The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Bertemu dengan Adrick 3


__ADS_3

Kegelapan sungguh pekat di mata biru yang dalam itu, seteguk minuman itu membuatnya kembali terhanyut dengan membayangkan kembali mata safir terang yang balas memandangnya malam itu, lekukan tubuh indahnya masih terbayang di ingatan Adrick, entah mengapa tubuh wanita itu menjadi candu untuk di tatap oleh adrick, hanya malam itu pertemuan pertama mereka yang menurut Adrick normal, mereka saling berbincang tanpa ada seorangpun yang mengganggunya sampai detik-detik pria itu datang dan menghancurkan segala keinginannya.


Adrick terkekeh, minuman itu kembali di sesapnya, keinginannya menjadi dalam tak terelakkan lagi, meskipun ancaman Xaphier bukanlah main-main, karena Sosok Xaphier tidak pernah bermain-main dengan setiap perkataannya tetapi hasratnya yang bergejolak dan bergelora mengalahkan segalanya, dia siap menantang siapa saja demi memuaskan egonya untuk memiliki wanita itu.


Dia mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja di samping botol minuman yang tertata di hadapannya. "Atur rencana berikutnya, aku ingin buat senatural mungkin, tanpa kecurigaan sama sekali, kau mengerti?"


Setelah menyusun rencana berikutnya, Adrick kembali terkekeh, dia tidak pernah membayangkan akan mengusik seorang wanita yang sudah memiliki suami dan anak untuk kemudian memilikinya, entah perasaan aneh menggelitiknya ketika rencana itu akan berjalan dan dia akan kembali di pertemukan dengan sorot mata Safir yang memandangnya dengan sorot mata benci.


~


Lexia terbangun, matanya mengerjap merasakan tangan besar sedang memeluknya dengan posesif melingkar di sekitar pinggangnya yang polos tanpa benang sedikitpun yang membalut tubuh indahnya.


Napas hangat itu masih dirasakannya bernapas dengan irama yang normal, lexia berbalik kemudian menatap wajah tampan suaminya yang menggempurnya habis-habisan tadi malam, tidak sedikitpun waktu yang diberikan kepada lexia untuk menghentikan serangan Daren malam itu.


Lexia bangun dari tidurnya, dia terduduk sambil mengangkat lengan berat suaminya yang masih betah berlama-lama di pinggangnya. Lexia mengerjap-ngerjap karena mendengar suara-suara dari atas tempat tidur, bergumam-gumam menggemaskan, seperti menyuarakan protesnya karena tidak ada seorangpun yang menghampirinya padahal dirinya sudah terbangun dan ingin segera berada di sisi ibunya.


Lexia tersenyum melihat Ax mengangkat kakinya ke atas, dia kemudian tersenyum gembira tatkala sang ibu berada di dekatnya.


"Salahkan ayahmu Ax, dia tidak membiarkan ibu pergi dari sisinya sampai dia merasa terpuaskan." Bisik lexia memberikan kecupan selamat pagi untuk putra tercintanya.


~


Nara sedang sarapan pagi bersama Xaphier, semua hidangan sudah tersaji di atas meja, sesuatu membuat Nara tiba-tiba menutup hidungnya, sandwich yang isiannya bermacam sayuran dan serta irisan daging membuat perutnya bergejolak, tiba-tiba saja tangannya menutupi mulutnya seakan ingin mengeluarkan isi di dalam perutnya.


Xaphier membelalakkan matanya melihat kondisi Nara, dengan cepat dia segera menghampirinya dan menatapnya.


"Nara? Kau baik-baik saja?" Ucapnya.


Tanpa menunggu lama, Xaphier segera memerintahkan Thomas untuk menghubungi dokter pribadinya.


Sebelum kedatangan dokternya, Xaphier telah membawa Nara ke kamar mereka membopongnya seakan Nara sedang sakit, dia kemudian duduk di sisi tempat tidur Nara.


"Kau ingin muntah?" Tanyanya.


Nara mengangguk, mual-mual yang membuatnya ingin muntah sudah berkurang karena dia tidak mencium lagi aroma menusuk hidung yang membuat dirinya ingin memuntahkan sesuatu. "Aku sedang sakit?" Tanyanya kepada Xaphier.

__ADS_1


Xaphier tersenyum, kemudian memberikan kecupan hangat di bibirnya. "Kau sakit karenaku, sebentar lagi dokter akan memeriksa kondisimu." Ucapnya, tidak lama suara ketukan pintu terdengar, Xaphier kemudian membukanya dan mempersilahkan dokter Zarach masuk kemudian memeriksa kondisi tubuh Nara, meskipun sedikit ketakutan terlihat di wajah pucat Nara tetapi senyum Xaphier membuat Nara kembali tenang.


~


Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke mansion, Lexia sedang bernyanyi-nyanyi di mobil untuk Axton, tawa lucunya membuat suasana dalam mobil begitu ribut dengan suara menggemaskannya. Lexia menunjuk-nunjuk mobil yang lewat dan memperlihatkan kepada putranya. Sementara itu Daren menyetir sesekali menatap ke arah Axton yang melebarkan kedua tangannya agar dipeluk oleh ayahnya.


"Ah, besok ulang tahun Ax bukan? pangeran kecilku sebentar lagi berumur 1 tahun." Ucap lexia sambil mengecup pipi Ax yang menggemaskan.


Daren tersenyum sayang melihat putranya berdiri diatas pangkuan ibunya sambil tangannya menggapai-gapai mengeluarkan suara menggemaskannya. Mereka mampir di salah satu toko pakaian untuk anak-anak, lexia ingin membeli baju-baju mungil dan lucu untuk Axton sementara Daren menggendong Ax sambil menunggui ibunya yang bersenang-senang berbelanja.


"Ibumu lupa waktu ketika berbelanja, Ax." ucap Daren sambil menggendong putranya, sementara dua pelayan di toko itu saling melempar pandang menatap Daren, mereka saling menyenggolkan tangan, ingin mengatakan sesuatu kepada pria tampan yang sedang menggendong anaknya.


Seorang manager toko dengan rambut bergelombang tiba-tiba datang, dia terlihat lebih berani mungkin dikarenakan kulitnya yang putih atau bibirnya yang tebal merona memberikan senyum manisnya kepada Daren.


"Anda sedang mencari pakaian yang sesuai dengan putra Anda tuan?" tanyanya. Dia mendekati Daren dan menatap putranya, dengan berani memegang pipi Ax.


"Istriku sedang mencari pakaian yang cocok untuk putraku." ucap daren sambil lalu.


"Usia putra anda berapa tahun, kami bisa mencarikan yang lebih sesuai untuk putra anda dari segala usia, kami tahu pakaian yang paling pas dengan putra anda yang menggemaskan." ucapnya dengan tatapan berani.


Daren menatap kepadanya, dengan satu pandangan tajam mengerikan wanita itu tiba-tiba terdiam, lalu senyum menghilang dari wajahnya, daren paling benci jika privasinya sedang di ganggu padahal dia ingin berdua saja dengan putranya.


Lexia telah membayar semuanya, beberapa pelayan di toko itu membantunya membawa barang belanjaan mereka, kemudian mereka bertiga keluar dari sana, tidak lupa Daren menggenggam tangan lexia sambil menggendong putranya.


"Pasangan yang sangat serasi bukan? Haaa, mereka sangat berbeda dengan kita." ucap salah satu penjaga toko sambil mentautkan kedua tangannya menatap kepergian mereka.


"Kau lihat wajah Manager kita? dia selalu paling percaya diri jika salah satu pelanggan kita pria yang tampan, kau lihat bagaimana wajah kecutnya ketika melihat istrinya? dia seharusnya tahu diri dengan posisinya." mereka berdua terkikik sambil memperhatikan mobil mereka yang menjauh.


~


"Sudah puas berbelanja sayang?" ucap Daren menatap sang istri sambil bermain-main dengan putranya. "Tentu, tetapi pilihan pakaian di sana tidak begitu banyak." ucap lexia sambil menggoyang-goyangkan tubuh putranya dan menciumnya agar Ax tertawa.


"Kenapa? kau bosan menunggu?" tanyanya. "Bukankah di sana ada wanita yang mencoba merayumu?" tanya lexia. Daren mengernyitkan alisnya.


"Aku tidak memperhatikan dia merayu atau tidak tapi aku paling benci di ganggu saat aku bersama putraku." ucap Daren mengangkat bahunya.

__ADS_1


~


"Istri anda sedang hamil tuan Xaphier, usia kandungannya baru seminggu, jadi mual-mual dan ingin muntah biasanya terjadi, dan saya sarankan agar Nyonya tidak melakukan pekerjaan yang berat, karena kandungan di usia seperti ini masih rentan." ucap sang dokter.


"hamil? jadi benar dugaanku." ucapnya senang sambil berbalik kepada Nara dan tanpa memperdulikan dokter yang ada di sana, Xaphier memberikan kecupan-kecupan di wajah istrinya.


"Erm uhuk...dan satu lagi tuan Xaphier mengenai kegiatan malam anda dengan sang istri sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, tetapi untuk menghindari resiko, anda bisa bertahan sampai kandungan istri anda cukup kuat." ucap sang dokter dengan suara sedikit keras agar perhatian Xaphier teralihkan kembali kepadanya.


"Jadi kami tidak bisa bercinta selagi istriku sedang hamil?" ucapnya gamblang sementara wajah Nara sudah semerah tomat mendengar pertanyaan lugas Xaphier.


"Tentu bisa tuan Xaphier, tetapi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan sebaiknya posisi anda ketika melakukannya ketika bersama sang istri sangat penting agar istri anda merasa nyaman dan rileks serta kandungannya pun aman." ucapnya lagi. Setelah menjelaskan cukup banyak mengenai pertanyaan-pertanyaan Xaphier yang membuat Nara menarik selimut menutupi separuh wajahnya, karena pertanyaan Xaphier


yang menanyakan kepada dokter Zarach hal-hal yang tidak pernah Nara bayangkan, membuat wajahnya semakin memerah karena malu, meskipun bagi Xaphier pertanyaan seputar hubungan suami istri sangat penting untuk ditanyakan agar tidak menyakiti Nara dan bayinya nanti.


Setelah dokter keluar dari kamar, Xaphier kembali kepada Nara dan duduk di sisinya, dia tersenyum sambil memeluk tubuh kecil Nara dan menyembunyikan wajahnya di sana.


"Sebaiknya aku meneleponmu dua jam sekali atau sejam sekali ya? Aku ingin tahu apa yang kau lakukan selama di rumah ketika aku di kantor." bisik Xaphier.


"Dan jika lexia mendengarmu dia akan memanggilmu penguntit." ucap Nara sambil tertawa. Tawa Nara menular kepada Xaphier, dia semakin mempererat pelukannya.


"Tidak Masalah jika aku di panggil penguntit, yang penting aku mengetahui kondisi istriku." bisiknya.


~


Pria dengan mata biru itu sedang duduk dengan tenangnya di dalam mobil, tangannya di bibirnya, menatap mansion besar dan megah dengan tatapan menyelidik, dari kejauhan mobil hitam memasuki gerbang depan Mansion milik Keluarga Caesaar.


Adrick memperhatikan mobil itu sambil menyeringai karena mengetahui pemilik dari mobil hitam itu adalah lexia, suami dan putranya. Tatapannya tentu jatuh kepada lexia yang sedang menggendong putranya ketika dia keluar dari dalam mobil.


"Kapan rencana berikutnya akan dilaksanakan?" tanyanya.


"Sebentar lagi tuan, kami akan mengundang Keluarga Caesaar Sebentar lagi." ucap pria berkacamata yang sedang duduk di hadapannya.


"Jangan melakukan kesalahan sedikitpun." ucap Adrick masih memperhatikan mereka yang sudah berjalan menjauh.


"Sebaiknya kita pergi, aku tidak mau kita berlama-lama dan menimbulkan kecurigaan."

__ADS_1


"Baik tuan."


Adrick terkekeh, senyum menghiasi wajahnya, dia hanya ingin berbicara sekali lagi dengan lexia, satu-satunya wanita yang menarik perhatiannya, entah mengapa Lexia begitu mempengaruhinya padahal dia adalah wanita yang memiliki suami dan anak. Kembali Adrick terkekeh karena tidak percaya dengan rencana yang akan di lakukannya kali ini.


__ADS_2