
Teman-teman Readers jangan lupa vote like and comentnya yaaa🙆, selalu kutunggu☕
🌺Happy Reading 🌺
Kediaman Burchard, 20.00
Malam itu terasa dingin kala lovelia membuka jendelanya dan menatap awan yang terlihat cerah tanpa awan mendung mengiringinya, langit ditaburi bintang dengan kilaunya yang berkelap kelip jauh di sana seakan-akan mengejek kesedihan lovelia yang tidak hentinya bersedih.
Dia kembali menghapus air matanya, perasaan lovelia begitu kacau saat itu, ingin rasanya lovelia saat itu juga menyatakan perasaannya tanpa memperdulikan apapun lagi, dia ingin menyampaikan perasaannya kepada Alvin yang sampai detik ini belum tiba di mansion, tidak henti-hentinya lovelia memikirkan apa yang di lakukan Alvin di luar sana? Apakah dia bersama seorang wanita lalu mereka bersama malam ini? Segala pikiran aneh merasuk ke otaknya memikirkannya saja membuat lovelia tak hentinya menangis apalagi hal tersebut akan menjadi kenyataan.
Suara deru mesin mobil menyadarkan lovelia dari lamunannya, dia mengangkat kepalanya agar dapat melihat sosok yang datang pada jam seperti ini. Alvin baru saja keluar dari mobilnya, dia mengenakan suit berwarna hitam, dia menutup pintu mobilnya dan menatap kamar lovelia.
Lovely segera bersembunyi, jantungnya berdetak kencang, dia ingin sekali bertemu dengan Alvin tetapi saat itu juga dia marah kepadanya karena telah menemui wanita lain dan pulang Selarut ini. Tidak lama menunggu, suara sepatu terdengar dari depan pintu kamar lovelia, tepat berhenti di sana. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati lovelia dia enggan untuk bertemu Alvin, dia ingin mengungkapkan kekesalannya tetapi dia tidak punya hak untuk marah apalagi cemburu, dia hanyalah keponakannya, dia putri dari kakak kandungnya dan lovelia tahu hubungan ini tidak akan terjadi.
Dengan menahan rasa kecewa lovelia hanya sanggup mendengar ketukan sepatu itu menjauh dari kamarnya. Dia memeluk erat boneka pemberian Alvin dan terisak di sana hingga rasa kantuk membawa lovelia masuk ke alam mimpi.
~
Nara tak henti-hentinya mengutuk pria yang telah mencuri ciuman pertamanya, bibirnya seakan di permainkan olehnya, beberapa kali dia masuk ke kamar mandi untuk menghapus bekas ciuman yang masih dapat dirasakan Nara malam itu. Jantungnya berdetak, apakah dia harus menerima kenyataan ini, diperlakukan seperti ini hanya karena menerima pekerjaan sebagai sekretaris pribadinya.
Nara menghapus air matanya dengan kasar, lalu menyentuh bibirnya, terasa berbeda setelah pria itu menciumnya. Ponselnya berdering, dia menatap pada layar ponselnya dan melihat bibi Elma sedang meneleponnya. Sebelum menjawab ponselnya Nara memperbaiki suaranya agar tidak terdengar serak karena menangis.
"Halo bibi kau baik-baik saja?"
"Ya, Nara kami semuanya baik di sini, bagaimana dengan kerajaanmu di sana apa kau beta"?"
"Y..ya bibi Elma, aku menyukainya." Nara tersenyum miris dia masih menahan genangan air mata yang hendak tumpah kembali.
"Jaga kesehatanmu Nara, kami di sini selalu mendoakanmu, baik-baiklah di sana."
"Ya, bibi elma, erm...aku harus pergi pekerjaanku belum selesai." Ucap Nara berbohong karena air matanya kini tumpah di pipinya. Setelah Nara menutup ponselnya, kerinduannya kepada mereka semua membuatnya lebih sengsara, dia kapan saja bisa pergi dari sini tetapi dia tahu dia tidak akan bisa, pria itu sudah mengikatnya dengan kontrak.
Nara menghapus sisa-sisa air matanya, dan segera kembali ke kamar mandi untuk memercikkan air di wajahnya yang sembab. Bagaimanapun juga dia harus menghadapi pria Arogan itu.
~
Setelah kejadian yang menimpa lexia dengan minuman perangsang yang di teguknya membuat lexia sangat geram, dia harus membalas perbuatan wanita itu, meskipun dia sedikit merasa lega karena hanya dia yang meminum minuman perangsang itu dan bukan Daren.
Lexia berjalan di balkon dengan tangan terlipat di dadanya, memikirkan balasan setimpal atas perbuatan melda, dia sudah berani menggunakan hal-hal licik untuk menjebak Daren.
"Perempuan tua sialan ! Kau harus mendapatkan pembalasan setimpal dariku Melda." Kemarahan lexia di barengi dengan Thomas yang membawa informasi mengenai hasil pemeriksaan cctv di semua tempat di mansion itu, mereka semua berkumpul di ruang kontrol pada saat Thomas melaporkan mengenai hasil pemeriksaannya
Lexia duduk di depan pusat kontrol monitor tempat memantau puluhan cctv yang ada di mansion itu.
Daren sedang menggendong Ax, sementara lexia melihat kejanggalan yang diperlihatkan Thomas pada monitor nomor 8, seorang pengawal mengendap-endap ke dapur dan berdiri di depan makanan dan minuman, setelah itu dia berbalik sebentar dan keluar dengan mengendap-endap.
__ADS_1
"Siapa pria ini?" Tanya Xaphier yang duduk di samping lexia.
Dia menunjuk pada pria dengan wajah latin dan berkulit coklat yang mengendap-endap masuk ke dapur.
"Dia salah satu pengawal yang ditugaskan berjaga di pintu belakang dekat dengan lokasi dapur." Ucap Thomas.
"Bawa dia ke kehadapanku." Ucap Xaphier.
"Baik sir."
Mereka semua kembali ke ruang makan karena sebentar lagi makan siang akan dihidangkan tetapi sebelum itu Thomas kembali dengan membawa seorang pria dengan wajah latin dengan tubuh tegap dan kulit kecoklatan. Dia berdiri di hadapan mereka semua dia sedikit menunduk seperti mengetahui kesalahannya telah di ketahui.
"Siapa Namamu?" Tanya Xaphier menatap wajah pria yang menunduk di hadapannya. Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya lalu berbicara lancar kepada Xaphier.
"Na..namaku gerald wallm, Wanita itu... Nyonya Melda yang menyuruhku tuan, dia memaksaku Melakukan semua itu." Ucapnya dengan ketakutan.
"Dimana dia sekarang?"
"Dia ada di apartemennya di new York." Jawabnya.
"Apakah kau mengetahui rencana yang akan dilakukan Melda? Kau pasti tahu, apa yang diinginkannya." Xaphier menatapnya tajam seakan dengan berbicara kepadanya adalah kesempatan terakhirnya untuk menghirup udara segar.
"Dia...dia sedang mencari seseorang."
"Seseorang? Siapa dia?" Tanya lexia.
"William Luther? Kau kenal dia Daren?" Tanya Xaphier berbalik memandang Daren.
"Hem, ya aku mengenalnya, dia pernah menjadi mata-mata di mansionku dan dulu dia juga menyukai lexia." Ucap Daren mengangkat satu alisnya sambil menatap istrinya yang sedang duduk di sampingnya.
'Apa?' bisik lexia.
'Apa kau pernah dicium oleh William?' tanya daren menatap intens wajah istrinya.
'jangan konyol Daren itu sudah berlalu dan sudah sangat lama, lagi pula bukan aku yang menciumnya dia yang menciumku seenaknya.' gumam lexia.
Daren menyipitkan kedua matanya, tiba-tiba tangannya yang ahli sudah bergeser dan bergerak, jari-jarinya mulai bermain di bawah sana, seketika lexia terpekik karena godaan Daren padanya. Mereka semua menatap ke arah lexia. "Ck, aku menggigit lidahku." Ucap lexia agar mereka tidak memperhatikan lexia yang ingin mengerang karena Daren sudah memanjakan tangannya hingga lexia bergetar tak kuasa menahan sentuhan Daren.
Lexia kehilangan konsentrasinya karena Daren yang memainkan jarinya di bawah sana, apalagi tubuh lexia yang sensitif masih terasa di antara pangkal pahanya, dan Daren tidak puas-puasnya memanjakan dirinya siang itu mengabaikan orang-orang yang duduk di sana.
Xaphier berdiri, setelah mendapatkan hasil dari interogasinya dia hendak pergi tetapi sebelum dia pergi matanya berbalik kepada lexia dan Daren.
"Carilah kamar, kalian terlalu jelas." Ucap Xaphier mengenakan suitnya dan segera pergi bersama Thomas dan pria latin itu.
"Ck, ini salahmu Daren, kenapa kau masih sempat melakukannya di tempat banyak orang seperti ini?" Ucap lexia menyerang Daren dan duduk mengangkangi tubuh daren, memainkan jari-jarinya di leher hingga rahang Daren, matanya beralih ke tubuh lexia yang menggesek-gesekkan dirinya ke perut Daren, tanpa menunggu lama Daren mengangkat lexia lalu mencari kamar terdekat.
__ADS_1
~
Siang itu Nara baru saja selesai makan siang, karena seorang diri saja di penthouse itu, dia hanya makan santapan yang cepat di olahnya, hanya membuat omelette dan salad, setelah itu Nara kembali berkutat dengan jadwal-jadwal Xaphier setiap harinya. Nara mencium wangi parfum seseorang yang begitu di kenalnya meskipun dari jarak yang jauh sekalipun dan benar saja pemilik penthouse ini baru saja membuka pintu masuk. Nara segera berdiri dan segera berada di dekat pintu berdiri di sana seakan sudah lama menunggu kedatangan Xaphier.
Xaphier mengerlingnya memperhatikan reaksi wanita yang telah diciumnya, tetapi sikap Nara yang terlihat profesional membuat Xaphier tidak menyukai sikapnya yang seperti itu. Dia melepaskan jas dan dasi dan melemparkannya di sembarang tempat.
"Aku ingin makan malam bersamamu malam ini, jadi aku ingin kau bersiap-siap." ucap Xaphier sambil lalu, Nara masih berdiri melongo dengan ucapan Daren. "Siap-siap?" ucapnya bingung.
Xaphier berdecak lalu beralih menatap pakaian yang sekarang di kenakan Nara saat ini. "Sebentar lagi jaden akan datang membawakanmu gaun, jadi sebelum jam 7 malam kau sudah harus siap dan menungguku di ruangan ini." ucap Xaphier sambil lalu, tetapi matanya selalu memperhatikan setiap ekspresi yang di pancarkan gadis itu, dia kembali menggigit bibir bawahnya seakan berpikir keras mencari solusi dari masalahnya. Xaphier tersenyum miring, melihat wajah gelisahnya membuat Xaphier senang dan puas, kemudian dia beranjak ke kamarnya.
~
Siang itu di kediaman Tuan Robert lovelia murung sejak tadi, tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, dia sarapan dalam diam, setelah mendapatkan telepon dari Barbara pagi ini, dia malah semakin sedih. Mendengar ibunya meneleponnya dengan masih mabuk-mabukkan membuat lovelia mengkhawatirkan kesehatan ibunya, meskipun dia bersalah karena sikapnya saat di pesta yang ingin memperkenalkan dirinya dengan pria tua, tetapi lovelia masih khawatir dengan kesehatan ibunya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya kepada kakeknya siang ini ketika mereka semua makan siang bersama.
"Kakek? erm..Aku ingin kembali ke mansion, aku mengkhawatirkan kondisi ibuku." ucapnya, tiba-tiba Alvin begitu saja berbalik dan menatap lovelia.
"Apa kau yakin? kondisi ibumu sepertinya lebih parah di bandingkan Sebelumnya, dia menkonsumsi Alkohol sampai harus keluar masuk rumah sakit." ucap tuan Robert. "erm..ya kakek, aku ingin melihat kondisi ibu." ucapnya lagi.
"Apa kau yakin Lovelia?" tiba-tiba Alvin bertanya kepadanya padahal sejak tadi dia mendiamkannya dan bersikap dingin kepada lovelia.
"Ya paman aku yakin." ucap lovelia. Tuan Robert mengambil napas panjang. "Baiklah jika kau ingin mengunjunginya, tetapi segera hubungi kami jika sesuatu terjadi, kau mengerti lovelia?" pandangan mata tuan Robert menatap Alvin yang tidak melepaskan pandangannya kepada lovelia.
"ehhem, Alvin kau ikut denganku ke kantor hari ini, Sebastian kurang enak badan jadi kau menggantikan tugas-tugasnya." ucap tuan Robert dengan cepat berdiri dan melangkah masuk ke ruangannya.
Setelah tuan Robert pergi tinggal mereka berdua saja yang ada di sana, kesunyian diantara mereka seakan membuat jarak pembatas, keakraban mereka tiba-tiba terkikis dengan cepat dan menjadi asing diantara mereka berdua.
"Lovely? apa kau yakin kau ingin kembali ke mansion ibumu?" tanyanya. Lovelia berbalik dan menatap mata coklat yang dirindukannya. "Erm, ya aku yakin paman aku mengkhawatirkan kondisi ibuku." ucapnya.
Alvin mengambil napas panjang, seakan menyerah dengan keputusan lovelia. "Baiklah, jika kau sudah memutuskan, tetapi ingat segera telepon aku atau ayah jika sesuatu terjadi." ucap Alvin. Lovelia mengangguk lalu segera berdiri dari meja makan, dia tidak mau berlama-lama bersama dengan Alvin, jika Tidak perasaannya akan tertuang begitu saja dibibirnya.
~
Daren masih sibuk bersama lexia di salah satu kamar tamu, mereka masih berkutat mendominasi masing-masing dan saling menguasai tubuh mereka, lexia yang liar dan panas serta Daren yang mesum tak henti-hentinya mengklaim lexia dimanapun ketika hasratnya bergejolak. Napasnya kian memburu, gerakan mereka berdua seirama dengan tempo yang sama. Setelah hentakkan keras Daren mereka berdua ambruk tak kuasa menahan puncak kenikmatan bersama.
Napas mereka bersahutan, mencoba menetralkan irama napas yang memburu. Suara-suara terdengar dari luar, suara itu adalah suara seorang wanita yang sedang berbincang dengan tuan caesaar yang tengah menggendong Ax.
Lexia dengan cepat berdiri begitu saja tanpa memperdulikan mereka berdua masih menyatu hingga daren mengerang karena ketergesaan lexia. "Ugh, lexia apa yang kau...
"Aku mendengar suara wanita itu Daren, dan Ax bersama dengan kakek, aku tidak ingin wanita itu menyentuh putraku dengan tangan kotornya, dalam sekejap lexia sudah selesai berpakaian dan keluar dari kamar tamu, nampak Melda sedang menggendong Ax di tangannya sementara itu tuan caesaar masih berada di dalam kantornya.
Dengan langkah besar dan cepat dia mengambil putranya dengan kasar dari melda yang terperanjat dengan kedatangan lexia.
Lexia menunjuk-nunjuk di depan wajah Melda. "Jangan sekali-kali kau menyentuh putraku dengan tangan kotormu sialan ! sudah cukup kelicikanmu kepada suamiku." ucap lexia dengan geramnya dia mendorong Melda hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
Melda mencoba bersikap normal dan mencoba tidak terintimidasi dengan sikap lexia, dia masih mengibarkan senyuman di bibirnya. "Sikap kasarmu itu tidak berubah lexia, bahkan setelah kau belajar privat pun sama sekali tidak berubah, jika asalmu dari tempat yang kotor maka sikap dan perangaimu tidaklah berbeda dari mana kau berasal." ucapnya sambil menyunggingkan senyuman menyebalkannya.
__ADS_1
Lexia tersenyum miring. "Hem, benar yang kau katakan, tempatmu yang kotor dan hina dimana kau dilahirkan sudah terlihat jelas dengan melihat tingkahmu yang kelaparan ketika melihat pria-pria, bukankah tempatmu dahulu lebih hina di bandingkan dengan tempat sampah? lahir di tempat para berkumpulnya ******-****** yang menjajakan dirinya, dan lihat dirimu sekarang, kau tidak jauh berbeda dengan mereka." ucap lexia dengan pandangan tajam. Melda tersentak, dia tercekat dengan ucapan lexia, dari Mana dia tahu asal usulnya? "Be..beraninya kau...!" Napasnya tidak beraturan serta wajahnya memerah karena mencoba menahan kemarahannya.