
Hanna membuka matanya, dia mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi sangat berat dan terasa aneh, seluruh sendinya sakit dan ada bagian dari tubuhnya yang sensitif terasa nyeri, sangat nyeri. Hanna meringis ketika dia mencoba bergerak lagi.
"Ouch, sakit." Gumam hanna. Matanya beralih kepada sosok pria yang tidur dengan tengkurap, hingga punggungnya yang kekar terekspos lalu memancarkan wangi dirinya dan dazon di kamar itu. Hanna mencari-cari apa saja untuk menutupi tubuh telanjangnya, dia menatap ke kiri dan kanan dan mencari dengan cepat apa saja untuk membawanya ke kamar mandi, sebelum pria di sampingnya itu terbangun dan kembali menyerang tubuh hanna dengan segala kekuatannya.
"Kau sudah bangun sayang?" Ucap suara berat di belakangnya.
Hanna menoleh kesamping lalu tersenyum manis, dia membungkukkan tubuhnya ke arah dazon dan memberikan ciuman selamat pagi untuknya. "Apa kau baik-baik saja sayang?" Ucap dazon.
Hanna menganggukkan kepalanya tapi dia tersenyum sambil meringis ketika menggerakkan tubuhnya, "sedikit nyeri." Bisik hanna malu-malu.
Dazon menarik tubuh hanna agar mendekat ke arahnya, memeluk erat tubuh istrinya, Hanna menempelkan tubuhnya dan menatap wajah dazon, "Apa kau tidak mengantuk? Kita bercinta sampai lewat tengah malam." Ucap dazon membuka selimut dan memperhatikan tubuh hanna yang terlihat memar di beberapa tempat bagian tubuhnya. Hanna cepat-cepat menutup kembali selimutnya sambil membungkus erat dirinya, pipinya merona.
"Kenapa kau malu sayang, lagi pula tidak ada yang perlu kau sembunyikan lagi dariku, aku sudah melihat setiap inci tubuhmu dan itu membuatku semakin ingin menyentuhmu di bagian yang membuatmu menjerit.
Hanna membelalakkan matanya, dia memicingkan matanya. "A..aku tidak begitu, siapa yang menjerit." Ucap hanna menutup mulut dazon dengan tangannya agar dia berhenti mengucapkan kalimat vulgar yang membuat hanna malu, baru kali ini dia seperti itu, dia tidak menyangka bercinta membuatnya teriak seperti itu.
"A..aku mau mandi, jangan mengikutiku, aku ingin mandi sendiri." Ucap hanna lalu melepaskan pelukannya dari dazon, dia membungkus tubuhnya dengan selimut hingga tubuh dazon kini yang terlihat polos, karena selimut yang di tariknya. Mata hanna membelalak, dia lalu berhenti bergerak kemudian dengan cepat menyelimuti dazon.
Dazon yang memperhatikan sikap hanna yang menggemaskan, membuat dirinya menarik selimut yang dikenakan hanna ke arahnya.
"Da..dazon jangan coba-coba, aku mau ke kamar mandi." Ucap hanna mempertahankan sekuat mungkin selimut yang membungkus tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana sayang, kemarilah !" Perintah dazon dengan suara serak dengan mata menggelap, sekali tarikan kuat dari dazon, hanna sudah berada di pelukan dazon.
"Kau tidak bisa. Aku masih nyeri, lagi pula, jika kita tidak bersiap-siap sekarang mereka semua akan menunggu kita di meja sarapan, dan aku harus memperkenalkan diriku di depan ayah dan ibumu dan seluruh keluargamu, dazon kita harus....
"Sst, mereka akan mengerti sayang, pengantin baru perlu waktu cukup lama untuk keluar dari kamar, mereka tidak akan mencari kita, jadi kau tidak perlu memikirkannya." Ucap dazon, tangannya sudah menjelajah di setiap sisi tubuh hanna, mata hanna membelalak ketika tangan dazon sudah berada di bawah selimut. "Da...dazon tunggu !" Hanna tidak kuasa menahan keinginan dazon, membuatnya kembali mendesah, wajah dazon diliputi senyum kemenangan ketika hanna menerima dirinya sepenuhnya.
~
"Jangan menunggu pengantin baru itu, kita sarapan saja dulu, aku yakin dazon tidak akan membiarkan istrinya keluar pagi ini, mereka akan bergabung dengan kita ketika makan siang atau makan malam tiba, harap para hadirin memaklumi, mereka itu pengantin baru, aku dan jennifer saja baru keluar kamar saat menjelang....."
Jennifer memasukkan roti ke mulut daneil agar menyuruhnya diam, menghentikan ocehannya yang akan membuat dirinya malu di depan mereka semua.
~
Mereka baru saja keluar dari kamar mandi, hanna dengan wajah cemberut keluar dari kamar mandi, dia lalu menuju lemari pakaian, dengan cepat mencari pakaiannya agar dazon tidak melihatnya tanpa mengenakan apapun, dia pasti akan menunda-nunda untuk keluar dari kamar lagi, dan mereka semua pasti berpikir. 'Ah, mereka pasti sudah melakukannya.' Pikir hanna, dia pasti akan sangat malu, meskipun bagi dazon, hal itu wajar saja baginya, tetapi bagi hanna itu akan membuatnya ingin menyembunyikan wajahnya karena malu. Ketika bertemu keluarga dazon, apalagi dia merasa sangat tidak sopan karena belum memperkenalkan dirinya secara resmi kepada mereka semua.
Dazon keluar dari kamar mandi dengan senyum puas terpampang dari wajahnya, dia mengambil handuk kecil dan menghampiri hanna, dia kemudian menarik hanna agar duduk.
Hanna terkejut, dia membelalakkan matanya. "Dazon ! tidak lagi, aku tidak bisa lagi !" Ucap hanna, mendorong dazon ketika mendekat.
Dazon mengangkat tubuh hanna dan mendudukkannya di kursi. "Apa maksudmu dengan 'tidak lagi?' aku hanya ingin mengeringkan rambutmu sayang." Ucap dazon, mulai mengeringkan rambut hanna, setelah itu memijat bahunya, membuat hanna lebih tenang dan rileks.
"Sepertinya kita melewatkan sarapan pagi, sekarang sudah jam 1 siang." Ucap dazon menatap jam di atas meja.
"Ya, itu berkat seseorang." Ucap hanna sambil melipat kedua tangannya.
Dazon terkekeh, dia kemudian menarik hanna agar berdiri, mereka berdiri saling berhadapan, dazon menempelkan hidung mereka dan menggesekkannya.
"Apa kau tahu, sekarang ini aku sangat bahagia Hanna." Bisik dazon.
Hanna tersenyum, dia memberikan kecupan kilat di bibir dazon. "Aku mencintaimu daz, dan aku sangat bahagia berada di sampingmu dan menjadi istrimu."
~
Seluruh keluarga Caesaar tengah berkumpul di meja makan, saatnya makan siang tiba, mereka sekali lagi melihat dua kursi kosong tepat di samping Ax dan fairley.
"Apa mereka tidak akan makan siang lagi? Bisa-bisa hanna akan pingsan, jika mengikuti stamina dazon yang berkali-kali lipat dari kekuatannya." Ucap daneil.
"Tidak usah menegur mereka Niel, kita makan siang saja dulu, mereka sebantar lagi akan datang." Ucap Ax.
"Bukan hanya Dazon saja yang terlambat datang, bibi lexia dan paman daren, mereka kemana?" Tanyanya.
"Kami di sini." Ucap lexia. Dia dan daren duduk di samping Xaphier dan Nara. Tidak lama kemudian Alexa dan alice datang sambil tertawa-tawa sambil menatap ponsel mereka dan saling memamerkan apa yang di dapatnya .
"Apa yang kalian tertawakan?" Tanya Xaphier menatap putrinya.
"Kami hanya menatap foto kami saja dad, aku dan Alexa memiliki idola yang sama." Ucapnya.
"Jangan percaya paman ! Mereka mengambil foto-foto pengawal yang tampan." Ucap Niel jahil.
"Apakah itu benar?" Ucap xaphier matanya menuduh kepada dua gadis cilik yang melotot memandang daneil.
"No ayah, kami tidak seperti itu, kenapa sih paman ikut campur? Ugh menyebalkan." Ucap Alexa dan alice menatap jengkel kepada Daneil.
__ADS_1
"Jangan berkata sembarangan jika ayah ada di sini, bisa-bisa dia menganggapnya serius, jadi perhatikan ucapan kalian." Ucap xaphier memperingati mereka semua. Sementara itu lexia menggendong putri Ax dan mendudukkanya di pangkuannya.
Dia asyik bercerita bersama fairley dan mengajarkannya beberapa hal mengenai memasak.
"Sepertinya bibi Nara harus bersabar, sebentar lagi menantu bibi juga akan datang, bibi Nara akan memberikan petuah dan nasehat, bagaimana menghadapi dazon." Ucap daneil.
Langkah tuan Caesaar menghentikan Ocehan di meja makan, segala hidangan telah di siapkan di atas meja, mereka kini menunggu kedatangan Dazon dan Hanna.
Mereka baru saja keluar dari pintu lift, dazon menggenggam tangan Hanna dan menuju ke tempat mereka semua yang sudah duduk di meja makan.
Ingin sekali daneil dan Ax mengejeknya, tetapi karena di sana ada kakeknya jadi mereka mengurungkan niatnya.
"Maaf, kami terlambat." Ucap dazon tersenyum kepada mereka semua.
"Jangan khawatir sayang." Ucap Nara.
Hanna memberikan senyum terbaiknya dan menatap keluarga dazon yang semuanya berkumpul di meja makan, jantung hanna berdegup tidak menentu, hanna menelan ludahnya kasar.
"Inilah saatnya, tenanglah hanna, kau pasti bisa menghadapi mereka." Gumam hanna kembali mencoba merilekskan tubuhnya.
Mereka semua akhirnya duduk, dazon mengambil alih pembicaraan sebelum makan siang di mulai.
"Ehhem perkenalkan, dia adalah Hanna Tan, sebelumnya namanya adalah Ana Reaver." Ucap Dazon.
"Selamat bergabung dengan keluarga Caesaar hanna," ucap lexia tersenyum, di balas oleh hanna dengan senyum hangat.
"Dia ayah dan ibuku hanna." Ucap Dazon.
Hanna tergagap ketika melihat mereka. 'Mertua?' pikiran hanna berputar, bagaimana menyapa mereka.
"Erm, selamat bergabung di keluarga Caesaar hanna, semoga kau bisa mengendalikan sikap egois putraku ini." Ucap xaphier.
"Te..terima kasih." Ucap hanna terbata-bata.
"Sekarang, kita makan dulu, kita bisa mengenal hanna, ketika menikmati minum teh nanti, dia pasti bingung menjawab pertanyaan kalian semua." Bela tuan Caesasr.
Hanna menghembuskan napas, sekarang dia bisa tenang, jantungnya sejak tadi tidak berhenti berdetak, dia masih mengingat dengan jelas, ketika 5 tahun yang lalu, dia masih membawa makanan ke meja makan untuk keluarga ini, menyaksikan mereka berkumpul dan bercerita, siapa yang sangka saat ini Hanna akan menjadi salah satu bagian dari keluarga ini, padahal dahulu, dia hanyalah seorang pelayan di mansion itu.
Dazon menggenggam jemari Hanna, agar dia tidak mencemaskan apapun, semuanya akan baik-baik saja, karena keluarganya juga menyukai keberadaan Hanna di keluarga ini.
~
Saatnya minum teh di ruangan bersantai, mereka semua berkumpul di sana, putra Ax berlarian di ruangan itu, sedangkan putri kecilnya, di gendong oleh lexia. Yang lainnya masih ribut dengan cerita masing-masing, hanna duduk di sana menatap semua orang yang ada di sana. Tiba-tiba Nara mengajak hanna mengobrol, dan memberikannya secangkir teh.
"Aku sangat senang, dazon memilihmu hanna, dia kan tipe yang sangat pemilih, apalagi mengenai wanita." Ucapnya.
Hanna tersenyum kepada ibu dazon, dia wanita lembut yang sangat cantik, dia tidak terlihat seperti ibunya dazon, dia terlihat sangat muda dan cantik.
Seseorang membuka pintu, Loue baru saja masuk ke ruangan dan langsung menuju ke tempat dazon duduk, lalu membisikkan sesuatu.
"Aku pergi sebentar." Ucap dazon kepada mereka berdua.
Hanna dan Nara mengangguk, hanna menatap dazon dari kejauhan, dia pasti sibuk, dazon mengambil alih seluruh pekerjaan ayahnya yang berbahaya, mengusut orang-orang yang berniat menghancurkan keluarga Caesaar, dan mempertahankan organisasi milik Kakeknya sejak masih muda, meskipun organisasi yang dimaksud adalah kelompok mafia yang berkembang di Eropa dan Amerika.
Lexia mendekat ke tempat Nara dan Hanna, begitupun Fairley, mereka berbincang-bincang, membuat hanna senyaman mungkin, meskipun dazon tidak berada di sampingnya.
"Jadi, selama ini kau tinggal sendirian?" Tanya Lexia ramah, dia duduk di samping kiri hanna sambil memangku putri Axton bernama Cecilia yang menggemaskan.
Hanna mengangguk sambil tersenyum ramah. "Sejak usia 16 tahun, saya sudah hidup sendiri di dalam suatu flat." Ucapnya.
"Kalau begitu kau lebih beruntung honey, kau bisa hidup mandiri dan setidaknya kau tidak punya rumah reot dan bau sampah di sekelilingmu yang menyengat, aku yang berusia 17 tahun saja masih hidup di tengah-tengah sampah ibukota." Ucap lexia.
Hanna tidak menyangka, bahwa putri seorang pemimpin terbesar perusahaan di Amerika dan eropa bisa hidup dengan seperti itu. Dulu, dia memang mendengar dari para pelayan-pelayan yang sudah senior mengenai kisah sedih tuan Caesaar ketika kehilangan putrinya, dan mereka menemukannya ketika dia sudah berusia 17 tahun.
Entah bagaimana hanna ingin menanggapinya, dia hanya menyimak setiap cerita yang di lontarkan ibu-ibu muda dan cantik yang mengelilinginya.
"Saya sangat bersyukur bisa mengenal dazon dan mengenal kalian semua, dan memiliki keluarga." Ucap hanna tulus, Nara memegang tangan Hanna dan menatapnya.
"Kau pasti sedih mendengar semuanya, kami sama terkejutnya ketika ayah menceritakan mengenai kisah sedih dan kejadian yang mengerikan di keluargamu, aku mengerti mengapa ayah bersikeras menikahkanmu dengan dazon, karena rasa bersalah teramat dalam yang dia rasakan, sehingga dia bersumpah waktu itu agar putri Ben Reaver menjadi salah satu keluarga Tuan Caesaar."
Hanna mengangguk, dia tersenyum bahagia, karena mereka semua sangat baik dan sangat menerimanya, meskipun latar belakang keluarganya seperti itu.
Seorang pelayan tiba-tiba masuk, dia berhenti sebentar menunggu mereka berbincang.
"Ada apa?" Tanya Lexia.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, seorang wanita bernama Audy, ingin bertemu dengan Nyonya Hanna." Ucap sang pelayan.
"Audy? siapa Audy?" tanya Lexia.
"Apakah dia temanmu Hanna?" Kali ini ibu mertuanya yang bertanya.
Hanna menghembuskan napas, sebenarnya dia tidak mau membicarakan wanita itu, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain, selain jujur kepada mereka semua.
"Erm, wanita itu...wanita itu menyukai dazon, dan dia tidak menyukai hubungan kami yang katanya tidak masuk akal, dia adalah Manager di sebuah hotel terkenal di Atlanta, dia sangat mengagumi dazon, karena itulah ketika dia mengetahui statusku, erm maksudku aku dulunya seorang penjual kopi di sebuah truck, saat itu, dia selalu saja muncul, mungkin sekarang dia datang karena mendengar pernikahanku dengan dazon." Ucap hanna panjang lebar.
"Ck, ck wanita seperti itu harus di beri pelajaran, kau mau aku yang menghadapinya?" Ucap lexia.
"Biar aku saja dulu yang berbicara kepadanya." Ucap hanna, dia kemudian berdiri dan menuju lobi di mana wanita itu sedang berdiri membelakanginya dengan dress mini ketat berwarna ungu, dengan rambut model bob di cat berwarna coklat. Dia kemudian berbalik ketika melihat hanna sudah ada di sana.
Audy Ricardo melepas sunglassesnya, dia menatap tajam hanna dengan benci, seakan ingin menenggelamkan hanna dalam-dalam ke dasar bumi sekarang juga.
"Jadi, aku baru tahu, kalau Ana Reaver adalah Hanna Tan, lucu sekali." Sinisnya.
"Kalau bukan video yang beredar mengenai pernikahan Tuan Dazon Caesaar dengan seorang wanita bernama Ana reaver, aku tidak mungkin akan datang kemari, karena begitu jijik. Tch apa kau tidak malu menikah dengannya dengan status keluargamu yang mengerikan?" Ucapnya. Dadanya naik turun menahan amarahnya.
Hanna melipat tangannya. Dia tersenyum miring, "Memang kenapa kalau aku menikahi dazon, kami saling mencintai, tentu saja kami menikah, dan yang lucunya, Kau ! bukanlah apa-apa bagi suamiku Dazon, tetapi anehnya, dan seperti orang tidak tahu malu saja, kau selalu merasa kau memiliki hubungan dengan dazon, dan kau tahu apa yang lucu? dazon sama sekali tidak mengenalmu, kau hanyalah segelintir wanita yang fans terhadap dia, bahkan halusinasimu itu sangat tinggi." Ucap Hanna.
Wajah Audy memerah menahan kemarahan yang bergolak di dalam dadanya, tubuhnya lebih tinggi di bandingkan Hanna, apalagi sekarang, wanita itu menggunakan High heels sehingga dia tampakk tinggi menjulang di bandingkan hanna.
"Ulangi sekali lagi kata-katamu dan sekarang, lihat dirimu ! kau hanyalah putri seorang pembunuh berantai dan seorang adik dari buronan Kotor yang menjijikkan, seharusnya keluarga ini lebih memperhatikan....
Ucapannya tiba-tiba berhenti ketika sebuah tamparan keras melayang di pipinya, Lexia maju di hadapan Hanna, tubuhnya lebih tinggi dan modis di bandingkan Audy, dia lebih menjulang dibandingkan dengannya.
"Siapa Kau !" Bentak Audy. Dia kemudian membelalak ketika dia menatap lexia, dan mengetahui wanita yang berdiri di hadapannya ini adalah putri dari Tuan Caesaar.
"Sekarang angkat kakimu dari sini, dimana penjaga-penjaga itu? membiarkan wanita ular ini masuk dengan seenaknya."
Audy mencoba menenangkan dirinya, meskipun dia sudah di tampar, dia masih memperlihatkan senyum profesionalnya, karena dia tahu, wanita di hadapannya ini bisa menjadi batu loncatan untuk menuju ke status yang lebih tinggi lagi.
"Maaf Nyonya, saya datang ke sini, bukan hanya ingin bertemu dengan wanita ini," Dia menunjuk Hanna, dengan mata mencela, kemudian kembali menatap kepada Lexia.
"Saya di tugaskan untuk menjadi manager di hotel ini, jadi mulai sekarang saya adalah manager di hotel ini Nyonya." Ucap Audy dengan senyum semanis mungkin.
"Kami tidak menginginkan wanita sepertimu ada di hotel kami, kau dipecat ! dan orang yang merekrutmu pun akan di pecat, aku tidak sudi menerima gangguan dari ular sepertimu, segera pergi dan jangan ganggu ketenangan keluarga kami." Ucap Lexia.
"Tapi nyonya, saya di tunjuk langsung oleh CEO hotel ini, saya tidak bisa di pecat begitu saja, saya masuk dengan prosedur yang di tetapkan di hotel ini dan.....
"Sst, tutup mulut." Lexia menaikkan telunjuknya di bibirnya dan segera menghubungi Thomas.
"'Thomas."
"Ya, Nyonya lexia."
"Siapa CEO di hotel ini, thom?" Tanya lexia.
"Dia adalah tuan Herry Nyonya, apa sesuatu terjadi?"
"Cari wanita bernama Audy yang akan menjabat sebagai manager hotel." Ucap lexia terang-terangan. Audy membelalakkan matanya, wajahnya melongo, mendengar namanya di sebut-sebut.
"Apa yang ingin anda lakukan dengan manager baru ini, Nyonya lexia?"
"Pecat dia, keluarkan dia dari hotelku, saya tidak perduli dia lulusan mana, karena dia sudah berani menghina keluarga Caesaar, menghina Hanna sama saja menghina keluarga besar Caesaar."
"Baik Nyonya."
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Audy. "Kenapa anda tega sekali, saya bersusah payah mendapatkan pekerjaan ini." Ucapnya dengan suara meninggi.
"Seharusnya kau berpikir seperti itu sebelum kau mencari masalah dengan Hanna." Ucap lexia sambil menaikkan alisnya.
"Anda tidak bisa memakai kekuasaan anda, hanya karena anda tidak menyukaiku! saya tidak bisa terima semua.....
"Sst, tutup mulut dan segera angkat kaki dari sini, jika tidak, kau akan menyesal bermain-main denganku." geram lexia.
Semua sangat geram mendengar Lexia beradu mulut dengan wanita itu, dia wanita sinting yang tidak takut apapun.
"Apa begini cara orang yang memiliki kekuasaan seperti anda memperlakukan kami?" ucap audy dengan geram.
"Ya, kau baru tahu? apalagi menghadapi wanita sinting sepertimu dan tidak tahu malu, ini masih belum apa-apa sweetheart, aku masih bisa lebih mengerikan lagi dibandingkan hanya sekedar memecatmu."
Dengan kemarahan menggelegar, Wanita itu angkat kaki dari sana, padahal hari itu merupakan hari pertamanya bekerja kembali, ketika dia dipecat di hotel Atlanta.
__ADS_1
Hanna berjalan perlahan kemudian menghampirinya, lalu membisikkan sesuatu di telinga Audy, "Apakah kau mau kakakku berkunjung ke apartemenmu?" Wajah Audy seketika ketakutan, seringai hanna membuatnya mundur beberapa langkah, dia mengumpat lalu segera meninggalkan tempat itu.