
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 Siang, pelajaran lexia belum selesai juga, matanya melirik ke nyonya sangar dihadapannya, dia memainkan bulpoin yang ada di tangannya, matanya kini tidak fokus dengan pelajaran yang diberikan.
Bunyi tik tok tik tok pada jam di dinding membuat lexia sesekali melirik kearah jarum jam, 'ck, lama sekali jam itu bergerak.' gumam lexia menunduk lalu mencorat-coret buku yang sejak tadi masih belum terisi semenjak kedatangan Nyonya Erine.
Nyonya Erine Caranove mendongakkan kepalanya menatap lexia sambil memperbaiki gagang kacamatanya yang mengkilap.
"Sudah selesai?" Tanyanya.
"Erm, belum Mam, maksudku Miss." Ucap lexia.
Dia kembali menatap kertas-kertas dengan hitungan berderet di depan hidung lexia. Tanpa dia sadari lexia menguap dengan keras, wajah Nyonya Erine membelalak ketika melihat lexia menguap lebar-lebar. Lexia lalu menundukkan kepalanya menutup mulutnya yang menguap. Gelengan kepala dan matanya yang membelalak dari Nyonya Erine tidak diperdulikan oleh lexia.
Suara lexia tiba-tiba mengecil, dia kembali menunduk dan menatap deretan angka-angka yang tidak di mengertinya. 'Ck, mengapa aku harus menghadapi nenek kacamata ini.' gumamnya.
Bunyi alarm dari ponsel Nyonya Erine menyadarkannya dari pekerjaannya, lexia dengan cepat mendongakkan kepalanya melihat ke asal suara.
"Berhenti nona lovelia, kumpul tugasnya dan ingat, jika satu nomor saja salah kau harus mengulang kembali dari dasar." Ucapnya tegas.
"Ya, Mam, maksudku Miss." Lexia menatap kertas yang dikumpulkan nyonya Erine dan merasa yakin dia akan mengulang kembali dari awal Karena satu nomor pun lexia tidak menjawabnya.
Dia mengumpulkan kertas lexia dan segera berdiri dan menaruhnya di dalam tas kerjanya.
"Selamat siang nona lovelia, aku mengharapkan tugas selanjutnya lebih memuaskan dibandingkan hari ini." Ucapnya. Dia berjalan dengan suara ketukan dari sepatunya yang menggema di lantai mengkilap berwarna merah itu.
Lexia menarik napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di kursi.
"Ugh, aku lelah sekali...Apakah ini balas dendam dari daren?" Ucapnya sambil meregangkan otot tubuhnya.
"Aku lapar." Ucap lexia, ketukan di pintu membuat lexia mendongakkan kepalanya ke arah pintu dan melihat seorang pelayan wanita yang masuk dan sedikit membungkuk kepada lexia.
"Tuan Daren sudah menunggu anda di meja makan nona." Ucapnya.
"Oke, aku akan segera ke sana."
Pelayan itu masih belum beranjak dari tempat berdirinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya.
"Anda harus mengganti pakaian yang anda kenakan nona, tuan daren meminta anda mengenakan pakaian yang sudah di siapkan di kamar nona."
Lexia menggeram, dirinya sekarang ini sudah letih lapar yang sudah tidak tertahankan, mendengar titah daren kepadanya seperti itu membuatnya begitu marah. Meskipun dia begitu sebal kepada daren, mau tidak mau dia harus mengerjakannya dari pada harus beradu argumentasi dengannya.
Lexia akhirnya beranjak ke kamarnya dengan malas, setelah selesai mengganti pakaiannya dengan dress panjang berwarna putih yang dipadu dengan warna violet sehingga dia tampak cantik dengan rambutnya yang di ikat tinggi.
Lexia keluar dari kamarnya, dia ingin beranjak dari kamarnya, tetapi seseorang menghentikan langkahnya.
Seorang pelayan wanita menghalangi jalannya lalu memberikan sebuah ponsel kepada lexia.
"Ada..ada apa ini?" Ucap lexia tetapi pelayan itu hanya menunduk dengan tangan terjulur memegang ponsel. Lexia segera mengambilnya dan menerima panggilan telepon.
"Ha..halo?" Ucap lexia.
"Kejutan bukan? Ini aku lovelia, pamanmu Alvin."
"Paman Alvin?" Ucap lexia, matanya menatap ke sekeliling ruangan ingin segera bertemu daren tetapi sepertinya pelayan wanita dengan rambut pendek ini tahu apa yang dipikirkan oleh lexia, dia menghalangi gerak tubuh lexia, dia seakan menghalangi lexia untuk mencari daren.
"Ap..apa? Jika Daren mengetahuinya dia akan....."
Lexia lalu memukul mulutnya.
"Ada apa dengan daren? Dia akan apa lexia....Dia sama sepertiku, sama-sama menjadi pamanmu tetapi mengapa kau harus meminta izin kepadanya?"
"Itu...karena aku selama ini gampang sakit jadi aku....."
"Lebih baik kau berhenti berbohong, bukankah itu lebih baik lovelia?" Ujarnya.
Lexia terdiam mendengar penuturan Alvin.
"Lovelia? Bukan ! tapi Lexia Kenzo, sebaiknya kau berhenti sampai di sini sebelum ayahku mengetahui kebohongan kalian, bukan hanya keluarga Burchard saja yang terseret tetapi kau juga lexia...kau akan terseret lebih dalam dengan kebohongan daren kepada keluarga kami."
Tangan lexia bergetar hebat, dia tidak sanggup mengurai kata-katanya, dia tergagap, tetapi tangannya masih menggenggam erat ponsel yang di pegangnya.
__ADS_1
"Temui aku tanpa sepengetahuan daren, aku ingin mengetahui semuanya nona lexia, jika kau menolak kerja sama denganku, aku menganggap tidak ada cara lain selain menyeretnya bersamamu dan daren dengan kebohongan kalian kepada tuan Robert.
"Di..dimana kita akan bertemu." Ucap lexia. Matanya berubah menjadi merah, jantungnya berdegup begitu kencangnya seakan ingin melompat, dia tidak tahu jika akhirnya penyamarannya ketahuan dan itu bisa membahayakan hidupnya.
~
"Mengapa dari tadi kau terdiam lexia, ada apa?" Tanya daren ketika mereka berada di meja makan.
Lexia mengerling daren yang sedang sibuk dengan makanannya.
"Aku hanya lelah dengan tugas Nyonya Erine." Jawabnya. Daren menaikkan satu alisnya lalu menatap wajah lexia yang terlihat pucat.
"Benarkah? Tugas dari nyonya Erine memang sedikit lebih berat untuk ukuran seperti dirimu lexia, apalagi kau yang jarang masuk ke sekolah tentu tidak pernah belajar Aritmatika dasar bukan?" Ucap daren dengan seenaknya dengan nada mengejek.
"Ukuran seperti diriku?" Ucap lexia menatap daren yang masih santai dengan makanannya, meskipun kata-katanya memang tepat tetapi lexia tidak suka mendengar langsung dari bibir daren yang mengatakan bahwa dirinya tidak mampu belajar Aritmatika.
Meskipun lexia tidak bisa memungkiri kenyataannya yang memang benar. lexia tidak mau membalas daren, kali ini penyamarannya sudah ketahuan oleh alvin tinggal menunggu waktu saja hingga tuan Robert akan mengetahui segalanya.
~
Lexia berjalan ke kamarnya, dia mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan daren, "apa yang harus aku lakukan? jika aku memberitahu daren bahwa Alvin sudah mengetahui penyamaranku, dia akan menyeretku juga, aku kan hanya kerja kepadanya...." Lexia menundukkan kepalanya bingung dengan keputusan yang harus di ambilnya.
"Lebih baik kau bertemu dengan pria bernama Alvin itu." ucap suara pria dari belakang lexia.
lexia berbalik dan menatap Edo yang berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangannya.
"E..Edo?? Apa yang kau lakukan di sini? bagaimana kau bisa ada di sini? ucap lexia sambil menunjuk heran kepada Edo yang tengah duduk di sofa sambil mengangkat kakinya.
"Aku bekerja di sini lexia, aku menjadi penjaga di gerbang belakang, tetapi kau tahu aku kan, aku begitu lihai mengendap-endap dan akhirnya aku tahu dimana kamarmu." ucapnya
Kini Edo duduk, dia menatap lexia dengan wajah serius.
"Temui pria bernama Alvin itu dan ceritakan semuanya, katakan kau hanya bekerja kepada keluarga Burchard dan hanya menggantikan keponakannya yang sakit-sakitan." ucap Edo.
"Bu.. bukankah aku terlihat seperti mengkhianati daren?" ucap lexia.
__ADS_1
"Jika gadis itu sudah sembuh, dia akan kembali ke tempatnya semula dan kau akan dimana?? kau hanya akan di salahkan Karena berbohong dan menyamar sebagai gadis itu, semua kesalahan akan dilimpahkan kepadamu, apakah kau ingin terseret bersama pria bernama daren? dia adalah pria yang memiliki segalanya, dia akan mampu mengatasi tuan Robert, tetapi kau lexia, tuan Robert bukan orang sembarangan, jika dia tahu kau membodohinya dengan menyamar menjadi cucunya, kau akan tamat, buatlah keputusan malam ini, jika kau ingin pergi aku akan menemanimu kemanapun kau pergi."