The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Melarikan diri 2


__ADS_3

Mobil Chevrolet berwarna hitam itu melaju dengan kencang, sudah beberapa jam pelarian lexia dari mansion Burchard.


Edo menatap lexia dari kaca depan mobilnya. "kau nampak berbeda lexia." Ucap Edo.


"Benarkah? Ya aku berbeda, aku lebih cantik bukan?" Ucap lexia sambil membongkar isi tasnya dan mengambil jaketnya karena udara malam membuat tubuhnya menggigil.


"Sepertinya otakmu juga ikut berubah." Sindir Edo.


"Diamlah, sebaiknya kau perhatikan jalanan di depanmu, jangan sampai mereka mengejar kita." Lexia merentangkan tubuhnya di kursi mobil, dia menghembuskan napasnya, baru kali ini lexia merasa sebebas ini selama terkurung di mansion itu.


Lexia tahu kalau dia sudah menyalahi kontraknya, meskipun dia sudah menandatangani kontrak itu tetapi lexia ingin segera bebas dari keluarga terpandang dan membosankan itu.


"Sebenarnya kau bekerja kepada siapa lexia?" Tanya Edo.


"Ugh jangan kau tanyakan, hanya sebuah keluarga kelas atas, hanya itu yang perlu kau tahu, mereka berbahaya sebaiknya kau tidak perlu tahu nama keluarga mereka."


"Memang kenapa?"


"Nanti aku akan menceritakannya, oke ! Kita harus keluar dari kota ini secepatnya, mereka pasti akan mencariku di setiap sudut kota Manhattan." Kata lexia sambil menatap gemerlapnya cahaya dari luar jendela mobil kusam itu.


~


Daren telah tiba di mansionnya, Evan berjalan menghampiri Daren dengan beberapa bodyguard di belakangnya.


"Bagaimana dia bisa melarikan diri?" Tanya daren masih dengan suara tenang.


"Dia lewat dapur sir." Ucap Evan.


"Kalian melihat dia melarikan diri dengan siapa?"


"Ada sebuah mobil yang sudah menunggunya di sudut gang jalan sir, Sepertinya dia sudah merencanakan pelariannya." Ucap salah satu penjaga.


"Cari dan temukan dia." Ucap daren dengan suara yang dingin dan mencekam.


Daren melangkah dan masuk ke dalam mansionnya, dia kemudian teringat dengan surat yang di berikan Lexia kepadanya, dia mengambilnya dari dalam lacinya dan membacanya.


'Kau berbohong padaku daren, nenek Rossie telah wafat, aku tidak memiliki alasan lagi untuk bekerja denganmu, selamat tinggal.'


Daren merobek kertas itu dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.

__ADS_1


"Sial ! Pantas saja sikap gadis itu menjadi aneh, rupanya dia sudah mengetahuinya." Daren menelepon seseorang.


"Segera sebarkan orang-orang Burchard di setiap sudut kota Manhattan, aku tidak perduli bagaimana caranya, kalian harus menemukannya, bawa dia ke hadapanku." Ancamnya.


~


Lexia tertidur di sepanjang perjalanannya, hanya Edo yang sedang menyetir dan bertahan dari rasa kantuknya.


Lexia mengerutkan alisnya, lalu menguap dan menatap jalanan di sekitarnya.


"Kita ada dimana Edo?" Tanya lexia.


"Kita sudah di kota Bronx, bangunlah kita akan mampir untuk sarapan." Ucap Edo yang menepikan mobilnya di sebuah restaurant siap saji. Lexia dan Edo turun dari mobilnya dan masuk ke restaurant itu.


Lexia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut.


"Ada apa lexia?"


"Aku harus mengeceknya, bisa saja orang-orangnya ada di sekitar sini." Ucapnya.


Edo memandang lexia, baru kali ini dia menatap lexia lekat-lekat, perubahannya jelas terlihat, dia seperti bukan lexia si pengais sampah melainkan gadis cantik normal yang biasanya nongkrong bersama gadis dan pria keren atau populer.


"Kau kenapa Edo?" Tanyanya.


"Berbeda? Kalau yang kau maksud penampilan idiotku ini kapanpun aku bisa mengubahnya bodoh, jadi berhentilah menatapku kau membuatku merinding."


Edo tertawa, dia kemudian kembali kepada Edo yang biasa dan tidak terlihat canggung lagi.


ketika pesanan mereka sudah datang lexia makan dengan lahap. "Pelan-pelan lexia, kau bisa merusak kerongkonganmu." Tegur Edo.


"Aku sangat lapar." Ucap lexia dengan mulut penuh. Edo menatap tajam siapa saja yang tampak mencurigakan.


"Aku bisa membantumu bersembunyi lexia sampai orang-orang itu menyerah untuk mencarimu." Ucap Edo menyeruput minuman dingin di depannya.


"Dimana tempat yang aman itu?" Tanya lexia.


"Aku mengenal seseorang, biasanya aku bekerja kepadanya mengantar barang penting."


"Sepertinya orang itu terdengar berbahaya, siapa namanya?" Tanya lexia.

__ADS_1


"Luther, William Luther."


Lexia menumpahkan minuman dari mulutnya karena begitu terkejutnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya edo, kemudian Edo melanjutkan pembicaraannya tentang pria bernama William Luther.


Dia adalah pemilik salah satu perusahaan persenjataan terbesar di Manhattan, kau jangan mengatakan kepada siapapun ya, dia orang penting di Manhattan, setiap Genk atau orang-orang berbahaya tahu siapa William luther, jadi kita harus berhati-hati."


Lexia memukul kepala Edo.


"Kau bodoh ya, kenapa aku harus bersembunyi di tempat pria itu, dan lagi kenapa kau bekerja pada pria mesum itu, aku peringatkan ya, jangan pernah membawaku ke tempat itu, dia sama berbahayanya dengan Daren."


"Kau mengenal tuan Luther, dan siapa Daren?" Tanyanya.


Lexia menghembuskan napasnya, "nanti akan aku ceritakan, tapi kedua pria itu harus kita hindari, kau idiot ya, Luther itu pria berbahaya kenapa kau bekerja dengannya."


Edo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Karena hanya dia yang mau memperkerjakan aku lexia, kau pikir di kota besar ini mudah mencari pekerjaan, aku tidak punya pilihan kan." Edo menggigit sepotong besar burgernya lalu mengunyahnya.


"Yang terpenting sekarang ini kita harus menjauh dari pria itu, aku harus mencari tempat bersembunyi, kau punya ide lain?"


Edo berpikir sebentar, lalu secercah harapan terlihat di wajahnya.


"Kau tahu, nenekku tinggal di Queen's tepatnya di pinggiran kota borough di sana Sepertinya lebih aman untukmu lexia."


Wajah lexia tiba-tiba menjadi murung mendengar kata nenek, mengingatkannya kepada nenek rossie yang telah pergi sementara dia berada di mansion itu tanpa tahu keadaannya.


Edo tahu apa yang dipikirkan lexia, dia memberikan kentang gorengnya kepada lexia. "Aku tahu apa yang kau pikirkan lexia, kalau nanti sudah aman aku akan membawamu ke pemakaman nenek Rossie."


~


Telepon dari tuan Robert membuat daren begitu gelisah, dia berada di ruangannya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


Akhirnya daren keluar dari mansion itu dan mengambil jaketnya lalu melangkah cepat menuju mobilnya, dia kemudian menyusuri tiap tempat yang pernah di datanginya bersama lexia, lalu mendatangi tempat kumuh di mana lexia pernah tinggal.


Lorong-lorong itu sempit dan terlihat berbahaya, rumah-rumah kumuh berderet dengan tumpukan sampah yang akan di daur ulang menjadi pemandangan biasa di tempat itu.


Daren menatap dari kejauhan rumah lexia yang berdiri dengan kayu-kayu lapuk yang menjadi tiang-tiang penyangga rumahnya dengan banyaknya besi berkarat yang bertumpuk di sekitaran rumahnya.

__ADS_1


Tempat itu gelap gulita, tidak ada sama sekali kehidupan yang ada di sana, daren kemudian memutuskan pergi dari sana, dia mengacak rambutnya sehingga berantakan.


Kehidupan lexia yang keras membuatnya menjadi gadis kasar dan keras kepala, meskipun begitu daren tidak bisa membohongi dirinya jika dia membutuhkan lexia, entah perasaan apa itu daren pun tidak mengerti, tapi yang terpenting sekarang ini adalah menemukan lexia secepatnya sebelum tuan Robert mengetahui kebohongannya.


__ADS_2