The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 52


__ADS_3

Sore itu langit sudah berubah menjadi senja, memperlihatkan warnanya yang berwarna jingga dan kemerah merahan. Saat itu didalam villa, dazon dan Hanna masih menikmati kemesraannya, tetapi ketika hanna hendak membalas ciuman dazon, matanya sedikit melirik ke dekat jendela, dia melihat ada bayangan dari luar jendela yang melintas.


Hanna mencoba melepaskan ciumannya dari dominasi dazon. "Daz, cukup ! Berhenti dulu, sepertinya aku melihat seseorang di luar villa." Ucap Hanna kepada dazon masih dalam posisi berbaring di atas meja dapur.


"Kau mungkin salah lihat sayang, tidak mungkin ada orang di sekitar sini, tidak sembarang orang yang bisa memasuki area villa ini, tunggu sebentar aku akan memantaunya lewat cctv." Ucap dazon, dia segera mengangkat hanna dari pembaringannya, separuh pakaian hanna sudah terlepas, membuatnya merona saat dia memperbaiki pakaiannya.


Dazon menekan-nekan sesuatu di monitor di samping dapur yang terhubung dengan Tv layar datar di ruang nonton.


Dazon memperhatikan di sekitarnya, dan ternyata hanna benar, ada seorang pria sedang berdiri di jendela dapur, ketika dazon lupa diri saat dirinya menciumi hanna tanpa memeriksa dulu keadaan di sekitar villa.


"Sial ! Siapa orang itu? Berani sekali dia masuk di sekitar villaku." Ucap Dazon, hanna segera mendekat ke tempat dazon dan memegang tangannya. "Kenapa sayang." Tanya dazon menatap Hanna.


"Aku mendengar suara kekehan seorang pria daz, apa kau tidak mendengarnya?" Bisik hanna mengetatkan pegangannya ke tangan dazon.


"Jangan khawatir, aku akan memeriksa di sekitar villa, kau tunggu aku di sini." Ucapnya.


"Tidak mau ! Aku ikut denganmu daz, aku takut." Ucap hanna. Dazon menggenggam tangan hanna, mereka bersama-sama memeriksa di area sekitar villa, sebelum itu, dazon memegang senjata api di tangan kanannya, lalu mereka mulai mengelilingi tempat itu. Dazon mulai memeriksa sekitar teras depan yang langsung terhubung dengan kolam renang.


Kosong, tidak ada apapun di sana, hanya suara deburan ombak yang memecah keheningan saat itu dan suara serangga yang menyambut malam.


Dazon melanjutkan mengelilingi sekitar villa, dan menatap sekitar taman-taman dan pohon-pohon yang berbaris rapi di sana, tetapi sama sekali tidak ada yang aneh. Hanya suara daun kering saja yang terdengar dan membuat suara-suara ketika mereka menginjaknya.


"Mungkin kita salah lihat sayang," ucap Dazon setelah mengelilingi villanya. Dazon masih berjaga-jaga dengan senjata di tangannya. "Lebih baik kita masuk, sudah mulai gelap."


Mereka memutuskan masuk karena udara mulai terasa dingin. Dazon dan Hanna akhirnya masuk dan segera menyalakan lampu di sekitar villa, dazon menyalakan tungku di pembakaran, sementara itu hanna sedang sibuk di dapur, mempersiapkan makan malam mereka.


Hanna akan membuat makanan sesimpel mungkin, dia membuat sphagetti saus tomat di campur dengan potongan daging. Tiba-tiba kedua tangan dazon menyusup di balik pinggang hanna, dia mulai memeluknya sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di leher hanna.


"Kelihatannya lezat, aku sudah tidak sabar mencicipimu," ucap dazon melirik kepada hanna, sengaja mengatakan hal itu, membuat hanna melirik ke samping ke tempat dazon menatapnya. Hanna memutar tubuhnya, dia kemudian berjijinjit dan mensejajajarkan tubuhnya dengan tubuh dazon. Hanna menciumnya mengalungkan kedua tangannya di leher dazon. Mereka saling berkutat di dapur itu menabrak kulkas dan meneruskan ciuman mereka sampai di kursi empuk di ruang nonton.


"Kita tidak akan bisa makan malam jika kau terus menyerangku dazon, dan kau tahu, aku tidak bisa menolakmu." Bisik Hanna.


"Sedikit lagi, dan aku akan selesai." Ucap dazon di sela-sela ciumannya. Kekehan panjang terdengar di ruangan temaram itu. Dazon terkejut, dia mengangkat kepalanya dari bibir hanna, dia kemudian cepat-cepat berdiri dan menarik hanna untuk ikut berdiri, hanna cepat-cepat memperbaiki dirinya yang acak-acakan karena dazon.


"Sudah aku bilang daz, ada orang yang sejak tadi memperhatikan kita." Bisik hanna memeluk lengan dazon.


Dazon segera mengeluarkan senjatanya, dia menekan tombol-tombol lampu agar seluruh area villa itu menyala, tetapi sayang sekali, lampu itu tidak mau menyala. Penerangan hanya berasal dari tungku api yang dinyalakan oleh dazon.


"Sial !" Umpat dazon ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok bayangan melintas di belakang jendela.


"Daz, sepertinya orang itu ada di belakang villa." Bisik Hanna.


"Sst, ikut aku hanna, pegang erat tanganku." Ucap dazon, mereka berjalan pelan dan menyandarkan tubuh mereka di dinding di samping jendela, kemudian mengintip dari balik jendela. Dazon kini melihatnya.


Sosok itu mencari-cari sesuatu, dia kemudian mengendus-ngendus wangi makanan yang sedang di masak oleh hanna. Kembali terdengar kekehan panjang, kini dazon melompat ke hadapan orang itu dan mengarahkan senjatanya tepat ke tubuh pria yang masih tertawa-tawa di jendela.


"Ma..makan, boleh aku minta makan?" Ucapnya.


"A..aku bukan orang jahat, aku hanya mencari makan, sudah tiga hari aku berada di sini, dan belum makan sedikitpun." Ucap pria itu. Dazon masih mengarahkan senjata kepadanya.


"Kenapa kau bisa berada di sekitar villa ini? Tempat ini terlarang bagi orang luar." Ucapnya.


"Cr..crounus membuangku di hutan dekat dari villa ini, dia pikir mungkin aku..aku telah mati setelah memukulku dan menyuntikku, tetapi ternyata aku masih hidup, aku berjalan sepanjang hutan, mencari cara untuk keluar dari tempat ini dan kemudian aku menemukan villa anda, jadi aku ke sini, untuk meminta pertolongan."


"Kelompok Crounus, kau mengenal mereka?" Tanya dazon.

__ADS_1


"A..aku meminjam uang kepada mereka, tetapi karena sudah jatuh tempo dan aku sama sekali tidak bisa membayar hutangku, bahkan bunganya saja tidak bisa kubayar, jadi mereka menghajarku dan menyuntikku dengan cairan aneh dan membuangku ke hutan ini." Bisiknya.


Dazon mendengarkan dengan seksama, meskipun pria itu berkata jujur tetapi dazon tidak menurunkan kewaspadaannya.


"Tunggulah di luar, aku akan membawakanmu makanan dan kau bisa pergi dari sini dengan menggunakan bus menuju kota." Ucap dazon.


"Te..terima kasih tuan." Bisiknya.


Hanna bersembunyi di belakang dazon, dia mengintip dari t-shirt dazon, pandangan pria itu seketika tersenyum ketika melihat Hanna. Sebelum dazon memberikan sepiring kepada pria itu, suara geraman terdengar dari mulutnya, dazon kembali mundur dan mengarahkan pistol kepada pria di balik jendela itu.


Dia tadi kelihatan normal ketika berbicara, tetapi sekarang, tatapannya seakan kosong, suaranya lebih terdengar seperti binatang. Apakah karena suntikan yang diberikan oleh Crounus sehingga suara pria itu terdengar seperti monster.


Saat pria itu hendak menyerang dazon, Seseorang berdiri di belakang pria itu, menarik kerah bajunya dan menghempaskannya sehingga jatuh ditanah.


Dazon mengernyitkan alisnya, dia ingin mengetahui siapa sosok pria bermantel yang mencengkram pria tadi?


Dazon menarik hanna, sedikit lebih mendekat, dia ingin mengetahui pria yang telah menolongnya, tatapannya jatuh pada pria yang mengenakan mantel itu, ternyata dia adalah Riel.


Riel sedang menyeret pria asing itu, usianya seperti riel, nampak lusuh dan kurus, wajahnya terlihat memar-memar, sedangkan kekehannya tidak berhenti meskipun riel menyerang pria itu.


Dazon melihat tingkah aneh pria itu, dan mengingat penjelasannya, meskipun sebentar, pria itu tampak normal ketika dia menceritakan tentang dirinya yang di serang dan di suntik oleh pihak Crounus.


"Di suntik? Apakah tingkah aneh pria itu karena suntikan dari Crounus?" Gumam Dazon.


Suara pukulan beradu, riel membungkam pria itu hingga dia babak belur dan menyerah, dia mengangkat tangannya tanda bahwa dia menyerah dan tidak akan menyerang lagi.


"Riel, hentikan ! Cukup." Perintah dazon.


Riel berhenti memukulnya, dia mundur beberapa langkah dan berbalik menatap dazon, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Hanna yang bersembunyi di belakang dazon.


"Aku hanya melindunginya !" Jawabnya perlahan.


"Melindunginya, siapa?"


Terdengar decitan ban mobil dari arah luar villa, langkah kaki para pengawal membuat Riel secepat itu kembali memasuki hutan dan berlari dengan kencang.


Dazon menatap kedatangan Thomas dan Loue serta pengawal-pengawal lainnya. "Ck, cepat juga kalian menemukan lokasiku." Ucap Dazon dengan pandangan sinis kepada mereka berdua.


"Anda tidak apa-apa tuan, sebaiknya anda keluar dari area villa ini." Ucap thomas.


"Kenapa? Apakah karena pria yang di suntik oleh Crounus itu? Dia tidak bisa lagi bergerak."


"Bukan itu sir, hutan sebelah merupakan tempat laboratorium milik crounus, mereka menguji hasil serum maupun racun-racun mereka dan menyuntikkan kepada orang-orang yang berutang kepada mereka, ketika orang yang berutang tidak mampu membayar utangnya."


"Villa ini sudah tidak aman lagi sir." Ucap Loue.


"Kenapa tidak ada laporan mengenai uji lab Crounus di pulau ini?" Tanya dazon.


"Karena tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Riel, villa ini sir, jadi kami tidak melaporkannya kepada anda." Jawab Thomas.


"Jadi kelompok Crounus menyuntikkan orang-orang yang berutang kepada mereka dan menaruhnya di hutan ini." Ucap dazon jengkel.


"Iya, sir."


"Erm, ada telepon dari tuan Caesaar sir, anda diminta untuk kembali ke mansion, juga Nona Hanna."

__ADS_1


Dazon menatap hanna, lalu menatap thomas. "Kau bercanda? Kenapa kakek ingin bertemu dengan Hanna?" Tanyanya.


"Kalau kakek ingin mengancam hanna, dan memisahkankau darinya, itu percuma saja, aku tidak akan meninggalkannya."


"Tuan, silahkan lewat sini, meskipun anda pergi lagi, anda akan terus dikejar oleh Tuan Caesaar." Ucap thomas menulikan ucapan Dazon.


Dazon menggertakkan giginya, mau tidak mau dia mengikuti saran thomas dan masuk ke dalam mobil, genggamannya kepada Hanna tidak pernah terlepas sedikitpun. mobilpun melaju membelah malam menuju Atlanta malam itu.


~


Malam itu tepat jam 2 dini hari, mereka tiba di mansion, Hanna sudah terlelap di pelukan dazon, dia sangat ngantuk dan langsung tertidur, dazon mengangkat tubuh hanna pelan-pelan, dia kemudian masuk ke dalam mansion dan membawanya ke kamarnya.


Dazon membaringkan tubuh hanna di atas tempat tidurnya, lalu menyelimutinya.


Dia melepaskan T-shirtnya dan segera membersihkan dirinya, kemudian mengenakan kimono tidur berwarna hitam lalu duduk di depan jendela sambil menyesap minumannya.


Matanya kembali kepada Hanna, malam ini meskipun lelah karena perjalanan jauh, dia tidak bisa tidur. Besok, kakeknya akan bertemu dengan hanna, entah apa yang akan kakek katakan kepadanya, mungkin kakek akan meminta Hanna untuk menyerah dan menyuruhnya pergi sejauh mungkin darinya.


Jika hal itu terjadi, dazon akan mengejar Hanna kemanapun dia pergi. Dia menghabiskan minumannya dengan sekali teguk, lalu mendekati tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Hanna.


Dia menariknya agar mendekat dan memeluknya erat. "Aku tidak akan melepaskanmu hannah, meskipun kau lari dariku." Bisik dazon.


~


Pagi telah menyambut keluarga Caesaar, nampak orang-orang di mansion itu kelihatan sibuk, entah acara apa yang akan mereka gelar, tetapi mereka semua telah bersiap-siap pagi itu.


seluruh keluarga Caesaar sudah berada di Hotel Atlanta. Mereka berada si ruang tunggu sambil mengharap-harap cemas, apakah dazon akan datang ke pernikahannya sendiri.


~


Sementara itu Hanna telah bangun, tetapi dia terbangun di ruangan yang lain, ruangan itu terlihat mewah, seperti kamar hotel untuk tamu VVIP, dia kemudian melentingkan tubuhnya, dia berdiri dengan cepat, pintu kamar telah terbuka, lima orang pelayan membantu Hanna bersiap-siap meskipun hanna menolaknya, tetapi desakan dari mereka semua membuat hanna menurutinya.


"A..aku ada di mana, dazon ! dimana dia?" ucap Hanna.


Setelah mandi, hanna bersiap-siap, dia duduk di depan meja rias dan mereka berlima segera bekerja dan mempersiapkan Hanna dengan gaun pengantinnya, setelah proses yang memakan waktu cukup lama, Hanna akhirnya telah siap, dia masih bingung dengan gaun yang di kenakannya.


"Me..mengapa aku mengenakan gaun ini? Kenapa?" Ucap Hanna kepada kelima pelayan yang bekerja layaknya seperti robot, mereka bekerja cukup cepat, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, meskipun dari tadi sudah banyak pertanyaan yang di lontarkan hanna kepada mereka.


Hanna berdiri di tengah-tengah ruangan dengan mengenakan Wedding Drees berwarna putih, dia tampak sangat cantik mempesona, hanna memegang bunga di tangannya.


Jantungnya berdegup kencang, seseorang membuka pintu ruangannya, lalu pengawal bernama Thomas masuk dan membiarkan seseorang ikut masuk. Hanna membelalakkan matanya, pria itu adalah tuan Caesaar, dia mengenakan jas berwarna hitam panjang, rambutnya yang panjang di sisir kebelakang, mirip seperti rambut dazon yang suka di sisir rapi ke belakang meskipun perbedaanya hanya karena rembut Tuan Caesaar seluruhnya sudah memutih.


Dia berjalan sambil memegang tongkat, dia melangkah dan masuk ke dalam ruangan. Matanya tertuju kepada Hanna yang duduk, dia kemudian ikut duduk di hadapannya dengan Thomas dan Paulo berdiri di samping kiri dan kanannya.


Pandangannya tajam, matanya berwarna saphier terang, berbeda dengan mata milik Dazon yang berwarna Coklat seperti ibunya.


"Nona Hanna Tan, senang berjumpa denganmu." Ucap tuan Caesaar.


Hanna tidak mampu berkata-kata, dia merasa riasan make-upnya telah luntur karena keringatnya. Dia kemudian tersenyum ramah kepada Hanna.


"Sebelum kita melangsungkan acara pernikahanmu, saya akan menjelaskan dulu semua hal yang terjadi, sebelum kita memasuki acara pernikahan kalian." Ucapnya.


"Per..pernikahanku?" Gagap Hanna, tangannya gemetar, dia ketakutan, menikah? apa maksudnya dia akan menikah, lalu dia akan menikah dengan siapa?


"Saya tahu, kau pasti bingung dengan semua yang terjadi, tapi percayalah semua ini akan berakhir dengan bahagia." Ucap Tuan Caesaar sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2