The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Kunjungan Xaphier


__ADS_3

Tawa itu terdengar keras dari dalam ruangan kamarnya yang tertutup, dia menertawakan dengan keras wajah Paulo yang di serang oleh lexia. Sorot matanya menatap geli wajah Paulo meskipun sang ajudan berdiri di sana dan tidak mengatakan apa-apa dengan tawa Xaphier yang keras.


"Menarik, aku pikir dia adik yang membosankan, tetapi dia cukup menarik juga, coba lihat wajahmu Paulo , Xaphier lalu melanjutkan tawanya ketika melihat wajah Paulo yang meringis karena pipinya membengkak.


Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Tetap ikuti mereka, laporkan segalanya kepadaku." ucap Xaphier.


~


Tatapan mata yang tajam sedang memandangnya, sorot itu menciutkan lexia dan menunduk sedikit sambil sesekali mengerling Daren yang masih diam dan duduk di kursinya.


"Kau tahu Xaphier dan orang-orangnya adalah pria berbahaya lexia, meskipun dia mengatakan kalian bersaudara kandung tapi aku tidak melihatnya seperti itu, kau pun pasti tahu bagaimana Xaphier jika dia sudah marah siapa saja bisa menjadi sasarannya."


Lexia mencibirkan mulutnya, seharian ini dia di omeli oleh Daren, setelah peristiwa penyerangan lexia kepada pria bernama paulo, makan siang akhirnya di tunda, dan tuan caesaar menjauhkan Celia dari orang-orang Xaphier dan menyuruh Daren membawanya kembali.


"Kau sama sekali tidak melihat bahaya di depanmu lexia, bagaimana jika mereka nanti akan membalasmu? Kau lihat bagaimana sikap tuan caesaar? Meskipun Xaphier putranya sendiri tetapi dia dan anaknya terlihat berseberangan, dan menyuruh kita untuk segera pergi dari sana, meskipun dia menunjukkan wajah tenangnya, tetapi dia terlihat waspada."


Lexia masih mendengarkan omelan Daren sampai kantuk lexia menyergapnya. Dia duduk sambil terkantuk-kantuk di kursi sedangkan Daren masih mengomel di kursinya hingga dia menyadari lexia telah tertidur. Daren menghembuskan napasnya, dia berdiri dan menghampiri lexia kemudian mengangkatnya lalu membawanya ke kamarnya di lantai atas.


Setelah membaringkannya, dia mengganti pakaian Lexia dengan pakaian tidur berbahan satin lalu menyelimutinya. Daren mengecup bibir dan puncak kepala lexia kemudian dia kembali ke ruangan kerjanya karena pekerjaannya belum selesai. Daren melangkahkan kakinya ke ruangannya, nampak Evan sudah ada di sana menunggunya.


"Ada kabar terbaru?" Tanyanya.


"Tuan William sudah siuman tetapi teman nyonya lexia bernama Edo masih dalam keadaan koma sir." Ucap Evan.


"Bagaimana pergerakan orang-orang Xaphier." Tanyanya. Evan menggelengkan kepalanya. "Mereka belum bergerak sama sekali sir, tetapi saya menemukan informasi jika orang-orang tuan Robert mengintai tuan caesaar."


"Ah benarkah? sudah lama aku tidak mendengar kabar tuan Robert, hanya kabar lovelia saja yang sesekali menyebut namanya, tentu saja karena dia kakeknya." Daren melanjutkan pekerjaannya hingga lewat tengah malam, dia menatap jam yang melekat di dinding ruangannya kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya lalu berdiri dan kembali ke kamarnya.


~


Daren kembali ke kamar tepat pukul 2 malam, setelah mengganti pakaiannya, daren membaringkan tubuhnya di tempat tidur, lampu berwarna oranye itu membuat Daren tidak bisa tidur, dia memiringkan tubuhnya lalu menatap lexia yang sudah terlelap.


Daren menyentuhkan tangannya ke wajah lexia, dia menyapu bibirnya yang setengah terbuka. "Ck, sial! Aku menginginkanmu lexia sayang." Ucap Daren mencoba membangunkan lexia dengan menyentuh tubuh lexia dan memainkan jari-jarinya di sana, tetapi lexia masih betah berada di alam mimpinya, belum terbangun dengan gangguan Daren di tubuhnya, sesekali Daren mengecup menggelitik lalu menggerakkan pinggulnya agar lexia terbangun, tetapi lexia masih terbuai di alam mimpi.


Daren merebahkan tubuhnya, mencoba menahan gejolak yang terbakar pada gairahnya. Tubuh bagian bawahnya terlihat menggelembung ingin melepaskan diri dan menenggelamkan dirinya dalam-dalam di kelembutan lexia.


"Kenapa dia tidak bangun juga?" Ucap Daren. Dia kemudian terduduk lalu menarik lexia ke pelukannya mencoba sekali lagi keberuntungannya. Kali ini Daren bermain di gundukan bulat favoritnya, dia memainkan jari-jarinya lalu terkadang memberikan kecupan singkat atau menariknya dan memainkannya. Kali ini lexia bereaksi, desahannya terdengar merdu di telinga Daren, dia tersenyum miring sambil melanjutkan aktivitasnya hingga mata safir itu akhirnya terbuka dan menatap tubuhnya tidak mengenakan apapun lagi. Senyuman puas daren menghias wajahnya, "Akhirnya kau bangun sayang." Bisik daren mulai bergerak dan melanjutkan percintaannya dengan lexia malam itu.


~


William mengerang, tubuhnya terasa berat dan nyeri di beberapa bagian. Di sana telah berjaga orang-orangnya di pintu masuk, dan tidak membiarkan siapa saja masuk tanpa seizin mereka.


"Ck, pria mafia itu melakukan ini hanya untuk bersenang-senang, ukh sial tubuhku sakit sekali, aku ingin membalasmu tetapi dengan membalasmu sama saja menghancurkan segala yang kurintis selama ini karena orang seperti Xaphier akan membalas beberapa kali lipat jika dia bermaksud membalas perbuatannya.


William memanggil salah satu penjaga di depan kamarnya. Dia masuk dan menunggu perintah william. "Bagaimana kondisi anak itu?" Tanyanya.


"Dia masih belum sadar sir, luka di dadanya cukup dalam." Ucap pria yang berjaga di luar kamar William.


"Tambah penjagaan di depan kamar anak itu."


"Baik sir."


William kembali membaringkan tubuhnya yang nyeri, matanya memicing membayangkan senyum congkak dari wajah Xaphier. Meskipun dia begitu marah karena di perlakukan seperti ini, tetapi William tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan, dia akan menunggu sampai saat yang tepat untuk membalas Pria itu.


~


Lexia mengaduh dan mengerang mencoba sekali lagi usahanya menghentikan Daren dengan mendorong tubuh Daren menjauh, tubuhnya begitu letih, sudah hampir fajar tetapi daren masih menyiksa dirinya dengan berbagai posisi yang Daren lakukan kepada lexia ketika mereka sedang bercinta, Seakan tiada letih mendera Daren yang masih terus meningkatkan iramanya di tubuh lexia.


Sampai saat lexia tidak kuat dengan serangan bertubi-tubi Daren dia membalasnya dengan bergerak liar, membuat daren mengerang keras dan mencengkram erat lexia sehingga tubuh mereka berdua ambruk setelah mereka berdua mencapai puncak dan sama-sama terhempas kembali dan merasakan letih dan peluh membasahi tubuh keduanya.


Mata lexia terbuka, napasnya belum teratur begitupun dengan Daren, mereka saling menatap, sebentuk senyum puas di wajah Daren menyaksikan wajah lexia yang merona dan bibirnya yang membengkak.


"Sebaliknya lexia tidak bergerak sama sekali dengan posisinya yang telungkup. Mata safirnya menatap Daren dengan marah. "Hari ini aku tidak bisa bergerak Daren karena ulahmu jadi kau harus membopongku kemanapun aku ingin pergi." Ucap lexia.


Daren menarik tubuh lexia dan memeluknya, "baik sayang, aku akan melayanimu hari ini." Bisik daren, matanya sudah berat dan akhirnya mereka berdua terlelap dan terbuai ke alam mimpi.


~Tepat pukul 09.00 Villa di Tulas.


Mereka masih tertidur nyenyak, Evan berjalan mondar-mandir di depan kamarnya, menunggu sang tuan rumah untuk bangun karena ada hal genting yang harus di sampaikannya.


Evan memutuskan mengetuk pintu kamar Daren, lalu menunggu jawaban dari dalam kamar, tetapi tidak ada respon sama sekali, Evan kembali berjalan bolak balik di depan pintunya, 15 menit kemudian Daren membuka pintu kamarnya dan melihat Evan sudah ada di sana menunggunya.

__ADS_1


"Ada apa Evan?" Tanyanya.


"Sir, ada telepon dari tuan Xaphier, dia ingin mampir di villa untuk makan siang bersama nyonya lexia." Ucap Evan.


Daren mengernyitkan keningnya, lalu menatap jam di pergelangan tangannya. "Siapkan semuanya Evan." ucap Daren.


"Baik sir."


Evan pergi lalu memerintahkan semua pelayan untuk bersiap-siap karena sebentar siang mereka akan kedatangan tamu.


Daren kembali masuk kedalam kamar, lalu membuka semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, semetara itu lexia masih berbaring dan masih terlelap, setelah daren selesai mandi dan merasa segar kembali dia mendekat kepada lexia, dia mengecup pipi lexia agar dia bangun.


Lexia mengucek-ucek kedua matanya lalu menatap Daren yang duduk di sampingnya sambil tersenyum dan membelai wajah lexia lalu mengambil rambut yang menutupi separuh wajah lexia.


"Kau baik-baik saja sayang? Kau bisa bergerak?" Tanyanya.


Wajah Lexia merona mendengar pertanyaan Daren yang kembali berbaring di sampingnya, tubuh Daren yang wangi sehabis mandi membuat lexia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Daren.


Lexia mengangguk, "Aku tidak selemah itu Daren, meskipun masih nyeri tapi aku masih bisa berjalan koq." ucapnya, dia kembali berjengit ketika dia sedikit bergerak dan merasakan nyeri dan ngilu diantara kakinya.


Daren menaikkan alisnya lalu tersenyum miring ketika lexia berjengit dan mengerang, "Kau sungguh bisa berjalan?" tanyanya. "Atau kau perlu kugendong kemanapun kita pergi?"


Lexia mengerling Daren dan menggeleng. "Ugh, aku tidak mau, orang-orang di villa akan melihatku dengan pandangan aneh, aku tidak mau mereka melihatku seperti itu." ucap lexia memainkan telunjuknya di dada bidang Daren yang telanjang.


"Oh ya, sebentar siang Xaphier akan mampir untuk makan siang bersama kita sayang." Ucap Daren tiba-tiba. Lexia mendongakkan kepalanya menatap wajah Daren dengan tatapan heran dan melotot.


"Untuk apa dia kemari?" Ucap lexia marah, setelah kejadian yang menimpa Edo dia masih jengkel dengan Xaphier dan orang-orangnya.


"Entahlah sayang, dia menelepon evan pagi ini dan mengatakan ingin makan siang bersama, ngomong-ngomong kau tidak mandi? Aku bisa membawamu ke kamar mandi jika kau masih belum bisa menggerakkan kakimu." Ucap Daren.


"Baiklah, bawa aku ke kamar mandi tetapi kau harus meninggalkan aku sendiri di bathub dan jangan bergabung denganku!" Daren tertawa, dia lalu mengangkat lexia dan mendudukkannya di bathub.


"Kau yakin ingin sendiri?" tanyanya.


Lexia mengangguk. "Jangan coba mendekat Daren, aku tidak mau mandi bersamamu." gertak lexia.


Daren tertawa dan menyetujui permintaan Lexia, dia meninggalkan lexia sendiri di kamar mandi sementara dia mengenakan pakaiannya.


~


Kedatangan Xaphier seorang diri di villa Daren membuat lexia dan Daren sudah berada di ruang tamu menanti kehadirannya. Mobil mewah itu terparkir di pelataran villa Daren, dia keluar dengan setelan jasnya yang berwarna hitam dengan memakai sunglasses, dia berjalan dan sedikit menyunggingkan senyumnya ketika melihat mereka berdua sudah menunggu kehadirannya.


"Aku datang lexia, aku hanya ingin makan siang bersama, karena waktu itu makan siang bersama kita tertunda berkat seseorang.


Wajah lexia seketika sedikit mendelik melihat wajah Xaphier, dia tersenyum miring kemudian dia menjabat tangan Daren yang berdiri di sampingnya.


"Aku minta maaf sebelumnya karena kedatanganku yang tiba-tiba, karena sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengan Celia, sebenarnya ayah ingin ikut tapi dia harus mengurus pekerjaannya yang belum selesai." Senyuman terpampang di wajahnya, senyum angkuh tampannya menatap wajah permusuhan lexia ketika menatapnya.


"Lewat sini tuan Xaphier." Ucap Evan, mereka masuk ke ruang makan, Xaphier masuk sambil menatap villa besar itu dan berhenti pada sebuah foto besar yang di pajang di dinding villa, yaitu foto pernikahan Daren dan lexia. Dia berhenti sebentar dan memandang foto pernikahan lexia. Wajahnya tidak bisa terbaca, tetapi Daren dapat melihat ekspresi dingin dan seringai dari wajahnya.


~


Kediaman Burchard 09.15


Lovelia sedang berdiri menatap pemandangan taman dari dalam rumahnya, dia sangat ingin sekedar melangkah keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan di taman dan menikmati udara segar dan menikmati semilirnya angin yang langsung menerpa tubuhnya.


Dia memberanikan diri keluar, melangkah sedikit demi sedikit dan mendekatkan dirinya di pintu keluar. Perlahan dia mengeluarkan satu tangannya agar dia dapat merasakan semilir angin menerpa tangannya.


"Apa yang kau lakukan lovely!" teriakan itu terdengar dari belakang lovely, sontak lovelia berbalik dan menatap Barbara sedang menyilangkan kedua tangannya menatap lovelia yang menghentikan langkahnya dan menarik kembali satu tangannya, dia menghentikan langkahnya untuk keluar dari mansionnya.


"Kau tidak tahu betapa berbahayanya di luar sana? tubuhmu masih belum terbiasa dengan udara di luar, jika sedikit saja tubuhmu tidak bisa beradaptasi dengan cuaca di luar maka semua yang kita lakukan untuk merawatmu akan sia-sia." ucap Barbara.


Lovely terdiam, tanpa mendengarkan ucapan Barbara, dia sudah berlari dan masuk ke dalam Elevator dan naik ke lantai 7. "Dia betul-betul gadis keras kepala." ucap Barbara sambil mengomel.


~


Ruangan makan di villa itu tidak begitu luas tetapi suasananya nyaman karena kental dengan nuansa berwarna hijau dan dibiarkan alami tanpa banyak sentuhan ornament yang mewah.


Sepintas Ruangan itu terlihat terbuka, suasananya terlihat seperti itu karena jendela kaca di setiap sudut ruangan menambah kental suasana alami dan segar di ruangan makan di villa itu.


Mereka semua sudah duduk di meja makan, Suasana terasa canggung karena sikap dingin di antara Daren dan xaphier, meskipun lexia tidak perduli dengan situasi di antara mereka. Lexia tetap mengambil makanan di atas meja tanpa memperdulikan kecanggungan di antara mereka.

__ADS_1


Lexia mulai menyuap makanannya lalu menatap Xaphier dan Daren yang memandang lexia. "Kenapa kalian tidak makan?" ucap lexia.


Daren mulai memegang pisau dan garpunya kemudian dia mulai makan makanannya, begitupun Xaphier, mereka makan bersama dengan suasana canggung, sesekali lexia melirik kepadanya kemudian melirik ke arah daren.


'Apa yang mereka lakukan? kenapa canggung sekali?' gumam lexia sambil mengunyah makanannya. Tiba-tiba dia menyenggol tangan daren.


"Kenapa kau tidak memakan daging itu Daren? berikan kepadaku jika kau tidak mau memakannya." ucap lexia. Daren memotong steaknya dan memberikan semuanya ke piring lexia.


"Terima kasih." ucap lexia ceria. Dengan lahap dia makan semua makanannya, Xaphier memperhatikan lexia yang sedang makan, senyum terpeta di wajahnya. Memperhatikan wajah lexia yang makan membuatnya tidak berhenti menatap wajahnya.


"Oh ya, aku punya hadiah untukmu Celia, aku membawanya dari Milan, hadiahku itu sangat sesuai dengan dirimu."


Xaphier mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam di atas meja dan menyerahkan kotak itu di depan lexia. Tangan lexia otomatis mengambil barang yang diberikan untuknya dan membukanya, sebuah kalung indah dengan permata berwarna biru safir menghiasi permata itu.


"Sangat cocok untukmu Celia." ucap Xaphier kepada lexia, Daren menatap kalung itu dan melihat wajah lexia yang senyum-senyum memegang kalung pemberian Xaphier yang harganya tidak bisa dibayangkan oleh lexia.


Lexia menatap Daren, meskipun lexia yang memegang kalung itu tetapi daren yang mengucapkan terima kasih dengan kalung pemberian Xaphier, dia mengangguk tetapi wajah kecewanya sedikit terlihat. Sebenarnya dia berharap makan siang kali ini dia hanya bersama lexia tanpa Daren di sampingnya.


Xaphier berdiri setelah makan siang, dia menatap jam di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus pergi." Dia melangkah ke pintu luar, terima kasih makan siangnya, aku harus segera pergi." ucapnya dia berbalik dan menatap lexia yang berdiri di samping daren.


Tanpa berkata-kata dia kemudian pergi dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kau suka kalung itu?" tanyanya. Lexia mengangguk perlahan karena kalung itu terlihat mahal di tangannya. "Berikan padaku kau tidak boleh memakainya, kau hanya boleh mengenakan semua yang aku berikan tetapi tidak dengan pemberian orang lain meskipun dia kakakmu." ucapan Daren membuat lexia menganga.


"Tapi daren, itu hadiahku kau tidak bisa mengambilnya, kalung itu di berikan untukku, kenapa aku tidak boleh menyimpannya?" ucap lexia mencibir. Daren mengambil kalung itu dan mengantongi di saku celananya.


"Besok aku akan memberikanmu kalung lain yang lebih mahal dari ini, tapi jangan mengenakan kalung pemberiannya." ucap Daren kali ini dia tidak ingin di bantah. Daren kembali masuk ke ruangannya dan meninggalkan lexia yang mematung dan heran dengan sikap daren, sepertinya dia tidak suka dengan kedatangan Xaphier.


~


Lexia tidak memiliki kegiatan apapun hari ini jadi dia berencana untuk berenang dan sedikit merilekskan tubuhya. Baju renang yang sudah tersedia di lemari membuat lexia mengerutkan keningnya, model pakaian renang yang ada di sana sangat terbuka, hanya sedikit saja kain yang menutupi bagian privat lexia.


Dia menatap dirinya di depan cermin dan melihat tubuhnya yang terlihat telanjang, 'Ukh, ini terlalu terbuka, kenapa sih Daren membelikanku model seperti ini.' gumam lexia, tetapi dia memutuskan memakainya lalu menuju ke kolam renang, tiba-tiba pintu membuka, melihat lexia dalam balutan pakaian renang yang begitu seksi Daren bersiul dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Sangat cantik sayang, kau ingin berenang?" tanyanya. Lexia yang berdiri di depan Daren dengan baju renang seksi itu membuatnya terlihat canggung, dia mengambil salah satu bantal di atas tempat tidur dan menutup bagian tubuhnya yang terekspos.


Daren melangkahkan kakinya yang panjang lalu mendekat ke arah lexia, lalu menarik bantal yang menutupi tubuh cantik lexia, kemudian tangannya menarik pinggang lexia dengan kencang. "Ouch Daren berhenti, aku ingin berenang, jangan menggangguku." Dia mencoba menjauh dari dekapan Daren yang kuat.


"jangan mencoba Daren, aku masih nyeri." ancam lexia, Karena tarikan kasar daren dan sentuhan tangannya sangat lexia kenal ketika Daren menginginkan dirinya. Setelah lexia berhasil lepas dari tubuh Daren, lexia melangkahkan kakinya menuju kolam renang yang tidak jauh dari kamarnya.


"Apa aku harus bergabung?" ucap Daren kembali menahan pinggang lexia dan menjalarkan tangannya di tempat-tempat favoritnya di tubuh lexia. "Berhenti Daren, aku harus berenang, kau kembali saja bekerja, jangan menggangguku." lexia lalu memukul tangan Daren dan mencubitnya.


"Kau tidak bisa menyuruhku pergi lexia, ini salahmu, mengapa kau mengenakan pakaian renang ini." bisik daren lalu melepas satu persatu pakaiannya dan melangkah keluar kemudian mengangkat lexia dan segera masuk ke kolam renang mereka.


~


Hari itu tuan caesaar kedatangan tamu yang tidak di sangkanya, dia mendengar Sebastian mengatakan jika tuan Juan Robert sedang menunggu di ruang tamunya.


"Aku akan segera menemuinya." Dia menggeram, tangannya mengepal, mengapa dia berani datang ke mansionku sementara permusuhan mereka belum berakhir, apakah dia berani bermain-main denganku?" ucap tuan Caesaar tatkala langkahnya berhenti di ruang tamu.


Tuan Juan Robert sudah duduk di sana di temani putranya Alvin, suara langkah kaki tuan caesaar membuat mereka berdua berdiri dan berbalik menatap kedatangannya.


"Sudah begitu lama Caesaar, aku datang kemari karena mendengar kedatanganmu ke negara ini, dan ingin menemuimu."ucapnya.


Tuan caesaar tersenyum sinis, tongkat tua di tangannya membuat dia mengayun kasar tongkat itu, membuat Alvin berbalik lalu menatap kemarahannya.


"Aku tidak menyangka kau berani bertemu denganku sejak kejadian itu Juan, mengapa kau datang kemari? sudah jelas bukan kalau di antara kita tidak ada pertemanan seperti dulu semenjak peristiwa itu." kata-kata tuan caesaar membuat tuan Robert tersenyum.


"Sebenarnya apa yang membuatmu marah caesaar, jika kau masih saja menuduhku bekerja sama dengan penjahat itu dan menculik putrimu, berarti pertemanan kita selama ini tidak ada gunanya. Bukan aku yang melakukan pekerjaan kotor itu meskipun aku dalam keadaan paling tersesat sekalipun, setidaknya aku menyelesaikan masalahku bukan dengan cara kotor dengan menculik putrimu." ucap tuan Robert.


Ucapan tuan Robert seperti menohok tuan caesaar, dia lalu menggelengkan kepalanya. "Jadi, kalau bukan kau yang bekerja sama dengan penculik itu dengan siapa dia bekerja sama sampai-sampai dia bisa menerobos keamanan mansion kami yang di jaga ketat saat itu." ucapnya.


"Kalau kau masih meragukanku, aku hanya memberikanmu saran caesaar, bagaimana jika kau menyelidiki ulang kasus 16 tahun yang lalu, mungkin kau bisa menemukan orang yang merencanakan semua itu, orang yang telah menjadikanku kambing hitam atas penculikan putrimu." Ucap tuan Robert dengan sungguh-sungguh.


"Aku hanya datang kemari ingin melihatmu." ucapnya, tuan Robert yang ditemani oleh Alvin kini berbalik dan menuju kepintu luar. Pandangan tuan caesaar kini terlihat ragu, kalimatnya sungguh membuat tuan Caesaar ingin melakukan penyelidikan ulang mengenai kasus 16 tahun yang lalu.


"Sebastian, kumpulkan semua informasi mengenai kasus Celia, dan periksa orang-orang yang terlibat dengan penculikannya." ucapnya tegas.


"Baik tuan."


Langkah kaki itu berjalan dengan terburu-buru, dia mendengarkan semuanya kemudian di ujung koridor yang gelap dia menelepon seseorang dan memberitahu jika tuan caesaar ingin melakukan penyelidikan ulang mengenai kasus 16 tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2