
Pagi itu udara begitu cerah, keluarga Burchard masih bergelut dengan aktivitas masing-masing, nampak kamar daren yang terkunci rapat, beberapa pelayan kadang menempelkan telinganya di pintu karena mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar tuannya.
"Lepaskan aku!"
Ucap lexia setelah berusaha keras mengambil napas dari gempuran daren yang tidak memberikan jeda atas kecupan paginya.
Setiap kesempatan, daren selalu membuat lexia tersudut, kali ini setelah sarapan dia menyuruh lexia ke ruangannya, dan menciumnya di sana.
Lexia bersandar di tembok sambil memegang jas daren agar dia tidak terjatuh. Suara kecupan terdengar dari ruangan itu, daren menjelajahi setiap sudut bibirnya dan mencecapnya.
Karena merasa lexia sudah tidak bertenaga lagi dan napasnya mulai pendek, dia menghentikan ciumannya dan membiarkan lexia mengambil napas panjang.
"kau cantik lexia, aku suka membuatmu berantakan seperti ini." Bisik daren.
Lexia sudah kembali ke kesadarannya, napas mereka saling beradu, dia mendorong daren yang berdiri dihadapannya dan menatapnya tajam.
"Berhenti menciumku setiap kau mendapatkan kesempatan daren!" Ucap lexia terlihat marah, pipinya menjadi panas dan merah, bibirnya begitu bengkak.
Daren tertawa, "bukankah kau juga menikmati ciumanku." Tangan daren mulai memainkan rambut lexia di hadapannya.
"Berhenti memyentuhku, lepaskan aku, bukankah aku harus bersiap-siap untuk makan siang bersama tuan Robert." Ucapnya.
Daren akhirnya menghentikan ciumannya kepada lexia dan melepaskannya dia kemudian kembali duduk di kursinya.
"Gunakan ini." Daren memberikan earphone begitu kecil yang bisa di gunakan lexia.
"Pasang di telingamu jadi aku bisa mendengar semua yang kau ucapkan dan apa yang mereka katakan, alat itu sudah di desain canggih di bandingkan earphone lainnya.
"Baiklah, memangnya kau tidak ikut?" Tanyanya sambil mengambil alat yang di letakkan Daren di atas meja.
"Tentu saja aku ikut, hanya untuk berjaga-jaga, bisa saja aku tidak akan duduk di meja yang sama denganmu lexia."
"Ok, baiklah."
Lexia berdiri dari tempat duduknya, dan melangkah menuju ke pintu luar tanpa mengucapkan apa-apa lagi kepada daren.
Daren menariknya kemudian kembali mencium bibirnya, lexia yang begitu terkejut langsung saja menggigit bibir daren.
"Kau!" Ucap daren meringis memegang bibirnya.
"Jangan menganggap kau bisa menciumku semaumu sir, kau betul-betul mesum." Lexia mendorongnya dan berlari menjauh darinya.
"Rasakan itu." Gumam lexia membanting keras pintu daren.
~
Mereka berdua berada di atas mobil yang akan mengantar lexia ke tuan Robert. Terlihat bibir daren masih luka, lexia mengerlingnya wajahnya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kau sudah memasangnya." Tanya daren.
__ADS_1
"Ya, aku sudah memasangnya." Daren memperhatikan telinga lexia dia mengambil rambutnya dan membuka ikatan di rambutnya, jangan mengikatnya, biarkan rambutmu tergerai agar earphonenya tidak terlihat."
Lexia mengikuti saran daren mengerai rambutnya, Setelah mereka tiba di tempat itu mereka keluar dari dalam mobil dan menuju ke restaurant yang di tuju oleh tuan Robert.
Sejumlah pelayan menyambut mereka dan mengantar mereka ke tempat yang lebih privat.
"Silahkan masuk tuan, sebentar lagi tuan Robert akan segera tiba.
Mereka masuk ke ruangan privat yang cukup luas, ruangan itu langsung menuju ke taman.
"Tempat yang cukup bagus." Gumam daren.
Duduklah lexia, hentikan kebiasaan bersiulmu itu." Daren menariknya agar duduk di sampingnya.
"Kupikir kau tidak akan menemaniku."
"Untuk saat ini, sebelum tuan Robert tiba."
Lexia menatap pemandangan taman di sampingnya, taman kecil dan air yang mengalir di bawah bunga-bunga memperindah suasana di tempat itu.
Pintu itu di buka oleh seorang pelayan, tuan Robert dan Alvin masuk seketika, matanya menatap lexia lalu senyuman terukir di wajah tuanya.
"Lovely, kau sudah lama menunggu grandpa?" Ucapnya.
"Tidak juga grandpa, kami baru saja tiba." Ucap lexia tersenyum.
"Selama ini aku begitu merindukan ponakan cantikku begitupun mulut cerdasmu lovely."
Lexia hanya tersenyum, aktingnya benar-benar sempurna.
Daren tidak beranjak dari sana meskipun kehadirannya tidak begitu di sukai oleh tuan Robert.
"Kita bertemu lagi tuan Burchard."
Ucap tuan Robert padanya, tanpa menyalaminya.
Mereka semua duduk di meja itu, kecanggungan begitu kental di ruangan itu, mata semuanya tertuju pada lexia.
"Aku dengar-dengar lovely hanya belajar di rumah atau home schooling? Mengapa dia tidak bersekolah di tempat umum seperti remaja pada umumnya, mengapa harus di rumah saja?" Tanya Alvin menatap Daren.
"Lovely pernah sakit keras jadi ibunya tidak membiarkan dia bersekolah di luar dari rumahnya."
"Oh ya, tetapi keadaannya sekarang sudah membaik bukan? Dia akan kesulitan beradaptasi dilingkungan sosial jika dia hanya sekolah di rumah saja dan hanya bertemu segelintir orang." Ucap tuan Robert tajam.
"Sebagai kakek lovely, saya sangat memikirkan kehidupan lovely nantinya."
Lexia mengerling Daren, 'apa yang akan diucapkan daren'. Pikirnya.
Daren tersenyum kepada mereka.
__ADS_1
"Kami berencana menyekolahkan lovely di sekolah umum, jadi dia bisa beradaptasi dan bertemu dengan teman-teman sebayanya."
Lexia tidak begitu memperhatikan pembicaraan mereka, dia sibuk memperhatikan pelayan yang masuk dan menghidangkan Beberapa menu makanan yang lezat.
'pembicaraan yang membosankan', gumam lexia. Tapi untungnya hanya daren yang mendengar gumaman kecilnya. Kakinya menyentuh kaki lexia untuk memperingatinya agar berhenti bergumam, hal itu tidak luput dari mata tajam Alvin yang juga mendengarkan gumaman lexia.
"Pembicaraan yang membosankan bukan? Sebaiknya kita makan sebelum makanannya dingin." Ucap Alvin tersenyum.
Mereka akhirnya makan siang, tuan Robert menatap lexia ketika dia makan, kernyitan di pelipisnya nampak muncul di wajah tuanya.
Wajahnya, mengapa tidak memiliki kemiripan dengan putranya selain warna matanya yang berwarna hijau? Tetapi dia menepikan kecurigaan itu lalu kembali tersenyum melihat lovely makan dengan lahap.
~
"Aku ke toilet sebentar." Ucap lexia kepada mereka.
Lexia berjalan sepanjang koridor mencari toilet, seseorang tengah memperhatikannya. Dia melangkah mendekat ketika dia yakin bahwa dia adalah lexia.
"Lexia?" Ucap wanita itu.
Dia berbalik dan wajahnya begitu terkejut menatap Lea teman Edoardo, dia selalu menemani Edo dan mengajaknya jika ada pekerjaan penting.
"Kau lexia bukan?" Ucapnya terheran melihat penampilannya yang sangat berbeda.
"Halo Lea lama tidak berjumpa." Ucap lexia mengatasi keterkejutannya.
"WOW", hanya kata itu yang Lea katakan ketika mendekati lexia dan memandangnya dengan terkejut.
"Tidak perlu heran Lea, aku sedang kerja." Ucap lexia cuek.
"Kerja? Kau kerja di mana dan lihat penampilanmu itu kau seperti seorang gadis terpandang, pakaian apa yang kau kenakan itu? wow, sangat indah aku hampir saja tidak mengenalimu."
"Ya, ya pujilah sepuasmu, aku kerja seperti ini untuk pengobatan nenek Rossie." Ucap lexia.
"Apa maksudmu pengobatan nenek Rossie? Kau tidak tahu ya." Ucapnya.
"Tidak tahu apa?" Tanya lexia.
"Aku tidak tahu kalau aku adalah orang yang tepat memberitahukan ini tapi, kau harus tahu lexia kalau nenek Rossie sudah wafat, Edo yang memberitahuku dua minggu yang lalu, dia mencari-carimu di setiap sudut kota, dan....
Lea menghentikan perkataanya, dia melihat wajah lexia yang mematung dan menjadi pucat.
"Lexia? Hei kau mendengarku."
"Apa maksudmu nenek Rossie wafat, dia ada di rumah sakit terkenal, di tempat itu nenek di rawat."
"Ya kau benar tapi nenek mengalami komplikasi karena penyakitnya kata edo dan akhirnya nenek Rossie wafat, kau betul-betul tidak tahu ya."
"Be..berikan nomor Edo padaku, Sekarang !" Ucap lexia dengan tubuh bergetar.
__ADS_1