
Mansion di Atlanta, Georgia
Hari berganti, bulanpun dengan cepat berlalu, tanpa terasa usia kandungan Hanna sudah memasuki 8 bulan, seperti biasanya tidak ada sesuatu yang berbeda dari hari ke hari, dazon berangkat kerja dan pulang kadang larut malam karena begitu sibuknya, sementara itu, di mansion telah terjadi sedikit perubahan, seorang kepala pelayan telah bekerja di sana, sudah dua bulan lebih dia menggantikan Jenet yang beberapa bulan lalu telah pensiun dan ingin kembali ke keluarganya.
Pilihan itu jatuh kepada seorang wanita yang sangat berkualifikasi dan professional di bidangnya, dia direkrut langsung dari Manhattan, usianya sekitar 40 tahunan. Wanita paruh baya yang cantik dan modis, entah mengapa dia mengajukan dirinya di mansion ini untuk menjadi kepala pelayan dan akhirnya di terima. Pekerjaannya sempurna, dia dengan mudah mengatur para pelayan-pelayan sehingga para pelayan tunduk dan juga menyukainya.
Tetapi ada satu hal dari diri wanita ini yang tidak di sukai oleh Hanna, meskipun Jennifer dan fairley menyukainya. Entahlah, tetapi dia terlalu berlebihan untuk mengetahui segala sesuatu yang di sukai dan tidak di sukai oleh penghuni di mansion ini, usianya memang tidak muda lagi, tetapi pengetahuannya mengenai seisi orang di rumah ini membuat hanna kadang geram dan jengkel.
Hari itu....
Hanna sedang berada di kamarnya, karena Dazon akan keluar kota untuk beberapa hari, maka hanna menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan suaminya, tubuhnya memang lebih sulit untuk bergerak cepat dan kadang mencari-cari pakaian yang akan di kenakan suaminya nanti, dia mengambil beberapa jas, dasi dan kemeja serta pakaian yang akan di kenakan dazon di sana.
"Sayang, kau jangan memaksakan dirimu, kau tahu bahwa kau tidak boleh banyak bergerak, kau mudah lelah." Ucap dazon menarik tangan hanna agar dia duduk, dan tidak perlu bersusah payah mengeluarkan isi lemari pakaiannya dan memasukkannya di dalam koper kecil di atas tempat tidur.
"Biarkan Mey yang mengerjakannya."
Hanna tiba-tiba menghentikan kegiatannya mengeluarkan pakaian dazon, dia menarik napas tertahan.
"Mey? Si mey lagi !" Ucap hanna.
"Hanna kau baik-baik saja? maksudku aku tidak mau kau lelah, biarkan mey yang mengerjakan semuanya." Hanna berbalik dan menatap tajam dazon, dia begitu jengah mendengar nama itu sering kali di sebut-sebut bahkan oleh fairley dan Jennifer yang terkagum-kagum dengan pekerjaannya.
"Tidak, aku yang akan mengerjakannya, jadi tidak perlu memanggil Mey." Ucap hanna sambil mendengus kesal. Suara ketukan tiba-tiba terdengar dari pintu luar.
Dazon membuka pintu kamar, nampak wajah perempuan itu di depan dengan tersenyum, layaknya dia seperti tahu apa yang harus di lakukannya.
"Tuan, saya akan membantu Nyonya Hanna untuk berkemas, saya tahu Nyonya hanna kesulitan untuk mengemasi barang-barang yang akan anda bawa." Ucapnya tertunduk sopan.
Dazon melirik kepada hanna yang tidak menggubris kedatangan Kepala pelayan itu, dia tetap mengambil baju dari lemari pakaiannya.
"Emm, sepertinya tidak perlu, kau boleh kembali." Ucap dazon.
"Tapi tuan, kondisi nyonya Hanna belum cukup stabil, dia tidak boleh banyak bergerak, menurut dokter Harbert, Nyonya tidak boleh terlalu lelah karena akan mempengaruhi kandungannya." Ucapnya lagi.
Hanna membuang napas. Dazon kembali berbalik, hanna sama sekali tidak memperdulikan mereka, dan menulikan setiap kata-kata kepala pelayan itu.
"Tunggu sebentar." Ucap dazon kepadanya.
Dazon menghampiri Hanna, dan memegang pundaknya. "Sayang, kau mendengar kata dokter Harbert, kau tidak boleh lelah, dan...
Hanna tiba-tiba membuang pakaian dazon ke lantai dan menatap dazon dengan tatapan tajam.
"Saya sudah cukup banyak beristirahat, jadi suruh dia kembali atau aku akan melempar pakaian-pakaian ini di wajahnya." Ucap hanna.
Dazon mencoba bersabar menghadapi hanna yang sehari-harinya selalu mengomel, dan tidak pernah sejalan dan menurut dengan apa yang diucapkan dan dipikirkan oleh dazon.
__ADS_1
Dazon kembali kepada Mey, kepala pelayan itu, "kembalilah, sebentar lagi semua sudah siap." Ucap dazon.
"Baik tuan." Dia segera pergi setelah menunduk sedikit kepadanya dengan sopan.
Dazon berjalan dan berdiri di belakang hanna, memperhatikannya dengan seksama, akhir-akhir ini, hanna begitu berubah, dia tidak terlalu banyak berbicara, kadang dia meminta makanan di bawa ke kamar di bandingkan berkumpul dengan fairley dan jennifer.
"Ada apa denganmu Hanna? Mey hanya mencoba membantumu, kenapa kau begitu membencinya?" Tanya dazon tidak mengerti.
Hanna tetap melipat pakaian dazon dan menaruhya di dalam koper, setelah itu dia memandang dazon dengan dingin.
"Siapa yang bilang aku membencinya? Dia hanya ingin melakukan semuanya, aku masih bisa melakukan pekerjaan sepele seperti ini, dia tidak perlu datang membantuku." Ucap Hanna tanpa memandang wajah dazon.
Dazon menghembuskan napasnya, dia tidak mau bertengkar dengan hanna, apalagi sebentar lagi dia akan keluar kota dan meninggalkannya sendirian.
Dazon menghampiri hanna dan memeluknya erat. "Jangan marah sayang," bisik dazon di telinganya, dia memberikan kecupan di bibir hanna dan memeluknya erat.
~
Laboratorium University G. A
"Kapan mereka akan menjemputmu riel?" Tanya prof Vandash.
"Kupikir sebentar lagi prof." Ucap Riel. Sudah beberapa bulan ini, riel bekerja sama dengan Thomas, paulo dan Loue, mereka berempat mengintai kelompok Crounus, untuk mengetahui kebenaran serum yang mereka buat, mereka secara bertahap memasukkan mata-mata ke dalam lab mereka.
Riel hanya mengangguk ketika dia membuka pintu lab itu, mobil berwarna hitam sudah menunggunya di sana, kali ini mereka akan berangkat ke villa Emerald, setelah menempatkan mata-mata di sana, kini giliran ke empatnya akan segera memantau aktivitas Chrounus, setidaknya mereka tahu di mana obat penawar itu mereka tempatkan.
~
~
Hanna mengantar Dazon ke mobilnya, dia berdiri di depan pintu dan menatap kepergiannya. Sebelum berangkat dia memberikan ciuman kepada hanna, dia lalu tersenyum.
"Aku akan segera kembali sayang." Bisik dazon. Hanna menganggukkan kepalanya, dazon telah masuk ke dalam mobil, dia menatap kepergian mobilnya yang kini telah menjauh.
Hanna berbalik dan menatap wanita itu tengah berdiri di belakangnya, dia masih tersenyum kepadanya. Hanna melewatinya begitu saja tanpa menghiraukannya.
"Nyonya, apakah anda ingin sesuatu? Teh atau susu hangat?" Tanyanya. Hanna berbalik dan menatapnya sekilas.
"Tidak perlu." Ucapnya, dia kemudian segera masuk dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Entah mengapa hanna sangat menaruh curiga pada wanita paruh baya itu, seakan instingnya memberitahukan kepadanya bahwa dia tidak boleh terlalu dekat kepadanya, dia wanita yang menyebalkan dan dia tidak menyukainya, titik. Tidak ada basa basi, tidak ada perasaan tidak mengenakkan, hanna meluapkan semuanya tanpa pernah menutup-nutupi di depan wanita itu.
Hanna segera masuk ke kamarnya dan dengan cepat menguncinya, dia bernapas perlahan dan segera duduk di sofa. Entah mengapa kehadiran wanita itu membuatnya tidak nyaman dan merasa terancam, hanna betul-betul tidak menyukai kehadiran wanita itu di mansion ini.
~
__ADS_1
~
"Kau berbohong dazon." Ucap daneil.
"Kau berbohong kepada istrimu, katanya kau sedang keluar kota untuk masalah pekerjaan, itu yang dikatakan jennifer kepadaku."
Dazon meneguk minumannya dan menggelengkan kepalanya. "Aku harus melakukannya untuk segera mencari tahu serum itu, aku menunggu perkembangan terbaru dari thomas, dan aku bisa berbicara dan bergerak bebas jika hanna tidak berada di sekitarku, aku takut jika nanti dia mendengar semuanya, aku tidak ingin membuatnya khawatir." Ucap dazon.
"Ada apa daz?" Tanya Ax yang juga ada di sana, di salah satu villa milik daneil.
"Apakah wanita hamil memang begitu sensitif? Akhir-akhir ini hanna sangat sering marah-marah, dia juga suka menyendiri dan dia terkadang menghindariku." Ucap dazon.
"Dan satu hal lagi, dia betul-betul sangat membenci Mey, dia begitu membencinya, dia selalu menaruh curiga kepadanya, bagaimana dengan fairley dan jennifer??" Tanya dazon.
Daneil mengangkat bahunya. "Tidak ada masalah, kata jennifer pekerjaan Mey begitu sempurna, dan dia sangat terbantu dengan kehadirannya." Ucap daneil.
Ax mengangkat bahunya, dia tidak pernah menanyakannya tentang kepala pelayan itu kepada fairley, tetapi fairley tidak pernah mengeluhkannya.
Dazon mengambil napas, rupanya hanya hanna yang bersikap seperti itu, seakan mey nerusak pemandangan hanna, dia tidak menyukai kehadirannya di mansion.
~
Hanna berbaring di atas tempat tidur, hanna menyadari sikapnya berubah kepada dazon, sejak dia mendengar ucapannya waktu itu, mengenai dirinya dan anak yang di kandungnya. Dia masih mengingat dengan jelas ucapan daneil di ruangan dazon
"Mengapa kakek Caesaar sejak awal mengambil resiko menikahkanmu dengan hanna? Jika dia tahu di darahnya mengalir darah seorang pembunuh?"
Deg
Seketika jantung hanna berdetak cepat ketika mendengarkan pembicaraan mereka bertiga di dalam ruangan kerja dazon.
"Apa yang kau katakan daneil, jaga ucapanmu." Tegur Ax.
Dazon hanya diam saja, tidak membantah perkataan daneil, juga tidak mengatakan sesuatu, dia hanya diam tidak menggubris mereka.
"Apa kau katakan saja kepada hanna bahwa anaknya berbahaya, kelak bisa saja anak itu akan membunuhmu atau menghancurkan keluarga ini, kau sendiri sudah tahu bahwa hanna mengandung bayi laki-laki, sebelum anak itu lahir, ada baiknya kau menceritakannya, mungkin...
"Cukup daneil, jangan bicara lagi." Tegur Ax.
Dazon hanya terdiam lagi, dia tidak mengucapkan apa-apa, dan hal itu menyulut kemarahan hanna. Hanna meninggalkan ruangan itu dan segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
~
"Apa sekarang dia menyesali menikah denganku?" Ucap hanna marah.
"Apa sekarang dia tidak menginginkan bayinya sendiri? Hanya karena racun itu, kalau kau tidak menginginkan bayi ini lepaskan kami, aku bisa merawatnya sendiri." Gumam Hanna memikirkan segalanya, memikirkan hal yang terburuk, jika sesuatu terjadi padanya dan putranya nanti, bukannya sedih atau menangis, tetapi hanna semakin kuat, dan menantang siapa saja yang mengatakan bahwa anaknya suatu hari akan menjadi seorang pembunuh atau seseorang yang akan menghancurkan keluarga Caesaar, dia akan melawan dan melindungi putranya dengan sekuat tenaga siapapun itu, bahkan dazon sekalipun.
__ADS_1