicingkan matanya menatap mereka berdua.
Daren berdiri, ekspresi wajahnya berubah menjadi tegang, tarikan napasnya panjang dan seketika dia menjadi marah, dia kemudian menarik tangan lexia membuat lexia terkejut.
"Daren, ada apa? Kenapa kau menarikku." Ucap lexia kaget, karena Daren membawanya dengan terburu-buru masuk ke dalam kamar dan beberapa penjaga sudah siap berdiri di sana menjaga pintu masuk.
"Ada apa daren?" Tanya lexia dengan wajah begitu heran dengan ketegangan Daren.
"Jangan pernah keluar dari kamar, tunggu di sini lexia, sepertinya kita kedatangan tamu, aku ingin kau mendengarkan aku, kau mengerti sayang?!" Ucap Daren sambil memegang bahu lexia agar dia mengerti situasinya.
"Baik, aku tidak akan kemana-mana, siapa tamu itu Daren?" Tanyanya.
"Dia William Luther dan Alvin Robert, aku tidak mengerti mengapa mereka berdua bisa datang kemari, apa yang mereka rencanakan bersama-sama datang kemari."
Lexia terkejut, tanpa sadar lexia kemudian memegang tangan Daren, "Apakah kau akan menemui mereka?" Tanyanya dengan menampilkan wajah khawatir.
Daren tersenyum mendengar nada khawatir lexia kepadanya, dia lalu mengecup kilat bibirnya dan memandangnya.
"Jangan khawatir sayang aku akan baik-baik saja." Dia kemudian tersenyum dan meninggalkan lexia sendiri di dalam kamarnya. Daren keluar dari kamar dan memerintahkan Evan untuk menambah penjaga di sekitar kamar yang di tempati oleh lexia.
~
Hari itu lovelia turun ke lantai 1 dan melihat ibunya sedang melamun di ruangannya, minuman pembunuh itu tengah menemaninya, dia terlihat kacau dengan rambut berantakan dan nyaris tanpa make up, lamunannya terhenti ketika mendengar pintu ruangannya membuka. Lovelia tersenyum menatap ibunya.
"Mom? Mom baik-baik saja? Kenapa mommy minum sepagi ini?" Ucap lovelia khawatir.
"Mommy baik-baik saja sayang, sebaiknya kembali ke kamarmu, selesaikan sarapanmu dan jangan lupa minum obatmu.
"Mommy tidak ingin cerita kepadaku, ada apa mom?" Ucap lovelia.
"Aku baik-baik saja lovely, dengarkan ibu, kembali ke kamarmu sekarang !" Bentaknya. Lovelia terkejut, mengapa ibunya bersikap seperti dirinya tidak penting? Lovelia merasa dirinya seperti seorang tahanan, lovelia menatap marah kepada ibunya dan segera meninggalkannya.
"Ugh, kepalaku sakit sekali, ini semua gara-gara gadis kecil itu mengacaukan segalanya, seharusnya sejak awal aku tidak menyetujui rencana gila Daren membiarkan gadis pemulung itu berpura-pura menjadi lovelia, sehingga Daren tidak perlu bertemu dengannya." Ucapnya sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut.
~
William serta Alvin sudah berdiri di depan gerbang di villa Daren, mereka datang berdua tanpa membawa penjaga sama sekali, keduanya tidak bisa begitu saja masuk karena puluhan pengawal Daren sudah berdiri menghadang mereka berdua.
Evan keluar dari gerbang dan menyapa mereka berdua. "Selamat pagi tuan Luther dan tuan Alvin."
"Dimana Daren? Kami ingin berbicara dengannya, ini sesuatu yang sangat penting dan mendesak." Ucap Alvin, seperti biasa dia selalu menampilkan wajah persahabatan alih-alih menampilkan wajah tegang seperti wajah William sekarang ini.
Alvin ingat betul bagaimana ekspresi william ketika mengetahui jika lexia telah dinikahi oleh Daren dan sepertinya dia betul-betul shock mendengarnya.
"Tuan daren tidak ingin menemui siapapun." Ucap Alvin dengan wajah tenang datar dan profesional seperti biasanya.
"Benarkah? Katakan kepada Daren, hal yang kami ingin bicarakan mengenai lexia dan Juan Robert." Ucap Alvin sambil bersedekap melangkah ke depan Evan.
__ADS_1
"Tentu dia ingin tahu bagaimana nasib istrinya jika dia tidak mau berbicara dengan kami, ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada tuanmu." Ucap Alvin.
Evan sedikit menunduk dan segera pergi untuk menyampaikan pesan Alvin kepada Daren.
Kenapa aku harus melakukan ini? Jika tuan Robert ingin menangkap lexia, aku pikir tidak ada urusannya denganku, apalagi lexia sudah menikah, sebenarnya aku tidak ingin terlibat dengan tuan Robert." Ucap William.
Alvin terkekeh. "Apakah kau tidak merasa ini semakin menarik? Aku tidak perduli lexia sudah menikah atau tidak, yang aku inginkan hanya menjauhkannya dari ayahku."
"Kenapa? Kenapa kau menentang ayahmu sendiri dan menolong lexia?" Tanya william.
"Dia tidak akan membiarkan lexia hidup jika dia sudah tertangkap, meskipun begitu singkat aku pernah menganggap lexia sebagai keponakanku, dan sekarang aku adalah teman dekatnya, sepantasnya aku harus menolongnya bukan?" Ucap Alvin dengan senyum selalu menghias wajahnya.
William menggelengkan kepalanya dia tidak mengerti dengan pria satu ini, wajahnya selalu saja ceria dan tersenyum kepada siapa saja, apa alasan sebenarnya hingga ia rela bertentangan dengan ayahnya hanya karena ingin menolong lexia, dia sangat berbeda dengan ayahnya yang terkenal kejam.
Evan kembali kepada mereka. "Silahkan lewat sini tuan." Ucapnya.
Daren telah menunggu mereka di ruang khusus di tempat yang jauh dari keberadaan Lexia.
Dua orang pengawal membuka pintu dan membiarkan Alvin dan william masuk ke dalam ruangan pribadi daren, tempat itu layaknya ruang kerja dan penuh dengan buku serta meja besar, beberapa sofa berwarna hitam berada di sana di sediakan untuk tamu Daren.
Mereka bertiga akhirnya bertemu, tiga pria tampan itu saling menatap, mereka duduk berseberangan.
"Apa kabar daren sudah lama kita tidak bertemu, Ah..meskipun terlambat aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan lexia." Ucap Alvin memecah keheningan diantara mereka bertiga.
Daren tersenyum. "Ya terima kasih, aku tidak akan berbasa-basi, ada apa? Mengapa kalian berdua datang bersama?" Tanyanya.
William mendengus mendengar ucapan selamat Alvin kepada Daren, dia masih diam, tetapi tatapan tajam dan tidak sukanya masih melekat di wajahnya.
"Aku hanya datang dan ingin mengetahui bagaimana kabar lexia dan satu hal yang penting yang harus kau ketahui adalah ayahku sudah bergerak, dia sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap lexia."
Daren berubah menjadi pucat, tangannya tiba-tiba saja mengepal.
William terkekeh. "Membawanya darimu? jangan bercanda Daren, Jika bukan karena dia yang mengajakku ke sini aku tidak akan mau bertemu denganmu Daren, tetapi aku juga tidak ingin lexia kehilangan nyawanya karena kau." Ucap william menyeringai.
"Aku hanya ingin memperingatimu Daren, Ayahku tersayang sudah memata-matai villa ini, dan akan langsung mengambil lexia darimu, kau tentu tahu betul bagaimana sifat ayahku, dia tidak akan main-main dengan kata-katanya."
Ruangan itu menjadi hening, wajah pucat Daren kini menghiasi wajahnya.
"Malam ini kalian harus pergi dari Amerika, pergi sejauh-jauhnya karena aku tidak bisa menjamin kapan mereka akan menyerang, kedatangan mereka bisa kapan saja." Ucap Alvin.
"Kenapa..kenapa kau memperingatiku, dia adalah ayahmu Alvin." Ucap Daren.
Alvin terkekeh, "Aku hanya melakukan ini untuk membantu lexia, berkat seseorang, aku pernah menganggap lexia sebagai keponakan tersayangku jadi..anggap saja aku masih menyayangi lexia dan aku lupa mengatakan ini kepadamu, kami sudah menjadi teman, dan seorang teman harus selalu saling membantu bukan?"
Daren masih menatap curiga kepada Alvin, senyum yang selalu menghiasi wajahnya sekarang terlalu membuat Daren was-was, apakah semua perkataannya benar? Apakah ini bukan jebakan mereka, tetapi Daren memutuskan untuk mendengarkan ucapan Alvin, karena dia tidak memiliki pilihan selain membawa lexia keluar dari negara ini.
~
Pria kepercayaan tuan Robert itu melangkah pasti dan mengetuk-ngetuk pintu ruangan tuannya. Wajah tua nan keriput tengah berdiri di depan jendela besar sambil menatap tanaman hias di hadapannya.
"Bagaimana? Kau sudah menyiapkan orang-orangmu Sebastian?" Tanyanya tanpa berbalik menatap kedatangannya.
"Ya sir, dan kami telah mengirimkan beberapa orang untuk menghubungi tuan Daren agar berjumpa dengan anda." Ucapnya.
"Bagus, masalah kecil ini harus secepatnya kubereskan setelah itu aku akan kembali ke Milan." Ucapnya.
~
Lexia berjalan mondar-mandir menunggu berita apa yang akan di sampaikan Daren kepadanya, apa rencana Alvin hingga ia dan William datang kemari dan menemui daren?
__ADS_1
lexia mengintip dari balik pintu, tetapi sayangnya hanya punggung penjaga itu saja yang dapat dilihatnya, mereka berdiri tapi di setiap sudut, mereka bagaikan patung, selalu mengintai apa saja di sekitar mereka.
"kenapa Daren lama sekali?" ucap lexia. Tiba-tiba ingatannya membawa lexia kepada kegiatan panas mereka semalam, dan wajahnya tiba-tiba memerah, lexia menyadari betul perubahannya setelah menikah dengan Daren.
Sikap kasarnya perlahan menghilang karena dia setiap hari bertemu dengan daren, dan tubuhnya terasa sensitif, hal tersebut membawa perubahan besar bagi tubuh dan jiwa lexia. "Aku harap kabar dari mereka tidak mengganggu rencana jalan-jalannya bersama Daren, dia ingin mengunjungi banyak tempat bersama daren, membayangkan hal itu membuat lexia tersenyum senang.
Lexia lalu menyadari sesuatu dia memukul pelan kedua pipinya. "Apakah aku kini sudah mulai menyukai daren?" ucap lexia dengan pipi bersemu merah.
~
Daren menatap kepergian keduanya, satu hal yang di janjikan oleh Alvin, dia akan berusaha melindungi lexia walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi, karena jika ayahnya mengetahui apa yang tengah di lakukannya, mencoba menghalangi jalannya, maka tuan Robert akan bertindak keras meskipun Alvin adalah putranya sendiri.
Daren segera beranjak dari ruangannya dan menemui lexia di kamarnya, ekspresinya tegang dan terlihat khawatir, dia masuk ke dalam kamar dan mendapati lexia sedang berbaring telungkup sambil membaca novel yang diambilnya dari perpustakaan di villanya.
Kecupan hangat mendarat di punggung lexia lalu Daren berpindah ke tengkuknya hingga memerangkap lexia dari belakang punggungnya. Lexia tentu saja terkejut dengan serangan panas Daren.
"Daren?? apa yang kalian bicarakan? mengapa mereka berdua datang kemari? apakah terjadi sesuatu?" tanyanya.
Daren tidak mendengarkan ucapan lexia, dia masih memberikan kecupan-kecupan kecil di tubuh lexia. Tangan lexia di tahan oleh Daren sehingga lexia tidak bisa bergerak. "Daren? lepaskan aku." ucap lexia. Daren kini menarik paksa pakaian yang dikenakan lexia, hingga punggung polosnya kini terlihat.
"Ugh, kau gila Daren, kenapa di saat seperti ini kau malah melakukan ini." ucap lexia menahan suaranya agar tidak mendesah karena Daren sudah berada di kelembutan lexia bermain-main dengan jarinya di sana.
"Daren!" bentakan lexia menyadarkan daren. Akhirnya Daren menghentikan kegiatannya lalu menarik lexia agar dia duduk. Daren menatap wajah lexia, lalu memeluknya erat.
"Kita pergi lexia, kita akan pergi meninggalkan Amerika." ucap Daren. Wajah kebingungan lexia membuat Daren mengeratkan kembali pelukannya.
"Kenapa kita harus pergi?"
"Kita harus pergi sayang, tuan Robert sepertinya ingin menangkapmu, jadi kita harus meninggalkan Amerika malam ini." ucap daren.
Ketakutan terlihat di wajah lexia, bibirnya lalu bergetar. "Be.. benarkah Daren? Apa yang harus aku lakukan?" Pelukan daren semakin erat di tubuhnya.
"Aku akan melindungimu, aku tidak akan pernah membiarkan kau menghilang dari pandanganku, apalagi jika mereka membawamu dariku."
"Lexia?"
Dia melepaskan pelukannya kepada lexia lalu menatapnya. "Jangan pernah pergi dariku, kau mengerti?" ucap daren.
Lexia mengangguk, daren kembali memeluk lexia dengan erat. "Aku.....Daren." Daren mengernyitkan alisnya dan menatap lexia.
"Apa yang kau katakan sayang, aku tidak mendengarnya." ucap daren.
"Kalau saja kita sudah terbebas dari tuan robert, aku akan mengatakannya." senyum lexia membuat daren ikut tersenyum dan tangannya mulai menggelitik tubuh lexia.
Lexia menghindari gelitikan Daren dan melemparnya dengan bantal agar dia berhenti.
Mereka berdua berbaring dan saling menatap, Daren membelai wajah lexia dan kembali mengecupnya.
"Aku mencintaimu lexia." bisiknya.
~
Hari itu para penjaga yang di tugaskan membawa lexia kini tengah bersiap di depan mansion Burchard sekitar puluhan orang di tugaskan untuk menyerang villa itu, mereka sedang berbaris teratur. Mobil sport yang dikendarai oleh Alvin baru saja tiba.
"Kelihatannya ayah betul-betul sibuk, hanya karena seorang gadis dia mempersiapkan semua ini." ejeknya, wajahnya nampak biasa saja, dia melewati mereka begitu saja tanpa memperdulikan Sebastian yang menatapnya dengan tatapan curiga.
Pria tua itu ditugaskan untuk mengamati pergerakan Alvin, tetapi sepertinya tidak ada yang berubah dari putra dari tuan Robert ini, wajah ceria dan sikap santainya selalu terlihat, sehingga orang-orang terperdaya dengan sikap yang dia tampakkan dari luar.
"Kau sibuk Tian? rame sekali, kalian ingin ke suatu tempat? bagaimana kalau aku ikut?" senyuman Alvin membuat Sebastian mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Ka..kami akan pergi ke suatu tempat tuan, emm tuan Robert berpesan anda tidak dibolehkan untuk ikut campur urusan tuan Robert." Sebastian menunduk sebentar dia terlihat takut menatap langsung wajah Alvin, dia tahu benar bagaimana sifat putra kedua tuan Robert ini.