
Deretan foto masih berserakan di atas mejanya, hingga terbit fajar pria itu masih duduk di kursinya sambil menatap terbitnya sang mentari pagi yang memberikan penerangan hingga menerangi keseluruhan ruangannya. Sejenak dirinya menuntaskan minuman yang masih bertengger di tangannya.
Dia kemudian berdiri lalu mengambil ponselnya. "Siapkan mobil, kembali ke mansion." Perintahnya. Pria itu mengambil jas yang tersampir di atas sofa kemudian kembali menatap foto-foto lexia yang bergeletakan Secara sembarangan. Dia kemudian mengambil seluruhnya dan menyimpannya.
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggunya, rencana yang di susunnya dengan matang akan segera dilaksanakan dan dia berharap dapat bertemu dengannya dengan leluasa, berbincang dan lebih mengenal diri wanita itu, meskipun dia tidak mengharapkan wanita itu membalas pertemuannya dengan baik, sikap permusuhannya terhadap dirinya tentu saja secara impulsif akan di perlihatkan oleh wanita itu, meskipun begitu rasa penasaran dari Adrick tidak bisa terelakkan, dia hanya ingin mengetahui sejauh mana hatinya ingin memiliki wanita yang telah berkeluarga itu.
Pria itu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya dengan pengawal yang siap membukakan pintu mobil untuknya, setelah dia masuk ke dalam mobil, Adrick kembali duduk dengan mata masih tertuju pada satu foto yang di pegangnya. "Hanya untuk memastikan lexia, sejauh mana aku ingin memilikimu, dan sejauh mana hatiku menuntunku untuk menghancurkan segalanya demi untuk mendapatkanmu." Ucapnya, senyum mengerikan muncul di sudut bibirnya.
~
Pagi-pagi sekali lexia sudah bangun, dia kembali sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan bersama dua orang pelayan yang membantunya, meskipun sebenarnya lexia tidak perlu repot-repot untuk membuat sarapan karena semuanya akan tersedia di atas meja makan.
Setelah sarapan telah siap, lexia kini membuat sarapan untuk putranya, dia memiliki banyak waktu untuk membuat semua itu, makanan sehat yang telah di buat lexia untuk putranya telah siap dan sekarang tinggal menengok ke kamar tidurnya apakah pangeran tampannya sudah terbangun atau belum sama sekali.
Ketika membuka pintu kamarnya, teleponnya berdering sekali di atas meja, lexia segera mengambilnya, sebuah pesan telah masuk dan hal itu membuat lexia membelalakkan matanya.
"Bagaimana kabarmu lexia, ini Edomu."
"Edoku? sejak kapan Edo menjadi Edoku, dia gila ya?" ucap lexia.
Dengan cepat lexia membalas pesan yang mengatakan dirinya adalah Edo, sebenarnya lexia sangat senang melihat pesan yang dikirimkan dengan tertera nama Edo untuknya, tetapi Lexia kemudian berpikir cepat dan mencurigai pesan aneh itu, Edo tidak pernah mengucapkan kalimat yang mempermalukan dirinya, seperti menyebut kata 'Edomu.'
"Kenapa Edo bisa mengetahui nomor ponselku?" ucap lexia, Terakhir yang diketahuinya hanya Daren saja yang memberikan nomor ponselnya kepada Edo, sedangkan Edo sama sekali tidak tahu nomor telepon lexia yang baru.
Lexia tanpa ragu membalas pesan itu.
"Siapa kau? Kau bukan Edo." Pesan telah di kirim. Tidak lama kemudian balasan kembali terkirim di ponsel lexia.
"You got me lexia, bagaimana kalau kita bertemu?" Tanyanya.
"Siapa kau?"
"Kau tidak tahu? Aku Adrick Rudolf, tentu kau sudah mengenalku."
"Aku tidak punya alasan untuk bertemu denganmu." Pesan kemudian terkirim.
"Aku memiliki alasan untuk bertemu denganmu, jika kau tidak datang menemuiku di tempat yang kujanjikan jangan salahkan aku nantinya."
Lexia mendengus, dia sama sekali tidak takut dengan gertakan pria ini. Lexia membacanya dengan wajah jengkel.
"Kau gila." Lexia kembali mengirimkan pesan itu, tidak lama pesan itu kembali masuk di ponselnya.
"Salahkan dirimu yang membuatku gila karenamu, ikuti kata-kataku lexia, kita pasti akan segera bertemu."
"Sinting, Siapa dia berani-beraninya memerintahku." Ucap lexia mendengus.
__ADS_1
"Siapa?"
Lexia berbalik dan tidak menyangka Daren telah bangun, dia duduk sambil melipat kedua tangannya di dadanya yang telanjang.
"Seorang pria bernama Adrick Rudolf, dia mengirimkan pesan di ponselku, aku tidak tahu mengapa dia bisa mengetahui nomor ponselku." Ucap lexia jujur.
Wajah Daren terlihat marah dan menggeram, sudut bibirnya terangkat dengan alis yang mengerut marah.
"Berikan ponselmu." Perintahnya.
Lexia menatap Daren yang terlihat sangat marah tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan kemarahannya.
Matanya menatap pesan-pesan yang dikirimkan Adrick untuk lexia, tiba-tiba matanya menatap tajam kepada lexia.
"Sejak kapan dia mengirimkan pesan-pesan ini untukmu lexia?" Tanyanya.
Lexia mengernyitkan alisnya berpikir sebentar, lalu menjawab pertanyaan Daren yang terlihat wajahnya memerah karena amarah.
"Entahlah, baru dua kali ini pria itu mengirimkan pesan kepadaku, awalnya aku tidak tahu siapa dia, sampai malam itu dia memperkenalkan dirinya, dia sepertinya tidak waras." Lexia duduk di dekat Daren dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Ada apa daren?"
"Aku akan menyimpan ponselmu." Ucap Daren tidak mau di bantah. Lexia tanpa ragu mengangguk, lagi pula dia begitu jarang membawa-bawa ponselnya apalagi ketika dia hanya berada di rumah, dia kemudian mengalungkan tangannya ke leher daren.
Wajah Daren tidak berubah sama sekali, dia kemudian menarik lexia hingga kembali jatuh di pelukan Daren.
"Aku tidak cemburu lexia tetapi, aku ingin membunuh pria yang berani mengganggu milikku, pria itu menginginkan apa yang menjadi milikku, jangan pernah hilang dari pandanganku lexia, aku akan membunuh pria itu jika dia berani menemuimu." Ucap Daren dengan sorot mata berbahaya.
Lexia memberikan ciuman kilat di bibirnya. "Itu namanya cemburu Daren, ugh pria itu sinting, apalagi tadi dia berpura-pura menjadi Edo." ucap lexia sambil menggeleng.
"Daren? aku mencintaimu dan Axton, aku tidak akan menghilang dari pandanganmu, apalagi pergi menemui pria sinting itu." Ucap lexia lalu memberikan senyuman manisnya kepada Daren.
~
Daren semakin tidak tenang, sejak malam dia berbicara dengan Xaphier dan memberitahukan mengenai pria yang mengintai mansion beberapa hari ini membuatnya tidak tenang, Daren begitu gelisah, dia tidak bisa membiarkan lexia hilang dari pandangannya sekejap pun, jiwanya yang posesif kini terbangun semenjak pria itu mengambil resiko membawa lexia dari mansion hanya untuk menemuinya.
Daren Kemudian mengambil ponselnya menghubungi Evan. "Kerahkan semua pengawal-pengawal milikku dan bawa mereka ke Mansion tuan Caesaar, aku ingin kau membawa pengawal-pengawal terbaik Evan." perintah daren.
Setelah menutup ponselnya, dia kemudian kembali ke kamar mencari lexia. Daren membuka pintu kamar dan menatap lexia sedang bersama putranya, dia sedang mengganti pakaian Ax Setelah mandi.
Daren melangkah perlahan mendekati lexia dan putranya.
"Lihat Ax, Ayah datang." ucap lexia kepada putranya lalu memberikan minyak bayi ke tubuh Ax, setelah Ax mengenakan pakaiannya, lexia kemudian menggendong putranya. Ax membuka kedua lengannya dan berharap Ayahnya menyambut kedua tangan kecilnya.
Daren menggendongnya dan memberikan Kecupan di pipinya. Dia betul-betul berharap Keluarga kecilnya akan tetap utuh dan baik-baik saja, dia akan menyingkirkan siapa saja yang berani mengusik ketentraman keluarga kecilnya.
__ADS_1
~
Xaphier berada di kantornya, sikapnya kini terlihat marah, dan terlihat defensif terhadap pria yang kini berdiri di hadapannya dengan sikap pongah, dia sama sekali tidak menyangka Adrick Rudolf datang menemuinya di kantornya.
Meskipun kantor Xaphier di penuhi Pengawal-pengawalnya dan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang bekerja di dunia bawah yang merupakan penembak jitu yang tidak di ragukan kemampuannya tetapi Adrick Rudolf sama sekali tidak merasa terintimidasi dan gentar dengan mereka semua.
"Selamat siang Xaphier." ucapnya, seakan dia menyapa seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa, dia kemudian duduk di salah satu sofa, mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk nyaman.
Xaphier menaikkan alisnya menatapnya. "Apa yang membuatmu datang siang-siang ke kantorku Adrick Rudolf, kau tahu dengan jelas jika tidak ada pertemanan yang terjalin di antara kita di masa lalu, hanya permusuhan yang membuat Keluargamu terikat dengan keluargaku." ucap Xaphier sambil memandangnya dengan senyum berbahaya.
"Bukankah permusuhan di antara keluarga kita bisa menjadi hubungan yang terjalin erat suatu saat nanti." ucapnya sambil tersenyum miring.
"Aku datang kemari hanya ingin memberikan ini kepadamu, kau harusnya merasa terhormat karena aku sendiri yang membawa undangan dengan tanganku sendiri."
"Undangan? undangan apa ini?" ucap Xaphier memegang undangan yang sudah di taruh di atas mejanya, Adrick melirik kepada Xaphier yang membuka undangan pesta untuk keluarga Caesaar.
"Apa ini salah satu caramu untuk mencari alasan bertemu dengan Adikku?" tanyanya.
Adrick memandangnya, seringai jahat muncul di wajahnya lalu tersenyum miring. "Itu salah satunya, tetapi selain itu ayahku Rudolf ingin bertemu langsung dengan tuan caesaar dan denganmu, ini bukan makan malam biasa Xaphier, dan jangan besar kepala, aku mengundang seluruh Keluarga terpandang di New York untuk menghadiri makan malam ini."
Xaphier tentu saja tidak terkecoh dengan undangan Adrick, dia masih duduk dengan tenang. "Bukan masalah, Aku dan ayahku akan datang memenuhi undanganmu ini." Jawabnya.
"Bagus kalau kau mengerti." Ucap Adrick, dia kemudian berdiri dan segera meninggalkan ruangan Xaphier.
"Adrick, Jangan pernah bermain-main dengan keluarga Caesaar, jika sesuatu terjadi pada Adikku, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja." ucap Xaphier masih dengan suara tenang. Adrick hanya bisa menatapnya tajam lalu tersenyum kemudian dia pergi dari ruangan Xaphier.
Xaphier segera menelepon thomas yang ada di mansion. "Thomas, perketat penjagaan, Jangan melepaskan pandanganmu dari lexia." perintahnya.
~
Hari yang cerah untuk berjalan-jalan di taman, lexia bersama Ax sedang berjalan-jalan sambil menikmati udara segar di sekitar pohon-pohon yang tertata rapi dan bunga-bunga berwarna-warni, lexia bersenandung kecil sedangkan Ax bergumam-gumam lucu lalu menunjuk-nunjuk burung-burung yang yang beterbangan di dekat air mancur.
Langkah kakinya terhenti, lexia kemudian berbalik ketika memandang curiga sekitar lima pengawal yang tersebar di sekitarnya. Lexia mengernyitkan alisnya tidak biasanya mereka berada di dekat-dekat taman apalagi ketika lexia sedang berjalan-jalan bersama putranya.
Lexia mengangkat bahunya tanda tidak perduli dengan kehadiran mereka. Lexia kembali berbalik dia menatap curiga pengawal yang tiba-tiba bertambah di sekitarnya. "Kenapa mereka semakin bertambah? apa ini perintah Daren? tetapi Thomas juga ada di sana berdiri seperti patung." gumam lexia.
Lexia yang jahil segera berjalan cepat, dia kemudian sembunyi di balik pohon-pohon besar lalu kembali berbalik melihat mereka, tiba-tiba mereka semua sudah kembali ada di sekitar lexia, begitupun Thomas yang menatapnya dengan sorot mata tajam memindai segala sesuatu di sekitar lexia dan mencurigai pergerakan sekecil apapun.
"Ugh tidak menarik, sial ! mereka mengganggu sekali ! Aku cuma ingin berduaan dengan putraku." ucap lexia. Dia tahu Daren dan xaphier memerintahkan untuk memperketat keamanan karena pria yang bernama Adrick Rudolf sialan itu. Lexia mengambil napas panjang kemudian dia kembali berjalan tanpa memperdulikan keberadaan mereka.
"Tuan, penjagaannya terlalu ketat, sepertinya mereka menambah penjaga di sekitar mansion."
Pria itu segera mengirimkan pesan di ponselnya, lalu menatap kiri dan kanan setelah itu dia kembali bergabung bersama Pengawal-pengawal lainnya.
Pria bermata biru yang sedang berada di kantornya dan sedang melangsungkan meetingnya membaca pesan dari pria yang dia tempatkan di keluarga Caesaar. Dia kemudian tersenyum, lalu berdiri begitu saja. "Lanjutkan meetingnya." Perintahnya, dia berjalan dengan tenang, lalu menatap ponselnya, dia tahu nomornya telah diblokir oleh lexia, dia terkekeh kemudian berjalan menuju mobil yang telah menunggunya.
__ADS_1