The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 85


__ADS_3

Rengkuhan tangannya begitu erat sepanjang malam, dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya di tubuh Hanna, semalam mereka sibuk saling melepaskan rindu, tubuh mereka saling membutuhkan, untung saja Dazon mendengar bibi lexia melarang Darko kembali ke kamar, sehingga tanpa ragu dia melepaskan hasratnya malam itu juga kepada Hanna.


Pagi sudah menyambut, sejak tadi Thomas dan Paulo sudah terbangun pagi-pagi sekali, begitupun kedua pengawal yang ikut dengannya. Mereka memeriksa di sekitar Villa, setelah itu mereka berjaga di depan pintu villa.


~


Matahari menyinari kamar itu sehingga Hanna menggeliat karena merasakan panas di kedua pipinya, tubuh mereka berbalut selimut, hanya menutupi area pribadi penting mereka berdua. Hanna mengerjapkan matanya, dia menolehkan wajahnya dan menatap wajah Dazon yang begitu dekat dengan wajahnya. Dia kembali menolehkan kepalanya dan menatap jam di atas meja, sekarang sudah pukul 7 pagi, dia harus bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Hanna menarik selimut agar tubuhnya sepenuhnya tertutupi, tetapi jika dia menariknya, maka tubuh Dazon yang polos akan terekspos begitu saja.


Hanna kembali menutupi tubuh Dazon dan mencari-cari sesuatu agar tubuhnya sendiri tertutupi, dia mengambil kemeja Dazon semalam yang terjatuh di lantai kamar, Hanna mengenakannya lalu segera berjalan ke kamar mandi.


"Ouch, sakit." Hanna berhenti berjalan dan segera kembali ke tempat tidur dan duduk menenangkan sakit yang di rasakannya.


"Sebenarnya apa sih yang di lakukan Dazon semalam." Gumam Hanna sambil mencubit betis Dazon.


Hanna segera masuk ke dalam kamar mandi sebelum Dazon bangun dari tidurnya, setelah mandi dan merasa segar kembali, Hanna mengenakan pakaiannya dan setelah siap, dia segera keluar dari kamar.


Terdengar seseorang menyiapkan sesuatu di dapur. Lexia sudah berada di sana dengan Darko yang sedang duduk di meja makan dapur.


"Pagi Mom." Ucap Darko.


Hanna menghampiri putranya dan memeluk serta mencium pipinya. "Pagi sayang, Darko mau sarapan apa?" Tanyanya.


"Grandma lexia yang membuatkan untukku, entahlah mommy, mungkin sandwich." Ucap Darko sambil memperhatikan pisau yang di pegang Grandmanya.


"Kita semua akan mekan sandwich sayang, duduklah Hanna, sebentar lagi semua akan siap, kau tidak perlu ke dapur, bangunkan saja Dazon dan pagi ini kita akan kembali ke mansion, sepertinya Xaphier dan Nara sangat mencemaskan kalian." Ucap lexia.


"Biar aku saja yang membangunkan daddy, mommy." Ucap Darko dengan suara keras, Hanna dan Lexia saling menatap, gerakan refleks mereka tertangkap oleh Darko, dia kemudian menurunkan tangannya.


"Tidak boleh ya." Gumamnya dengan raut wajah kecewa.


Hanna lalu menarik tangan Darko dan tersenyum kepadanya. "Kita berdua akan membangunkan Daddy, bagaimana?" Ucap Hanna.


"Ehhm, Okey mommy." Hanna memegang tangan Darko, mereka berdua naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Darko lalu berlari dan naik ke atas tempat tidur.


Daddy, dad bangun, kata Grandma Lexia, kita harus berangkat pagi-pagi dan kembali ke mansion." Seru Darko dengan duduk di samping tubuh ayahnya. Dazon membalikkan tubuhnya, dia mengernyitkan alisnya dari kilau sinar matahari yang masuk ke dalam kamar mereka.


"Ugh silau sekali Darko." Gumam Dazon.


"Ayah tidak suka terang?" Tanyanya.


"Akupun tidak begitu menyukainya Dad." Ucap Darko senang.


Dazon tersenyum dan mengacak rambut putranya dia menariknya dan memeluk tubuh kecil putranya.


"Tidur sebentar saja bersama ayah." Ucap Dazon.

__ADS_1


"Tidak mau Dad, bangunlah, Grandma membuat sarapan untuk kita semua, ayo bangunlah Daddy." Hanna duduk di sebelah putranya dan ikut bersandar.


"Selamat pagi sayang." Ucap Dazon memberikan kecupan di pipi Hanna.


"Apa Daddy dan Mom, sudah berbaikan kembali?" Tanya Darko.


"Bisa dibilang seperti itu sayang." Ucap Hanna.


"Kenapa?" Tanya Darko.


"Darko tidak senang melihat kami bersama kembali?" Tanya Dazon.


Darko mengangkat bahunya. "Tentu saja aku senang jika Daddy dan Mom bersama kembali, aku jadi tidak perlu repot-repot bersembunyi di Villa ini." Ucapnya.


~


Mereka semua sudah ada di meja makan, hanya Riel saja yang tidak ada di sana, dia menaruh memo di atas meja lalu menitipkan memo itu kepada Hanna.


"Aku pergi ke tempat Professor Vandash, bawa Darko dan temui aku di sana."


Lexia turut membaca memo dari Riel. Dia kemudian memberikannya kepada Hanna dan Dazon. "Apa benar, prof bernama Vandash itu dapat dipercaya mengobati Darko?" Ucap Lexia.


"Mommy, nanti kita bicarakan, Darko ada di sini, dia akan mendengarkannya." Gumam Ax menegur ibunya.


~


Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya mereka tiba di mansion. Xaphier dan Nara sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi pagi, mereka nampak khawatir, Hanna tertunduk cemas, dia tidak mengatakan apa-apa kepada mereka berdua. Nara tiba-tiba memeluknya dan menangis di pelukan Hanna.


"Kami sangat khawatir Hanna." Ucap Nara.


"Maafkan aku ibu." Ucapnya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi, meskipun begitu, mereka sama sekali tidak menyalahkan kepergian Hanna. Mereka menghela Hanna dan semuanya masuk ke dalam Mansion. Hari-hari mereka kembali seperti semula, meskipun banyak perubahan yang terjadi, terutama antara hubungan Hanna dan Dazon, mereka selalu bersama membawa Darko ke tempat Prof Vandash.


Tidak begitu lama sekembalinya dari Villa, mereka membawa Darko ke Lab professor Vandssh, Riel sudah menunggu di sana, dia duduk di sana sambil menyilangkan kedua tangannya memperhatikan setiap gerak gerik Darko, sambil mendengarkan semua penjelasan prof Vandash mengenai situasi yang di alami Darko, dari hari ke hari Darko rutin pergi ke Lab prof Vandash, Dazon dan Hanna pun tidak pernah lalai membawa Darko berobat dan sesuai saran Prof Vandash, Darko di bawa ke psikiater untuk mengobati kecenderungan Darko yang menyukai memegang pisau dan cenderung melukai orang-orang. Berkat terapi yang rutin Darko terlihat lebih ceria dan normal seperti anak-anak pada umumnya.


Semua itu dilakukannya bersama-sama, sehingga sedikit demi sedikit Darko tidak pernah lagi bersenandung, ataupun bermain petak umpet kesukaannya, apalagi memegang pisau, dia tampak seperti anak normal lainnya, dia bermain bersama sepupu-sepupunya tanpa ada yang terluka.


~


"Prof Vandash, bagaimana keadaan Darko akhir-akhir ini? Aku lihat Kemajuannya sangat pesat." Ucap Riel.


Dokter Vandash melepaskan kacamatanya, dia kemudian tersenyum tipis, "Saya sendiri tidak menyangka perkembangan Darko begitu cepat dan berkembang dengan baik, anak itu anak yang cerdas, dengan cepat dia mudah belajar dan mengerti dengan kondisinya, dia sangat berbeda denganmu Riel." Ucap Prof Vandash sambil tersenyum.


"Ya prof, dia sangatlah berbeda denganku, meskipun begitu aku masih khawatir." Ucap Riel.


"Apa yang kau khawatirkan, Riel."

__ADS_1


Riel bersedekap dan menatap dari kejauhan suasana malam di tempat prof Vandash. "Entahlah, prof tetapi mungkin hanya aku saja yang sensitif dan menaruh curiga kepada Darko."


~


Setelah melakukan terapi rutin dan berkesinambungan, Darko tampak sehat dan aktif, dan yang terpenting hari ini usianya bertambah setahun, kini dia berusia 6 tahun, mereka merayakan pesta ulang tahun Darko hanya untuk keluarga saja, ulang tahun sederhana tetapi hadiah-hadiah yang diterimanya sangat luar biasa.


Mereka semua duduk di meja makan, setelah meniup lilin dan membuka hadiah, akhirnya makan malam special yang di tunggu-tunggu datang juga. Wajah Darko selalu tersenyum, dia sangat gembira hari ini. Junior duduk di sampingnya dan membisikkan sesuatu kepadanya.


"Apa?" tanya Darko.


"Bukankah kau dilarang main pedang-pedangan? berikan pedang-pedanganmu itu kepadaku, Darko." Ucap Junior.


"Aku akan merawat pedangmu itu dengan nyawaku." Ucapnya.


"Nyawamu? ambil saja, aku tidak membutuhkan pedang mainan itu, hanya anak kecil saja yang memainkannya, usiaku kan sudah bertambah setahun." Ucap Darko membuang wajahnya ke samping, dia tidak mau mendengarkan rengekan junior kepada ibunya.


Lexia memukul gelas tiga kali agar mereka semua menatap ke arahnya.


"Sebelum kita makan malam, ada yang ingin aku dan Xaphier sampaikan kepada kalian semua, terutama kepada Dazon dan Hanna." ucap Lexia.


Mereka semua menatap ke arah Xaphier dan Lexia yang sedang berdiri. Xaphier berdehem dan mulai membuka suaranya.


"Dua hari lagi kami berempat akan berangkat ke Eropa, dan sepertinya kami akan tinggal cukup lama di sana, beberapa pekerjaan belum aku bereskan sama sekali dan kami akan segera berangkat." Matanya tertuju kepada Hanna dan Dazon.


"Untuk itu Dazon dan Hanna, kami akan membawa Darko ke Eropa, itu keputusan yang kami buat demi kebaikan dan kesehatan Darko nantinya." Ucap Xaphier.


Hanna dan Dazon tiba-tiba berdiri, mereka begitu terkejut mendengarkan penuturan ayah mertuanya.


"Dad, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ayah ingin membawa putraku." Ucap Dazon tidak mengerti dengan keputusan ayahnya.


Xaphier menghembuskan napasnya.


"Sebenarnya Prof Vandash menyarankan kita membawa Darko ke Eropa, di sana ada ahli psikiater terkenal untuk lebih memulihkan kesehatan dan menyembuhkan Darko." Ucap Xaphier.


"Tapi ayah, bagaimana kami akan melepaskan Darko, tanpa orang tuanya di sisinya, aku tidak bisa berpisah dan jauh dari putraku." Ucap Hanna dengan mata berkaca-kaca. Lexia menatap Darko, dia makan Cakenya seakan tidak ada sesuatu yang terjadi.


"Sebenarnya ini permintaan Darko sendiri, Dazon." Ucap Lexia.


Mereka berdua terkejut, matanya langsung tertuju kepada Darko yang sedang melahap kuenya. Darko tersenyum kepada ayah dan ibunya.


"Jangan khawatir mom, Darko akan ikut Grandma dan Grandpa ke Eropa, dan belajar di sana, apalagi sepertinya di sana lebih menyenangkan." Ucap Darko dengan wajah senang.


"Apa maksudnya menyenangkan Darko." Tanya Dazon.


Darko mengangkat kedua bahunya. "Hanya menyenangkan saja Dad," Ucap Darko. "Mommy dan Daddy akan sering mengunjungiku di sana kan? Aku akan menunggu Mommy dan Daddy, jadi jangan khawatir, ada Grandma dan Grandpa yang menjagaku." Ucap Darko dengan tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2