
'Dia mengerikan.' Gumam lexia.
Carol menghampiri nency yang masih memegang pipinya, tidak menyangka dalam beberapa hari ini pipinya di tampar, merah dan berbekas itu tanda yang tercetak di pipinya.
Tangan Xaphier yang ringan tidak ada rasa penyesalan di wajahnya, dia menatap lexia lalu pergi meninggalkannya.
'Pria itu ringan tangan, dia bisa memukul kapan saja dan siapa saja, apakah betul kami sedarah?' gumam lexia masih berdiri di antara nency dan Carol. Lexia mengerling nency, dia menahan air matanya tetapi matanya masih terpaku pada daren.
'Apa hubunganmu dengan tuan Xaphier, mengapa kalian bersama dengan mereka, apa maksudnya keluarga caesaar.' bisik Carol, hingga hanya lexia saja yang mendengar ucapannya.
"Kau tidak dengar, Xaphier bilang 'keluarga caesaar', kau tahu apa maksudnya?
Carol mendelik kepada lexia tetapi wajahnya masih belum paham dengan situasi yang terjadi. Lexia memutar matanya.
"Dia kakakku, ugh kenapa aku harus mengatakannya kepada kalian." Ucap lexia meninggalkan Carol dengan mulut yang terbuka.
"Dia bohong kan?, Mana mungkin gadis pemulung itu keluarga besar caesaar yang terkenal, omong kosong, kebohongan apa yang di rencanakan lexia." Ucap Carol sambil mendengus.
"Dan kau." Carol menunjuk dan menjentikkan jarinya ke depan wajah nency.
"Berhenti memandangi Daren, lihat saja dia! Kau di tampar oleh Xaphier dan dia hanya berdiri di sana tidak melakukan apa-apa hanya mengkhawatirkan gadis pemulung itu." Ucap Carol sambil menarik lengan nency dengan kasar.
~
Lexia memegang lengan Daren, perhatiannya sedikit teralihkan manakala Xaphier menampar nency, dia pria ringan tangan. Lexia menatap Daren yang melamun.
"Kau mengkhawatirkan nency?" Ucap lexia.
Daren berbalik menatap lexia yang menggelayutkan tangannya di lengan Daren.
"Bukan itu yang kupikirkan sayang, tapi sikap Xaphier, aku khawatir sedikit dengan sikapnya.
"Maksudmu apa Daren? Karena dia memukul nency?" Ucap lexia mendongak menatap daren.
"Menurutku jangan terlalu dekat dengannya lexia, meskipun dia kakakmu sendiri, sikapnya terlihat berbeda." Ucap Daren sambil menggenggam tangan lexia.
"Tentu saja dia menyeramkan dia kan bos mafia seperti yang ada di film-film." Ucap lexia keras. Daren menutup mulut lexia karena salah satu orang Xaphier bernama paulo berbalik ketika mendengar suara lexia.
Xaphier tersenyum miring mendengarkan ocehan lexia di belakangnya.
~
"Be..benarkah itu bibi?" Ucap Carol yang mendatangi mansion Burchard tatkala mendengar berita mengejutkan ini, nency pun ada di sana dengan kompres melekat di pipinya.
"Ya, dia adalah putri kandung Caesaar Rodrigo dan adik Xaphier caesaar, ukh, aku tidak bisa membayangkan wajah sombong gadis itu ketika bertemu nanti, aku berharap tidak menemuinya lagi." Ucap Barbara sambil meneguk minuman di tangannya, matanya melirik ketika melihat nency yang mengaduh kecil.
"Ada apa dengannya?" Tanyanya.
Carol bertolak pinggang sambil menatap nency. "Dia di tampar oleh Xaphier." Ucapnya.
"Ditampar? Apa yang di lakukannya." Tanyanya kepada Carol.
Carol memutar kedua bola matanya. "Kau tahu apa yang gadis ini lakukan? Dia menghampiri mereka, padahal kita kan sembunyi, saat dia melihat Daren ketakutannya seakan-akan lenyap, dia begitu terobsesi dengan daren."
Barbara cegukan sambil terkekeh. "Menyerah saja nency, yang kau hadapi sekarang bukanlah gadis pemulung lagi, dia putri caesaar, kau mengerti apa maksudku bukan??" Nency menggeleng, dengan sikap keras kepala.
"Kau bisa saja menghilang tiba-tiba, atau kau bisa saja mati tanpa di ketahui penyebabnya, kau mengerti jika aku menyebut Xaphier, dia adalah bos mafia di Milan, dan terkenal dengan kekejamannya, jangan pernah berurusan lagi dengan gadis pemulung itu." Ucap barbara mencoba menasehati nency dengan botol yang ada di tangannya.
Carol merinding, meskipun dia sering bersama dengan para pria pengusaha-pengusaha hebat di New York, tetapi dia tidak pernah berurusan dengan mafia, membayangkannya saja membuat Carol ketakutan.
~
Setelah pertemuan lexia dan ayahnya, Daren merasa tidak tenang, dia selalu berpikir jika Xaphier sedang merencanakan sesuatu untuk lexia.
Daren duduk di ruangannya, matanya tertuju pada identitas Xaphier. "Seorang mafia?" Separuh dari kota Milan sudah menjadi kekuasaannya apalagi bukan hanya itu saja, orang-orangnya sudah menyebar di Amerika. Daren menghembuskan napas lalu bersandar di kursi kerjanya.
Suara ketukan dari luar membuatnya berbalik. "Masuk." Evan masuk dan menyerahkan data-data penting untuk hari ini, kemudian dia melaporkan sesuatu kepada Daren.
"Sir, ada seorang pemuda di depan gerbang, namanya Edoardo, dia mengaku teman dari nyonya lexia." Ucap Evan.
"Biarkan dia masuk, aku akan menemuinya." Ucap Daren melonggarkan dasinya.
Edo di antar keruangan Daren, dia membuka pintu dan membiarkan Edo masuk di temani oleh Evan, setelah mengantarnya, Evan pergi dan menutup pintu ruangan Daren.
Mereka saling menatap. "Kita bertemu lagi Edo." Ucap Daren, dia masih ingat betul kata-kata Edo sewaktu bertanya mengenai perasaannya kepada lexia.
"Kau pasti sudah mendengar kabar pernikahanku dengan lexia." Ucap Daren.
Edo mengangguk. "Ya, aku sudah mendengarnya, aku datang kemari hanya ingin bertemu lexia dan memastikan dia baik-baik saja." Ucap Edo dengan berani.
"Memastikan lexia baik-baik saja?" Rahang Daren sedikit mengencang, Edo tidak menyembunyikan perasaan yang ingin di katakannya.
"Ya, dia temanku sejak kecil dan sejak kami berada di tempat kumuh itu, tentu aku mengkhawatirkan kondisi lexia." Ucapnya.
Daren menghembuskan napas lalu mengambil ponselnya. "Sayang, kemarilah ada seseorang yang ingin menemuimu." Ucap Daren, dia mengatakan 'sayang' dengan jelas agar edo tahu bagaimana perasaan lexia kepada Daren.
Tidak lama kemudian pintu Daren terbuka, nampak lexia dengan pakaian piamanya sedang berjalan dan menguap.
"Kenalan? Siapa Daren?" Ucap lexia. Matanya menatap sosok pria yang duduk di hadapan daren. Lexia sedikit menengoknya dan terkejut.
"Edo !? Kau di sini?!" Tanyanya.
Edo tersenyum tipis. "Ya lexia aku hanya ingin mendengar kabarmu." Ucap Edo tersenyum tipis. Lexia memukul kepala Edo. "Ada apa dengan wajahmu Edo, kau seperti sedang putus cinta."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan bersama?" Ucap Daren.
"Ide yang bagus." Lexia menarik tangan edo lalu memukul punggungnya. "Kau akan lihat kemampuanku, aku sudah bisa memasak Edo, kau akan kagum dengan masakanku." Daren memicingkan matanya melihat keakraban lexia dengan edo, meskipun begitu lexia bersikap terhadap Edo seperti bertemu saudaranya sendiri, hal itu masih di tolerir oleh daren.
Mereka makan malam bertiga bersama, wajah Edo berseri-seri ketika berbicara akrab dengan lexia, meskipun begitu, lexia yang cerewet masih memukul Edo dengan semaunya, dia seperti kembali ke sikapnya yang badung.
Setelah lama berbincang-bincang dengan Edo, dia akhirnya pulang.
"Dimana kau tinggal Edo?" Tanya lexia.
"Aku masih tinggal di tempatku yang biasa, dan aku masih bekerja dengan William, aku mendapat hasil yang lumayan di sana." Ucap Edo jujur. Daren berdiri di belakang lexia.
"Lexia aku pergi." Dia berbalik kepada Daren. "Lindungi lexia baik-baik sir, aku tidak ingin dia terluka." Ucap Edo.
Dia melambaikan tangannya kepada Edo dan diapun segera pergi dengan mobil kusamnya. "Dia masih bekerja dengan William? pria itu kan berbahaya." Ucap lexia.
Daren masih menyilangkan kedua tangannya di depan lexia. "Apa?!" Tanya lexia.
"Kau menarik tangannya, memukulnya semaumu, dan bersandar padanya, dan kau memperlihatkan keakrabanmu di hadapanku." Ucap Daren menyipitkan kedua matanya.
"Itu karena aku sudah terbiasa seperti itu, aku dan Edo seperti saudara, kami berteman sejak kecil, kami biasanya memulung sampah dan menjualnya juga bersama." Ucap lexia kepada Daren.
Tiba-tiba pelukan dari Daren kepada lexia begitu erat. "Apa kau menderita?" Bisik daren. Lexia tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, aku tidak menderita, kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanyanya.
Daren mengangkat lexia. Lalu tersenyum miring. "aku akan mengatakannya jika kita tiba di kamar belakang." bisik daren, membuat lexia melotot ke arahnya.
"Kenapa kau harus melakukannya setelah makan daren?" ucap lexia menatap heran kepada daren.
"Sudah kubilang kan, kau itu makanan penutupku." Bisik daren di depan pintu masuk villanya.
Mobil BMWi8 berwarna hitam terparkir tidak jauh dari villa milik daren, Xaphier menatap pemandangan yang baru saja terjadi. "Siapa pemuda yang baru saja datang ke rumah Burchard." Tanyanya kepada Paulo.
Paulo yang duduk didepan lalu berbalik. "Namanya Edoardo, dia salah satu teman nona celia tuan, sewaktu dia masih menjadi pemulung di keluarga Kenzo."
"Oh ya, di mana dia bekerja." Tanyanya.
"Dia bekerja di salah satu Club di Manhattan, orang yang memperkerjakannya bernama William luther." Ucap Paulo.
"Kita pergi." Titah Xaphier masih menatap dari kejauhan senyuman bahagia lexia bersama Daren.
~
Lexia sudah terlelap dan tidur dengan nyenyak karena kelelahan, sedangkan Daren masih terjaga, dia begitu gelisah, sebab laporan Evan baru-baru ini mengatakan Xaphier dan orang-orangnya memata-matai villanya.
"Apa yang diinginkannya? Jika dia ingin bertemu lexia, seharusnya dia tinggal menghubungiku saja, apa yang diinginkan pria itu sampai-sampai memata-matai kami?" Ucap Daren, dia duduk dan menyandarkan kepalanya di ujung tempat tidur sambil bersedekap. Mengapa dia begitu gelisah? Semenjak dia bertemu dengan Xaphier, dan merasa dia harus selalu waspada.
Ponselnya berdering. Daren mengangkatnya lalu mendegarkan suara Evan. "Ada apa Evan?" Tanyanya.
"Perketat keamanan, kalau perlu tambah keamanan di setiap sudut." Ucap Daren.
"Baik sir."
'Dia seorang mafia..apa sebenarnya yang diinginkan Xaphier terhadap lexia.' gumam daren, dia mengusap wajah lexia yang sedang tertidur.
"Aku akan melindungimu lexia." Bisik daren.
~
Club itu sama seperti malam-malam sebelumnya, ramai dan dipenuhi penari club yang meliuk-liukkan tubuhnya, salah satu wanita di club malam itu masuk ke ruangan William.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Orang penting dari Milan baru saja datang sir, dia Xaphier caesaar, dan dia ingin menemui anda." Ucap wanita itu melaporkan kedatangan Xaphier.
William menghentikan minumnya. Dia kemudian berdiri dan segera keluar dari ruangannya. Dia berjalan di depan pintu VIP yang di jaga oleh beberapa pengawalnya.
Pintu membuka, William lalu masuk ke dalam dan tiba-tiba saja dia begitu terkejut karena darah kental mengalir di lantai dengan sosok tubuh yang terbaring tidak berdaya di lantai itu.
Matanya melebar dan tertuju kepada pria yang duduk dengan santainya di atas kursi empuk sambil mengeluarkan asap dari mulutnya, dia tersenyum miring melihat shock di wajah William.
"Dia salah satu pekerjamu?" Ucap Xaphier.
"Ya, dia...." Matanya melebar manakala menatap sosok yang berbaring telungkup dengan darah merembes dari pelipis dan dadanya.
"Edo..!" Ucap william. Dia tetap tenang, matanya menatap wajah menyeringai Xaphier kepada Edo.
"Aku sedikit menghajar pemuda ini karena dia tidak sopan dan tidak melakukan tugasnya dengan baik." Ucap Xaphier.
"Bawa dia dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran dan menghilangkan dia selamanya dari dunia ini." Ucap Xaphier.
Beberapa orang dari club milik William masuk dan menggotong tubuh tidak berdaya Edo, dia pingsan dan banyak mengeluarkan darah.
"Kau kenal Celia?" Tanyanya.
"Tidak !" Ucap william.
"Benarkah? Kalau lexia kau mengenalnya bukan?" Ucap Xaphier.
"Ya, aku mengenal lexia, dia pernah bekerja di keluarga Burchard dan...
Xaphier menaikkan satu telunjuknya, agar William berhenti berbicara. "Kau harus melupakan itu, melupakan masa lalu lexia yang seorang pemulung, karena dia adalah keturunan Caesaar." Ucap Xaphier.
__ADS_1
Garis muncul diantara alis William. "Keturunan Caesar?" Tanyanya.
"Dan seorang keturunan Caesaar tidak memiliki sedikitpun kecacatan dalam hidupnya termasuk kisah hidup lexia yang menyedihkan itu."
Dia memberikan isyarat kepada Paulo dan mereka segera menyergap William dan menghajarnya, entah apa tujuan Xaphier menghajar orang-orang yang mengenal lexia yang mengetahui latar belakangnya.
~
"Apakah dia berulah lagi?" Ucap tuan Caesaar.
"Ya sir, beberapa teman nona Celia di hajarnya." Ucap salah satu pria yang berpakaian hitam yang selalu mengikuti Xaphier karena perintah tuan caesaar.
"Dia seperti ayahnya mencari kesenangan seperti itu hanya karena dia sedang bosan, apa yang harus aku lakukan untuk merubah sikap Xaphier." Tuan caesaar menghembuskan napasnya.
~
Lexia terbangun pagi-pagi sekali, dia menatap kosong tempat tidur Daren. Lexia bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan dan membuka jendela kamarnya.
"Apa Daren mulai joging lagi?" Ucap lexia menguap sambil menutup rapat-rapat tubuhnya yang hanya tertutupi oleh selimut. Lexia melihat Daren dari kejauhan sedang berlari pagi. Dia hanya melambaikan tangannya ke arah lexia yang menatapnya dari atas villanya.
Sarapan kali ini di buat oleh lexia tentu saja, karena seringnya lexia yang memasak, chef di villa itu selalu keluar dari villa dan hanya datang jika Evan meneleponnya dan mengatakan nyonya lexia tidak memasak lagi, sehingga chef itu akan segera kembali.
Daren baru saja tiba dari jogingnya, dan sarapan yang di siapkan lexia juga telah selesai.
"Aku mandi dulu sayang." Ucap Daren mengecup pipi lexia dan naik ke lantai atas untuk membersihkan dirinya.
Langkah Evan yang datang dengan terburu-buru membuat lexia Berbalik. "Ada apa Evan kenapa kau terburu-buru?" Ucapnya.
"Erm..tidak ada apa-apa nyonya, aku hanya memberikan laporan seperti biasanya kepada tuan Daren." Ucap Evan sopan dan mundur lalu menuju keruangan Daren.
"Ada apa ya? Kenapa wajahnya terlihat cemas seperti itu?" Gumam lexia. Setelah Daren membersihkan dirinya, dia langsung menuju keruangannya, karena tahu bahwa Evan sudah menunggunya.
"Ada apa evan?" Tanyanya.
"Sir, saya mendapatkan laporan kalau tuan Xaphier menemui William dan orang-orangnya menghajarnya hingga tuan william masuk rumah sakit." Ucapnya.
Daren terdiam dia lalu menatap berkas yang ada di hadapannya.
"Lalu, sebelum dia menyerang tuan william, dia memukuli teman nyonya lexia hingga babak belur, dan harus menjalani operasi karena dadanya tertusuk benda tajam, dia masih tidak sadarkan diri sampai sekarang, untung saja dia masih bisa di selamatkan." Ucap Evan.
Kekhawatiran daren selama ini terjawab, setelah melihat berkas-berkas dari Evan, dia akhirnya tahu jika Xaphier begitu terobsesi dengan nama besar caesaar, dan bukan hanya itu saja, dia suka bertindak kejam dan semaunya atas dasar kesenangannya saja.
"Tetap pantau mereka, dan..aku ingin kau melaporkan kondisi Willian dan Edoardo kepadaku, satu lagi, jangan memberitahu lexia." Ucap Daren.
"Baik sir."
Terlambat ! lexia sudah mendengar semuanya, tentang William dan tentang Edo. Lexia sangat geram tetapi dia menahannya, dia tidak menyangka jika Xaphier melakukan semua itu hanya untuk bersenang-senang saja.
~
"Lexia sayang?" ucap Daren. Dia mengamati lexia yang sejak tadi diam, dia seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya daren sambil menarik wajah lexia agar menatapnya. Lexia hanya tersenyum tipis.
"Tidak ada apa-apa Daren tapi...ada satu hal yang ingin kutanyakan, dan jangan berbohong karena aku akan tahu Daren."
"Apa yang ingin kau tanyakan sayang?" ucap daren. Lexia terdiam sebentar lalu kembali menatap wajah Daren.
"Aku cuma ingin tahu siapa yang memukuli Edo." ucap lexia tenang. Daren terkejut karena lexia tahu kondisi Edo saat ini.
"Apakah yang memukulinya Xaphier?" ucap lexia. Daren menggelengkan kepalanya. "Dia pria yang selalu menemani Xaphier, namanya Paulo."
"Paulo? Pria datar berkacamata itu?" tanyanya.
"Dia memukuli Edo karena perintah Xaphier, aku tidak mengerti jalan pikirannya, mengapa dia memukul orang-orang yang ada hubungannya denganmu." ucap daren. Wajah geram lexia dia tepiskan, dia tidak ingin terlihat mengerikan di hadapan daren.
"Daren? aku ingin mengunjungi Edo di rumah sakit." bisik lexia yang bersandar di leher daren. "Baiklah sayang, sebentar siang kita akan menuju ke rumah sakit."
~
Hari itu mereka mengunjungi rumah sakit yang ada di Oklahoma city, setelah menjenguk mereka berdua, lexia masih terdiam di dalam mobil setelah melihat kondisi Edo yang masih belum sadarkan diri dari operasinya.
Ponsel Daren berdering, dia segera mengangkatnya. "Halo, kami sedang dalam perjalanan, Baiklah kami akan segera datang." ucap Daren.
"Siapa daren?" tanya lexia.
"Dia salah satu ajudan tuan Caesaar, dia ingin kita berkumpul dan makan siang bersama, ini permintaan tuan caesaar sendiri." ucap Daren.
"Dimana tempat itu?" tanyanya.
"Tidak jauh dari sini, sebentar lagi kita akan bertemu dengan tuan caesaar."
Mobil milik daren akhirnya sampai ke sebuah mansion besar dengan bertuliskan selamat datang Celia.
Mereka memarkirkan mobilnya di depan mansion besar dengan beberapa pilar di setiap bangunannya. Mansion itu terlihat seperti sebuah istana, dengan patung singa raksasa yang berdiri di hadapannya.
Mereka semua ada di sana termasuk tuan caesaar, dia menyambut kedatangan Lexia dan daren. Mata lexia mencari-cari pria bernama paulo. Dan dia berdiri tepat di belakang Xaphier. Lexia berjalan cepat meninggalkan Daren yang heran dengan langkah lexia yang cepat, lexia setengah berlari dan menghampiri Paulo. Orang-orang yang menatap tindakan lexia terheran-heran mengapa dia berjalan ke arah Paulo.
Tiba-tiba saja lexia mendorong tubuh Paulo begitu kerasnya lalu meninju tepat di wajahnya beberapa kali hingga Paulo terdorong ke belakang dan hidungnya mengeluarkan darah.
Daren lalu berlari dan memegang lexia yang berontak, dia masih memukul dan menendang pria bernama paulo itu.
"JIKA KAU BERANI MENYENTUH EDO LAGI ! AKU AKAN MEMATAHKAN LEHERMU JELEK !" teriak lexia menunjuk-nunjuk kasar ke arah Paulo.
__ADS_1
tuan Caesar hanya menatap perilaku lexia dan menghembuskan napasnya. "Tidak ada yang meragukan lagi jika dia keturunan Caesaar." ucap tuan Caesaar.