The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 12


__ADS_3

JetCaesaar77 Xaphier


Mereka semua ada di dalam pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Oklahoma, tepatnya mereka akan mendarat di Resort terbesar milik Tuan Robert di Oklaisland yang merupakan tempat terbaik untuk liburan.


Fairley tidak menyangka akan pergi juga bersama Ax, dia menatap sepupu dan beberapa teman Ax yang akan memberangkatkan mereka ke Oklahoma. Seumur hidupnya dia tidak pernah naik pesawat apalagi bermimpi untuk sekedar berjalan-jalan di tempat mewah seperti ini.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ax memberikan segelas minuman kepada Fairley.


"Trims, ya aku baik-baik saja." Ucapnya sambil mengambil gelas berisi minuman dari Ax.


Fairley sedikit canggung ketika pertama kali di perkenalkan oleh mereka semua, meskipun bukan pertama kali Fairley melihat keluarga Ax.


Pria dengan rambut hitam kecoklatan dengan mata coklat dengan wajah tentu saja tampan bernama Dazon Caesaar, dia merupakan sepupu dari Axton, sedangkan gadis cantik berambut pirang panjang dan selalu tersenyum ramah kepadanya bernama Jennifer, dan beberapa teman-teman mereka yang terlihat dari kalangan atas yang merupakan teman Dazon, karena Ax tidak perduli dengan kehadiran mereka.


Dazon menghampiri Ax dan memberikan isyarat kepadanya. "Aku pergi sebentar Fairley." Ucap Ax kepadanya, Fairley mengangguk sambil tersenyum ketika bertemu dengan Dazon.


Setelah kepergian Ax yang entah kemana bersama Dazon, Jennifer menghampiri Fairley.


"Hai, apa kabar, Fairley." Senyumnya.


"Aku tidak menyangka kalau Ax sudah memiliki kekasih, dia kan selalu mengomel dan sangat cuek, dia tidak begitu peduli dengan kehadiran orang-orang, tapi aku senang kau yang menjadi kekasih kak Axton." Ucap Jennifer.


Fairley hanya tersenyum. "Jika kau membutuhkan bantuanku kau bisa menghubungiku kapan saja Fairley, jangan ragu." Ucapnya.


Ketukan sepatu yang terdengar dalam, membuat mereka berdua berbalik dan menatap dua orang gadis seumuran mereka, satu diantaranya adalah teman Rose di sekolah.


"Halo Jennifer, kau tidak mengajak Rose kali ini?" Aku pikir kau akan membawanya." Ucap gadis dengan rambut indah keriting bergelombang. Matanya kini beralih kepada Fairley dan dia tersenyum miring.


"Bukankah kau gadis yang menyingkirkan Rose? Hebat, apa yang kau gunakan sampai-sampai kau bisa mendapatkan Axton," ucapnya.


"Sebaiknya kau pergi Nyna, kau tidak usah mempersulit keadaan, jika tidak, Dazon bisa saja menurunkanmu kapan saja dia inginkan, kau beruntung bisa ikut ke pesta Neil, jadi sebaiknya kau pergi, itu yang terbaik untukmu." Ucap Jennifer.


"Cih, aku tidak tahu gembel juga bisa naik ke pesawat ini." Gumamnya, tetapi sayang sekali ucapannya di dengar oleh dazon, dia terkejut dan Seketika berhenti di hadapan Dazon.


"Kau, putri dari Tuan Andrei Del Piero bukan?" Tanyanya.


Gadis itu mengangguk dengan angkuh, lalu tersenyum senang. "Aku senang kau mengingat Ayahku, dia adalah pemilik sebagian besar Resort di Montana, kami juga bekerja sama dengan keluarga Tuan Robert, dan aku teman sekelas dengan Daneil." Ucapnya terdengar angkuh ketika memperkenalkan perusahaan ayahnya.


"Aku tidak mengingat jika Neil mengundangmu, aku tentu saja tidak memperhatikan orang-orang tidak penting yang naik di pesawat ini." Ucap Dazon.


"Aku..aku hanya ingin mengetahui, mengapa Jennifer berada bersama gadis yang merebut Axton dari rose, dia sangat sedih karena Jenni tidak mengundangnya, dia kan sahabat dengan Rose, Jennifer gadis licik yang berpura-pura lugu."


Senyum mengerikan terpancar dari wajah Dazon.


"Kau akan dipulangkan kembali ke Manhattan begitu kami tiba." Ucap Dazon santai tanpa beban.


"Ap..apa maksudmu?"


"Aku tidak suka gadis licik sepertimu ada di pesta Daneil, kami ingin bersenang-senang di sana bukan membawa kekacauan sepertimu, aku heran kenapa Neil mengundangmu, kelas ini bukan levelmu sebaiknya kau pergi dari sini." Ucapnya.


Wajahnya merah padam, Jennifer dan Fairley berpura-pura tidak melihat semua itu, "Bagaimana dengan gadis yang berada di sebelah Jennifer, dia itu gembel, bahkan ada gosip bahwa dia berjualan bunga di pinggir jalan, bukankah dia lebih tidak pantas lagi?" Ucapnya sambil membela dirinya yang tersudut.


"Jangan sampai Axton mendengarmu, jika tidak, dia akan menurunkanmu sekarang juga dari pesawat ini." Ucap Dazon.


"Apa kau tidak tahu, Fairley itu kekasih Axton idiot, hanya orang bodoh dan dungu yang selalu membela Rose, dia hanyalah wanita yang mengerikan dan seorang penguntit, jika kau tidak ingin diturunkan sekarang juga tutup mulutmu." Ucapnya.


Gadis itu mundur beberapa langkah, dia menarik tangan salah satu temannya untuk kembali ke tempat duduknya.


"Kau serius ingin menurunkan Nyna?" Tanya Jennifer.


Dazon tersenyum miring, "Tentu saja tidak, dia hanya akan di pulangkan kembali ke Manhattan ketika kita di sana nanti." Ucap Dazon, matanya kembali kepada Fairley yang duduk di samping Jennifer.


"Mengapa Ax bisa tertarik padamu Fairley?" Tanyanya, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi sambil menatap Fairley.


Fairley mengangkat bahunya. "Mungkin karena dia idiot." Ucapnya.


Dazon tertawa keras, lalu menunjuk kearahnya. "Itu jawaban yang kuinginkan. Oky ladys, sebaiknya aku kembali ke tempat Axton."


~


Pesawat sudah mendarat di dekat Resort yang akan mereka kunjungi, mereka semua turun dari pesawat, pemandangan laut yang indah menjadi suguhan pertama kali ketika mereka keluar dari pesawat, beberapa mobil mewah sudah menanti kedatangan mereka.


Axton memegang tangan Fairley dan membawanya ke satu mobil mewah berwarna hitam khusus untuk mereka berdua. Sedangkan Dazon seorang diri di dalam mobilnya, begitupun Jennifer dengan mobil mereka masing-masing.


Beberapa pengawal sudah berada di sana dan membawa mereka menuju tempat penginapan yang merupakan tempat di langsungkannya ulang tahun Daneil.


Sepanjang perjalanan mereka di suguhi panorama yang indah, pantai yang begitu indah berwarna emerald, memantulkan cahaya dari lautnya yang indah.


Fairley membuka kaca jendela mobil dan merasakan udara pantai yang sejuk sambil mengagumi keindahan pantai itu.


"Kau suka?" Tanya Ax.


Fairley mengangguk, "Aku menyukainya, sangat indah sekali." Ucapnya.

__ADS_1


Ax hanya tersenyum melihat senyuman cantik Fairley. Dia menarik tangannya dan dia langsung terduduk di samping Ax, tanpa ragu Ax menciumnya, hingga Fairley harus menunduk dan memegang tubuh Ax ketika dia terlalu bersemangat mencium Fairley.


Kedua tangan Fairley mendorong dada Ax, ingin menghirup udara. "Hentikan Ax, mereka akan menatap kita." Ucap Fairley berbisik, dia sangat malu dengan pengawal yang sedang membawa mobil di depan mereka.


"Tenang saja, dia tidak akan berbalik." Bisiknya.


"Tidak mau, aku malu, bagaimanapun dia bisa mendengarkan suara ciuman kita." Ucap Fairley dengan pipi merona.


Ax menekan tombol merah di sampingnya dan penghalang berwarna hitam tiba-tiba saja muncul. "Sekarang, dia tidak bisa melihat kita bukan?" Senyumnya. Fairley melotot, posisinya sama sekali tidak menguntungkan untuknya, dia tersudut di kursi dengan posisi Ax di atasnya.


"Aku...aku lelah Ax, kita tidak bisa...


"Ya, kita bisa, kau cukup mengikutiku dan menikmatinya saja." Bisiknya. Tanpa menunggu lagi Ax kembali membiarkan bibirnya mengeksplorasi bibir Fairley, mencecapnya hingga tubuh Fairley kini berbaring, dia merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana, "Ax, hentikan, kita hampir sampai." Ucap Fairley ketika Ax mengangkat bibirnya.


Dia mengecup cepat Fairley dan berdecak. "Baiklah, kita sampai di sini dulu." Ucapnya, dia menarik tangan Fairley agar duduk dan memperbaiki rambutnya yang berantakan.


Bunyi klakson membuat Ax berbalik, Dazon melewati mobil Ax dan menggelengkan kepalanya. Ponsel Ax berdering, dia melihat pesan dari Dazon.


"Aku bisa melihat bagaimana kau memakan wajah Fairley, jadi sebaiknya hentikan, Sebelum Ax kecil terbangun."


Fairley sempat membaca pesan yang dikirimkan Dazon kepadanya, pipinya merona, dia tidak menyangka tubuhnya menerima Ax semudah itu.


~


Resort itu begitu luas, di dalamnya terdapat penginapan mewah serta fasilitas mewah lainnya dengan tulisan besar di atasnya Robert Resort di bangun pada tempat yang memiliki pemandangan indah dan menarik, mobil-mobil mewah itu masuk ke tempat pelataran parkiran di sana, mereka kemudian satu persatu keluar dari mobilnya.


Pelayan-pelayan sudah menunggu di pintu resort dan menyambut kedatangan mereka semua. Mereka semua masuk ke dalam, Fairley terkagum-kagum dengan luasnya tempat itu, ruangan raksasa yang sudah di dekorasi dengan indah serta kapal yang tergantung di langit-langitnya terlihat seperti nyata.


"Woah hebat, indah sekali." Ucap Fairley menatap tempat itu. Ax memegang tangannya, menariknya kemanapun dia Pergi sehingga Fairley terlihat seperti terseret.


"Bagaimana? Perjalanan yang menyenangkan bukan?" Suara itu datang dari tangga besar berwarna kristal yang meliuk memanjang. Daneil baru saja turun dan menyambut kedatangan mereka semua.


Matanya langsung menatap gadis yang terlihat melengket di sebelah Ax. Dazon sudah menceritakan kisah cinta Ax dan Fairley kepada Neil.


"Dimana paman Alvin dan bibi lovelia?" Tanya Ax.


Daneil tertawa, "Tentu saja mereka tidak ada di sini, mom dan dad berangkat ke Milan tadi pagi, sepertinya ayah dan ibu Dazon juga ke sana mengunjungi bibi lexia dan paman Daren.


"Tidak ada yang mengawasi kita?" Ucap Dazon dengan wajah takjub mempesona.


Langkah kaki dari belakang membuat semuanya berbalik, Thomas, Evan dan Sebastian serta puluhan pengawal berada di sana.


"Jangan berharap terlalu tinggi Daz, mereka tentu saja tidak akan semudah itu membiarkan tuan muda labil sepertimu bebas tanpa pengawalan." Ucap Daneil.


Seorang kepala pelayan segera mengantar mereka ke kamar masing-masing.


Axton mengambil kunci kamar dari salah seorang pelayan dan langsung saja menyeret Fairley mengikutinya.


"Tidak bisa seperti itu sepupu, Fairley memiliki kamar sendiri, tidak ada percintaan panas dari kamarmu dan kau meninggalkan kami seharian dan hanya bersama Fairley saja." Ucap Dazon menggeleng tidak setuju.


Tampak di belakangnya gadis bernama Nyna yang hampir di kembalikan ke Manhattan menatap tidak percaya pemandangan di depannya, dia menatap iri Fairley yang berdiri di antara ketiga pria yang paling diinginkan oleh para gadis-gadis terpandang di Manhattan.


Salah satu pelayan memberikan kunci kamar yang lain kepada Fairley, mereka semua pergi menuju tempat peristirahatan mereka masing-masing. Evan dan Thomas menatap Ax dan Fairley yang berjalan bersama. Mata keduanya nampak tajam melihat dua remaja yang di mabuk cinta itu, sepertinya bibi lexia memerintahkan keduanya untuk mengawasi setiap pergerakan Axton.


~


Fairley masuk ke kamar yang di sediakan untuknya, tubuhnya begitu lelah, dia menatap kagum kamar yang begitu luas serta mewah dan indah itu, tempat tidur dengan ukuran king size dengan tirai menjuntai berwarna putih di atasnya, jendela kaca yang langsung menghadap ke lautan serta fasilitas lengkap lainnya membuatnya berdecak kagum.


Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, menikmati tempat tidur empuk yang seakan membuat tubuhnya rileks dan nyaman.


"Ahh, aku tidak pernah bermimpi bisa berada di tempat mewah seperti ini, membayangkannya saja tidak pernah." Ucapnya. Fairley mengabaikan rasa lengket dan gerah ditubuhnya, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya dan mengobati rasa kantuknya ketimbang membersihkan dirinya karena perjalanan jauh mereka.


Kelelahan membawanya ke alam mimpi dan membuatnya tertidur lelap seakan di rumahnya sendiri, suara ketukan dari luar tidak di dengarnya, ketukan itu berhenti dan di gantikan dengan pintu yang dibuka oleh seseorang.


"Dia tidak mengunci pintunya? Ceroboh." Ucap Ax.


Ax menutup pintunya dan mencari Fairley, dia menatapnya sedang tertidur dengan meringkuk dan tertidur pulas.


Ax mendekatinya dan mengangkatnya agar dia tidur di posisi yang nyaman. Ax kini berbaring di sampingnya, menatap wajahnya satu persatu, dia mengusap keningnya hingga sampai ke bibirnya, lalu tatapannya jatuh di bibirnya sambil mengusapnya dengan jempol tangannya.


Dia menarik tangan Fairley lembut dan menjadikan lengannya sendiri sebagai bantal Fairley, Ax menutup matanya dan ikut terbuai mimpi indah bersama Fairley.


~


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan panjang, segala hidangan lezat sudah tersaji di atasnya.


"Daz, dimana Axton? Apa dia masih tertidur di kamarnya?" Tanya Neil.


Daz memegang kepalanya sambil mengangkat satu alisnya menatap penuh arti kepada Neil, "Kau bertanya padaku? Aku tidak mungkin bilang bahwa mereka berdua sedang menjalin cinta yang panas di kamarnya." Ucap Dazon terus terang membuat semua orang di sana saling berbisik.


"Haha, aku bercanda, dia pasti ketiduran karena lelah." Ucap Dazon sambil berdiri dan memberi isyarat kepada Neil dan Jennifer untuk ikut bersama mereka.


"Biar, biar aku yang membantu membangunkan Fairley." Ucap Nyna menawarkan diri.

__ADS_1


"Kenapa kau ingin ikut?" Tanya Dazon.


"Aku hanya ingin membantu." Ucap Nyna tersenyum ramah.


"Kami kan memiliki Jenni, jadi kau duduk saja, berhenti mencari tahu yang bukan urusanmu, lebih baik kau duduk tenang di tempatmu." Ucap Dazon mendelik kepadanya.


Wajah Nyna merah membara, entah berapa kali dia merasa di permalukan oleh Dazon, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tahu bagaimana sifat Dazon, di balik sikapnya yang cerewet dan ingin tahu segala hal, dia terkenal kejam dan tanpa belas kasihan, jadi dia tidak berani menentangnya.


~


"Kita akan memeriksa kamar Ax terlebih dahulu," ucap Dazon memimpin jalan menuju kamar Ax.


"Tunggu sebentar, perhatikan langkah kalian, jangan berjalan terburu-buru, ketika kalian mendengar suara aneh, erm.. seperti teriakan dan erangan sebaiknya kalian berhenti melangkah, itu untuk kebaikan kalian juga." Nasehatnya.


Jennifer menggelengkan kepalanya, lalu mendorong Dazon agar berhenti bicara dan cepat-cepat menuju kamar Ax.


Mereka tiba di kamar Ax terlebih dahulu, Daneil membukanya perlahan dengan menggunakan kunci cadangan. Mereka semua masuk dan memeriksa kamarnya.


"Kosong, tidak ada Ax di dalam sini, berarti ini menjelaskan semuanya kawan-kawan, sebaiknya kalian turun saja, usia kalian belum cukup umur untuk melihat semua kenyataan ini." Ucap dazon menunjuk satu-satu kepada mereka berdua.


"Berhenti bercanda Daz, makan malam sebentar lagi dimulai, kita ke kamar Fairley." Ucap Jennifer.


Meskipun begitu, mereka bertiga menelan ludahnya kasar menunggu sesuatu yang terbentuk di otak mereka masing-masing, seorang pria dan wanita dalam satu kamar, apa lagi yang akan mereka lakukan selain....hal mendasar yang paling pertama terbit di kepala Dazon adalah dia ingin melihat reaksi Ax ketika dia kedapatan oleh mereka bertiga.


"Nah teman-teman semua, saatnya pertunjukan, jika kalian tidak sanggup untuk melihat sebaiknya turun ke bawah," ucapnya kepada Jenni dan Neil.


"Jangan dulu di buka Neil, kita dengarkan dulu, Ax akan membunuh kita semua jika kita menyerbu masuk ke dalam dan mereka sedang....


Akhirnya ketiganya memilih menempelkan telinga mereka masing-masing di balik pintu kamar Fairley.


"Kau mendengarnya?" Tanya Dazon.


"Tidak ada suara apapun." Ucap Neil.


"Kalian berisik sekali." Ucap Jennifer.


Pintu tiba-tiba membuka, mereka bertiga terjatuh di lantai dan terduduk di sana. Mata Axton yang tajam memandang mereka bertiga sambil melipat kedua tangannya.


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian berharap melihat pertunjukan spektakuler?" Ucap Ax. Fairley yang berada di belakang Ax merona dan malu, mereka bertiga mendapati Ax berada didalam kamarnya.


Ketiganya dengan cepat berdiri. Neil tanpa ragu menunjuk kepada Dazon.


"Dia pelakunya, dia ingin sekali menggerebek kalian berdua, kami hanya korban." Ucap Neil, "Oh ya makan malam sebentar lagi, sebaiknya kalian cepat ke meja makan, tanpa menunggu Ax berbicara, Neil melarikan diri begitupun dengan Jennifer yang berlari di belakang Neil, tinggal Dazon saja yang saling menatap dengan Ax.


"Makan malam?" Ucapnya, Sebelum Ax berbicara Dazon secepat kilat pergi dari hadapan Ax dan Fairley.


"Anak-anak itu, awas saja."


"Mereka lucu, terutama Dazon," ucap Fairley. Ax tiba-tiba menoleh menatap Fairley.


"Dazon?" Tanyanya.


"Oke, tidak ada yang lucu, ayo kita turun ke bawah, aku lapar sekali." Ucap Fairley memegang tangan Ax dan menariknya menuju ke lantai bawah.


Meskipun begitu keduanya saling melirik dan bersikap Canggung satu sama lain, Fairley melepaskan tangannya dari lengan Axton tetapi di gantikan oleh Ax yang menggenggam tangannya.


Fairley menutup matanya, dia malu sekali ketika dia mengingat kejadian tadi sewaktu mereka berdua berada di kamar.


Flashback


Pelukan hangat itu membuat Fairley mengerjap, terdengar dengan jelas degupan jantung seseorang, rasa panas terasa melingkupi seluruh tubuhnya.


"Ugh berat." gumam Fairley, dia akhirnya membuka kedua matanya, dan menata langsung Ax yang sedang tertidur sambil memeluknya, Fairley spontan terbangun dan duduk sambil memandang Ax, karena dorongan Fairley Ax juga terbangun, mereka saling menatap.


"Ke..kenapa kau ada di kamarku?" tanyanya.


"Karena aku ingin, aku hanya ingin memeluk tubuh kekasihku, apa tidak boleh." Ucap Ax tersenyum mengejek sambil terus mengganggu Fairley dengan kata-katanya.


"Tidak boleh, kau tidak boleh melakukan seenaknya dan....


Ucapan Fairley terhenti di sambut dengan teriakan keras dari bibirnya ketika Ax menariknya dan langsung tertidur di sisinya.


"Cerewet, sepertinya bibirmu harus sedikit di bungkam." bisik Ax, tanpa ragu dia sudah menyerang bibir Fairley dengan ciumannya, tubuh Fairley menyambut begitu saja tubuh Ax, dia memeluk Ax hingga jari-jarinya saling bertautan.


Ciuman pelan itu lama kelamaan berubah dengan ciuman yang intens, Ax membenamkan dirinya di tubuh Fairley hingga dia berusaha sekuat tenaga mengimbangi tubuh besar Ax.


Kedua tangannya di pegang oleh Ax, dia kemudian masih mencium bibir Fairley dengan semangat, tangannya yang lain telah menjelajah di setiap lekuk tubuh Fairley hingga Fairley menggoyangkan tubuhnya karena sensasi aneh yang dirasakannya.


Tangannya sudah menyelinap di balik celana jeans milik Fairley, membuat Fairley terkesiap, dia mendorong Ax sekuat tenaga, erangan lolos dari bibirnya, Seketika Ax memberikan ruang bernapas untuknya. Fairley mengangkat kepalanya dan berteriak kepada Ax untuk berhenti. Ax kali ini menyadari dirinya hampir melewati batas, dia berhenti dan melihat tubuh Fairley bergerak naik turun karena napasnya yang memburu.


Fairley terlihat berantakan, Jeansnya sudah mencapai lututnya dan bajunya terlihat kusut, "Kau baik-baik saja Fairley?" tanya Ax dengan suara parau. Fairley mencoba mengatur napasnya dan menatap Ax.


"Aku...aku baik-baik saja." ucapnya.

__ADS_1


Ax menarik tangan Fairley agar dia memperbaiki posisinya, "Mandilah, aku akan menunggumu di balkon luar, setelah itu kita berangkat makan malam." Ucap Ax.


__ADS_2