
Salah satu tempat terbesar berkumpulnya para billioner, pengusaha Amerika adalah di bangunan tinggi menjulang yaitu Hotel M.JJ Manhattan
Dazon telah tiba dengan lima mobil yang mengawalinya, pintu mobil terbuka, dan semua pengawal berada di sana menunggunya.
Mereka yang hadir, menatap kedatangannya, semua orang mengenal cucu Tuan Caesaar dan putra pengusaha besar Tuan Xaphier, meskipun masih sangat muda, kedatangan Dazon membuat para pengusaha lainnya turut menyambutnya, dan memperhatikan sikap mereka.
Seorang pria berjas hitam dengan kacamata membingkai di wajah bulatnya, dia lalu menyambut kedatangannya.
"Selamat datang tuan Caesaar, kami merasa sangat terhormat atas kedatangan anda, Silahkan lewat sini." Ucap pria tua itu.
Dazon berjalan di tengah-tengah ball room hotel, setiap orang yang hadir menatap kedatangannya. Salah satunya yang paling dikenalnya adalah Daneil dan Jennifer.
Mereka mendekat ke arah Dazon dan menyapanya.
"Hei Daz, lama tidak berjumpa kawan." Ucap Daneil menepuk bahu Dazon, "kau tahu? Kehadiranmu, membuat gadis-gadis di sana terus membicarakanmu, kau betul-betul menggantikan peran Axton, Daz." Ucap Daneil.
"Ck, kenapa aku harus menggantikan Axton? Sebelum Ax menikah, aku lebih terkenal di bandingkan dia." Ucap Dazon menyeringai.
"Tapi, keberuntungan Ax berpindah kepadamu Dazon, lihat, wanita bernama Rose, sepertinya dia terus menatapmu, apakah sekarang dia mengincarmu? Karena tahu, dia kini tidak memiliki harapan lagi bersama Ax, dan dia merubah haluan kepadamu, lihat saja matanya, mengerikan bukan?" Ucap Daneil sambil terkekeh.
"Dan dia sangat terobsesi ingin menjadi bagian dari keluarga Caesaar, kau tahu apa yang dikatakannya sewaktu kami masih bicara dulu? Dia bilang, bagaimanapun juga dia akan menjadi menantu keluarga Caesaar, kalau bukan Axton yang akan di milikinya maka Dazon yang akan menjadi incarannya." Kikik Jennifer kepada Dazon.
Wajah Dazon seperti hendak muntah, "Bagaimana bisa dia hadir di tempat seperti ini? Bukankah, dia tidak memiliki apapun lagi." Ucap Dazon.
"Entah, dia datang ke pesta ini bersama tuan Vlad Brown, pria berusia 35 tahun dan seorang pengusaha Real Estate di California, sepertinya dia telah menjadi wanita simpanan pria itu, dia tidak datang menggunakan nama ayahnya." Ucap Jennifer mengangkat pundaknya, dia tidak mau ikut campur lagi dengan urusan Rose.
"Jangan berbicara tentangnya, membuatku muak, oh ya, kenapa kau tidak pernah ke mansion, Neil? Kau tidak tahu bagaimana membosankannya selama Ax tidak ada di sana." Ucapnya.
Daneil menyesap minumannya sambil bersandar putus asa di kursi. "Seperti kau tidak tahu bagaimana perangai kakekku saja daz, Kakek Robert lebih mengerikan Daz, percayalah, dia mengawasiku sepanjang waktu, dan dia menyuruhku mempelajari seluruh perusahaan Robert Corporation, aku tidak bisa kemana-mana, bahkan ayah dan ibuku tidak bisa membantuku." Ucap Daneil.
"Setidaknya jenni mengunjungimu Neil," ucap dazon. Ucapan Dazon membuat keduanya salah tingkah, dan sama-sama meminum minumannya dan saling melirik, meskipun setelah itu mereka berdua menjadi bungkam, seperti menyembunyikan sesuatu.
~
Matahari bersinar Cerah, pagi itu Fairley bangun pagi-pagi sekali dan membereskan rumah mereka sejak beberapa minggu ditinggalkannya, Fairley membersihkan semuanya, mulai dari dapur, ruang tamu, serta kamar mereka, tugas Axton membereskan halaman rumah dan memperbaiki pagar mereka yang terlihat mau rubuh karena angin kencang, ketika rumah mereka ditinggalkan.
Axton segera mandi, dia membereskan kamar dan segera masuk ke dalam kamar mandi, setelah selesai dan merasa segar kembali, dia kemudian masuk ke dapur dan membuat sarapan untuk mereka berdua. Sandwich tuna dan dua gelas susu hangat, dia kemudian menghidangkannya di atas meja.
"Fairley?" Panggil Ax, dia mencari Fairley sampai ke belakang rumah. Suara tapak kakinya membuat Fairley berbalik, daun kering yang diinjak Ax sangat jelas terdengar.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku cuma menikmati pemandangan." Senyum Fairley, dia terlihat sangat menikmati keindahan alam di desa itu.
"Ax, coba lihat, bagaimana kalau kita membuat tempat duduk bersantai di sekitar sini? Kita bisa memandang matahari terbit atau terbenam dari sini, apalagi tempatnya sangat sesuai di sekitar pohon itu." Ucap Fairley sambil menunjuk taman belakang mereka yang langsung menghadap ke arah bukit, dan ke sungai, pemandangannya memang sangat indah, tetapi halaman mereka masih kotor, belum di bersihkan, daun-daun kering berserakan serta ranting kayu yang masih betah tertumpuk di bawah pohon. Ax melihat-lihat dan tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sapu dan membersihkan tempat itu, agar mereka bisa duduk santai berdua di tempat itu.
Pohon-pohon yang ada di sekitarnya kini berguguran, sehingga tanahnya di tutupi oleh daun maple yang sudah kekuningan dan berwarna Oranye, ranting kering yang tertumpuk dan berserakan di sekitar pepohonan dan tertutupi oleh daun.
"Bagaimana kalau di samping pohon ini?" Tanyanya.
Fairley mengangguk senang, mereka sama-sama membereskan tempat itu dan menikmati kebersamaan mereka.
Fairley menatap Ax, pertanyaan ini selalu berputar di kepalanya, dia kemudian melirik Ax dan bertanya kepadanya.
"Apakah... pilihanmu sudah tepat Ax? Kau yakin dengan semua yang kau inginkan dan lakukan, kau tidak akan menyesalinya, waktu ke depannya, kita berdua akan berusaha, tanpa bantuan dari kakek dan ayahmu."
"Dari awal aku tidak pernah memikirkan untuk pergi ke Italia, aku telah memutuskan untuk bersamamu dan merawat bayi kita bersama-sama." Ucapnya. Fairley menghampiri Ax dan memeluknya. "Pilihanmu membuatku sangat senang Ax, aku tidak ingin berpisah darimu." Ucapnya.
~
Malam itu para pelayan menyiapkan makan malam, meskipun tuan di rumah ini belum tiba dari pertemuan pentingnya, tetapi sebagai pelayan yang bekerja di sana, mereka tetap menyajikan makanan, karena sewaktu-waktu tuan mereka akan tiba di mansion.
Pukul 23.35 malah hari
Dazon begitu lelah, dia berjalan sambil melonggarkan dasinya, tubuhnya begitu letih karena seringnya menyapa beberapa orang penting ketika pertemuan tadi siang hingga sore hari.
"Pantas saja ayah menyuruhku menggantikannya, dia pasti lelah berbasa basi dengan mereka, sial, tenggorokanku sampai kering seperti ini." gumam Dazon, kepala pelayan sudah menunggunya di ambang pintu dan sedikit membungkuk kepadanya.
"Apakah anda ingin makan malam tuan Dazon?" tanyanya.
"Tidak perlu makan malam, bawakan aku sesuatu yang hangat, tenggorokanku sakit." ucapnya.
"Baik tuan."
Pelayan itu segera ke dapur, sementara Dazon naik ke lantai atas langsung ke kamarnya. Matanya kembali melirik, seperti mencari seseorang. "Apa aku makan malam saja ya?" gumamnya sambil kembali memikirkannya.
Dia kemudian mengacak rambutnya dan segera naik ke Lantai atas. Tubuhnya begitu lelah, dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menatap ponselnya.
"Tch, Mereka semua tidak menarik, Ax dan Daneil, mengapa mereka semua sibuk? Apalagi Ax, dia telah menjadi budak cintanya Fairley, tanpa Fairley, Ax terlihat betul-betul kosong, seorang pria yang haus dengan cinta dari sang istri." Dazon menggeleng sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya.
Bunyi ketukan dari pintu kamarnya membuat Dazon beranjak dari tempat tidurnya. Dia kemudian membuka pintu kamarnya, lalu matanya menatap langsung kepada gadis yang bernama Hanna, dia membawa segelas teh jahe untuk Dazon di atas nampan.
"Ini teh jahenya tuan." ucapnya dengan suara cukup kecil.
__ADS_1
"Bawa masuk, dan letakkan di atas mejaku." Perintah Dazon.
Gadis itu masuk, teh yang dibawanya segera di taruh di atas meja, lalu tanpa melihat Dazon, dia sedikit menunduk dan seperti terburu-buru ingin segera keluar dari ruangan Dazon.
"Hei, bawakan aku Apple pie, dan buah." Ucap dazon asal.
"Haa? Baik tuan."
Hanna keluar dari ruangan dazon, Hanna melihat jam di pergelangan tangannya, "Ck, padahal waktu sudah tengah malam seperti ini, bagaimana bisa dia memesan makanan, apalagi Apple pie?" gumam Hanna, dengan cepat Hanna berlari menuju kamar para pelayan dan segera mengetuk kamar koki di mansion itu.
Untunglah dia bertemu dengan kepala pelayan bernama Nyonya Chezz di koridor. "Nyonya, tuan Dazon meminta Apple pie dan buah." ucap Hanna cepat.
"Kau tunggu saja di sana, Sebentar lagi hidangan untuk tuan Dazon akan segera di siapkan." ucapnya.
Para pelayan sudah banyak yang beristirahat, tetapi karena Dazon meminta makanan di waktu seperti ini, beberapa pelayan terbangun lagi dan segera membantu koki untuk menyiapkan bahan-bahan terbaik dan segera Membuatkannya.
"Kenapa dia ingin makan Apple pie pada jam seperti ini?" gumam Hanna mendengus, tentu saja dia tidak akan bicara keburukan tuannya di depan kepala pelayan, bisa-bisa dia di pecat.
~
Dazon menerima telepon dari Thomas yang menemani ayahnya di Milan, sepertinya dia mendengar kabar buruk dari Thomas, kedua orang dari pengawal ayahnya telah berkhianat kepadanya, lalu mereka balas menyerang ayahnya dengan bekerja sama dengan mafia lain. "Bagaimana keadaan ayah?" tanyanya kepada Thomas.
"Tuan Xaphier baik-baik saja, tetapi persenjataan lengkap di gudang kita sudah di bawa oleh pengkhianat itu, mereka sepertinya menjualnya secara ilegal di perbatasan."
"Kirimkan aku identitas kedua pengkhianat itu, mereka harus tahu bagaimana rasanya berkhianat dan di khianati." Senyum Dazon.
Dazon menelepon Grande Hacker yang terkenal di Amerika, dan memerintahkannya untuk melacak keberadaan kedua pengkhianat itu, tidak lama Dazon dapat menemukan keberadaannya. Dia kemudian menelepon Thomas.
"Ini alamatnya, lacak mereka dan jika sudah ketemu, bawa mereka ke gudang tanpa sepengetahuan ayahku, kau mengerti."
"Baik tuan."
~
Ketukan dari kamar Dazon beberapa kali terdengar, Hanna berdiri di sana masih memegang nampan berisi Apple pie dan buah. Sekali lagi hanna mengetuk-ngetukkan jarinya di pintu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Apa dia sudah tidur? bagaimana bisa, chef dan kakak-kakak pelayan telah membuatnya dengan susah payah, sayang sekali." Ucap Hanna.
Tiba-tiba pintu itu membuka, Hanna berhadapan langsung dengan dazon. "Kenapa kalian lama sekali membuatnya?" Ucap dazon. "Bawa masuk dan taruh di atas mejaku." perintahnya, dia kemudian melirik ke wajah Hanna.
Dazon duduk di sana, dia kembali melirik kepadanya, dengan tenang Hanna meletakkannya di atas meja. Dia kemudian beranjak dari ruangan Dazon, ketika pintu menutup, Hanna berbalik dan mendengus menatapnya. "Dia tuan muda yang angkuh." gumamnya.
__ADS_1