The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Tawaran Adrick 2


__ADS_3

Senjata saling di arahkan, sementara para pengawal Adrick Rudolf juga tidak segan-segan mengarahkan senjatanya kepada daren dan Pengawal-pengawalnya, tinggal menunggu perintah dari Adrick yang dengan santainya masih duduk dengan tenang dan tidak bergeming di hadapan daren.


"Apa kau mempunyai nyali menembakku tuan Burchard? Saya yakin orang-orangku tidak akan tinggal diam, sekali kau menembak, puluhan peluru akan menembus tubuhmu Tuan Burchard, bukankah akan menjadi keuntungan buatku jika kau mati? Aku bisa memiliki lexia."


Daren tanpa ragu menembak sisi tempat duduk Adrick tanpa memperdulikan omongannya. Seketika Pengawal-pengawal mereka bersiap untuk balik menembak Daren, mereka Tinggal menunggu perintah tuannya.


"Aku memperingatimu Adrick Rudolf, jauhi istriku." Ucapnya. Adrick tersenyum tenang seakan tembakan daren hanyalah hiburan kecil darinya.


"Peringatanku tidak main-main." Ucap daren kemudian berjalan mundur Sebentar, setelah itu dia keluar dari pintu cafe beserta Pengawal-pengawalnya yang mengikutinya.


Daren telah keluar dari cafe meninggalkan Adrick dengan aura mengerikan di sekitarnya, tatapan matanya tajam penuh dengan keinginan untuk menghancurkan, entah mengapa dirinya begitu terpengaruh oleh sosok lexia hingga dia harus menghadapi semua hal yang tidak berguna ini, dia sedikit tertawa, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari tempat itu.


Deringan ponsel di sakunya membuatnya terganggu dari konsentrasinya menatap mobil hitam yang telah menjauh. Dia sedikit mendengus ketika menatap si penelepon pada layar ponselnya.


"Halo dad." Ucapnya.


"Apa yang telah kau lakukan Adrick, apa kau ingin mempermalukan keluarga Rudolf dengan mengganggu putri dari tuan Caesaar yang telah menikah !"


Bentakan itu terdengar nyata di telinga Adrick membuatnya menggaruk kupingnya mendengar Omelan sang ayah.


"Aku akan mengatasi masalahku Ayah."


"Kau tahu jika Xaphier Caesaar baru saja meneleponku dan memperingatiku akan ulah tidak tahu malumu itu? Kembali ke mansion sekarang juga !"


"Oke Dad." Ucap Adrick, dia menutup ponselnya dan kembali dia terkekeh geli mendengarkan omelan ayahnya seakan dirinya anak bandel yang masih remaja yang tengah di mabuk cinta.


"Datang ke Oklahoma sungguh tepat bagiku, hiburan seperti ini baru kali ini kurasakan." gumamnya.


~


Mobil itu melaju kencang, Daren dari tadi menyetir dalam diam, lexia melirik kearahnya menunggu kemarahannya yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja. Wajahnya tentu saja menunjukkan ekspresi marah yang coba di tekannya. Lexia tidak mencoba membuka pembicaraan, salah-salah Daren mengamuk di dalam mobil.


Tiba-tiba mobil Daren menepi di tempat yang cukup sepi, kendaraan yang lewat pun bisa dihitung jari, lexia kembali melirik Daren, rentang waktu yang cukup panjang membuat jantung lexia seakan ingin melompat menunggu Daren dengan pikirannya sendiri, akhirnya dialah yang membuka pembicaraan.


"Erm Daren?" Ucap lexia sambil memegang lengan bajunya, mencoba membujuk dan mencoba menggapainya dari pikirannya sendiri.


"Daren? Kau ingin mengamuk?" Tanya lexia memiringkan tubuhnya ingin melihat ekspresi Daren dengan jelas.


"Bukan mengamuk lexia tapi ingin membenamkan pria itu dalam-dalam kedalam tanah, atau melenyapkannya dari muka bumi ini." Ucap Daren dengan gigi menggeretak.


Daren mencoba menenangkan dirinya, akhirnya dia menatap lexia, pandangan matanya begitu tajam.


"Jadi, kau tidak perduli dengan perusahaanku?" Ucapnya tiba-tiba.


Lexia mengangguk dengan spontan.


"Kau tidak perduli jika perusahaanku hancur dan akhirnya aku akan melarat dan jatuh miskin?" Tanyanya.


Lexia kembali mengangguk tanpa keraguan.


"Jika pria itu melakukan sesuatu kepada perusahaanmu tentu saja kau tidak akan membiarkannya bukan? Jadi.. pengorbananku hanya sebuah kesia-siaan karena aku yakin kau mampu mengatasinya." Ucap lexia mengangkat bahunya.


Tiba-tiba senyuman terpancar dari wajah Daren, dia menarik lexia ke dalam pelukannya.


"Bagus lexia, aku menyukai ucapanmu." Bisik daren.


"Kau tahu bukan apa yang lebih membuatku hancur?"


Lexia kemudian mengangguk dalam pelukan Daren. "Jika kau kehilanganku?"


"Kau benar sayang, ketika aku kehilanganmu, itu lebih membuatku terpuruk semakin dalam ketika kau mengkhianatiku bersama pria itu." Bisik Daren tersenyum sambil mengecup rahang lexia.

__ADS_1


"Aku yang akan menghadapi masalah apapun nantinya yang menimpa perusahaanku lexia, kau jangan berkorban apapun, kau paham, jika kau melakukannya aku sama sekali tidak akan bahagia dan senang dengan pengorbanan yang menghancurkan keluarga kita." Bisik Daren.


"Kalaupun kau jatuh miskin, aku tentu tidak akan meninggalkanmu meskipun aku putri dari tuan besar Caessar." Ucap lexia bersikap angkuh lalu menaikkan dagunya tinggi-tinggi, dia kemudian tersenyum miring menatap wajah Daren.


Daren menaikkan alisnya satu. "Benarkah? kau mengejekku ya, aku tidak selemah itu sayang." Bisik Daren memberikan kecupan kecil di setiap jengkal bibirnya dan menggigitnya menggoda membuat lexia membalas setiap ciumannya yang menghanyutkan. Daren kemudian menghentikan ciumannya lalu menatap lexia dengan pandangan tajam.


"Satu hal lagi kenapa kau mengikuti pria itu masuk ke dalam Cafe? Dan memilih berbicara dengannya?" Tanyanya.


"Pria itu mengancamku dan Nara, aku takut sesuatu menimpa Nara apalagi dia sedang hamil." Ucap lexia mengangkat bahunya, tanda bahwa tindakan yang dilakukannya sudah benar.


Daren mengambil Napas panjang dan menghembuskannya. "Pria itu membuatku ingin menghancurkannya sedalam mungkin, kali ini aku harus berbicara dengan Xaphier menentukan langkah selanjutnya untuk melawannya, dan...jangan keluar dari mansion tanpaku, selain Melda, pria itu lebih mengerikan, kita tidak tahu perbuatan apa nanti yang akan dilakukannya." Lexia mengangguk dan memeluk Daren dengan erat.


~


Xaphier memerintahkan kepada separuh dari Pengawal-pengawalnya untuk mengikuti lexia dan Nara ketika dia berada di luar mansion, Xaphier begitu terkejut ketika mendengar Adrick Rudolf berada di tempat yang sama ketika lexia dan Nara sedang berbelanja, dia begitu murka sampai-sampai dia menelepon tuan Rudolf saat itu juga menyalahkannya dan menuduhnya membuat pertikaian diantara dua keluarga.


"Pria sinting itu, kupikir dia setidaknya mendengarkan peringatanku dan menjauh dari lexia tetapi dia menganggap kata-kataku hanya sebuah angin lalu saja." Xaphier berdiri sambil menatap kaca jendela dari dalam kantornya.


Ketukan itu membuat Xaphier berbalik dan mengizinkan seseorang yang mengetuk pintu kantornya untuk masuk.


"Tuan Xaphier, wakil dari perusahaan besar C'Ork Corporation sedang menunggu anda di ruangan tunggu tuan." Xaphier mengerling dan mengernyitkan alisnya.


"wakil C'Ork Corporation? Tanyanya.


"Ya tuan Xaphier, dia ada di jadwal pertemuan dengan anda malam ini, dia salah satu perwakilan dari perusahaannya yang ingin bekerja sama dengan anda." ucapnya lagi.


"Biarkan dia masuk." ucap Xaphier.


"Baik tuan."


~


Nara masih memeluk erat tubuh lexia, dia masih ketakutan dengan apa yang terjadi tadi siang, sambil menggendong Ax yang meronta karena berada di antara pelukan Nara dan lexia, dia merasa gerah dan sedikit menggumamkan protesnya karena terhimpit oleh tubuh ibunya.


"Aku ketakutan lexia, bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpamu dan aku telah meninggalkanmu sendirian di sana, aku betul-betul bodoh." Ucap Nara sambil menyesali tindakannya.


"Jangan menyesalinya Nara, aku yang menyuruhmu untuk meninggalkanku waktu itu, sudahlah ini bukan salahmu, aku tidak mungkin membiarkanmu berada di sana dengan kondisimu yang sedang hamil, yang kau lakukan sudah tepat, lagi pula pria itu hanya berbicara saja, dia tidak melakukan apapun yang membahayakanku apalagi aku berada di tempat yang cukup ramai."


Nara mengangguk karena lexia menepuk punggungnya agar berhenti menangis. Lexia melepaskan Ax dari pangkuannya karena dari tadi pria kecil itu ingin merangkak dan bermain di lantai mencari mainannya.


"Kau sendiri bagaimana Nara, apa kau baik-baik saja?" tanya lexia sambil menatap Ax yang mulai merangkak hampir sampai di ujung pintu keluar. Nara tersenyum dan mengelus perutnya.


"Aku baik-baik saja lexia, kau tenang saja." ucapnya.


"Oh iya, kau lihat di luar?"


"Ada apa di luar?" tanya lexia.


"Pengawal semakin bertambah di setiap sudut mansion, apalagi di taman." Ucap Nara. lexia mengintip dari balik gorden.


"Ini ulah Xaphier dan daren, dia ingin beberapa tambahan pengawal mengikuti kita kemanapun kita pergi, aku tidak menyalahkan mereka yang over protective, tetapi bertambahnya penjaga seperti ini membuatku tidak leluasa, mereka seakan mengintai setiap aktivitas yang akan kita lakukan." ujar lexia sambil menyipitkan matanya melihat Ax mengambil salah satu mainannya lalu menggigit-gigitnya.


"Oh ya, boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Nara.


Lexia yang sedang mengambil mainan dari mulut Ax kemudian menganggukkan kepalanya.


"Tentu Nara, ada apa?"


"Ini mengenai Adrick Rudolf, apa yang diinginkannya? mengapa dia ingin bertemu denganmu." tanyanya. lexia berpikir sebentar lalu mengangkat bahunya sambil lalu.


"Dia ingin aku mengkhianati Daren dan menjadi miliknya, dan dia menawarkan itu untukku, katanya itu salah satu cara agar perusahaan Daren dapat selamat dari keinginannya untuk menghancurkan perusahaan daren."

__ADS_1


Mata Nara melotot mendengarnya. "Apa dia gila? memilikimu? dia menyukaimu lexia." ucap Nara sambil menutup mulutnya.


"Dia sintingkan, aku tidak tahu kegilaan apa yang merasukinya sampai dia harus berbuat seperti itu." ucap lexia kini menggendong Ax karena tidak berhenti menggigit-gigit mainannya.


"Ya, kau benar, meskipun dia tampan, dia terlihat mengerikan." ucap Nara.


Lexia mendengus mendengarnya. "Tampan??Jangan sampai xaphier mendengar kau menyebut pria lain dengan sebutan tampan Nara, dia nanti akan mengamuk."


Nara mengangkat bahunya lalu tersenyum merasa bersalah.


~


Malam itu dia tidak berhenti untuk tetap datang ke mansion itu. Adrick tersenyum meremehkan ketika menatap dari kejauhan, tampak Pengawal-pengawal yang ada di sekeliling mansion bertambah, dan untuk sekedar mengintai dari kejauhan pun sangat sulit, karena dia menempatkan para pengawal itu di area luar mansion.


"Mereka terlalu berlebihan, bukankah seperti itu sama saja mengurung lexia seperti seorang tawanannya?" Dia menggelengkan kepalanya dengan ketidaksetujuannya.


Ponselnya terus berdering, dan menatap ayahnya tidak berhenti menghubunginya agar segera kembali ke mansion.


Gerbang mansion itu terbuka nampak dua mobil mewah baru saja memasuki pelataran mansion tuan Caesaar, Daren baru saja keluar dari mobilnya begitupun dengan Xaphier yang pulang di waktu yang bersamaan. Mereka saling menyapa dan kemudian masuk ke dalam mansion bersama-sama.


Dari kejauhan nampak lexia membuka pintu mansion itu kemudian menyambut Daren dengan putranya berada di gendongannya, mereka saling berpelukan dan memberikan ciuman kilat di bibir Daren.


"Kita kembali." perintah Adrick.


"Baik tuan."


Adrick menatap sekilas kebahagiaan mereka berdua, kemudian mobil itu pergi dari sana, kemarahanya berubah menjadi kebencian, dia tidak harus merasakan rasa pahit dan sakit seperti yang dirasakannya saat ini, perasaan ini adalah hal baru baginya, perasaan asing yang menyusup ke dalam hatinya, dan dia merasa kesepian teramat sangat.


~


Mereka berempat makan malam bersama, dan saling bercerita tentang hari ini. Kali ini Xaphier tidak akan membiarkan lexia memasak, meskipun tadi sore ide itu melintas di pikirannya untuk membuatkan makan malam sederhana buat kedua pria yang duduk di hadapannya.


Xaphier menatap curiga makanan yang di sajikan dan memperhatikannya dengan sekilas kemudian bernapas lega, dan hal itu tidak luput dari perhatian lexia yang menatapnya.


"Tenanglah Xaphier lain kali aku akan memasakkanmu makanan yang lebih enak dari masakalan ini." ucap lexia sambil menikmati hidangannya.


"Tidak terima kasih lexia, aku masih ingin hidup lama." ucapnya sambil lalu, Nara tertawa tertahan di sampingnya. Lexia menipiskan bibirnya menatap pasangan kompak itu.


"Lihat saja, kali ini aku akan belajar masak dan kalian akan mengakui kemampuanku." gumam lexia pelan meskipun begitu mereka semua dapat mendengar gumaman lexia, Xaphier dan Nara menggeleng menyatakan ketidaksetujuannya dengan kata-kata lexia.


"Oh ya, bagaimana jika kita pergi berlibur bersama ke Eropa? aku memiliki waktu seminggu ini." ucap Xaphier menatap kepada lexia dan Daren.


"Berlibur? itu ide yang hebat yang pertama kali keluar dari mulutmu Xaphier." Ucap lexia menyindirnya.


"Oh ya, kalian tahu? banyaknya pengawalan di luar dan di dalam mansion membuat Ax tidak nyaman, dia tidak suka pakaian hitam ada di berbagai tempat di mansion ini, kini dia tidak mau berjalan-jalan lagi di luar halaman." ucap lexia melirik kepada Xaphier dan Daren.


Daren menghembuskan nafasnya. "Mau bagaimana lagi lexia, kita tidak bisa membiarkan penyusup sekali lagi masuk ke mansion ini, seperti kejadian terakhir." ucapnya.


"Kau benar Daren, apalagi Orang-orang dari pria itu beberapa kali menyusup ke dalam mansion ini." ucap Xaphier tidak tenang, dia menatap kepada Nara dan mengelus perut Nara yang mulai membesar.


~


"Daren, apa kita betul-betul akan pergi berlibur?" tanya lexia kepada Daren setelah mereka kembali ke dalam kamar.


"Itu ide yang bagus, lagi pula Ax juga butuh berjalan-jalan, dia pasti bosan di dalam mansion terus menerus dan tidak pernah pergi kemanapun." ucap Daren sambil menarik lexia hingga dia tertidur di atas dada Daren.


"Lexia?" Panggilnya.


"Hm? Ada apa daren." tanyanya.


"Bagaimana jika Ax memiliki seorang adik? dia pasti tidak akan kesepian." ucap Daren Dengan senyum menggoda, dia mulai memainkan perannya, tangannya mulai menjalar dan bermain di bawah sana, mata Daren telah berubah berkabut dan menatap lexia penuh gairah, daren tersenyum kecil mendengar suara lexia yang lolos mendesah dan mengerang, daren semakin mempercepat tempo permainannya dengan jari-jari ahlinya.

__ADS_1


Tak kuasa menahan itu semua, lexia menyerang Daren dengan segala keinginannya di bawah kabut gairah yang terpancar di mata safir panasnya, mereka sama-sama hanyut dalam gairah yang menyesatkan mereka berdua.


__ADS_2