
Oklahoma Tulas, 07.15
Langkahnya cepat dengan perlahan lexia berlari agar menjaga tubuhnya tetap seimbang, dia menggerakkan tubuhnya menyusuri bibir pantai, udara pagi yang sejuk membuatnya lebih segar dan merasa bersemangat, kali ini lexia berolah raga seorang diri dengan mengenakan Hoodie berwarna pink dan legging hitam, lexia berlari lecil memutari tepi pantai beberapa kali putaran, tubuhnya harus kuat pasca melahirkan beberapa bulan yang lalu, dirinya harus berolahraga agar tubuhnya kembali fit dan bertenaga.
7 kali putaran membuat lexia ngos-ngosan, dia kemudian berjalan lalu meregangkan otot-otot di tubuhnya dan menghirup udara dalam-dalam, matanya beralih ke villa dia melambai kepada Daren dari atas villanya sambil menggendong Ax yang sudah bangun sepagi ini. Langkahnya di percepat dia sudah tidak sabar ingin memberikan kecupan kepada putra kecilnya yang usianya sudah menginjak 4 bulan.
"Pagi sayang." Ucap lexia memberikan kecupan selamat pagi kepada suaminya yang masih menggendong Ax yang menggapai-gapai tubuh ibunya. "Dan ciapa ini? Putraku yang tampan? Ucap lexia mengambil Ax dari gendongan daren.
"Kau berolahraga sayang, kau sungguh tidak apa-apa?" Ucapnya memperhatikan tubuh lexia dan memeluk pinggangnya memberikan kecupan-kecupan kecil di tengkuknya dan di sepanjang rahangnya.
"Aku berkeringat Daren." sela lexia mencoba menghindari ciuman Daren tetapi tentu saja tidak berhasil.
"aku Ok dan tubuhku baik-baik saja, aku perlu berolahraga, bukan hanya untuk diriku saja tetapi untukmu juga Daren."
"Untukku, kenapa untukku Hem." Ucap Daren, tangannya mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh lexia dan menyusurinya dengan memasukkan tangannya ke tempat favoritnya.
"Tubuhku harus sehat untuk menghadapi seranganmu di tubuhku ini kapan saja, kau lihat memar di pangkal pahaku? Itu akibat perbuatanmu Daren." Ucap lexia membalikkan badannya lalu menghadap ke Daren yang tersenyum miring tanpa memperlihatkan wajah penyesalan.
"Memar itu tanda cintaku padamu, kau selalu menghipnotisku saat kita bercinta sayang, sampai aku lupa diri dan tersesat karenamu." Bisik daren membuat lexia tertawa geli karena kecupannya berada di lehernya, tetapi itu tidak akan berhasil karena Ax sedang berada di gendongan lexia dan mencoba merengkuh tubuh ayahnya dengan suara bayinya yang menggemaskan seolah melarang Daren menyentuh ibunya.
"Ax berikan ibumu padaku." Ucap Daren menatap mata safir bayi kecilnya yang mendorong wajah ayahnya. Lexia tertawa melihat ekspresi Ax yang terus mendorong ayahnya dengan tangan kecilnya.
"Emm Baiklah Ax untuk saat ini ayah mengalah Hem." Ucap Daren. Bunyi ponsel mengalihkan kemesraan mereka berdua, Daren melangkah dan mengambil ponselnya, nampak nomor Xaphier berada di layar teleponnya.
"Halo Xaphier, kau di mana?" Tanya lexia.
"Ok, sore ini kami akan ke mansion, kau juga datanglah, jangan sampai lupa kami menunggumu, ok sampai jumpa." Ucap lexia.
"Apa yang dikatakan Xaphier sayang?" Tanyanya.
"Dia cuma bertanya kapan kita akan ke mansion dan juga dia memperingatiku tentang wanita itu, dia bilang hati-hati." Daren menggaruk kepalanya.
"Kenapa?" tanya lexia melihat Daren terlihat tidak nyaman dan sedikit merinding.
"Baru kali ini aku merasa takut, dia sungguh mengerikan lexia, pada saat di kantor Evan memberitahukan kepadaku mengenai perusahaan Wanita itu, kata Evan menurut hasil penyelidikannya wanita itu selalu bekerja sama dengan perusahaan-perusaan kecil di Manhattan dan membantu mereka meningkatkan performa Perusahaannya, kau tahu dengan cara apa dia membantunya? Mereka pria-pria muda harus meladeni kebutuhan hasratnya, kau tahu maksudku kan."
Lexia mengungkapkan wajahnya dengan ekspresi jijik. "Dan wanita itu terang-terangan mengincarmu daren, jadi sebaiknya jangan pernah berbincang dengannya apalagi menerima sesuatu darinya, dia wanita tua mengerikan."
Daren mendengus, "Sebaiknya wanita itu pergi dari kehidupan kita selamanya, hari dimana pamanmu mengasuhnya menjadi anak angkat itu merupakan hari kesialannya." Ucap daren.
~
Oklahoma City,
Malam itu Nara berada di dalam kamarnya, dia melirik kembali jadwal Xaphier yang ada di tangannya, berulang kali dia membacanya tetapi tetap pekerjaan yang akan di lakukannya tetap tidak masuk akal sama sekali.
Nara mengambil Napas, dia tidak boleh lengah ketika melayani segala keperluan pria itu.
__ADS_1
~06.00
Nara bangun pagi-pagi sekali, semalam dia begitu gelisah meskipun dia tidur larut malam tetapi Nara tetap bangun sepagi ini, dia berdiri dari tempat tidurnya, kemudian mandi setelah dia siap, Nara mengambil kertas yang ada di atas meja kemudian membaca tugas pertamanya di pagi hari.
06.15 Sarapan pagi bersama Xaphier, sarapan itu di buat oleh Nara sendiri, Xaphier hanya makan makanan organik dan rendah serat.
"Hem, pria itu pemilih dalam makanan, hari ini aku harus menyiapkan sandwich dan salad serta kopi yang di racik sendiri, serta air putih dengan merk air minum tertentu." Nara mengambil napas agar dia tetap kuat, setelah sarapan tepat pukul 08.00 masuk ke dalam kamarnya memakaikannya dasi." Ucap Nara sambil menelan ludahnya. Jantungnya berdetak kencang.
"Pria itu memang aneh, sebelum aku menjadi sekretaris pribadinya apa ada sekretaris pribadi lain yang melakukan hal konyol ini? Hufff." Nara melangkahkan kakinya perlahan, lalu membuka pintu kamarnya dan segera menuju ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk tuannya.
Tempat itu kosong, seakan dia seorang diri di penthouse mewah ini, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya yang sibuk di dapur, sementara dia membuka kulkas dan mencari bahan-bahan yang akan di masaknya Xaphier keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan dia hanya mengenakan singlet dan boxer, tanpa malu sedikitpun dia menuju ke arah kulkas dan membukanya, kemudian mengambil sebotol air putih dan duduk di depan pantry dan meneguknya.
Mata safirnya memperhatikan Nara yang sedang berkutat dengan masakan yang akan di buatnya.
"Kau bisa memasak?" Tanyanya sambil kembali meneguk air minumnya. Nara otomatis mengangguk kepadanya.
"Aku tidak ingin sarapan, kau sarapan saja sendiri, ingat tugasmu tepat jam 8, kau sudah harus berada di kamarku, bangunkan aku jika aku masih tidur." Ucap Xaphier melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya dan menutup pintunya.
Nara menghembuskan napasnya, serasa tubuhnya kembali rileks meskipun sebentar lagi tepat jam 8 dia akan kembali tegang, karena tugas selanjutnya akan tiba sebentar lagi.
~
Perjalanan ke Mansion Tuan Caesaar,
Di dalam mobil menuju perjalanan ke mansion ayahnya, mobil Daren masuk ke pelataran parkiran di rumah makan, daren membeli makan siang buat mereka berdua dan lexia sedang menyusui Ax di dalam mobil sambil menunggu daren, setelah dia tertidur dan tidak rewel lagi, lexia dan Daren mulai menyantap makanannya di dalam mobil, kali ini mereka sedang makan cheeseburger, potato chips dan dua gelas cola, makanan itu sebenarnya tidak di setujui oleh Daren yang selalu menjaga kesehatan makanan mereka tetapi dengan bujuk rayu lexia plus janji panas lexia sebentar malam membuat Daren luluh juga dan akhirnya menyerah dan membeli makanan fast food itu.
"Hmm, lumayan." Ucapnya. Lexia tersenyum mengejek dan merasa puas dengan santapan Daren kali ini, setelah mereka makan, perjalanan pun dilanjutkan kembali ke Oklahoma city tepatnya ketika memasuki Capetown mereka akan tiba dengan cepat. Ax mulai menggoyangkan tubuhnya kemudian membuka kedua matanya, lexia memberikan kembali asi buat Ax setelah itu mereka bermain-main di dalam mobil sambil memeluk tubuh kecil Ax yang menyuarakan suara gemasnya.
~
"Jam berapa sekarang? Kenapa mereka belum tiba?" Tanyanya.
Melda sedang berias dan bersiap-siap menyambut kedatangan mereka, senyum merekah di bibirnya, lalu memberikan polesan makeup dan lipstik merah di bibirnya agar terlihat menarik, setelah itu dia bersenandung kecil sambil membuka lemari pakaiannya dan memilih-milih pakaian yang akan dia kenakan, matanya tertuju pada little black dress dengan tali spaghetti menggantung di bahunya, dia ingin memperlihatkan dirinya yang seksi meskipun usia telah menjangkaunya tetapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya tidak akan kalah dengan gadis muda apalagi seperti lexia yang hanya mengandalkan dadanya saja yang besar, selain itu Melda merasa tidak terkalahkan.
Mobil mereka telah terparkir di pelataran mansion tuan Caesaar, Daren dan lexia yang menggendong putranya sedang keluar dari mobilnya, terlihat tuan caesaar, Sebastian sudah ada di sana menyambut kedatangan mereka bertiga, mata lexia mencari sosok nenek tua yang selalu mengganggu kehidupan keluarganya, tetapi anehnya dia tidak ada di sana.
Mata itu menatap kedatangan mereka dari jendela kaca besar dari kamarnya. Senyuman itu merekah manakala matanya tertuju kepada sosok Daren yang sedang menggendong putranya.
"Hm, Daren..kita bertemu lagi." Bisik wanita itu.
Mereka masuk ke mansion dan duduk di ruang keluarga, lexia dan daren duduk bersama tuan caesaar dan melihat betapa senang ayahnya saat menggendong Ax di tangannya.
"Kau sudah semakin besar Ax, Sebentar lagi kau akan berlarian di mansion ini." Ucap tuan Caesaar dengan tawanya sambil memainkan jari-jari Ax di tangannya.
Langkah kaki itu terdengar di sepanjang koridor, lantai marmer mengkilap berwarna karamel itu menambah suara ketukan dari sepatu high heels yang mendekati ruangan keluarga. Pintu terbuka, Melda masuk ke ruangan itu dengan percaya diri, senyuman tak hentinya berkibar di wajahnya, sedetik matanya mencari-cari sosok Daren kemudian melayangkan pandangannya ke arah lexia.
"Selamat datang lexia, senang kita berjumpa lagi, terima kasih hadiahmu yang telah kau titipkan ke Xaphier." Ucapnya.
__ADS_1
Seringai menghiasi wajah lexia, dia menyandarkan kepalanya dibahu Daren dan tersenyum miring. "Itu bukan apa-apa Melda, jadi sebaiknya perhatikan sikapmu." Ucap lexia tanpa basa-basi.
Suasana yang hangat dan nyaman berubah seketika menjadi tegang dan tidak nyaman, Melda hendak menuju ke tuan caesaar tetapi dengan segera tuan caesaar menyerahkan Ax kepada lexia, dia tahu betul wanita satu ini penuh kelicikan, dengan sengaja membujuknya agar memanggil lexia dan Daren demi ambisinya.
"Bisakah kau pergi Melda, aku ingin menghabiskan waktuku bersama putriku, selama lexia dan keluarganya berada di sini, sikapmu yang seperti itu tidak akan membuat betah putriku, jadi sebaiknya kau pergi dan berpikirlah dengan tenang setelah itu kau bisa kembali." Ucap tuan Caesaar.
Senyum masih merekah di wajahnya, tak satupun kekecewaan terlihat di wajahnya. "Kenapa paman? Kenapa aku harus pergi dari sini? bukankah aku juga bagian dari keluarga caesaar?" ucapnya.
"Bodoh ! Kau tidak mengerti ya maksud ayahku, dia tidak ingin kau ada di sini dan
Mansion ini memangnya tempatmu tinggal? Kau itu cuma keponakan dan aku putrinya, jika kau pernah sekolah kau pasti tahu jawabannya, siapa saja tahu kau yang harus pergi dari sini." Ucap lexia kasar. Mata Melda tajam menatap lexia.
"Sebaiknya kau diam young girl, kami sedang berbicara."
"Dan yang sedang kau bahas itu aku, nenek ! Tentu saja aku harus bicara, di mana sih kau simpan otakmu."
Buku-buku jarinya terlihat menonjol dengan kuat, lexia menatapnya dan bibirnya melengkung membentuk senyuman, wajah lexia yang jahat yang biasanya dia simpan jauh-jauh di belakang otaknya kini muncul kepermukaan berkat Melda si pengacau. Tanpa khawatir lexia berdiri dan berjalan perlahan mendekat ke arah Melda, dia menaikkan satu alisnya melihat lexia menuju ke tempatnya berdiri.
"Lihat dirimu ! apa yang kau harapkan dengan berpakaian seperti itu?" ucap lexia menatapnya dari ujung kaki hingga ke kepala.
Dia masih tersenyum tenang, dia sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan lexia yang sudah berdiri di hadapannya. Lexia menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya.
"Apa maumu lexia sayang?" bisiknya. Lexia tersenyum miring. Sebelum lexia bicara pintu terbuka dan xaphier masuk ke dalam ruangan, matanya langsung tertuju kepada lexia dan Melda yang berdiri saling berhadapan.
"Mengapa kalian berdiri seperti itu? apa sesuatu yang menarik terjadi lexia?" tanya Xaphier melepaskan jasnya kemudian dia duduk tidak jauh dari Daren setelah saling menyapa.
"Tidak ada yang menarik, aku hanya heran saja jika wanita ini masih berdiri di sini, padahal jelas-jelas ayah sudah menyuruhnya pergi karena kehadirannya tidak diinginkan oleh ayah." ucap lexia.
"Sudahlah lexia, jangan seperti anak kecil, kau kan sudah menikah, sebaiknya kembalilah duduk dan kita bisa berbincang bersama, iya kan Daren?" ucapnya sengaja memprovokasi lexia.
Lexia tertawa di depan Melda, tiba-tiba dia memanggil ayahnya.
"Ayah !" ucap lexia tegas.
"Dia yang pergi atau aku yang pergi sekarang juga, aku tidak ingin Wanita ini berada di mansion selama kami menginap di sini, siapa yang tahu hal keji apa yang akan di lakukannya terhadap kami." ucap lexia menatap sang ayah.
"Beraninya kau !" Melda mencoba mendorong tubuh lexia tetapi dengan cepat lexia menghindar sehingga tubuhnya sendiri yang melangkah ke depan hingga dia hampir terhuyung.
"Kau mempermalukanku lexia." geramnya.
"Sudahlah Melda ! Sebaiknya kau pergi, kau punya banyak apartemen di new York pergi sekarang, jika kau tidak mendengarkan aku, jangan pernah datang lagi ke mansionku ini." ucap tuan Caesaar masih dengan suara yang tenang.
Melda betul-betul tidak memiliki pilihan lain, dia harus pergi, kehadirannya di sana tidak diinginkan, dan melihat wajah lexia yang menatapnya dengan wajah puas dengan senyum sinisnya membuat Melda tidak tahan lagi dan beranjak dari sana, sebelum dia pergi tatapannya jatuh kepada Daren.
"Kau akan menyesali sikap sombongmu ini lexia, suatu saat kau akan menyesalinya dan kau akan memohon maaf kepadaku." ucapnya getir.
"Jika saja dari awal kau tidak mengganggu ketentraman keluargaku kau tidak akan mengalami semua ini, siapa yang menanam bukankah dia yang harus menuai?" senyum lexia.
__ADS_1