The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 65


__ADS_3

Hanna menggendong putranya, dia sebentar lagi berulang tahun yang pertama, dia hanya ingin merayakan ulang tahunnya bersama putranya dengan sederhana tanpa membuat pesta apapun.


Hanna menggendongnya dan berjalan di taman berdua dengan anaknya, dia berbalik dan menatap Ibu mertuanya Nara yang mengikutinya dari belakang. "Halo sayang," Ucap Nara, dia mengecup pipi hanna dan menggendong darko di pelukannya.


Hanna senang melihatnya, dibandingkan kakek dan ayahnya, darko paling sering di gendong oleh neneknya saja dan dirinya.


"Kau baik-baik saja sayang." Ucap Nara.


Hanna menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja ibu, terima kasih." Ucap hanna kikuk.


"Aku sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan kalian tetapi, hal ini tidak bisa di diamkan lagi hanna, kalian terlihat seperti orang asing, seakan dazon menyerah kepadamu dan kau menyerah dengan cintamu kepada dazon, sebenarnya apa yang terjadi kepada kalian berdua?" Mereka berdua berhenti berjalan.


"Ibu, maafkan aku, tetapi ibu pasti tahu darah apa yang mengalir di darahku dan anakku, aku menyadarinya ibu, jadi aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini, tapi aku dan putraku baik-baik saja, ibu jangan khawatir." Ucap hanna.


Nara mengela napasnya, dia nampak terguncang dengan perkataan hanna, tetapi hanna tidak perduli, bahkan kakek dan ayahnya jarang menggendong darko, mereka semua seakan ketakutan dengan anak ini, bahkan dia masih belum berusia satu tahun, jika hal yang paling buruk terjadi, jika itu terjadi, hanna sudah siap meninggalkan keluarga Caesaar, meninggalkan dazon.


~


"Ada apa sayang? Wajahmu tampak pucat." Tanya Xaphier ketika makan siang. Nara hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya mengkhawatirkan hubungan Dazon dan hanna, kau pasti tahu bagaimana hubungan mereka." Ucapnya.


"Ya, aku tahu sayang, kita hanya bisa menunggu, jika sesuatu yang buruk terjadi, kita baru akan bergerak." Ucapnya.


~


Kali ini hanna lebih memilih makan di luar bersama putranya, dia tidak ingin berada dalam situasi canggung di mansion ketika mereka semua berkumpul, salah seorang pelayan mengikutinya dan memegang darko ketika hanna lagi makan.


Sudah tiga hari telepon dari dazon tidak pernah ada, hannapun tidak meneleponnya, dia seperti tidak perduli lagi dengan kerenggangan diantara mereka.


Ponselnya lalu berdering, bukan telepon, tetapi pesan singkat dazon, dia hanya mengirimkan pesan kepada hanna bahwa dia akan beberapa minggu di italia, karena pekerjaannya tidak mengizinkannya untuk pulang.


Hanna menatap pesan singkat itu dan segera membalasnya dengan jawaban ya, setelah itu, dia kembali menutup ponselnya, lalu melanjutkan makannya, tidak terasa air matanya menetes begitu saja, dazon bahkan tidak akan pulang untuk ulang tahun pertama putranya.


"Apa sebaiknya aku mengakhiri semuanya saja? Mereka tidak menerima kehadiran darko, sama saja keluarga itu tidak akan menerima kehadiran hanna.


~


~


"Dazon, kau tidak pulang?" Tanya Ax, dia tiba-tiba menelepon malam-malam di saat dazon sudah mengistirahatkan tubuhnya malam itu.


"Apa kau tidak akan datang di hari ulang tahun putramu yang pertama?" Ucap Ax dengan suara marah.


"Hanna tidak menginginkanku, jadi untuk apa aku pulang, dia hanya terpaku kepada darko saja." Ucap dazon sambil menutup kedua matanya dengan wajah lelah.


"Hei daz, kau sadar dengan yang kau ucapkan? kau itu ayah dari putramu."


"Aku sadar Ax, jadi tutup teleponnya aku ingin tidur." Ucapnya terdengar marah.


Dia menutup matanya, dia sudah lelah, hari ke hari hanna tidak pernah lagi memperdulikan keberadaannya, dazon merasa dia sudah berusaha untuk menyelamatkan pernikahannya dengan hanna, tetapi hanna selalu bersikap dingin kepadanya. Dan itu membuat dazon lelah dan ingin menjauh dari semuanya dulu.


~


Mey terlihat sangat senang, dia merasa berada di puncaknya, melihat semua itu membuat dirinya puas dan merasa menang.


"Nyonya mey sebaiknya anda beristirahat, luka di leher anda semakin membesar dan....


"Diam ! Aku baik-baik saja, aku hanya tinggal ke dokter dan semuanya akan membaik, jadi jangan membuat gosip yang tidak berarti, kau sudah mengganggu kesenanganku." Ucap mey.


Wanita itu masih di mansion, tetapi dia tidak tampak sama seperti sebelumnya, di lehernya terdapat jeratan tali yang semakin hari, tanda dilehernya yang luka semakin memburuk, dia hanya menutupnya dengan scraf saja, beberapa pelayan melaporkan hal ini kepada fairley, setelah itu dia memberitahu Axton mengenai Mey yang sakit-sakitan.

__ADS_1


"Sebaiknya suruh dia mengundurkan diri, luka di lehernya semakin parah, aku bahkan tidak mau menyentuh makanannya." Ucap Fairley.


"Baik sayang, aku akan bicara dengan paulo supaya mengurus semuanya."


Setelah kabar yang terdengar, bahwa keluarga itu akan memecatnya membuat Mey tampak seperti orang kesurupan, saat makan siang, dia tiba-tiba masuk ke ruang makan dan menunjuk-nunjuk mereka semua.


"Saat yang tidak tepat mey, bibi lexia ada di sini." Ucap Daneil. "Saatnya pertunjukan sayang." bisiknya kepada jennifer.


~


"Aku tidak bisa menerimanya, tidak bisa ! Berani sekali mereka memperlakukanku seperti ini setelah aku melayani keluarga ini dengan sekuat tenagaku, tunduk dan membungkuk setiap harinya, mereka tidak bisa melakukan ini." Geram Mey, tanpa memikirkan akibatnya, dia lalu keluar dari dapur dan langsung menuju ruang makan, suara tawa terdengar di dalam ruang makan.


Pintu tiba-tiba membuka, mey masuk dengan napas yang memburu dan kemarahan yang meluap-luap.


"Anda tidak bisa melakukan ini, di pecat?? apa yang telah saya lakukan sampai aku harus di pecat, aku akan ke dokter dan lukaku akan segera sembuh, kenapa kalian memecatku." Ucap mey.


"Siapa dia?" Tanya lexia, dia tetap makan sambil mendengarkan setiap ocehan Mey.


"Dia kepala pelayan di sini ma, namanya Meyna Howard." Ucap fairley.


"Meyna Howard? seperti pernah kudengar, nama itu mengingatkanku kepada seorang wanita yang licin seperti ular, hemm kalau dilihat-lihat wajahnya pun terllihat mirip, dia seperti Melda." Ucap lexia sambil menatap tajam Mey. Matanya beralih kepada lexia yang tengah duduk di sana sambil menikmati makanannya.


Wanita ini, dia adalah putri dari tuan caesaar yang pernah menghilang dan juga menyusahkan kakak Melda.


"Apa yang kalian lakukan, Ax cepat panggil pengawal dan usir wanita tidak sopan ini, berani sekali dia berteriak dan berbuat kacau, harusnya aku datang lebih cepat, supaya aku bisa memecatnya secepat mungkin."


Mata Mey membulat tatkala mendengarkan segala ucapan lexia.


"Anda tidak bisa lakukan ini, aku mey selalu melayani kalian dengan segala kepatuhan dan peraturan yang berlaku di mansion ini, dan aku menolak mendengarkan anda yang baru saja tiba, tanpa tahu masalah, anda tidak bisa seeenaknya melakukan ini." Ucap mey.


"Sudahlah mey, jangan membuat masalah lebih buruk lagi, masuk ke dalam kamarmu, dan pikirkan segala perbuatanmu hari ini." Ucap Ax mencoba menengahi agar ibunya tidak bergerak dan melakukan tindakan ekstrem kepada mey.


"Tidak, aku ingin kejelasan, kalian tidak bisa memecatku." ucapnya lagi.


Empat orang pengawal segera muncul di belakang mey, "Jika kau masih tetap bertahan, kau akan di usir sekarang juga, tetapi jika kau menuruti kami, kau masih bisa kembali ke kamarmu dan mengemasi semua barang-barangmu." Ucap lexia.


Mey berdiri mematung di sana, di pandangi oleh seluruh keluarga yang ada di ruang makan itu. Mereka sudah mencoba bersikap baik kepada Mey, tapi sayangnya, sepertinya mey menolak kebaikan mereka dan lebih suka melakukan konfrontasi dan perlawanan kepada lexia.


"Kenapa aku harus menuruti kata-katamu, kau baru saja datang di mansion ini dan memerintahku seenaknya." Ucap mey. Lexia lalu tertawa cukup keras, dia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Dimana kalian menemukan wanita sinting ini, dan membuatnya menjadi kepala pelayan? seandainya aku datang dari awal sudah aku tendang dia dari mansion ini secepatnya, ada yang salah dengan otaknya." Ucap lexia dengan menyeringai, dia mulai jengkel.


Lexia lalu berdiri dari tempat duduknya, dia kemudian berjalan mendekat ke arah mey, lalu melipat kedua tangannya. "Bawa dia keluar dari mansion." Ucap lexia dengan senyum di wajahnya. Dua orang pengawal segera memegang tangan kiri dan kanannya lalu membawa Mey keluar dari mansion.


Mey berteriak-teriak histeris, dia berusaha melepaskan dirinya dari pengawal yang memegangnya.


"Ck ck, aku bisa menebak, wanita itu pasti mengacaukan kalian semua selama dia tinggal di mansion ini." Ucap lexia kembali duduk di sana.


"Oh ya, di mana Hanna, aku jarang melihatnya."


"Dia sedang bersama putranya keluar tadi, mungkin sebentar lagi dia pulang." Ucap Nara.


Lexia mengamati Xaphier yang sejak tadi sibuk mengetik-ngetik pesan di ponselnya. "Dimana dazon? bukankah besok ulang tahun putra mereka?" tanya lexia.


"Dazon masih di italia, dia mungkin tidak akan sempat datang karena katanya pekerjaan di sana menumpuk." Ujar Axton, dari tatapan mata mereka semua, ada yang salah antara Dazon dan hanna.


"Apa hubungan mereka memburuk dan kau diam saja Xaphier?" Tanya lexia blak-blakan.


"Emm, kita lihat dulu perkembangan keduanya, aku akan segera bicara kepada dazon, erm saya hanya tidak ingin membuat hubungan mereka semakin parah, jadi kita menunggu dulu, apa yang diinginkan dazon dan hanna."


"Oh ya, aku dengar-dengar sesuatu yang aneh, katanya di dalam darah putra hanna mengalir darah Reaver dan bisa menghancurkan keluarga Caesaar." Ucap lexia santai.


"Lexia, tidak di sini sayang, jangan membicarakan hal itu." tegur daren.

__ADS_1


"Tidak, aku pikir ada yang salah dari semua ini, Xaphier, kau pikir apa yang sedang kau lakukan dengan hanna, Xaphier? dia itu menantumu kenapa kau tidak mencarinya, membiarkan mereka di luar sana pada saat makan siang seperti ini, meski darah apapun yang mengalir di tubuh anak itu, tetapi kau tidak bisa membuat hanna menjalani semua ini sendirian, apa kau tidak sadar? akupun akan bersikap seperti Hanna jika suami dan ayah mertuanya sendiri menghindarinya, hanya karena rumor yang menyebar dan tidak jelas itu." Ucap lexia marah.


"Jika keadaan berlarut seperti ini, hubungan mereka tidak mungkin di selamatkan, jika kalian tidak menerima hanna dan putranya apa adanya, lebih baik dazon berpisah dengan hanna jika sikap kalian menyakiti hanna seperti ini."


Semua orang di meja makan terdiam tetapi dengan napas yang tertahan. Xaphier memijat keningnya. "Bukan begitu lexia, kami hanya berusaha untuk menyatukan mereka, tetapi jika mereka berdua akan memilih keputusan untuk berpisah, kami tidak bisa melakukan apa-apa." Ucap Xaphier.


"Sejak kapan kau jadi mudah menyerah Xaphier, ada apa denganmu." Ucap lexia, dia menggelengkan kepalanya dan segera pergi dari meja makan.


Lexia lalu menuju ke taman dan menelepon hanna.


~


Hanna sedang mengitari sebuah perumahan di salah satu jalan yang cukup jauh dari mansion, dia berada di Street 77 di jalan Morbey. Teleponnya tiba-tiba berdering, hanna menepikan mobilnya ketika melihat siapa yang tengah meneleponnya.


"Halo Bibi? sejak kapan bibi datang?" tanya hanna dengan senyum di wajahnya.


"Kau dimana hanna sayang?"


"Oh, emm aku sedang berada di luar, jalan-jalan dengan darko." Ucap hanna.


"Jam berapa kau akan pulang?"


"Bibi ada di mansion? Aku secepatnya akan pulang." Senyum hanna.


"Bibi akan menunggumu, jangan biarkan darko terlalu lama di luar hanna, nanti putramu sakit."


"Baik bi, kami akan segera pulang." Ucap hanna, dia kemudian menutup ponselnya, setelah itu dia keluar dari mobilnya dan melihat-lihat rumah asri dan minimalis, rumah itu tampak nyaman dan keamanannya juga bagus, hanna melihat-lihat rumah contoh, dia hanya akan berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya dan putranya kelak.


"Nyonya Hanna."


Hanna segera berbalik, matanya tiba-tiba membulat ketika melihat Loue ada di sana, berdiri sambil mengawasinya.


"Apa yang kau lakukan di sini Loue?" tanyanya.


"Nyonya, telepon dari tuan dazon." Ucap loue.


Dia memberikan ponselnya kepada hanna, dia bingung kenapa dazon tidak meneleponnya di ponselnya saja, kenapa harus melalui Loue.


"Halo."


"Kau di mana?"


"Aku sedang berjalan-jalan bersama darko."


"Berjalan-jalan sambil melihat-lihat rumah? Apa maksudmu hanna? Apa yang kau inginkan."


"Tidak ada yang kuinginkan, aku hanya mengantisipasi dengan kemungkinan yang terburuk suatu hari nanti, tidak ada salahnya mulai dari sekarang aku berjaga-jaga." Ucap hanna sambil bernapas sewajar mungkin, karena napasnya mulai memburu, baru kali ini mereka berbicara melalui telepon.


"Mengantisipasi apa? apa yang harus kau jaga-jaga?"


"Tidak usah berpura-pura, kau tahu hubungan kita seperti apa, aku hanya melindungi putraku dari orang-orang yang tidak menginginkannya." Ucap hanna.


"Apa maksudmu? kau ingin bilang aku tidak menginginkan putraku sendiri?"


Suara dazon sudah mulai membesar di telepon, dia terdengar gusar.


"Apa lagi yang harus kukatakan dazon, apa kau ingat, berapa kali kau menggendong putramu, begitupun dengan ayah, bagaimana cara kalian menatap anakku, hanya karena darah sialan yang mengalir di tubuh darko, seakan dia sudah di takdirkan menjadi seorang pembunuh, jika kalian tidak menginginkan kami....


"Cukup ! aku akan segera kembali ke Atlanta."


Dazon menutup ponselnya, napas hanna naik turun, dia seakan sesak napas, hal yang selama ini di simpannya kini mulai muncul di permukaan.


"Batalkan semua rapat hari ini dan pertemuanku, aku akan segera lembali ke Atlanta, biarkan George yang mengatur semuanya sementara." Perintahnya. Dazon segera keluar dari kantornya dan menuju ke Mansionnya, dia akan segera bersiap-siap dan kembali ke Atlanta.

__ADS_1


__ADS_2