
Crystal menelan ludahnya, dia tidak pernah di lihat oleh seorang pria seintens ini. Suara langkahnya yang dalam mendekat ke tempat duduk Crystal yang sedang menyisir rambutnya.
Satu jarinya menyentuh kerah bathrobe yang digunakan oleh Crystal, dia menekannya sedikit kuat dan menyingkirkan bathrobe itu dengan perlahan. Jantung Crystal terasa bertalu-talu, berdegub tidak menentu. Pria itu menurunkan hingga turun ke bawah pundaknya hingga kulit putihnya tampak terlihat, tubuh Crystal menjadi kaku, langit di luar belum lagi gelap, apalagi mereka baru saja tiba.
Apa pria ini tidak lelah, apakah dia menginginkannya sekarang? Pikir Crystal.
"Kulitmu sangat cantik." Suara itu berat di telinga Crystal.
Dia menurunkannya hingga hampir mencapai bagian dadanya, secepat kilat Crystal menahan bathrobe itu agar masih menutupi daerah sensitifnya.
"Turunkan tanganmu."
"A-apa?"
Pandangannya tajam menatap Crystal dari cermin. Crystal menggigit bibirnya, lalu menutup matanya dan menurunkan tangannya. Bathrobe itu jatuh sampai ke pinggangnya sehingga Darko dapat melihat tubuh indah yang selalu tertutupi itu.
Tubuh Crystal tiba-tiba saja terasa melayang di udara, pria itu membawanya ke tempat tidur yang berada di ujung, dia meletakkan tubuh Crystal dengan lembut, dia masih berdiri di sana tanpa mengucapkan apapun, dia hanya memandangnya saja, membuat crystal bersemu merah di seluruh tubuhnya, tidak tahan dipandang seperti itu, crystal menolehkan wajahnya ke samping, dia pasrah akan nasibnya.
Napas berat terdengar dari pria itu, tangannya menyentuh wajah Crystal dengan sangat lembut, setiap sentuhannya membuat Crystal berjengit, dia tersenyum melihat respon wanita di bawahnya, kedua tangan Crystal terperangkap di atas kepalanya, dia begitu malu karena pria itu masih mengenakan pakaiannya dengan lengkap sementara dirinya sudah terlihat setengah telanjang tanpa pakaian yang menutupi bagian atas tubuhnya, apalagi langit masih sangat terang, dia tidak bisa mengatakan apapun, dia tidak menolak ataupun membantahnya.
"Jangan menutup matamu." Ucapnya, tangannya telah mengeksplor setiap jengkal tubuh Crystal membuatnya tidak nyaman dan sensasi yang di rasakannya terasa aneh.
Darko menarik wajah Crystal menghadapnya, dia tersenyum lalu memberikan kecupan singkat dibibirnya, "Kita akan melanjutkannya nanti, aku harus pergi."
Napas Crystal naik turun, dirinya masih tidur dengan tubuh telentang, pria itu pergi begitu saja, pintu terdengar menutup, Crystal menghembuskan napasnya lega, dia membuat Crystal merasakan panas dingin di tubuhnya.
~
~
"Tuan, sepertinya kelompok Mncy sudah tahu dengan kedatangan kita." Ucap salah seorang pengawal ketika Darko berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Itu bukan masalah, kita akan berkunjung sebentar dan membuat mereka menyambut kedatangan kita." Seringai mengerikan terbentang di wajahnya.
Perjalanan mereka cukup jauh, Darko menatap pemandangan malam hari yang tampak terlihat masih terang di luar sana, tiba-tiba saja wajah gadis yang telah menjadi istrinya muncul di kepalanya, senandung yang tadinya keluar dari bibirnya tiba-tiba terhenti.
Wajahnya yang terlihat bersemu merah, terlihat malu-malu dengan bibir merah yang digigitnya, serta desahan kecil yang keluar dari bibirnya ketika dirinya berada di atas tubuhnya. "Cantik." Ucapnya, dia melanjutkan senandungnya terlihat suasana hatinya sedang senang, membuat kedua pengawal yang duduk di hadapannya saling melirik.
~
Crystal segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, dia melilitkannya dan mengambil kembali bathrobenya dan segera mencari baju di dalam kopernya, ketukan terdengar dari luar kamar. Dua orang pelayan masuk sambil menunduk kepada Crystal.
"Nyonya, kamar pakaian anda ada di sebelah, tuan memerintahkan kami agar anda mengenakan pakaian ini ketika beliau tiba sebentar malam." Tanpa malu-malu pelayan itu meletakkan gaun tidur berwarna biru malam, gaun tidur itu tidak begitu terbuka layaknya seperti lingerie, hanya bagian atasnya terlampau tipis, sekali tarikan akan sobek dan dapat memperlihatkan tubuhnya kapan saja. Crystal mengangkat gaun tidur berwarna biru itu dan segera mengenakannya, setelah itu dia kembali memakai kimono tidurnya.
Makan malam telah siap, Crystal duduk seorang diri di meja makan, dia tampak santai dan nyaman tanpa ada Darko di sana.
Pemandangan kota paris sangat indah terlihat dari kejauhan, dari atas tempatnya berdiri, Crystal dapat menyaksikan kemilau indahnya lampu-lampu yang membalut menara Eiffel sebagai ikon kota ini.
"Indah, aku berharap melihat menara eiffel bersama dengan orang yang kucintai, tetapi...kupikir semua itu tidak akan mungkin lagi terjadi." Gumamnya.
Crystal menatap jam yang ada di atas meja, sekarang tepat pukul 9 malam, dia tidak tahu pria itu sekarang berada di mana, dan dia tidak mau tahu, dia memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan nyawa orang-orang termasuk dengan nyawanya dan adiknya sendiri. Karena lelah, Crystal memadamkan lampu dan segera tidur, tidak lama kemudian suara napasnya mengalun dengan normal karena begitu lelahnya dia telah tidur dan membawanya ke alam mimpi.
~
Dia segera masuk ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya, Darko keluar dari kamar mandi, handuk masih menggantung di pinggulnya sementara rambutnya yang basah di biarkan begitu saja hingga menetes-netes di bahunya. Dia melangkah perlahan ke ranjang dan menatap wanita di tempat tidurnya yang sedang tidur dengan damai.
Dia duduk di sisi tempat tidur, memperhatikan kedamaian di wajah wanita yang telah menjadi istrinya.
"Kau tidur?" bisik Darko di telinganya.
Crystal masih tertidur lelap, dia sama sekali tidak mendengarkan kedatangan Darko, wajahnya terlihat lelah, hingga Darko berbaring di sampingnya, dia berbaring miring dan memperhatikan wanita itu di sampingnya.
Napas yang berat terdengar di samping Crystal membuatnya terbangun malam itu, dia begitu terkejut karena Darko masih terjaga menatapnya selagi tidur.
__ADS_1
"A-aku tidak mendengar kedatanganmu." Ucap Crystal begitu terkejut melihatnya dalam kegelapan.
"Kau masih tidur ketika aku datang, kemarilah." Ucapnya.
"A-apa?"
Crystal sama sekali tidak mendekat ke samping Darko, tempat tidur mereka sangat luas hingga jarak di antara mereka berdua cukup jauh. Karena Crystal sama sekali tidak bergerak, maka Darko menarik tangannya hingga mencapai sisi tubuhnya.
"Ada yang harus kau lakukan padaku, sekarang." Ucap Darko matanya tidak berkedip menatap wajah ketakutan yang berada di sampingnya.
"A-apa?" Ucap Crystal dengan ragu.
"Duduk." Perintahnya.
"D-duduk?"
"Ambil ini dan keringkan rambutku." Dia memberikan handuk kecil di tangan Crystal lalu membelakanginya. Jantung Crystal seakan mau melompat. Crystal segera mengambil handuk itu dan mengusapnya dengan perlahan ke rambut pria yang juga sedang duduk di hadapannya dengan keadaan kamar masih gelap.
"Bagaimana jika lampunya dinyalakan, aku tidak bisa melihat dengan jelas." Cicit Crystal.
"Tidak perlu, kau hanya harus mengeringkan rambutku, tidak perlu cahaya untuk mengeringkannya."
"B-baik." Crystal melakukannya selembut mungkin, dia mengeringkan rambutnya sambil sedikit memijatnya, dia terlihat nyaman dengan pijatan yang dilakukan Crystal.
Tanpa Crystal sangka, dia berbalik dan dengan cepat dia sudah menjulang di atasnya memerangkap Crystal dan memegang kedua tangannya, senyum terlintas di wajahnya, tatkala mata mereka saling beradu, ketenangan yang tadi dirasakannya berubah secepat itu, jantungnya berdegub kencang ketika melihat senyuman terbit di wajah pria itu.
"Gaun itu sangat cantik di kulitmu." Ucapnya.
"A-apa?"
"Sst, jangan berbicara lagi kau harus melayaniku, bukankah itu tugasmu sebagai istriku?" Ucapnya pelan di telinga Crystal. Darko mengawali dengan ciuman lembut di bibirnya, memberikan sensasi di tubuh Crystal, perlahan-lahan Darko membuat tubuh Crystal terbiasa dengan sentuhannya, membuat Crystal mengeluarkan suara aneh yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan dilakukannya, tubuhnya menyerah di bawah kendali pria itu, setelah berlama-lama menyusuri tubuhnya, Crystal merasakan hentakan dari pria itu, membuat Crystal menjerit dan memegang apa saja yang ada di sekitarnya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Setelah percintaan mereka selesai, tubuh Crystal terasa kaku dan nyeri, napasnya pun masih belum terdengar normal, sementara itu Darko menariknya ke dalam pelukannya, lalu dia tidur begitu saja dengan lelap. Crystal berbalik dan menatapnya.
"Tidurlah, jangan menatapku atau aku akan melakukannya lagi." Crystal segera memejamkan matanya, patuh dengan segala ucapannya, Darko memeluk erat Crystal dan tersenyum di dalam kegelapan.