
Perasaan Dazon saat ini tidak bisa di gambarkan, bagaimana marah dan frustasinya dia saat ini, dia mengelilingi kota Atlanta seperti orang gila, dia mengelilingi kota itu tanpa mengetahui tujuannya, sementara itu Thomas memeriksa semua barang-barang yang tidak di bawa oleh Hanna, mungkin saja ada barang yang masih bisa di lacak keberadaannya, dia berdiri di dalam kamar Dazon dan menatap semuanya, bahkan ponselnya tidak dia bawa sama sekali, sepertinya dia sudah membeli ponsel baru agar lokasinya tidak terlacak, tapi bagaimanapun, dia masih bisa terlacak jika dia menggunakan identitasnya.
"Bagaimana sir? Sepertinya tuan Dazon keluar mencarinya, tanpa mengetahui arah dan tujuan dimana nyonya Hanna, sama saja mencari jarum dalam tumpukan jerami."
"Kita harus menunggu, sepertinya nyonya Hanna sudah mengantisipasi ini, jika saja dia memasukkan identitasnya untuk keperluan apa saja, dia akan langsung terkoneksi dengan keluarga Caesaar dan lokasinya akan dapat terbaca."
"Jadi bagaimana sir?"
"Untuk sekarang, kerahkan semua pengawal untuk mencari Nyonya Hanna, tuan Dazon akan mengamuk jika kita tidak bergerak."
"Baik sir."
~
"Kalian dengar tidak? Ribut-ribut tadi pagi?" Ucap salah seorang pelayan sambil membelakangi meja makan, "Sepertinya Nyonya telah pergi dari mansion ini, apalagi dia kabur membawa tuan Darko." Langkah sepatu itu berhenti tepat dibelakang pelayan-pelayan yang sedang asyik bergosip.
"Apa maksudmu Nyonya Hanna telah pergi?" Pelayan-pelayan itu berbalik dan melihat tuan Axton dan nyonya Fairley yang baru saja tiba di mansion. "Apa yang terjadi?"
Mereka saling menatap dengan ragu dan takut, akhirnya salah satu pelayan itu menjawab pertanyaan Axton. "Pagi tadi semua orang sedang mencari keberadaan Nyonya Hanna. Sepertinya Nyonya Hanna telah melarikan diri dari mansion dan membawa putranya."
Axton dan fairley begitu terkejut, "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Nyonya Hanna melarikan diri, apa sesuatu terjadi?" Tanya Axton, tangannya sibuk menekan ponselnya dan mengubungi Dazon.
"Erm beberapa hari yang lalu ada insiden yang terjadi tuan, putra tuan Daneil telah di serang oleh tuan Darko, setelah itu tuan Darko juga telah menyerang salah satu pengasuhnya, hingga dia dibawa ke rumah sakit, setelah kejadian itu kami mendengar tuan Dazon dan Nyonya Hanna bertengkar, hanya itu yang kami tahu, tuan."
Mereka berdua sekali lagi terkejut, "Benarkah? kenapa hal ini bisa terjadi?" Gumam Fairley mengkhawatirkan Hanna. Dia lalu menatap putra dan putrinya yang tampak lelah karena perjalanannya yang cukup jauh, "Bawa David dan Michaela ke kamar, mereka pasti lelah." Ucap fairley.
"Baik Nyonya."
Axton sejak tadi menelepon Dazon, tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali. "Apa sih yang dilakukan Dazon, sampai Hanna melarikan diri, apa dia pikir akan membawa Darko dari Hanna? Dia tidak sebodoh itu ingin memisahkan Darko dari ibunya, bukan? Jika dia berniat seperti itu, keputusan yang dia pilih sangat bodoh dan ceroboh, keputusan cerobohnya kini membuat Dazon kehilangan keduanya." Ucap Axton.
"Bagaimana dengan Mom? Kalau dia tahu, mom pasti mengamuk." Ucap Fairley memikirkan mertuanya lexia. Axton menarik napas panjang, "Sebaiknya jangan ada yang memberitahu paman Xaphier, bibi Nara, ayah dan ibu dulu, kita sebaiknya menunggu Dazon, mungkin sebentar lagi dia akan menemukan Hanna dan Darko dan membawanya pulang, jadi sebaiknya tidak ada yang mangabari berita ini kepada mereka."
~
Hari yang sangat panjang bagi mereka berdua, baru kali ini dia membawa kendaraannya seorang diri dengan jarak tempuh yang begitu jauh, meskipun melelahkan, Hanna tetap melanjutkan perjalanannya, dan singgah di beberapa tempat untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
Kali ini Hanna singgah di sebuah restaurant makan keluarga untuk makan siang, tempatnya tidak begitu ramai, sehingga Hanna punya waktu untuk beristirahat sebentar, apalagi Darko terlihat lelah dan merengek terus karena perjalanan mereka begitu panjang dan melelahkan.
"Sebentar lagi kita akan tiba sayang, Darko harus bersabar ya?" Ucap Hanna sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"Emh Oky, mommy." Ucap Darko, dia kemudian melanjutkan bermain mobil-mobilannya setelah merasa kenyang dan segar kembali.
"Tinggal sejam lagi, dan kita akan tiba di villa nenek." Ucap Hanna mencoba membuat putranya bersemangat. Hanna dan Darko melanjutkan perjalanannya, sudah hampir jam 4 sore, Darko sudah terlelap di kursi belakang.
Setelah perjalanan yang menguras waktu dan tenaga, akhirnya mereka tiba juga di lokasi yang di tuju melewati desa East Rosewell.
"Bangun sayang, kita sudah sampai, coba lihat." Hanna memarkirkan mobilnya didepan villa tua yang terlihat sangat kusam, di atapnya sudah tertutupi oleh sulur-sulur panjang hingga menutupi separuh atap villa itu, bangunan kusam tetapi kokoh. Darko mengucek matanya dan terlihat masih mengantuk.
"Sudah sampai mommy?" Tanyanya.
__ADS_1
Darko menatap rumah kecil dan terlihat rapuh itu, tempatnya sungguh sunyi, cukup jauh dari desa, dalam waktu 1 jam perjalanan saja, mereka akan melihat desa, sebuah desa bernama East farewell.
Hanna menatap villa tua itu, dia melangkah masuk ke pekarangannya, dan menatap villa bertingkat, yang membuatnya mengingat kenangan masa kecilnya bersama Ayah dan ibunya yang telah memberikan nama keluarga Tan dibelakang namanya.
Darko menatap kagum sekelilingnya, mulutnya sedikit terbuka menatap semuanya, pohon-pohon begitu dekat dengan villa mereka, rumput tumbuh subur tidak terawat. "Woah mommy, kita berada di hutan? Kita akan berpetualang di sini? Hebat." Ucapnya.
Hanna tersenyum sambil mengacak rambut putranya. "Mulai hari ini kita akan tinggal di sini, tetapi sebelum itu mommy harus bersih-bersih." Ucap Hanna dengan semangat.
Mereka mengangkat barang-barangnya, dan meletakkan di halaman villa. Hanna mengambil kunci villa itu dan membukanya. Meskipum dari luar terlihat tidak terawat, tetapi di dalam villa terlihat bersih dan rapi, Hanna membayar dua orang penduduk desa untuk membersihkan villa ini meskipun halamannya sengaja dibiarkan begitu saja, tetapi setiap sebulan sekali mereka mengecek villa ini dan membersihkannya, jadi Hanna tidak perlu menguras tenaganya untuk bersih-bersih.
"Wah hebat mommy." Ucap Darko sambil mengelilingi tempat itu, "Hati-hati sayang jangan kemana-mana dulu, kita harus memeriksa semua ruangan, setelah itu kita akan bersih-bersih."
"Oky mommy."
Hanna menyingsingkan lengan bajunya dan segera membersihkan tempat itu, malam itu juga Hanna mengerjakan semuanya, meskipun lelah, tetapi setelah 3 jam beraih-bersih, ruangan di dalam villa tampak bersih dan rapi serta tidak berdebu lagi.
"Saatnya makan." Ucap Hanna, Darko berlarian, dia lalu duduk di meja makan, dan mengetuk-ngetukkan tangannya di meja.
"Horeee pizza." Teriaknya. Untungnya Hanna telah membeli pizaa untuk makan malam mereka, meskipun sudah tidak hangat lagi, setidaknya perut mereka terisi dan bertenaga lagi.
Hanna meninggalkan Darko, dia makan seorang diri di dapur, sementara itu dia mengecek semua ruangan dan sistem alarm yang masih berfungsi di setiap pintu. Villa itu memiliki 3 kamar yang bisa di gunakan, dua kamar di lantai atas dan satu kamar di lantai bawah, ruang makan, dapur, ruang santai serta kamar mandi. Setelah mengecek semuanya, Hanna kembali ke dapur, dan duduk di hadapan putranya yang masih lahap memakan pizzanya.
"Mommy, kenapa kita pergi dari Daddy? Apa mommy dan daddy bertengkar? Kenapa dad tidak ikut bersama kita berpetualang?" Ucap Darko tiba-tiba.
Hanna terdiam sebentar, dia lalu mengusap rambut putranya dan mengecupnya. "Kita tinggal dulu di sini, mungkin jika ayahmu beruntung, dia akan bertemu kita lagi."
Darko memiringkan kepalanya tidak mengerti dengan ucapan ibunya. "Beruntung? Jadi ayah tidak beruntung jika tidak bertemu kita lagi?"
"Apa mommy marahan dengan Daddy?" Tanyanya.
"Bisa dibilang seperti itu sayang, orang dewasa kadang seperti itu, menjaga jarak dan berpikir tentang semuanya, lalu mengambil keputusan yang terbaik." Ucap Hanna, dia selalu berkata jujur kepada putranya, setelah Hanna memberikan penjelasan, Darko tidak penasaran lagi dan berhenti memberi pertanyaan yang sulit kepada ibunya.
"Hehm, orang dewasa memang memusingkan." Ucap Darko sambil mengangkat kedua tangannya. Hanna tertawa meliha tingkah putranya. Hanna menatap jam di ponselnya, "sudah pukul 9 malam, mereka pasti sibuk mencari kita." Gumam Hanna.
"Waktunya tidur sayang, sikat gigi, cuci tangan dan kaki, lalu ibu akan menemani darko sampai darko tertidur." Ucap Hanna.
~
Mobil sport berwarna hitam masih betah berada di jalanan kota Atlanta, dia menepikan mobilnya dan memukul stir mobilnya dengan keras, napasnya memburu menahan kemarahan. "Kau di mana Hanna." Ucapnya. Dia menundukkan kepalanya dan menyandarkan di kedua tangannya, matanya beralih ke ponselnya yang terus berdering sejak tadi, Dazon mengangkatnya.
"Hallo."
"Kau dimana Dazon." Suara Ax terdengar khawatir.
"Aku masih mencari Hanna dan Darko, aku masih belum menemukannya." Luapan emosinya sudah tidak terbendung lagi, meskipun Dazon menahan sekuat tenaganya, matanya terasa perih, buliran air mata akhirnya menetes di pipinya.
"Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu lagi dengan mereka Ax, bagaimana jika mereka menghilang dari hidupku? dan aku tidak bisa menemukannya? hidupku akan hancur, Ax." Ucap Dazon dengan suara bergetar. Dia tidak menyangka Hanna akan pergi dan membawa Darko, dan meninggalkannya begitu saja.
"Jangan menyerah Dazon, kau harus kuat, mereka pasti akan kita temukan, kau ada di mana?" Tanyanya.
__ADS_1
"Entah Ax, aku mungkin berada di pusat kota Atlanta."
"Aku pikir sebaiknya kau kembali dulu ke mansion dan beristirahat, kita bertemu dulu, menurutku Hanna berada di luar kota Atlanta, kita akan memikirkannya bersama, aku menunggumu Daz."
"Oke Ax, aku akan kembali." Dazon mengangkat kepalanya, matanya memerah, dalam sehari dia sudah terlihat kusam dan berantakan, sejak pagi dia belum makan apapun sampai sekarang, dia menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke mansion.
~
Hanna berada di dalam kamar tidurnya bersama putranya, matanya terpaku pada ponselnya, dia membuka album foto di ponselnya, melihat betapa bahagianya mereka bertiga dahulu, semua foto-foto mereka bertiga berhenti ketika usia Darko semakin membesar, hanya fotonya dan Darko saja di ponselnya, sementara foto Dazon sangat kurang, malah bisa dihitung jari karena dia begitu sibuk, jarang meluangkan waktu untuk Darko.
Hanna menghembuskan napasnya, pikirannya sekali lagi membuatnya marah mengingat itu semua, dia menggelengkan kepalanya dan membaringkan tubuhya. "Jika kau masih berpikir untuk memisahkan aku dari Darko, aku pastikan kau tidak akan bisa menemukanku Dazon." gumam Hanna. Kedua matanya kini telah tertutup, dia begitu mengantuk dan lelah. Dia tidak mengetahui seseorang sudah duduk di meja makan di dapurnya, Real telah tiba di sana, duduk seorang diri sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan memandang kegelapan malam.
~
"Apa Hanna mendengar pembicaraanmu dengan Daneil?" tanya Axton, saat Dazon sudah tiba di ruangannya, tetapi Ax tidak membiarkan Dazon begitu saja, dia telah menyuruh pelayan menyiapkan makanan di atas mejanya sebelum dia datang, setelah makan malam, Axton akhirnya bertanya kepadanya.
"Apa kau yakin, dia tidak mendengar pembicaraan rahasia kalian berdua?"
Dazon mengernyitkan alisnya, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat kembali. "Dia mungkin telah mendengarkannya, waktu itu aku memerintahkan Paulo mencari Hanna agar dia ke ruanganku, saat itu Daneil dan Jennifer masih ada di ruanganku, hari itu Daneil sangat emosi."
Axton menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau seperti ini Daz, kenapa kau mengambil keputusan hanya karena mendengarkan laporan orang-orang tentang putramu, apa kau sudah bertanya kepada pelayan itu, kenapa Darko menyerangnya? Apa kau sudah melihat cctv ketika peristiwa itu terjadi?" tanya Ax.
Dazon terlihat pucat dan tampak menunduk. "Sebenarnya apa yang di lihat oleh Daneil waktu itu? Apa dia yakin Darko memang menyerang putranya atau mereka hanya sekedar bermain-main saja? apa dia sudah bertanya kepada anaknya, apakah Darko memang menyerangnya?" tanya Axton.
"Darko anak yang cerdik Daz, putramu itu pandai dan cerdik, dia tidak mungkin melukai orang-orang di dalam mansion, Ibu selalu menasehati cucu-cucnya agar saling menjaga dan tidak saling melukai keluarga sendiri."
"Aku salah, tidak mengeceknya terlebih dahulu dan memutuskan semauku." Gumam Dazon terlihat menyesali perbuatannya.
Axton mengambil napas panjang, dia lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, Axton menelepon Thomas agar segera ke ruangan Dazon. Suara ketukan terdengar dari luar.
"Masuk."
Thomas masuk dan sedikit menundukkan kepalanya kepada mereka berdua.
"Bagaimana pencarian kalian." Tanya Ax.
"Kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Nyona Hanna di Atlanta, tuan." ucapnya.
"Jadi apa yang kalian temukan? meskipum tanda sekecil apapun, kau harus melaporkannya."
salah seorang pengawal mengatakan, ketika dia kembali ke mansion, ada mobil SUV berwarna hitam terparkir sedikit agak jauh dari mansion sejak siang hari sampai malam hari."
"Apa pengawal itu mengingat pelat nomor kendaraannya?" Tanya Ax.
"Tidak tuan, karena saya sudah menanyakannya, dia tidak mengingat nomor kendaraan itu." ucap Thomas.
"Bagaimana dengan cctv, apa dia merekam mobil itu?"
"Karena jaraknya yang cukup jauh, cctv di mansion tidak menjangkau keamanan sampai di luar tembok mansion, tuan." Ucap Thomas.
__ADS_1
Axton masih berpikir dengan keras, tiba-tiba kepala Dazon terangkat seperti mendapatkan ilham dari Tuhan. "Blackbox, apa kalian sudah melihat jejak rekam blackbox mobil yang digunakan oleh pengawal itu?" Ucap Dazon matanya membulat menatap Thomas.
Kedua mata Thomas berkilat, dia jelas belum memeriksanya. "Permisi tuan, saya akan memeriksanya." Dengan cepat Thomas keluar dari ruangan dazon dan segera memeriksa blackbox di mobil itu.