
Mansion di Oklahoma
Nara mengambil napas dan menghembuskannya seakan dia terlihat tidak pernah tenang.
"Ada apa sayang?" Tanya Xaphier, ketika mereka sebentar lagi sarapan pagi.
"Aku mengkhawatirkan Dazon dan hanna, apa yang akan terjadi dengan mereka di masa depan? Apakah anak yang dikandung hanna akan berbahaya? Aku tidak bisa membayangkan anak mereka nantinya, anak itu bisa berubah menjadi seorang pembunuh sadis, itu sangat menyedihkan.
"Jangan memikirkan hal-hal buruk sayang, percayalah, kita akan mampu melewati semua ini, begitupun dazon dan hanna.
Suara mengomel terdengar dari arah tangga menuju ke lantai bawah. "Aku tidak percaya ini, aku sungguh tidak percaya." Ucap lexia dengan suara tinggi menggema di mansion itu, sambil mengumpat membuat siapa saja menatap kedatangan lexia.
Mereka berdua berbalik dan menatap heran kepada lexia. "Kalian tahu? Wanita yang pernah datang ke mansion, wanita yang menyukai dazon, aku lupa siapa namanya."
"Maksudmu wanita bernama Audy?" Jawab Hanna.
"Ya, wanita itu, kalian tahu apa yang sekarang di kerjakannya? Ugh membuatku marah saja, dia menjadi sekretaris tuan Kurz, daren baru saja memberitahukan kepadaku."
Nara menatap suaminya. "Benarkah itu Xaphier? Tanyanya.
"Sayang, aku tidak pernah memperhatikan siapa yang menjadi sekretaris tuan kurz, memang di sampingnya ada seorang wanita dengan rambut bob pendek selalu berada di belakangnya." Jawabnya.
"Malam ini ada pesta bukan? Perempuan itu sepertinya tahu kita mendekati perusahaan Kurz."
"Jangan buat masalah lexia, kau harus menjaga sikapmu." Tegur Xaphier.
Lexia tersenyum puas. "Jangan khawatir kakakku tersayang, aku tidak akan membuat masalah di acara pesta itu, tetapi tunggu saja, aku ingin melihat reaksi ular betina itu ketika dia melihatku." Ucap lexia dengan berapi-api. Xaphier menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menghentikan lexia jika dia sudah memutuskan keinginannya.
"Dimana anak-anak?"
"Akhir-akhir ini mereka senang sekali berbisik-bisik dan senang berpesta piyama, kadang dia mengajak teman sekolah mereka untuk berpesta piyama." Ucap lexia.
"Pesta piyama? Apa yang mereka kerjakan dengan pesta semacam itu?" Tanya xaphier.
Nara tertawa, "pesta untuk para girly sayang, mereka mengenakan piyama lalu kadang mereka makan-makan dan setelah itu bercerita apa saja hingga larut malam, kadang mereka mengungkap rahasia mereka masing-masing." Ucapnya.
Lexia lalu tertawa tertahan, "untuk itulah aku menaruh rekaman di kamar Alexa, aku ingin tahu apa yang mereka sembunyikan dari kita, kalau sedikit melenceng saja dari pesta yang dia maksud, aku akan mengirim anak itu ke asrama di inggris." Ucap lexia.
"Jangan terlalu keras pada Alexa, dia nanti lari darimu." Ucap Xaphier.
"Aku hanya keras padanya dalam keadaan tertentu saja, jika mereka sudah melenceng dari jalan yang seharusnya, tentu saja aku harus memperingati mereka Xaphier, kau tidak tahu saja bagaimana bebasnya anak-anak zaman sekarang ini, mereka pintar bicara dan cepat mengerti semua hal bahkan yang kita tidak tahu sekalipun, apalagi mereka memasuki usia awal remaja, kita harus selalu mengawasi mereka."
"Iya, yang penting jangan terlalu menekan alexa, dia itu tipe keras kepala dan pembangkang sepertimu, dia itu seperti cloningmu sendiri lexia, jadi kau seperti harus menghadapi dirimu sendiri." Ucap Xaphier, lexia menatapnya kemudian mendengus, sementara nara tertawa tertahan.
~
~
Mereka semua ada dipesta, daren dan lexia baru saja tiba di hotel mewah itu, mereka segera masuk, dan di sambut dengan rekan-rekan bisnis daren.
__ADS_1
Lexia tersenyum sopan dan segera berjalan mengiringi suaminya yang sebentar singgah karena bertemu kenalannya.
Lexia memperhatikan tamu-tamu yang hadir di sana, wajah-wajah yang tidak di kenalinya, dan wanita itu berdiri di sana, layaknya seorang pendamping dari pria yang sedang berbincang dengan beberapa orang, tanpa di sangka mata mereka saling bertemu, lexia dan wanita bernama Audy. Tatapannya terlihat terkejut mendapati lexia berada di sana.
Lexia tahu dia merencanakan sesuatu, wanita ular itu menatap sinis kepada lexia dan mendekatinya perlahan.
"Selamat malam Nyonya lexia, keberuntungan yang tidak di duga-duga, terakhir kali aku ingin mengucapkan terima kasih dengan kenangan menyenangkan yang nyonya berikan."
Lexia seperti tidak melihatnya, dia berjalan begitu saja seakan wanita itu berdiri dan berbicara sendiri, dia terlihat tampak konyol, karena di acuhkan dan tidak di perdulikan oleh lexia. Wajahnya memerah karena tidak di gubris oleh lexia, dengan berani dia mendekati lexia yang kali ini berdiri di samping daren.
"Selamat malam tuan daren, aku sangat senang hadir di pesta ini dan bertemu dengan anda." Ucapnya kepada daren.
Seketika daren menatap lexia, dan mengangkat bahunya. "Kau mengenal wanita ini?" Tanya lexia dengan suara cukup besar, dia memegang minuman di tangannya, lalu tersenyum miring.
"Tidak sayang, aku tidak mengenalnya." Ucap daren sambil lalu, dia kini berbincang dengan rekan bisnisnya dengan serius, orang-orang yang mendengar ucapan Audy tampak menggeleng prihatin.
"Pergi sekarang, atau kau mau aku mempermalukanmu yang lebih dari pada ini?" Ucap lexia.
Wanita itu menahan malu, dia segera undur diri dari tempat itu dan kembali ke tempatnya. "Aku akan lihat, apa yang akan wanita itu lakukan." Ucap lexia menyipitkan matanya.
~
~
Sudah dua hari Dazon belum kembali ke mansion, hanna tidak terlalu mengkhawatirkannya, entah karena apa akhir-akhir ini hanna lebih menikmati kesendiriannya, kali ini hanna berjalan-jalan seorang diri di taman, menghirup udara segar, dan menatap bunga-bunga di sekelilingnya.
Dia mengelus perutnya, dan seperti berbicara kepada putranya yang berada di dalam kandungan. "Kau suka udaranya sayang? Kita perlu menghirup udara segar, ibu akan memberikan yang terbaik untukmu." Bisik Hanna.
Hanna tetap berjalan, dia tidak memperdulikannya. Wanita itu tidak putus asa, dia memerintahkan dua pelayan untuk mengantar hanna masuk ke dalam mansion, betapa terkejutnya hanna melihat seorang pelayan di samping kiri dan kanannya dan hendak memegang kedua tangannya seperti orang sakit. Dia sangat geram, tangannya tiba-tiba melayang begitu saja kepada dua orang pelayan yang berani mengganggunya.
"Berani sekali kalian, saya bilang lepaskan tangan kalian!" Bentak hanna dengan tatapan tajam kepada mereka. Keduanya kaget dan tertunduk mendengar suara keras hanna, mereka lalu mundur perlahan.
"Nyonya, saya memberikan nasehat kepada anda, ini untuk kebaikan anda juga dan....
Hanna berteriak, "pengawal !" Tiba-tiba dua orang pengawal menghampirinya.
"Ada apa nyonya." Ucap mereka berdua.
"Jauhkan wanita itu dari hadapanku, cepat!"
"Baik nyonya." Dua orang pelayan mengantar kepala pelayan dan dua orang pelayan masuk ke dalam mansion, wajah wanita itu tetap tenang, tetapi hanna dapat melihat satu alisnya terangkat, menunjukkan keasliannya yang selama ini di tutup-tutupinya.
"Dazon bodoh, mengapa dia memperjerjakan wanita mengerikan itu di mansion ini." Ucap hanna. "Bagaimana jika makananku nanti di taruh sesuatu di dalamnya? Dia bebas keluar masuk ke dalam dapur, siapa yang tahu jika dia menaruh sesuatu di makananku nantinya, sial !"
Hanna segera kembali ke mansion, dia memperhatikan semua makanan telah tersaji di atas meja, kali ini fairley dan jennifer tidak ada di mansion, mereka ikut dengan suami mereka keluar kota, jadi hanna di tinggal seorang diri di mansion, hanya satu pengawal yang dibiarkan terus memantau hanna yaitu loue, dazon menempatkan loue untuk menjaga hanna, dan melaporkannya kepada dazon setiap apa saja yang dilakukannya di mansion.
Hanna memutuskan tidak menyentuh makanan itu, dia mengenakan kardigannya dan mengambil kunci mobilnya, dia lebih memilih sarapan di luar di bandingkan makan makanan yang dihidangkan wanita bernama mey itu.
"Anda akan kemana Nyonya?" Tanya loue ketika hanna terlihat sedang membuka pintu mobil di area parkiran.
__ADS_1
"Aku ingin membeli sesuatu, aku akan cepat kembali." Ucapnya.
"Biar saya yang mengantar anda Nyonya." Ucap loue.
Hanna menimbang-nimbang tawaran dari loue. "Oke, antar aku di salah satu rumah makan di Atlanta, aku ingin makan di sana."
"Baik Nyonya."
~
~
"Di mana Nyonya Hanna, loue? Katakan lagi?" Tanya dazon.
"Dia berada di luar tuan, dia bilang mau makan di luar." Ucapnya.
"Benarkah? Berikan ponselmu, sepertinya dia tidak membawa ponselnya."
"Nyonya, ini dari tuan Dazon."
Hanna segera mengambil ponsel dari loue. "Halo daz." Ucap hanna dengan suara tenang.
"Kenapa kau tidak membawa ponselmu sayang, aku dari tadi menghubungimu." Ucapnya. "Apa yang terjadi?"
"Apa yang terjadi? Semua baik-baik saja koq." Jawab hanna.
"Tetapi baru saja Mey meneleponku dan mengatakan kau menampar dua orang pelayan dan....
Dazon tiba-tiba terdiam. "Owh, jadi dia sudah melapor kepadamu? Wanita sialan itu menggangguku, dia memaksaku masuk ke dalam rumah, padahal aku sedang berjalan-jalan di taman."
"Hanna sayang, dia hanya berusaha...
"Terus saja membela wanita sialan itu." Bentak hanna, dia segera menutup ponselnya dan memberikannya kepada loue. Ponsel kembali berdering, dazon menelepon terus, membuat loue bingung karena dia mengangkatnya tetapi hanna tidak mau menjawab telpon dari dazon, dia hanya memandang pemandangan di luar mobil tanpa memperdulikan tangan loue yang terjulur memegang ponsel di hadapannya.
"Berikan ponsel itu kepada Hanna, sekarang !"
Bentak dazon kepada loue yang masih menyetir. Hanna tidak memperdulikan suara dazon yang berbicara di ponsel, dia mengambil ponsel itu dan menaruh begitu saja ponsel itu di sampingnya di atas tempat duduk.
"Berhenti di sini loue." Ucap hanna, dia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam restaurant seorang diri.
Loue mengambil ponsel itu. "Tuan, nyonya hanna tidak di sini, dia sedang sarapan pagi di sebuah restaurant." Ucap loue.
"Dia di mana? Kenapa dia tidak sarapan di mansion?"
Loue bingung ingin menjawab pertanyaan tuannya.
"Sial !"
Umpat dazon, dia kemudian menutup ponselnya, dia duduk dengan gelisah dan sama sekali tidak menyentuh sarapan paginya yang baru saja dihidangkan.
__ADS_1
"Apa yang dipikirkan Hanna, mengapa dia bersikap seperti itu?" Ucap dazon.