
Malam di mana mereka bertengkar, dia berdiri di sana mendengarkan semua pertengkaran mereka, Riel seakan sebuah patung, dia tidak bergerak sama sekali, dia menatap bayangan mereka berdua dari dalam kamar, lalu menatap bulan yang menerangi sisi balkon.
Ketika melihat dazon keluar dari kamar, setelah pertengkaran mereka barusan, riel mengetuk 3 kali di jendela, hal itu membuat hanna tersadar, dia tahu kakaknya datang, segera saja dia menghapus air matanya dan membuka pintu balkon perlahan.
Matanya mencari sosoknya, dia berdiri disana seperti patung terbungkus dengan mantel hitam, dan separuh wajahnya tertutupi, jika saja dia tidak mengenali kakaknya, mungkin sekarang hanna ketakutan melihat siluetnya yang menyeramkan di bawah sinar bulan, tangannya pun menggaruk-garuk tembok.
"Kak Riel?" Bisik hanna di gelapnya malam.
"Kau belum tidur? Aku hanya datang ingin melihatmu dan darko, sebentar lagi aku akan pergi." Ucapnya.
Tanpa dia sangka hanna menghambur dan memeluk tubuh kakaknya, dia tidak perduli dengan gaya dan sikap anehnya, dia adalah kakak satu-satunya, darah yang mengalir sama dengan dirinya.
"Hanna? Aku berbau tidak sedap, mantelku penuh dengan pembunuhan orang-orang, hanna...
"Sebentar saja kak riel, setidaknya aku masih memilikimu." Bisik hanna. Riel dengan perlahan, dengan jari telunjuknya menyentuh kepala hanna dan menyapunya lembut agar dia tidak bersedih.
"Tidurlah hanna, aku akan ada di sini sampai kau tidur." Ucap riel.
Hanna mengangguk, dia melepaskan pelukannya dari tubuh kakaknya. Hanna menghapus air matanya dan segera beranjak dari riel "Aku akan tidur, sebaiknya kakak juga beristirahat." Ucap hanna. Riel kemudian menggeleng.
"tidurlah, aku akan berjaga di sini sampai kau tidur."
Hanna mengangguk dan segera meninggalkan balkon, dia sedikit berbalik sebelum masuk ke kamarnya.
Riel adalah seorang pembunuh berantai mengerikan, semua orang pasti takut kepadanya, dia memang bersalah dan terlihat menyeramkan di sana, berdiri seorang diri menatap kosong kegelapan malam, tangannya menggaruk tembok menimbulkan suara aneh, wajahnya pun tidak terlihat jelas, senandung yang keluar dari mulutnya terdengar mendayu, lagu masa kecilnya terdengar dari bibirnya, meskipun dia tampak mengerikan, tetapi seperti apapun wujud kakaknya, meskipun dunia membencinya, menyalahkannya karena perbuatannya, akan tetapi hanna sayang padanya. Dia kemudian menutup pintunya dan segera berbaring di samping putranya, malam itu senandung dari luar balkon terdengar memilukan di telinga, hanna mendengarkan senandung kakaknya sampai matanya memberat dan dia mulai tidur lelap.
~
08.00 mansion di Atlanta
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, tuan caesaar baru saja keluar dari ruangannya, dia kemudian duduk dan menatap anggota keluarganya.
"Dimana dazon?" Tanyanya.
"Dia masih tidur ayah, Nara baru saja akan membangunkannya." Ucap xaphier.
Tuan Caesaar beralih kepada hanna, "sebentar lagi kakek akan membawamu ke tempat tinggal barumu hanna, agar kau bisa mengambil waktumu dan berpikir, bukan berarti kakek menyuruhmu meninggalkan mansion ini sesegera mungkin, kakek sangat ingin kalian rujuk dan berbaikan kembali seperti semula."
"Saya mengerti kek." Ucap hanna.
"Aku ingin kau menyembuhkan perasaanmu hanna, ketika kau berada di mansion, senyum tidak tampak dari wajahmu, aku ingin kau bahagia, begitupun dengan dazon." Ucapnya lagi.
Suara langkah kaki terdengar, Nara baru saja kembali dari ruang utama, dia telah membangunkan dazon dan dia berjalan di belakang ibunya.
Dazon duduk di sana, pandangannya nampak kosong dia terlihat kacau, lexia menatap keponakannya dengan bibir mengkerucut, di satu sisi dia menatap hanna dengan wajah sedihnya, kepala lexia berputar, ingin menemukan cara agar mereka menyatu kembali, tetapi bagaimana caranya? Lexia mengambil napas dan menghembuskannya perlahan, dia harus melakukan sesuatu kepada mereka berdua. pikir lexia.
"Dazon, kau ikut kakek setelah ini, ada yang harus kau lakukan."
"Baik kakek." Ucapnya. Matanya sedikit melirik kepada hanna yang duduk di hadapannya. Mereka sebentar saling menatap, lalu mengalihkan pandangan masing-masing.
__ADS_1
Semuanya sarapan dalam diam, tidak ada pembicaraan yang berarti, hanya terdengar ocehan dari alexa dan alice, usia mereka berdua masih sangat kecil, tetapi orang-orang yang mendengar ucapan kedua anak itu, tidak akan menyangka kata-kata yang keluar dari mulut mereka, pembicaraan idol kpop membuat siapa saja yang mendengarkan menggelengkan kepalanya.
"Apa daneil sudah kembali ke Oklahoma? Semalam Robert meneleponku, dia menyuruh daneil dan jennifer kembali ke mansion, sudah terlalu lama dia berada di sini."
"Semalam mereka kembali ayah, begitu mendapat telepon dari kakeknya, meskipun daneil masih betah untuk tinggal di sini, katanya, dia ingin mengetahui kelanjutan mengenai hubungan dazon dan hanna." Jawab lexia.
~
Hari itu juga hanna telah berkemas-kemas, sementara putranya berada dalam gendongan pelayan. Hanna membuka lemari pakaiannya, dia melihat pakaian dazon sudah kosong, rupanya sudah di pindahkan ke lantai bawah, hanna mengambil semua pakaiannya dibantu oleh beberapa pelayan mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Setelah semua pakaiannya terkemas, hanna menatap cincin yang masih di kenakannya di jarinya, cincin itu bersinar ketika terpantul sinar matahari, hanna bertanya-tanya di dalam hatinya apakah dazon masih mengenakan cincin itu?
Dengan cepat hanna menggelengkan kepalanya, "Jangan dipikirkan, itu sekarang tidak penting, mulai sekarang aku harus kuat, kami akan tunggal berdua, untuk itu aku harus menjadi ibu yang kuat, aku harus berhenti menangis." gumam hanna.
Setelah selesai berkemas, semua barang-barang hanna dan anaknya telah berada di teras mansion dan akan segera di bawa kedalam bagasi mobil. Ketika Hanna turun dari tangga sambil menggendong putranya, terdengar suara isakan dari dalam ruang tamu.
Hanna mendengar ibu mertuanya menangis, sepertinya dia berusaha di tenangkan oleh ayah mertuanya, hanna menguatkan dirinya, dia segera masuk ke ruang keluarga dan duduk di sana, menunggu kedatangan kakek Caesaar.
~
Hari itu mereka semua memeluk hanna, Nara tidak berhenti menangis, dia sekali lagi bicara kepada hanna agar tidak pergi, dan menggendong darko cucunya, dia memeluknya erat.
"Aku akan selalu berdoa agar kalian kembali bersama lagi, jaga kesehatanmu hanna, jaga darko dengan baik, aku akan mengunjungi kalian." ucap Nara sambil memeluk hanna dan memberikan ciuman kepada cucunya.
Sikap canggung hanna ditujukan kepada ayah mertuanya Xaphier, dia hanya menepuk punggung hanna dan mengangguk. Setelah perpisahan yang menguras air mata, akhirnya hanna telah berangkat dan baru keluar dari pelataran mansion, tiga mobil menyertai kepergiannya, hanna tidak melihat dazon di antara mereka, tadi pagi kakek Caesaar memanggilnya, entah apa yang mereka bicarakan.
Mobil mereka keluar dari mansion, dan telah berada di jalan raya kota Atlanta, melaju dengan kecepatan sedang, terlihat mobil hitam sport sedang mengikuti kemana arah ketiga mobil itu, dia menjaga jarak, menatap tajam hanna dan putranya yang berada di dalam mobil.
Tempat itu memang kawasan elit dan mewah, setiap rumah di sana di desain untuk mereka dengan gaya hidup kelas atas, setelah beberapa belokan, mobil akhirnya berhenti di salah satu rumah mewah tetapi terkesan minimalis, rumah itu sangat sesuai untuk hanna dan putranya.
Rumah itu membuat hanna terkagum, meskipun berbeda dengan mansion, tetapi rumah yang di sediakan oleh tuan Caesaar sangat hanna sukai, rumah indah dengan gaya minimalis, terkesan elegan berlantai 2, memiliki taman yang tidak terlalu besar, hanna menyukai rumah itu, dia lalu keluar dari mobil dan membiarkan para pengawal bekerja memasukkan semua barang-barang mereka di sana.
Dua orang pelayan ikut dengan hanna, membantu segala keperluan hanna, meskipun hanna menolak, tetapi kakek Caesaar bersikeras untuknya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah bercat putih dan cream itu, di tumbuhi dengan bunga-bunga yang indah. Sementara itu mobil hitam sport masih betah berada di ujung jalan memperhatikan mereka semua. Menatap hanna dari kejauhan.
~
Hanna begitu sibuk hari itu, meskipun ada pengawal dan pelayan yang menemaninya, dia suka melakukan kesibukan sendiri, agar pikirannya dapat teralihkan. Didalam rumah itu, semua sudah lengkap dan tersedia, semua perabotan sampai isi kulkas semua telah terlengkapi, hanna hanya tinggal menggunakannya saja.
Setelah mengatur segalanya, hanna terlihat lelah, putranya juga telah tertidur dari tadi,
semua pengawal telah pergi setelah, mereka telah menyelesaikan pekerjaannya, meskipun mereka akan tetap berjaga, tetapi di tempat-tempat tertentu yang tidak mencolok, dan hanna sangat menyetujuinya, dia tidak mau mereka berdua berdiri di depan rumah sepanjang malam, layaknya patung, seperti
penjagaan mereka di mansion, hanna ingin hidup normal, dia memutuskan mengirim satu pelayan ke mansion, satu saja sudah cukup untuknya, dia hanya meminta kepada pelayan itu untuk menjaga putranya ketika dia
sibuk, hanna ingin melakukan semuanya sendiri dan tidak ingin dilayani.
Hari sudah menjelang malam hari, mobil sport berwarna hitam itu masih betah di sana
menatap rumah minimalis yang menurutnya sangat kecil, dia tidak setuju dengan rumah
__ADS_1
yang diperuntukkan kakek kepada hanna, rumah itu menurutnya sangat kecil, dia kemudian menggeleng, meskipun hatinya terasa sakit, karena hanna pergi begitu saja, dan membawa putranya tanpa mengucapkan apapun kepadanya.
Dazon keluar dari mobilnya, tanpa ragu dia menuju rumah itu, dia menekan bel rumah dan menunggu seseorang untuk membukanya. Pintu terbuka, tatapan mereka saling bertemu. Rahang dazon tampak mengeras ketika mereka saling bertatapan.
"Aku ingin bertemu dengan putraku." Ucap dazon. Hanna tidak memiliki alasan untuk tidak mempertemukan ayah dan anaknya, tentu saja dia mempersilahkan dazon untuk masuk, meskipun tanpa menunggu hanna memepersilahkannya, tanpa berucap apa-apa, dazon masuk begitu saja, lalu langsung
menuju kamar hanna.
"Darko sedang tidur, kalau kau mau bertemu dengannya kau datang besok saja." Ucap hanna sambil bersedekap, dia berdiri di sana seakan menyuruh dazon untuk pergi sekarang juga. Tiba-tiba hanna terkejut
ketika dazon menarik tangannya keras.
"Apa yang kau lakukan daz, lepaskan tanganmu." Ucap hanna mencoba melepaskan genggaman dazon dari tangannya.
Dazon memegang kedua bahu hanna menghadap kepadanya, tatapannya tajam menahan mata hanna agar menatapnya.
"Ingat hanna, aku ini masih suamimu, meskipun kita hidup terpisah, tetapi kau masih istriku yang sah." Hanna berusaha melepaskan tangan dazon di kedua bahunya yang di genggamnya erat.
Dazon menariknya dan memegang rahang hanna dan menciumnya dengan kasar, membuat tubuh hanna terdorong ke belakang, dazon kemudian melepaskan ciumannya, membuat hanna benar-benar marah.
Hanna menampar pipi dazon dan mendorongnya keras, dia kemudian berlari dan masuk ke kamarnya dan menguncinya. Jantung hanna berdetak cepat, meskipun mereka berpisah, dazon akan selalu datang untuk menemui darko, hanna tidak akan membiarkan dazon melakukan sesuatu kepadanya dengan seenaknya.
"Sial." Umpat dazon, dia segera duduk di sana menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu menatap ruangan itu. Dazon mengakui kalau kali ini dia salah, dia mengabaikan hanna dan putranya, membiarkannya berpikir seorang diri sehingga hanna merasa diabaikan dan tidak diinginkan olehnya.
Dazon menutup matanya, dia sama sekali tidak memiliki keinginan melepaskan hanna, apalagi menceraikannya, meskipun egois, tapi dia ingin merebut hati hanna kembali, meskipun dengan cara memaksa sekalipun. Dazon menghembuskan napasnya. Dia kemudian berdiri dan mengacak rambutnya. Dazon kembali menatap kamar hanna yang menutup, dia lalu keluar dari pintu depan, dia kini menyadari dia sangat membutuhkan hanna.
~
Hanna masih bersandar di pintu kamarnya, dia memegang jantungnya yang berdetak, lalu memegang bibirnya yang telah di cium oleh dazon dengan kasar.
Hanna mengintip dari lubang kunci kamarnya, dia mendengar langkah kakinya menuju pintu keluar, kemudian pintu itu kembali menutup. Hanna menghembuskan napasnya.
Sejak kepindahan hanna di rumah itu, dia telah mengikutinya sejak tadi, riel menatap kepergian dazon dengan mobil sportnya, di bawah lampu jalan, dia bersandar di tiang lampu jalan yang persis berada di dekat rumah hanna, riel bersenandung, lalu menatap rumah hanna yang sudah menggelap.
"Aku ada di sini hanna." Bisik riel di dalam kegelapan.
~
"Ayah, apa sebenarnya rencana ayah sehingga memisahkan mereka, jelas-jelas dazon masih mencintai hanna, meskipun karena marah mereka berdua ingin berpisah." Ucap lexia.
Tuan Caesaar melepaskan kacamatanya, dia kemudian berdiri sambil memegang tongkatnya dan berjalan menuju ke jendela besar yang menghadap ke arah taman.
"Aku ingin dazon belajar, aku ingin dia menerima putranya, bagaimanapun nanti hidup anak itu di masa depan, dia harus menerima putranya apa adanya, begitupun hanna. Dengan berpisah seperti ini, suatu hari dia akan berpikir apa yang paling penting dan berharga dalam hidupnya, dan ketika dia melepasnya dengan mudah, maka tidak semudah itu hanna akan kembali kepadanya, dia harus berjuang keras untuk mendapatkan hati hanna kembali."
"Apakah cara Dad akan ampuh dibandingkan dengan caraku?" Ucap lexia menaikkan alisnya. "Harus di beri sedikit percikan api agar kayu itu dapat menyala dad, akan sangat menyenangkan melihat dazon frustasi untuk kembali memiliki hanna, dia harus berjuang keras untuk mendapatkan kembali keluarganya."
Tuan Caesaar menghela napasnya dan memandang putrinya. "Apa yang ingin kau lakukan lexia, jangan membuat kacau, hubungan mereka saja sudah rumit."
Lexia lalu tertawa, "Aku tidak akan membuat kacau daddy, hanya sedikit hiburan kecil saja untuk keponakanku tercinta." Ucap lexia dengan senyum licik.
__ADS_1