
"Tugas? tugas apa yang akan aku lakukan? aku sudah menyatakan perasaanku, apa dia akan memberiku tugas berat karena tidak mengikuti ucapannya?" gumam Crystal.
pagi itu sekembalinya dari hutan, Crystal sedang harap-harap cemas, apa yang akan dilakukan Darko kepadanya, tetapi mereka hanya sarapan dan setelah itu dia beranjak ke kamar mandi. Jantung Crystal berdetak ketika mendengar langkah kakinya keluar dari kamar mandi.
Dia melangkah mendekati Crystal dan memeluknya dari belakang. "Kau pasti ingin tahu tugas apa yang akan kuberikan kepadamu?" tanyanya. Crystal mengangguk, tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara, Darko telah mengangkatnya, dia memberikan senyum miring kepadanya penuh rencana.
Dia membaringkan tubuh Crystal di atas tempat tidur, lalu memerangkapnya di sana, "Tugasmu adalah memberikan dirimu sepenuhnya kepadaku, apapun yang akan aku lakukan jangan menolaknya, serahkan semuanya kepadaku, dan satu hal lagi, teriakkan namaku ketika kau mencapai puncak kenikmatan yang akan aku berikan."
"A-apa? sejak kapan aku tidak memberikan diriku padamu, kau selalu melakukannya berkali-kali, aku bahkan tidak bisa menghitungnya." Ucap Crystal malu mengatakannya.
"Ok, aku mengakuinya, terkadang aku memaksamu untuk melakukannya, tapi kau tidak pernah meneriakkan namaku."
"A-apakah harus seperti itu? B-baiklah, aku akan mencobanya." Ucapnya. Darko mulai memberikan ciuman panjangnya, dia mulai mengecup setiap jengkal tubuh Crystal membuatnya panas dingin, meskipun mereka telah melakukannya berkali-kali, tetapi Crystal masih saja kikuk dan malu untuk melakukannya. Dia memegang tangan Crystal di atas kepalanya, sedangkan tangan satunya mulai mengeksplor tubuh istrinya. Desahan dan erangan mereka terdengar memenuhi ruangan itu, kobaran api perapian menjadi saksi teriakan Crystal ketika dia mencapainya sambil menyebut nama suaminya.
Setelah beberapa jam lamanya mereka berada di atas tempat tidur, membuat Crystal tidak sanggup lagi menghadapi stamina Darko yang dominan, napasnya belum lagi normal dan Darko kembali menyerangnya. Setelah membiarkan Darko melakukan keinginannya, dia akhirnya tertidur lelap, halus napasnya meniup tengkuk Crystal, tubuhnya di peluk erat olehnya, Crystal mencoba melepaskan pelukannya, dia mengangkat tubuh Darko pelan-pelan dan mendorong tubuhnya agar tidur melentang.
Crystal mencoba duduk, dia menatap jam di atas nakas, sekarang sudah jam 3 siang, Crystal ingin bangun dan menyediakan makan siang untuk mereka berdua, tetapi ketika dia mulai menginjakkan kakinya di lantai dan mengenakan pakaian Darko yang kebesaran, dia terhuyung dan terjatuh di lantai, kakinya tidak bisa bergerak sebagaimana kemauannya.
"Ugh apa dilakukan Darko sampai aku tidak bisa menggerakkan kakiku, punggungku pun terasa ngilu. Crystal memegang tepi tempat tidur dan kembali duduk untuk menenangkan tubuhnya.
"Jangan banyak bergerak, aku tahu kakimu menjadi gemetaran dan kau tidak bisa berpijak, jadi jangan bergerak, biar aku yang melakukan semuanya." Pria itu bangun dari tidurnya, dia berdiri dan berjalan begitu saja dengan ketelanjangannya, Crystal memalingkan wajahnya ke samping entah mengapa dia tidak bisa menatapnya secara langsung.
Darko meliriknya dan tersenyum ketika melihatnya memalingkan wajahnya, karena dia berdiri di sana tanpa sehelai benangpun, dia kemudian mengenakan pakaiannya, lalu kembali kepada Crystal.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanyanya.
Crystal menganggukkan kepalanya, "Aku lapar dan sekarang sudah hampir sore, sebaiknya kita makan, makanan yang simpel saja." Ucap Crystal.
__ADS_1
"Ehm simpel? bagaimana dengan sphageti?"
Crystal lalu mengangguk, Dia segera pergi ke pantry membuat makan siang untuk mereka berdua. Crystal mencoba sekali lagi bergerak, dan masih merasakan nyeri di sana, "Ugh apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil menahan erangan dari mulutnya.
Crystal hanya duduk di sana, memperhatikannya memasak, dan dia dengan ahlinya dapat memasak dengam sangat baik, wanginya pun sangat lezat, Crystal sangat lapar, apalagi tenaganya terkuras habis sejak pagi tadi, setelah masak, Darko menempatkan dua piring sphagetti untuk mereka berdua di atas meja, tanpa mengucapkan apapun, Darko berjalan ke tempat tidur dan mengangkat Crystal tanpa mengucapkan apapun dan mendudukkannya di kursi meja makan.
"Makanlah, kau pasti lapar." Ucapnya, dia mengaduk spagetti yang masih panas mengepul dan meniupnya, setelah meniupkan untuk Crystal, dia lalu menukar piringnya agar makanan yang akan di santap Crystal tidak begitu panas. Crystal merasa hatinya menghangat dan merasa sangat di sayangi olehnya. Crystal mulai menyantap makanannya begitupun Darko, dia sedikit mengintip ke arah Darko.
"Ehm, kau sudah berjanji padaku, katakan kepadaku tentang perasaanmu." Ucap Crystal, dia menatapnya lagi berharap dia mendengarkan jawabannya sekarang juga.
"Setelah selesai makan, aku akan mengatakannya."
Crystal melanjutkan makannya sesekali dia mengintip ke arah Darko, setelah selesai makan, Darko mengambil piringnya dan piring Crystal, dia membersihkannya, tidak ada yang menyangka mafia kejam dan disebut Killer Beast telah memasak untuknya dan mencuci piringnya. Dia lalu kembali ke pantry membuat dua cangkir minuman hangat. Tubuh Crystal kembali terangkat, dia membawanya ke depan perapian, lalu memeluknya erat.
"Apakah masih nyeri?" tanyanya.
"Aku tahu, jadi dengarkan kata-kataku." Ucapnya.
"Hem? Oke."
Darko menatapnya dengan pandangan lembut, entah sejak kapan dia menginginkan wanita yang sekarang menjadi istrinya ini, mungkin ketika pertama kali dia melihatnya di masion pamannya, atau ketika dia melihatnya sedang berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan sewaktu berada di kamarnya, entah sejak kapan, tetapi Darko telah merasakan perasaan kepadanya, dia ingin melindunginya dari segala bahaya, dan dia ingin agar wanita itu tahu bahwa dia sangat berarti dalam hidup Darko.
"Dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya." Ucapnya, matanya intens menatap mata cantik di depannya.
"Aku mencintaimu."
Mata Crystal seketika berbinar, dia menampakkan wajah tidak percaya tetapi dia memegang kedua pipi Darko. Senyuman Crystal membuat Darko mengecupnya cepat. Dia tidak menyangka akan mendengar pernyataan cintanya, Crystal menempelkan kening mereka dan menatap wajahnya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu." Ucapnya.
~
Bulan Desember kala itu menjadi semakin dingin, Salju semakin lebat di kota Manhattan, Hanna sedang menatap langit di siang hari meskipun hanya awan putih saja yang dapat dilihatnya.
"Aku mengkhawatirkan Istri Darko, apa Darko memperlakukannya dengan baik?" Ucap Hanna Khawatir. Dazon berjalan mendekat ke arah istrinya dan memeluknya.
"Aku yakin dia akan menjadi suami yang menyayangi istrinya, oh ya, kapan mereka akan datang?" tanyanya.
"Bulan ini mereka akan datang, Darko telah berjanji akan berkunjung bersama istrinya."
"Aku tidak sabar bertemu dengan mereka." Ucap Hanna.
~
Mereka telah kembali ke london, sudah seminggu sejak perjalanan mereka ke Austria, mereka berdua makan malam bersama, sejak hari ketika Darko telah mengungkapkan perasaannya, dia semakin betah berada di rumah, meskipun dia sedang ada pekerjaan diluar, dia pasti akan kembali tepat waktu sesuai dengam yang di janjikan, kali ini mereka makan bersama, Darko lalu mengatakan sesuatu yang membuat Crystal tersedak.
"Besok kita akan ke Manhattan, seluruh keluargaku ingin bertemu denganmu." Ucap Darko
"Besok?" bagaimana mungkin, dia sama sekali tidak mempersiapkan apapun setidaknya hadiah untuk di bawa ke sana.
"Aku tidak menyiapkan apapun Darko, bagaimana ini?
"Memyiapkan apa sayang?"
"Hadiah untuk keluargamu, apa aku akan datang dengan tangan kosong?"
__ADS_1
"Jangan khawatir, keluargaku telah menganggap bahwa kau adalah hadiah teristimewa untuk mereka."