
Mansion 09.00 pagi
"Hey kenapa kita masih di sini? Harusnya kau membawa kami ke kantor polisi, apa yang kau rencanakan." Teriak salah satu pria berambut biru berwajah asia.
"Percuma kau teriak, mereka tidak akan datang, hanya pada jam 1 siang saja mereka membawa makanan dan itu sudah cukup untuk mengumpulkan tenaga kita, masih untung mereka memberi kita makanan." ucapnya sambil bersandar di tembok yang dingin.
"Jadi paman penjahat menyukai di dalam sana? Apa paman juga menyukai tikus? Aku bisa membawakannya untuk paman."
Mereka berdua mempelototi bocah yang baru saja memunculkan dirinya di depan mereka berdua, dia berdiri tidak jauh dari jeruji tempat mereka di tahan.
"Kau bocah yang melukai kaki kami." Ucap pria berwajah lonjong, kekuatan tubuhnya tiba-tiba kembali, padahal tadi bergerak saja dia merasa pusing.
"Hei bocah kalau kami keluar dari sini, kau pasti akan kami cari lagi." Dua pria itu memukul besi tahanan di depannya sambil menakuti-nakuti Darko.
Darko menutup mulutnya menahan tawanya. "Lucu, paman sungguh lucu, bagaimana paman bisa keluar dari sini? Katakan kepadaku bagaimana caranya, apa paman akan menghilang? atau paman akan menggunakan kekuatan super, coba katakan kepadaku." Ucap Darko sambil menahan tawa.
"Kau bocah tengik, berani mempermainkan kami."
Darko mengelilingi ruangan itu sambil berloncat-loncat dan bersenandung di depan mereka.
"Paman jelek, katakan kepadaku bagaimana kau akan meloloskan diri dariku, kalian adalah mangsa pertamaku."
Darko lalu terdiam, dia memandang kedua pria dewasa itu dengan tatapan dingin dan tajam. "Katakan kepadaku, siapa yang menyuruh paman masuk ke mansion kami."
"Ceh, kenapa aku harus mengatakannya kepadamu bocah tengik." Teriak salah satu dari mereka.
"Apa paman tahu? Makanan yang akan dibawakan kepada paman, mungkin saja sudah di taburi racun, kadangkala tanganku tergelincir paman, jadi aku harap paman memakluminya." Darko terkekeh lalu kembali meloncat-loncat, dia tersenyum lalu bersenandung kembali.
"Kau hanya bocah tengik tidak tahu apa-apa mengenai racun, kau hanya menggertak kami bukan? Kau masih kecil tetapi tingkahmu seperti setan cilik."
Darko tertawa sambil memegang perutnya, "hahahaha, setan cilik? aku suka panggilan itu paman, kalau begitu selamat menikmati makan siangnya, aku pergi dulu ya paman." Darko berbalik dan berlari menuju pintu keluar, dia harus berada di meja makan tepat jam 12 siang sebelum ibunya mencarinya.
"Ouch, siapa yang menabrakku." Ucap Darko sambil memegang hidungnya, dia tadi langsung berlari tanpa melihat ke depan, dan tepat menabrak seseorang yang berada di depan pintu menuju penjara bawah.
Darko mendongakkan kepalanya, dia menatap seorang pria dengan pandangan tajam menatap kepadanya, dia mengenakan mantel panjang berwarna hitam, dengan garis hitam terpeta di wajahnya.
"Paman siapa?" Tanya Darko.
"Kembalilah ke ibumu, jangan melakukan hal yang berbahaya Darko, aku akan mengawasimu." Ucap pria itu. Darko terheran, baru kali ini seseorang yang tidak di kenalnya memanggilnya dengan namanya saja.
Wajah paman itu terlihat dingin, dia menatapnya lurus langsung ke manik matanya, wajahnya terlihat mengerikan bagi Darko, karena di tumbuhi jenggot dan bajunya pun terlihat kusam.
Darko merasa pria dihadapannya berbeda dari orang-orang yang biasa dia temui, dirinya menurut begitu saja, dia mengangguk polos, dan segera pergi dari tempat itu, instingnya mengatakan, pria itu bukan tandingannya, Darko segera kembali ke mansion tanpa berbalik.
Pria itu menatap Darko hingga dia masuk ke dalam mansion dan memastikannya tidak singgah ke tempat lainnya. Sebelum masuk, Darko berhenti, dia kemudian berbalik ingin melihat paman menyeramkan itu, tetapi dia sudah tidak ada.
"Apa dia seorang penyusup lainnya?" gumam Darko, dia mengangkat bahunya dan segera masuk menuju ibunya yang sedang menunggunya.
~
~
Hari itu Darko menatap kosong taman, bibir kecilnya bersenandung, sambil menatap ke dalam taman.
"Darko sayang apa yang kau lihat?" Tanya Hanna mendekati putranya lalu duduk disampingnya.
"Mommy, siapa pria di taman itu mommy? aku melihat seorang paman yang tinggal di dalam hutan, pernah aku bertemu beberapa kali dengan paman itu, sekali saat aku menyembunyikan barang bukti."
"Seorang paman? barang bukti apa sayang? Kau selalu menyebut mengenai barang bukti, apa itu sayang? maukah kau memberitahukan kepada mommy?" Ucap Hanna penasaran, seringkali putranya menyebut mengenai barang bukti, Hanna pikir ucapan Darko hanya ucapan atau kata-kata yang tidak begitu penting, tetapi karena putranya selalu menyebutnya, membuat Hanna akhirnya penasaran juga, apa yang putranya maksudkan dengan barang bukti.
"Maukah Darko menunjukkannya kepada mommy?" Ucap Hanna.
"Oke mommy, ikuti Darko." Dengan polos Darko mengajak ibunya masuk lebih dalam ke taman yang ditumbuhi pohon-pohon pinus, letaknya cukup jauh dari mansion, hingga Hanna khawatir dan tidak tahu kalau Darko bermain sejauh ini di dalam taman yang terlihat seperti hutan baginya.
Akhirnya Darko berhenti, di bawah satu pohon besar, ada gundukan tanah di bawahnya, serta di tutupi oleh dedaunan kering serta ranting yang berjatuhan di tanah. Darko dengan tangan kecilnya mulai menggali dengan menggunakan kayu panjang, dia menggali cukup dalam, ada sebuah kotak panjang, Darko lalu mengeluarkannya.
"Ini barang buktinya mommy." Ucap Darko kepada ibunya, dengan cepat Hanna turut berjongkok di samping Darko, dia membukanya, matanya membelalak ketika menemukan sekitar 6 sampai 7 pisau tajam berada di dalam kotak, dan salah satu dari pisau itu berbekas sesuatu berwarna merah kehitaman. Hanna memegangnya. "I..ini darah, ini darah siapa Darko?" Tanya Hanna, jantungnya kini berdegup kencang ketakutannya menjadi kenyataan.
Darko berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan ibunya. "Seorang penjahat mommy, dia hendak melukai seseorang, jadi aku membalasnya saja, mommy bisa bertanya kepada paman Luoe. Ucap Darko polos.
"Paman Loue? Apa dia tahu semua yang Darko lakukan?"
Darko mengangguk, Hanna lalu membenamkan kembali kotak itu ke dalam tanah, dia memegang bahu putranya dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.
"Darko, dengarkan mommy, jangan pernah menceritakan semua ini kepada siapapun di mansion, siapapun itu."
__ADS_1
"Apakah termasuk Daddy? Padahal aku ingin menunjukkan barang bukti ini kepada daddy nanti kalau ia pulang dari italia."
"Tidak Darko, jangan pernah menyebut-nyebut benda ini kepada siapapun, Darko mengerti yang ibu katakan? Kau mengertikan sayang?"
Darko lalu mengangguk, sambil menatap ibunya yang terlihat panik, matanya memerah, wajahnya menjadi pucat.
"Apa Darko sedang berbuat kejahatan? Kenapa mommy terlihat sedih?" Tanya Darko.
"Mommy tidak apa-apa sayang, aku ingin Darko hidup bahagia bersama daddy dan mommy, aku ingin Darko menjadi anak yang baik." Ucap Hanna.
"Apa mommy akan sedih jika aku memberitahukan kepada Daddy?" Hanna cepat-cepat mengangguk, "Hanya mommy yang boleh tahu rahasia yang di miliki Darko, hanya mommy saja yang boleh tahu, apakah ada orang lain yang tahu?" Tanya Hanna.
Darko mengangguk. Hanna memegang kedua pundak anaknya erat. "Siapa Darko, siapa yang mengetahui rahasia Darko?"
"Grandma Lexia, dia mengetahui semuanya, dia bahkan mengatakan kepada Darko untuk tidak mengatakan kepada siapapun rahasia milik Darko, dan kami telah membuat janji." Hanna menarik napas lega.
"Bibi Lexia sangat keras dan disiplin, tetapi dia sangat bijaksana, dia bahkan menutupi rahasia Darko dari siapapun juga." Hanna segera menggendong Darko dan akan kembali ke mansion.
Pria itu melihat mereka dari kejauhan, tatapan matanya jatuh kepada gundukan yang di tanam secara sembarangan. Dia lalu kembali menggalinya dan mengambil kotak itu. Pria bermantel itu membawa kotak itu dan menyimpannya.
~
Mansion Caesaar di Milan
Dazon baru saja pulang dan kembali ke mansion, setelah mengurusi beberapa hal yang melibatkan banyak rekan-rekan bianisnya yang berkecimpung di dunia bawah. "Tuan dazon, sebaiknya kita kembali ke mansion, tuan jangan terlibat dengan Mr. Weint, saya dengar-dengar dia bekerja sama dengan kelompok Chrounus, sebaiknya kita tidak bersentuhan dengannya, pria itu penuh intrik." Bisik Thomas setelah mereka menyelesaikan pertemuan penting itu.
"Baik, kita segera kembali, kalau pekerjaan di sini selesai, aku akan segera kembali ke Atlanta. Apa ada kabar terbaru dari mansion di Atlanta?" Tanya Dazon.
"Tidak ada tuan, Loue belum melaporkannya kepada saya."
Dazon akhirnya beranjak dari sana dan kembali ke mansionnya. Dia membuka jasnya dan melepaskan kancing kemejanya. Dia lalu duduk di salah satu sofa, menekan ponselnya dan menelepon istrinya begitu sampai di kamar utama.
"Halo sayang, kau masih belum tidur?"
Dazon merindukan istrinya, suara Hanna membuatnya ingin segera pulang dan memeluknya dan menghabiskan malam bersamanya.
"Aku baru pulang sayang, aku merindukanmu." Ucap Dazon sambil tersenyum.
"Aku juga sayang, aku merindukanmu." Dazon mendengar suara hanna seperti bergetar, suaranya terdengar seperti dia baru saja menangis.
"Aku baik Dazon, aku hanya terlalu banyak minum wine tadi, kepalaku sedikit pusing."
"Kau minum? apa yang membuatmu tiba-tiba minum Hanna, ada sesuatu yang kau khawatirkan?" tanya Dazon.
"Tidak sayang, tidak ada, aku hanya ingin minum saja dan memikirkanmu, kapan kau pulang?"
"Minggu ini aku akan pulang, Oh ya dimana Darko, aku jarang mendengar suaranya, dia bahkan lupa meneleponku." Ucap Dazon merasa sedikit kecewa. Hanna terkekeh.
"Sekarang dia sudah tidur sayang, jangan khawatir dia terlalu sibuk bermain sampai lupa meneleponmu."
"Besok aku akan menelepon Darko, sebaiknya kau tidur sayang, nanti aku menghubungimu lagi." Ucap Dazon.
Setelah menelepon Hanna, dia kemudian menelepon Loue. Ada sesuatu yang aneh dari suara Hanna, dia tampak mengkhawatirkan sesuatu, mengapa dia mencoba menyembunyikannya dariku? Dazon menekan ponselnya dan langsung terhubung kepada Loue.
"Halo tuan Dazon."
"Laporkan kepadaku, apa yang terjadi di mansion selama beberapa hari ini." Ucap Dazon, suaranya tegas. Loue terdiam beberapa saat, dia kemudian mengambil napas dan mulai berbicara.
"Beberapa hari yang lalu terjadi insiden di mansion tuan, dua orang pria berhasil menyusup ke dalam mansion dan bersembunyi di dalam penyimpanan anggur, untung saja sebelum mereka bertindak, kami berhasil meringkus mereka."
"Berikan penjelasan seakurat mungkin Loue, jangan ada yang kau sembunyikan kepadaku." Ucap Dazon.
"Bajk tuan, kami berhasil meringkusnya berkat tuan Darko."
Dazon tiba-tiba berdiri, "Darko, kenapa putraku tahu tentang penjahat itu."Ucap Dazon dengan suara mencekam.
"Saya tidak tahu tuan, tuan Darko muncul begitu saja di hadapanku dan memberitahukan kepadaku, kalau ada dua orang penjahat yang berhasil menyusup di mansion dan sembunyi di tempat penyimpanan anggur."
Dazon menghembuskan napasnya, dia memegang jidatnya dan berdiri didepan jendela kaca yang terbentang luas di hadapannya.
"Apakah sesuatu terjadi kepada putraku?" tanyanya khawatir.
"Keadaan dua penjahat itu bersimbah darah tuan, kaki-kaki mereka seperti di sayat oleh pisau tajam, sehingga keduanya tidak bisa bergerak lagi di dalam tempat itu."
"Baik Loue, laporkan kepadaku jika ada sesuatu yang aneh, dan awasi putraku."
__ADS_1
"Baik tuan."
Dazon memijat keningnya, dia lalu mengumpat melemparkan ponselnya ke atas sofa. "Apa yang Hanna pikirkan, kenapa dia menyembunyikannya dariku? kenapa dia menutupi apa yang telah Darko lakukan." Ucap Dazon kesal.
Dia segera mengambil kembali jasnya dan menghubungi Thomas untuk mempersiapkan segalanya, dia akan kembali ke Atlanta malam ini juga.
~
~
Malam itu lexia gelisah, dia bangun dari tidurnya dan segera keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju ke kamar Darko, dia tiba-tiba berhenti berjalan ketika melihat Hanna berdiri di sana sambil menutup mulutnya di depan kamar putranya, dia seperti terisak, dan menahan suara tangisnya.
Lexia melihat Hanna sesenggukan, kedatangan Lexia membuat Hanna terkejut. Dia lalu mengangkat jari telunjuknya ke bibirnya, agar Lexia tidak bersuara.
Lexia mengerti dan segera mendekati Hanna, apa yang membuatnya menangis dan hanya berdiri mematung di depan kamar putranya.
Lexia membelalakkan matanya ketika mendengarkan senandung Darko dari dalam kamarnya, suara senandung Darko yang kecil seperti berbisik parau.
"Aku telah menghabisi mereka, aku telah menghabisi mereka mommy, aku telah menghabisi mereka."
Lexia membelalakkan matanya, "Siapa yang telah di habisi oleh Darko?" Suara Lexia terdengar dari depan kamar Darko, membuat senandung Darko terhenti, dia terlihat sedang duduk di depan jendela dalam kegelapan, dia bersenandung sambil melihat dari luar jendela. Lexia menyalakan kamarnya, membuat Darko melindungi matanya dengan kedua tangannya.
"Jangan dinyalakan Grandma, aku lebih suka kegelapan, aku suka diriku berada di dalam gelap."
"Tidak, kau tidak boleh menyukai tempat yang gelap, selama grandma masih hidup, aku akan membawa Darko ke tempat yang terang, tempat yang menjauhkanmu dari kegelapan." Ucap Lexia. Mata Darko menatap Lexia seakan dia sosok yang telah mengganggu kesukaannya, kebahagiaannya.
"Kau marah kepada Grandma karena mengusik ketenanganmu?" tanya Lexia. Wajah Darko terlihat mengernyitkan alisnya, jelas sekali dia tidak menyukai kata-kata yang dilontarkan Lexia kepadanya.
Darko mengangguk dengan tenang, "Kenapa Grandma ingin menjauhkanku dari kesenangan Darko? Jika Darko tidak melakukannya, tubuh Darko akan sakit Grandma." Ucap Darko dengan jujur.
"Apa yang membuat tubuh Darko tidak sakit lagi? katakan kepada Grandma sayang." Ucap Lexia.
"Biarkan aku melihat kematian dua pria yang menyusup ke Mansion, maukah Grandma membawaku ke sana? jika mereka masih hidup, kehidupan Darko akan berada dalam bahaya Grandma, mereka akan menangkapku, jadi sebelum itu terjadi, Darko harus menghabisi mereka." Ucap Darko dengan tenang.
"Bolehkah Grandma memeluk Cucuku ini?" Tanya Lexia dengan mata berkaca-kaca menatapnya dengan pandangan pedih, Darko terdiam sebentar, dia kemudian mengangguk, Lexia memegangnya perlahan lalu memeluk tubuh kecilnya, jiwa anak ini sedikit demi sedikit berubah, dia sudah mengkhawatirkan segalanya, hidupnya yang berada dalam bahaya.
"Grandma berjanji, siapapun yang ingin melukai Darko, mereka akan menghadapi Grandma, itu janji Grandma kepada Darko, jadi jangan mengkhawatirkan apapun." Ucap Lexia sambil memeluk erat Darko dan menepuk punggungnya.
"Mommy dan daddy akan membenci Darko Grandma, aku akan menyembunyikan kesukaanku, aku akan menjadi anak baik di hadapan mommy dan daddy, aku tidak akan melakukan sesuatu lagi, karena Grandma berjanji akan melindungiku." Ucap Darko sambil menyandarkan kepalanya di bahu Darko.
~
~
Pagi itu Hanna terbangun dengan mata bengkak, dia begitu sedih melihat dan mendengar putranya berbicara seakan dia seorang diri, dan tidak akan ada yang melindunginya, dia baru berusia 5 tahun, kenapa dia berubah secepat itu, kenapa racun itu bereaksi di tubuh kecilnya secepat itu. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar, Hanna begitu terkejut dia berbalik dan melihat Dazon masuk ke dalam kamar dengan kemarahan terlihat di wajahnya, dia membuang begitu saja tas tangan dan kopernya di lantai.
"Kenapa kau menyembunyikan dariku Hanna, kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku dengan cepat apa yang terjadi kepada Darko, aku ini ayahnya, kenapa kau mencoba menyembunyikannya." Ucap Dazon dengan nada tajam kepada Hanna.
"Darko putraku, kau tidak bisa mengatasinya seorang diri, jangan menyembunyikan apa yang telah Darko lakukan." Bentak Dazon kepada Hanna.
Hanna menangis dalam diam, "Apa yang akan kau lakukan kepadanya ketika kau tahu dia akan berubah, seperti apa yang selama ini kita takutkan." Ucap Hanna.
"Kita harus mencari cara mengobatinya, cara agar Darko kembali normal, aku akan mencari cara menyembuhkan putraku dari racun sialan itu." Ucap Dazon sambil melepaskan kemeja yang dikenakannya dan melemparkannya di atas tempat tidur begitu saja. Dia kemudian memijat-mijat keningnya, matanya tertuju kepada Hanna yang masih menangis di hadapannya.
"Seharusnya kau memberitahukan kepadaku lebih cepat Hanna." Ucap Dazon, dia kini berdiri di depan Hanna dan menghapus air matanya, dia memegang dagunya agar menatap wajahnya. "Jangan menanggungnya sendirian, kita harus bersama mengobati Darko, dia putra kita, kau dengar aku sayang?" Ucap dazon lalu menghapus air mata Hanna dan memeluknya. Hanna lalu mengangguk di pelukan Dazon.
"Aku sangat marah, aku ingin marah kepadamu, tetapi kau curang Hanna, jangan menangis selagi aku ingin marah kepadamu, itu membuatku hanya ingin memelukmu dan menghapus air matamu." Bisik Dazon.
"Aku merindukanmu Dazon." Ucap Hanna. Dazon mengeratkan pelukannya, "Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Dazon sambil mengecup puncak kepala istrinya.
~
"Kenapa Hanna tidak bersama kita?" Tanya Lexia ketika semua orang sudah duduk di meja makan, termasuk Darko yang sudah duduk di samping Daneil Junior yang bulat.
"Pagi ini tuan Dazon kembali Nyonya." Jawab kepala pelayan yang selalu berdiri di dekat mereka ketika pertanyaan tiba-tiba muncul, maka dia sebagai kepala pelayan harus segera menjawabnya.
"Oh ya, jadi kita tidak usah menunggu mereka, sebaiknya kita sarapan saja dulu." Ucap lexia. Mereka semua makan sambil sesekali berbincang.
Daneil Junior memperhatikan Darko, dari tadi dia hanya mengaduk-aduk makanannya, tanpa memasukkan sedikitpun ke mulutnya.
"Hey Darko, kenapa kau tidak makan? kau hanya mengaduk makanamu saja." Tegurnya.
"Aku tidak lapar, aku tidak ingin makan." Ucapnya. "Apalagi pelayan itu menaruh paprika di dalam sandwich, orang gila mana yang menyukai paprika hijau pahit ini." Ucap Darko dengan suara bosan.
"Orang gila ini sangat suka dengan paprika sayang, jadi makanlah, setelah ini Grandma akan membawa kalian jalan-jalan, bagaimana?" Ucap Lexia.
__ADS_1
"Horeee, aku ikut grandma, aku ikut." Teriak Daneil Junior, Michaela dan Darko, begitu melihat Daneil mengangkat kedua tangannya yang gemuk dan tertawa senang, Darko pun meniru gerakannya, dia mengangkat tangannya dan tertawa seperti yang lainnya.