
Pagi itu lexia di suguhi dengan tatapan tajam Daren yang berada di ruangan pribadinya, setelah sarapan, seorang pelayan membawa lexia ke ruangan daren dan dia duduk di sana sambil menatap menantang wajah murka di hadapannya itu.
Ketukan terdengar dari pintu daren.
"Masuk."
Dia melangkahkan kakinya dan segera duduk di samping lexia, mata safirnya membelalak tatkala Edo sudah duduk berdampingan dengannya.
"Edo?" Ucap lexia kemudian menatap daren.
Pandangan mata edo lurus menatap daren, dia tahu pria ini selalu menyerang lexia, hingga Edo tidak suka dengan sosok daren.
"Kau berteman dengan lexia?" Tanyanya.
"Ya sir, sejak kecil kami berteman." Jawab Edo.
Daren tidak begitu antusias melihat pertemanan antara lexia dan Edo, tidak ada kecemburuan di hati dan pikirannya. Karena daren sudah tahu apa yang menjadi keinginannya kepada lexia.
"Kau menyukainya?" Tanya daren.
"Ya sir." Jawab Edo tanpa ragu.
Lexia langsung saja memukul kepala edo setelah mendengar jawabannya. "Apa sih yang kau katakan, bodoh." Ucap lexia.
Daren tersenyum, "jadi kau bekerja di sini karena lexia berada di sini."
"Ya sir."
Lexia menatap Edo sambil menyipitkan matanya, membuat Edo melirik kepadanya lalu mengangkat kedua bahunya.
"Kau tahu kan mengapa lexia ada di sini, dia bekerja padaku."
"Ya sir aku mengetahuinya, dia sudah menceritakan semuanya kepadaku." Ucap Edo sambil menekankan kata-katanya.
Kedua mata daren kini beralih kepada lexia. "Kau sudah melanggar beberapa kontrak yang kita sepakati lexia, dan salah satunya menceritakan identitasmu kepada Edo."
Lexia tergagap, dia ingin menepisnya tetapi apa yang diucapkan daren memang benar, sebenarnya dia tidak boleh menceritakan kepada siapapun mengenai dirinya, tapi sayangnya sudah ada beberapa orang yang tahu di luar dari keluarga Burchard.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan kepadamu?" Ucap daren.
Daren lalu berdiri mengerling kepada mereka berdua, dan berdiri sambil membelakangi lexia dan Edo.
__ADS_1
"Ada satu pilihan buat kalian berdua agar kesalahanmu dapat aku maklumi kali ini lexia." Ucap Daren.
"Apa..apa itu?" Tanyanya.
"Biarkan temanmu ini pergi dan jangan menemuinya lagi setelah itu aku tidak akan mempermasalahkan pelanggaranmu pada kontrak kita." Ucap daren dengan tersenyum sinis sambil memunggungi mereka berdua.
"Itu tidak mungkin sir, kami berteman sudah lama dan aku...
"Ini demi kebaikan lexia, kau tahu betapa berbahayanya jika tuan Robert tahu kebohonganku? Bukan hanya aku saja yang akan terseret, lexia juga akan menghadapi tuan Robert, kau paham? apalagi....kau bekerja kepada William Luther bukan? Apa yang di perintahkannya kepadamu? Tentu aku tidak bisa begitu saja membiarkan orang Luther ada di mansionku, dia pernah menyamar sama sepertimu memata-matai keluarga Burchard." Ucap daren.
Edo terdiam, rahangnya mengencang tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan, apalagi penyamarannya sudah di ketahui oleh pria ini.
"Baik aku tidak akan menemui lexia lagi." Ucapnya.
Lexia berbalik lalu dengan spontan memukul kembali kepala Edo.
"Apa sih yang kau katakan." Edo tidak memperdulikan pukulan lexia kepadanya, dia masih menatap tajam kepada daren.
"Tetapi, aku punya permintaan kepadamu, jangan pernah menyentuhnya." Ucap Edo terus terang.
Daren tersenyum miring menatap pemuda ini. "Itu bukan masalah besar, asalkan kau jangan pernah menemuinya lagi." Ucapnya.
Daren menatapnya dengan angkuh, lalu melengkungkan bibirnya seakan memuji keberanian pemuda ini yang berani membuat kesepakatan dengannya.
~
Lexia berjalan di samping Edo setelah keluar dari ruangan Daren.
"Kenapa sih kau setuju begitu saja dengan kemauan pria itu." Tanya lexia sambil melipat kedua tangannya.
Edo berhenti di depan lift, kemudian dia menatap lexia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak mau dia menyentuhmu Karena alasan kau melanggar kontrak sialan itu lexia." Ucap Edo.
"Kau pasti sudah dicium olehnya." Ucapnya.
Lexia menatapnya dengan geram, dia lalu menendang kaki Edo. "Baik, kalau kau mau pergi, pergilah jangan pernah menemuiku lagi, kau bodoh!" Bentak lexia lalu berlari dan masuk ke kamarnya.
Edo hanya memandangnya dari kejauhan. "Kita akan bertemu lagi lexia." Ucap Edo kemudian dia masuk ke dalam lift.
~
__ADS_1
Lexia duduk di sofa empuknya sambil menatap pemandangan dari jendela kamarnya, langit perlahan-lahan menghilangkan cahayanya diganti dengan kegelapan malam, ruangan lexia begitu gelap, dia begitu malas untuk sekedar menyalakan lampu di ruangannya.
"Ck, kenapa si bodoh itu mendengarkan kata-kata Daren? Sekarang aku betul-betul tidak bisa keluar dari tempat ini tanpa bantuanmu lagi, Edo bodoh !" Ucap lexia sambil memeluk tubuhnya sendiri di kegelapan kamarnya yang sunyi.
~
Suara-suara itu membuat lexia terbangun, Suara seorang wanita yang tertawa-tawa terdengar tidak begitu jauh dari ruangannya. lexia kemudian bangun dari tidur lelapnya di sofa itu, ruangannya masih gelap, dia berjalan sambil berjinjit dan mendekati pintunya kemudian menempelkan telinganya di pintu, samar-samar suara tawa itu tergantikan dengan pembicaraan antara Daren dengan wanita itu, dia begitu antusias ketika sedang berbicara.
"Aku sangat senang Daren, kau tahu? lovelia mengalami perkembangan, penyakit yang menggerogotinya perlahan menghilang, kulitnya sedikit demi sedikit kembali normal, aku sangat senang dan bersyukur anak itu masih memiliki kesempatan untuk sembuh."
"Benarkah? aku sangat senang mendengarnya Barbara. Oh ya, untuk apa kau pulang? bukankah lovelia sendirian di sana."
"Aku hanya kembali untuk mengurus beberapa hal di sini dan akan kembali besok pagi ke UK, apakah semuanya baik-baik saja selama aku pergi?"
"Seperti yang kau lihat, semuanya baik-baik saja. Aku bersyukur mendengar kesembuhan lovy sampaikan rinduku kepada lovy."
"Lovy? jadi begitu panggilan daren kepada ponakannya itu?" ucap lexia dari balik pintu, dia masih menempelkan telinganya ingin mendengar kabar lainnya mengenai lovelia.
"Jadi, bagaimana gadis itu apakah dia bisa belajar dengan baik? bagaimana pendapat tuan Robert?"
"Sepertinya tuan Robert sudah mulai mencurigai lexia, orang-orangku menemukan jika tuan Robert memeriksa latar belakang lexia, dan Sepertinya Alvin tahu mengenai kebohonganku."
Kedua bola mata Barbara seakan ingin melompat ketika daren mengatakannya.
"Ja..jadi bagaimana Daren? bagaimana kau akan menjelaskannya kepada tuan robert."
Senyuman di wajah Barbara seketika lenyap digantikan dengan kecemasan di wajahnya.
"Daren! apa yang harus kita lakukan?"
ucap Barbara sambil memukul meja dihadapan daren.
Bukan hanya wajah Barbara saja yang cemas dan begitu terkejut, wajah lexia seketika menjadi pucat, seseorang seakan-akan menusuk-nusuk kepalanya.
"Aku tentu saja tidak membicarakan ini kepada lexia, dia tidak boleh tahu."
"Memangnya kenapa? dia kan kau bayar, untuk apa mencemaskan lexia, yang harus kau cemaskan sekarang keluarga kita Daren, jika tuan Robert mengetahui kebohongan yang telah kita lakukan maka kita akan habis."
"Tenanglah Barbara, tentu saja lexia tidak boleh tahu, karena jika dia mengetahuinya tentu saja gadis itu akan melarikan diri lagi, dan aku tidak mau mengambil resiko itu, apalagi jika tuan Robert mencari lexia kita tidak perlu bersusah payah mencari-carinya, kita tinggal menyerahkan saja lexia kepadanya."
Lexia yang mendengarkan semuanya lalu berdiri tegak, marah takut dan cemas seakan menjadi satu, hanya satu hal yang sekarang ini berada di pikiran lexia, dia ingin pergi dari sini dan betul-betul menghilang dari hadapan daren yang brengsek, tetapi sebelum itu dia harus merencanakan semuanya dengan matang, dan tentu saja dia harus mengambil bayarannya selama menyamar menjadi lovelia.
__ADS_1