
Malam hari begitu dingin, langitpun tampak berawan sehingga bintang yang biasanya bertabur di malam hari tidak terlihat sama sekali, malam itu mereka baru saja selesai makan malam, Crystal sedang duduk di depan perapian sambil melirik ke arah Darko yang sedang membuka sebuah peti yang berisikan senjata-senjata dengan berbagai tipe, dia mengambil salah satunya dan memeriksanya.
Crystal memalingkan wajahnya ketika Darko melirik ke arahnya, dia berpura-pura sedang membaca buku dan serius membacanya.
"Kau takut?" Tanyanya.
Crystal berbalik dan menatap sepasang mata saphir itu. "Takut? Tidak juga, sewaktu aku tinggal di mansion paman, aku pernah melihat orang-orang memegang senjata." Ucap Crystal dengan jujur.
"Benarkah?" Dia lalu melengkungkan senyumnya. "Apa kau membenciku karena menghancurkan keluargamu? menghancurkan Keluarga Forton?" Tanyanya.
"Aku...maksudku kami tidak begitu akrab dengan Forton, nama itu diberikan paman di belakang nama kami hanya karena aset keluarga ayah dan ibuku yang diinginkan berpindah kepadanya." Ucap Crystal, masih terbayang bagaimana pamannya memperlakukan mereka berdua dengan begitu buruk.
"Jadi kau bahagia lepas dari pamanmu itu?"
Crystal mengangguk. Darko kembali mengalihkan perhatiannya kepada senjatanya, dia melirik sebentar kepada Crystal, "Aku tahu kau pasti membenciku karena memaksamu menikah denganku demi kepentinganku dan keinginanku."
Crystal terdiam, dia kemudian ingin mengatakan sesuatu tetapi Darko menaikkan jarinya ke mulutnya menyuruhnya diam, dia mendengar suara langkah kaki di atas salju yang lebat di luar, Darko menyuruh Crystal untuk menunduk ke tepi tempat tidur dengan menggunakan isyarat tangannya.
Dia tahu langkah itu bukan langkah kaki pengawalnya, tidak sepelan itu, seperti seseorang yang mengendap-endap bersembunyi di dalam kegelapan.
Darko tersenyum lalu mendekati Crystal, dia menariknya agar bersembunyi di bawah papan yang telah di sediakannya, tempat itu di buat untuk persembunyian senjata-senjata milik Darko, dia membuka ruang di bawah tempat tidur dan menyuruh Crystal agar masuk ke dalam.
"Masuk, dan tunggu aku, sebentar lagi aku akan datang menjemputmu, dan jangan pernah keluar." Perintahnya.
Crystal menganggukkan kepalanya, tubuhnya kembali bergetar karena ketakutan, dia seakan pergi bersama pria ini ke berbagai tempat bukan untuk berbulan madu, melainkan menemaninya untuk menghabisi musuh-musuhnya.
Darko segera menutup pintu itu lalu segera meninggalkan Villa dengan senjata di belakang punggungya.
Crystal gemetaran, dia bisa mendengar kepergian Darko, terdengar langkah kakinya menjauh dan terdengar pintu yang menutup. Dia berdoa agar pria itu kembali dengan selamat, dia sangat ketakutan, bagaimana jika musuhnya membunuhnya dan membiarkannya seorang diri di sana, dia sekarang tidak tahu dia berada di mana.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kepergian Darko, terdengar dengan keras letusan senjata api dari dalam hutan, suaranya sangat keras hingga Crsytal dapat mendengarnya.
"Apa yang terjadi, bagaimana dengan pria itu, apa yang telah terjadi padanya." Ucap Crystal di dalam kegelapan ruangan itu.
Dia menunggu berjam-jam tetapi pria itu belum kembali juga untuknya, ada perasaan nyeri dirasakannya di dalam dadanya, matanya tiba-tiba berair begitu saja, terasa menyayat dan sakit, bukan karena dia sendirian dan ketakutan di tempat itu, tetapi membayangkan jika dia tidak lagi melihat wajah pria itu, hatinya tiba-tiba sakit seakan seseorang menusuk pisau di dadanya, tanpa terasa air matanya jatuh menetes di pipinya.
Dia menyadari sesuatu, dia tidak ingin kehilangan pria itu, di tidak mau jika pria itu pergi dari sisinya, dengan berani Crystal membuka tempat perlindungannya dan naik ke atas lantai, dengan tubuh bergetar dia mencari apapun itu yang bisa dia jadikan senjata, dia cukup tahu cara menggunakannya, karena sewaktu di tinggal di mansion pamannya, dia bersama dengan adiknya sembunyi-sembunyi menggunakannya ketika pamannya sedang berburu di hutan.
Dia mengambil sebuah senapan dan mengenakan jaket tebal dan topi berbahan wol yang tebal, sehingga dia tidak akan kedinginan di luar nanti.
Sebentar lagi matahari akan terbit, entah berapa lama dia di luar sana, bagaimana jika dia tertembak dan membeku di dalam hutan? Bagaimana jika dia mati? Memikirkan semua itu membuat Crystal kembali menangis, dia mulai memasuki hutan yang dingin.
"kenapa hanya pepohonan saja yang bisa kulihat?" Gumamnya sambil menghapus air matanya, asap dingin mengepul keluar melalui mulutnya, bibirnya yang tadinya merah merona berubah sedikit demi sedikit keras membiru karena dinginnya di dalam hutan itu, Crystal terisak ketakutan dan harapan akan kehidupan Darko membuat dirinya kembali menangis.
Dia terkejut ketika melihat ceceran darah di mana-mana, dia menutup mulutnya dan melihat ada beberapa tubuh membeku di sana dengan senjata berada di sampingnya. Dia berlari ke arah tubuh itu, ingatannya membawanya ketika Darko mengenakan jaket tebal berwarna hitam. Dia terduduk di samping tubuh tidak bergerak dan menangis di sampingnya yang juga mengenakan jaket berwarna hitam.
"M-maafkan aku, aku sama sekali tidak membencimu, aku...aku sangat mengkhawatirkanmu, meskipun kau pembunuh keji dan mengerikan, apalagi kau suka memaksaku bercinta denganmu, tetapi aku sangat mengkhawatirkanmu, aku...aku tidak mau kau mati dan meninggalkanku." Tangisnya pecah membelah keheningan di dalam hutan.
Suara yang terdengar di belakang Crystal tidak membuat Crystal berbalik, dia kembali menangis, "Aku menyukaimu bodoh, jadi bangunlah, jangan meninggalkan...
Crystal akhirnya tersadar seseorang berbicara di belakangnya, dia kemudian berbalik dengan perlahan dan melihat pria itu berdiri di belakangnya sambil menatapnya tanpa ekspresi di wajahnya.
"K-kau masih hidup, apa yang....
Crystal menyadari dia telah meraung-raung di samping tubuh dari seorang pria yang menjadi musuh Darko, meskipun udara sangat dingin pipinya merona karena malu, dia telah mengungkapkan perasaannya di depan pria itu, apalagi bukan hanya Darko yang ada di sana, tetapi para pengawalnya turut mendengarkan raungannya yang menangis tersedu-sedu terdengar dramatis.
Crystal melirik dengan malu, beberapa pengawalnya seperti menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Kalian semua kembali ke post masing-masing, kita akan berangkat sedikit terlambat karena sepertinya istriku tersayang tidak mendengarkan ucapanku dan keluar dari tempat persembunyiannya, padahal lokasi masih sangat bebahaya." Ucap Darko sambil menatap Crystal yang salah tingkah di hadapannya.
__ADS_1
Para pengawal telah kembali ke post mereka masing-masing dan membawa tubuh-tubuh itu dan menyingkirkannya.
Sementara itu, Crystal tertunduk malu, ingin sekali dia menggali salju yang menumpuk itu dan bersembunyi di dalamnya.
Darko berjalan dan mendekat ke tempat Crystal berdiri, dia menatap wajah cantik itu yang matanya merah karena sejak tadi menangis.
"Jadi, kau menyukaiku?" Tanyanya.
"A-apa, aku hanya....
Darko mengangkat dagu Crystal agar dia memandang wajahnya, sejak tadi dia terus menundukkan kepalanya.
"Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya."
"A-apa? Apa yang ingin kau dengar?"
"Aku tidak akan menanyakannya dua kali, katakan sekali lagi."
Crystal memandangnya dengan ragu, tatapan mereka bertemu, Crystal menelan ludahnya dan berusaha berbicara.
"Aku...tidak pernah membencimu, aku...menyukaimu." Crystal merasa dirinya telah gila, bagaimana bisa dia menyatakan rasa sukanya kepada pria ini.
Dia tersenyum, dan senyumnya itu membuat Crystal terpesona, wajahnya terlihat sangat tampan ketika dia tersenyum normal seperti itu tanpa ada seringai atau senyum mengerikan di wajahnya.
"Aku...sangat senang mendengarnya Crystal."
Darko lalu menariknya ke dalam pelukannya, matanya menunduk menatap wajah wanita itu yang telah menangis untuknya, seumur hidupnya tidak ada seorangpun yang pernah begitu mengkhawatirkannya apalagi menangis untuk dirinya, selain keluarganya tentu saja.
"Kau ingin tahu apa jawabanku kepadamu? Bagaimana perasaanku kepadamu?" Ucapnya. Crystal menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku ingin mengetahuinya." Ucap crystal dengan bersemu merah merona.
"Setelah kita kembali ke Villa, ada tugas untukmu dan setelah itu aku akan mengatakannya," Dia mengangkat tubuh Crystal dengan sangat mudah dan membawanya ke dalam Villa, tatapannya sangat berbeda kepadanya, tatapan lembut menginginkan.