
Alvin terbangun dengan kepala yang nyeri akibat pukulan keras di tengkuknya, bukannya marah, dia malah tertawa keras membuat para pengawalnya saling melirik heran.
"Sial, Daren sampai sejauh ini hanya untuk lexia, menarik juga tetapi bukankah lebih menarik jika ditambah denganku, dan pria bernama William Luther, haha pasti akan lagi seru lagi, aku tidak menyangka jika aku menginginkan sesuatu seperti ini, aku akan pastikan lexia akan kuambil kembali darimu Daren." Ucapnya.
Dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. "Cari dia, dan temukan dimana dia menyembunyikan lexia." Entah mengapa permainan ini semakin menarik baginya, dia hanya ingin mengetahui hasil akhir dari kegigihan mereka untuk merebut lexia.
~
Pagi itu tubuh lexia begitu berat, sepertinya dia terlilit oleh sesuatu, dia membuka kedua matanya yang masih ngantuk dan menatap wajah Daren yang sedang memeluknya erat. Lexia sadar dirinya masih tidak mengenakan apapun dari balik selimut, jika pria mesum ini bangun bagaimana jika dia menyerang lexia?
Pemikiran ini membuat lexia mengangkat tangan Daren dari pinggangnya, dia perlahan bangun dan mengambil selimut yang teronggok di bawah kakinya hingga tubuh polosnya dapat terlihat jelas.
Dia melilitkan selimut itu di tubuhnya dan berjinjit menjauhi Daren. "Penjahat ini belum bangun, sebaiknya aku segera mandi sebelum dia terbangun." Bisik lexia.
"Boleh aku bergabung denganmu?" Ucapan daren membuat lexia terkejut dan akhirnya jatuh di lantai karena panjang selimut membatasi langkahnya.
"Sial, kau mengagetkanku." Ucap lexia mencoba berdiri dari jatuhnya pada posisi menungging. Daren tertawa melihatnya suaranya tawanya itu membuat lexia menatap jengkel kepadanya.
"Apakah kau harus sekaget itu lexia? Cepatlah masuk ke kamar mandi sebelum aku ikut bergabung bersamamu." Ucap Daren dengan nada serak menggoda.
Lexia bangkit dari jatuhnya dan menarik selimut itu dengan erat lalu masuk ke dalam kamar mandi. Daren masih tertawa mengingat posisi lexia yang terjatuh. Tawanya kemudian menghilang dia mengambil ponselnya lalu menelepon pengacaranya dan Evan.
Siapkan upacara pernikahan yang sederhana di Vila pribadiku, dan siapkan segera surat-suratnya, aku ingin semuanya sudah siap selagi aku menuju ke Vilaku siang ini." Titahnya.
Dia menutup ponselnya lalu melemparkannya begitu saja di atas tempat tidur. Dia bangkit dari ranjang dan mengambil sebotol minuman dari kulkas lalu meneguknya di depan jendela besar apartemennya. Wajahnya terlihat begitu senang, akhirnya hari ini tiba, dengan permintaan lexia sendiri dia akan menikahi lexia. Tidak ada yang bisa membayangkan kesenangan Daren yang di sembunyikannya dari wajah tenangnya.
~
Siang itu mereka telah siap dan naik di gedung tertinggi di apartemen milik Burchard, Helikopter dengan tulisan Burchard Holding705D telah menunggu kedatangan mereka berdua.
Lexia begitu cantik dengan dress mencapai lutut berwarna kuning cerah melekat ditubuhnya, sedangkan Daren memakai setelan jas lengkapnya dengan begitu rapi dan tentu saja tampan dan menggoda.
"Kita akan kemana Daren?" Tanya lexia yang sibuk memperhatikan Daren memakaikan headphone ke telinga lexia dan memasangkan sabuk pengamannya.
"Kau akan lihat sendiri apa yang akan menunggumu ketika kita tiba di sana." Ucap Daren memberikan kecupan kilat di bibir lexia.
Satu setengah jam perjalanan hingga akhirnya helikopter itu mendarat di lapangan besar dengan huruf besar H terukir di sana.
Daren membantu lexia turun dari helikopter dan segera menggenggam tangannya dan melangkah menjauhi Helikopter yang akan kembali mengudara.
"Kita dimana Daren?" Tanyanya.
"Villaku, kita akan melangsungkan pernikahan di sini." Ucap Daren, dia tersenyum miring melihat wajah shock lexia. Kecupan singkat di pipi lexia sekali lagi mendarat, dengan tarikan tangan dari Daren mereka masuk ke dalam villa pribadi milik daren yang begitu mewah.
Villa itu begitu luas, lexia mengedarkan pandangannya menatap segala kemewahan yang ada di villa itu.
"Bagaimana? Kau suka tempat ini? Tidak ada yang akan mengganggu kita selama berada di tempat ini." Daren menatap lexia dengan pandangan angkuh di wajahnya.
"Apakah hanya itu yang ada di dalam pikiranmu?" Ucapnya.
Lexia menarik tangannya dari genggaman Daren. Sementara itu Daren menatap jam di pergelangan tangannya.
"Sebaiknya kau bersiap sekarang." Beberapa pelayan keluar dari sebuah ruangan dan mengantar lexia ke ruangan tertutup yang telah di sediakan untuknya.
Lexia masuk ke dalam ruangan tertutup, beberapa pelayan yang diberi tugas melayani lexia dan mengganti pakaiannya dengan dress panjang berwarna putih yang sederhana tetapi terlihat elegan. Dia begitu cantik setelah dipoles dengan makeup minimalis. Seseorang memasuki ruangan dan dia adalah Evan.
"Aku yang akan mengantarkan nona kepada tuan Daren." Ucap Evan. Lexia memegang lengan Evan yang akan bertindak sebagai walinya, tanpa seorangpun di sana hanya Daren yang berdiri di ujung ruangan yang sudah di hias dengan bunga-bunga berwarna putih yang indah.
Jantung lexia seakan ingin melompat, apakah dia betul-betul akan menikah dengan Daren? Apakah ini takdir yang harus dia jalani, hidup bersama pria ini? Pikirnya.
~
"Dimana tuan Daren?" Tanya Barbara ketika sedang sarapan.
"Tuan Daren sedang pergi ke UK nyonya, ada beberapa bisnis yang harus dia selesaikan di sana." Ucap kepala pelayan yang merupakan orang kepercayaan Daren.
"Benarkah? Bagus Kalau begitu, aku bisa menelepon Carol ataupun nency agar segera menyusulnya ke UK biarkan mereka bertemu di sana, bisa sajakan hubungan mereka kembali terjalin." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dan menelepon salah satu di antara Carol atau nency mereka semua kandidat yang di sukai oleh Barbara.
"Mom?" Suara itu begitu kecil serta lembut. Barbara Berbalik dan tidak menyangka lovelia keluar dari lift dan menghampiri ibunya, separuh wajahnya masih mengenakan perban tetapi seluruh tubuhnya sudah sembuh tinggal menunggu waktu saja, lovelia akan sembuh seutuhnya.
"Sayang?? Kenapa kau keluar dari kamarmu?" Ucapnya tiba-tiba berubah menjadi lembut.
"Mommy paman Daren kemana?" Tanyanya.
"Dia sedang melakukan perjalanan bisnis sayang, beberapa hari lagi dia akan pulang koq, jangan khawatir."
"Benarkah? Apakah aku boleh sarapan di meja yang sama dengan mommy? Aku ingin....
"Tidak sayang, kau harus tetap berada di kamar sterilmu sampai kau sembuh betul, ingat meskipun kau sudah bisa berjalan-jalan, tetapi kau harus menjaga agar kau tidak...
Lovely segera meninggalkan ibunya tanpa mendengarkan semua ucapannya, dia merasa marah, hanya karena makan di meja yang sama akan membuatnya sakit? Seumur hidupnya dia selalu makan seorang diri, dia merasa hidupnya begitu menyedihkan.
Tetapi ada sesuatu yang membuat lovelia tertarik yaitu bertemu dengan keluarga ayahnya, baru pertama kalinya dia bertemu dengan tuan Robert yang menurut ibunya sangat menakutkan tetapi bagi lovelia, dia kakek yang perhatian dan terlihat begitu mencemaskan keadaan lovelia.
Begitupun pamannya, dia adik ayahnya, dia begitu terhibur ketika mengobrol bersama paman Alvin, tidak henti-hentinya Lovelia tertawa mendengar ocehan pamannya yang supel, sebenarnya dia begitu canggung dan malu ketika ibunya membawanya pertama kali bertemu dengan mereka.
Lovely kembali ke kamarnya dan tidak sabar akan kesembuhannya, dia tidak sabar ingin bertemu pamannya sekali lagi.
__ADS_1
~
Lexia tercengang kini statusnya sudah menjadi istri Daren, dan begitu singkatnya hingga dia sendiri tidak percaya dengan semua yang terjadi. "Apakah aku bermimpi? Ataukah aku sudah gila menikah dengannya?"
Lexia sekarang duduk di tepi tempat tidur, menatap dirinya yang sudah berstatus istri Daren. Kamar itu kini membuka, Daren tampak tersenyum puas, dia menghampiri lexia dan memegang tangannya kemudian dia menariknya agar dia berdiri di hadapannya.
"Sekarang kau sudah menjadi milikku lexia, sekarang kau adalah istriku."
Lexia menelan ludahnya sendiri lalu menatap wajah daren, dia menyusuri rahang lexia dengan jari panjangnya sampai ke bibir lexia.
"Kau mengertikan maksudku lexia?"
Lexia mengangguk gugup. Napas daren begitu dekat dan keras di wajahnya.
Daren mendekatkan wajahnya perlahan dan mulai mencumbu lexia dengan ahlinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia kemudian menghentikan ciumannya, Daren berdesis marah kemudian mengangkat ponselnya.
"Sir, tuan Robert ingin bertemu dengan anda malam ini." Ucap salah satu orang kepercayaan Daren yang berada di mansion.
Daren menarik tubuh lexia ke arahnya dan mendekapnya erat. "Baik, aku akan segera kembali, jangan beritahu Barbara soal kepulanganku, katakan saja aku lagi di UK, kau mengerti."
"Baik sir."
Daren mematikan ponselnya, lalu matanya beralih kepada lexia. "Sepertinya aku harus meninggalkanmu sendiri Mrs Daren, aku harus bertemu dengan tuan Robert."
Lexia mengangguk, dirinya sepertinya masih terhipnotis dengan pelukan erat Daren yang lembut. Dia melepaskan tubuh lexia dan segera mengenakan mantelnya.
Seketika seluruh tubuh lexia menjadi rileks, dia begitu tidak percaya jika statusnya sekarang adalah istri dari pria galak ini. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir lexia.
"Aku pergi sayang, aku akan segera kembali." Bisiknya. Dengan cepat Daren membuka pintu dan menutup nya kembali. Senyuman menghilang dari wajahnya, dia memerintahkan semua orang-orangnya berada di sekitar villa, dan tidak boleh seorangpun yang membolehkan lexia keluar dari villa sebelum dia kembali.
~
Lexia sedang mondar mandir di depan teras villa itu, beberapa bodyguard sudah berdiri di sana menjaga setiap lokasi seperti patung yang tidak bergeming.
"Apakah aku akan berakhir seperti ini? Kini aku sudah menjadi istri Daren, tidak akan mudah melarikan diri darinya, apalagi kali ini tanpa bantuan Alvin."
Seorang pelayan tengah berlari-lari kecil lalu menghampiri lexia, dia menjulurkan tangannya yang sedang memegang ponsel. Lexia pun mengambilnya.
"Halo?"
"Kau sedang apa sayang?"
Oh tidak, dia daren untuk apa dia menelponku? Baru sejam yang lalu dia berangkat dan sekarang sudah menelepon? Pikir lexia.
Lexia mengambil napas panjang, jengah dengan panggilan sayang Daren, entah apa yang bergerak di hati lexia antara lega dan juga ada sesuatu yang hilang jika dia tidak melihat wajah pria itu, tetapi di satu sisi dia juga belum bisa menerima dengan seutuhnya sosok daren, apakah dia menikah dengan lexia hanya karena tubuhnya semata atau dia menyukai lexia?
"Kau masih di sana?" Ucap suara dari seberang telepon.
"Iya, aku...cuma berpikir saja emm..
"Kau memikirkan apa Mrs Daren?"
"Sebenarnya apa tujuanmu menikahiku? Apakah hanya sekedar keinginanmu yang dulu? Hanya karena tubuhku?" Ucap lexia ragu.
Hening, suara Daren tidak terdengar sepertinya dia sedang memikirkan ucapan lexia.
"Kau sudah pernah mendengarnya bukan? Apa alasanku menikahimu, mengapa kau bertanya lagi?" Ucapannya terdengar dingin.
Sial ! Apa sih yang aku harapkan dari pria itu, suka? Cinta? Dia tidak mengenal kalimat itu, dia hanyalah pria yang egois, yang berbuat semaunya.' ucap lexia.
Lexia begitu saja menutup ponsel itu, tanpa memperdulikan ucapan dari Daren.
cuaca mulai mendung dan Guntur mulai terdengar dari kejauhan.
Lexia akhirnya masuk ke dalam villa. Hari sudah mulai menggelap diiringi dengan Hujan yang lebat, lexia berdiri di jendela besar menatap dari kejauhan malam yang terasa begitu panjang.
"Aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku." Bisik lexia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur kala dia sudah bosan menatap jendela gelap yang tidak memiliki penerangan hanya kilatan cahaya dari jauh yang bisa di lihat.
~
Dia merasakan sesuatu menyusup di balik baju tidurnya yang berbahan satin, segala pakaian yang disiapkan oleh Daren begitu mewah dan bermerk dan seluruh pakaian lexia masih ada di apartemen alvin, entah bagaimana caranya dia mengambil semua barang-barangnya yang masih ada di apartemen Alvin.
Sesuatu membuat lexia kembali ditarik dari buaian mimpinya, tangan kokoh itu telah masuk dan menyentuh permukaan perutnya, sontak lexia membuka kedua matanya dan merasakan napas hangat tengah mencumbunya.
Lexia berbalik di keheningan dan kegelapan di malam itu.
"Daren?" Bisik lexia.
"Kau terbangun sayang, aku segera kembali setelah urusanku selesai di Manhattan, karena aku menantikan malam ini." Bisik daren lalu kembali mengecup kecil-kecil wajah lexia.
Sontak lexia mendorong tubuh daren dengan keras. Lexia terduduk lalu menatap wajah Daren yang kelihatan marah.
"Tidak bisakah, kau..kau menungguku jika aku sudah siap? Aku masih...
"Kita sudah menikah lexia, kau harusnya senang karena aku menikahimu dan tidak memaksakan kehendakku kepadamu malam itu, aku menuruti semua keinginanmu dan kini alasan apa lagi?" Ucap Daren marah sambil menarik keras pakaian lexia dan membuka ikatan pada pakaian tidurnya.
"Kau sudah menjadi milikku lexia, kau adalah nyonya Daren, dan kau harus menerima diriku, malam ini kau harus belajar menerimaku, kau mengerti." Ucap Daren.
__ADS_1
Mereka saling menatap, ciuman daren membuat lexia seakan-akan telah hanyut oleh buaian Daren, dia mengerang dengan sentuhannya, wangi Daren menusuk hidung lexia, kecupan ringan mendarat di bahu lexia, tarikan keras dari pakaian lexia kini telah teronggok di kedua kakinya. Tangan lexia mencengkram erat seprai di sampingnya karena saat itu daren sudah menguasai tubuh lexia dan memposisikan dirinya, suara desahan mereka saling beradu dan malam itu Daren akhirnya memiliki Lexia seutuhnya.
~
Manhattan di tengah malam dengan milyaran lampu kota yang masih menyala dan semilir angin malam tidak menggoyahkan Edo untuk meninggalkan kota sibuk itu, Edo sadar bahwa dua buah mobil masih mengikutinya, jadi tidak ada gunanya dia mencari lexia karena pada akhirnya dia akan tertangkap juga.
"Apa mereka tidak bosan? Sampai kapan mereka akan membuntutiku?" Mata Edo masih menatap mereka, dia menggeleng dan akhirnya menepikan mobilnya di satu minimarket, dengan sengaja dia berlama-lama duduk di minimarket itu, Edo memainkan ponselnya, lalu melirik kepada mereka yang menepikan mobilnya tidak begitu jauh dari tempat Edo.
"Dimana kau bersembunyi lexia." Ucap Edo memandang langit malam yang dingin.
~
Pagi itu lexia bangun dengan sendirinya karena matahari sudah menyinari mereka berdua dari jendela besar di kamar itu.
Napas teratur dari sebelahnya membuat lexia berbalik menatapnya, kemudian dia mengingat kejadian semalam, membuat lexia seakan-akan tidak percaya bahwa malam itu Daren telah memilikinya.
Dia bergerak perlahan, tetapi sakit yang dia rasakan terasa nyeri diantara kedua kakinya.
"Sial, semalam dia kasar sekali kepadaku, entah berapa kali dia melakukannya sampai aku tidak sadarkan diri." Ucap lexia sambil memperhatikan sekujur tubuhnya yang terlihat di beberapa bagian berwarna kebiruan.
Lexia segera bangkit dan berjalan dengan sangat perlahan, seluruh tubuhnya seperti wangi daren. Lexia masuk ke dalam bathub yang hangat dan menenangkan pikiran dan sakit di tubuhnya.
Suara pintu yang membuka menyadarkan lexia, dia menatap wajah angkuh itu tengah menatapnya lalu tersenyum miring dan ada kepuasan di wajahnya.
"Aku ingin bergabung bersamamu nyonya Daren, tapi aku tidak menjamin jika Daren kecil akan bangkit lagi kali ini."
Tatapan lexia seketika membelalak melihat langsung ke arah celana Daren, dan hal itu membuat Daren menahan tawanya. "Aku bercanda sayang, aku tahu kau masih sakit di sana, aku hanya ingin bergabung denganmu dan menikmati kebersamaan kita." Ucap Daren, tanpa menunggu persetujuan lexia daren masuk begitu saja dan duduk di belakangnya lalu menarik tubuh lexia ke arahnya, memeluknya Dengan posesif.
Lexia merasakan sesuatu di bokongnya tetapi Daren mengangkat tubuh lexia agar ia duduk di pangkuannya.
"Sudah, kita seperti ini saja dan jangan bergerak-gerak karena akan berbahaya bagi tubuhmu." Bisik daren sambil memeluk lexia dan menutup kedua matanya.
~
Hari itu Barbara membuka pintu kamar lovelia, tapi setelah masuk ke dalam ternyata dia tidak ada di ruangannya. Dia melangkahkan kakinya ke balkon dan melihat lovelia sedang memegang ponsel dan sedang berbincang Dengan seseorang di ponselnya.
"Paman Alvin tidak perlu repot-repot, hadiah paman yang terakhir sangat aku suka, buku itu sangat bagus aku menyukai cerita roman."
Lovelia berbalik dan melihat mata ibunya menyipit memandangnya. "Paman, aku harus minum obat nanti kita ngobrol lagi, ya terima kasih hadiahnya paman." Setelah selesai mengobrol lovelia menatap tidak suka kepada ibunya.
"Ada apa mom? Mengapa wajahmu seperti itu?" Ucap lovelia.
"Mengapa kau berbicara dengannya? Kita harus berhati-hati dengan keluarga itu lovelia, meskipun dia itu pamanmu." Bisik ibunya dengan suara teredam nyaris tidak terdengar.
"Apakah aku mengobrol menjadi masalah juga buat mom? Selama hidupku aku sudah terkurung di lantai 7 selama bertahun-tahun, sekarang beberapa orang yang mengenalku sudah menerima kondisiku yang seperti ini, tapi aku merasa mom yang menyuruhku menjauh dari semua itu? Apakah ibu ingin mengurungku sampai aku mati nanti?" Ucapan lovelia begitu tenang tetapi membuat Barbara terhenyak.
Tanpa mengucapkan apapun, dia meninggalkan putrinya. Barbara keluar dari kamar lovelia dan berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Gadis itu sudah mulai melawanku, aku pikir itu berita bagus, sejak kecil dia sangat penurut dan tidak pernah membantahku." Bisiknya.
~
"Dimana sekarang anak itu?" Tanyanya.
"Dia masih berkeliaran di sekitar kota Manhattan sir, sepertinya anak itu kebingungan mencarinya." Jawabnya.
"Benarkah? Kau sudah menyelidiki keluarga Burchard?"
"Ya sir, sepertinya tuan Daren sedang pergi ke Eropa, sudah beberapa hari dia ada di sana."
"Benarkah? Aku mengetahui betul bagaimana sikap daren, awasi dan segera laporkan kepadaku jika kau menemukan informasi lain mengenai keberadaan Daren."
"Baik sir."
"Hem, ada yang tidak beres di sini, tidak mungkin Daren akan begitu tenang jika dia kehilangan gadis itu, aku tidak percaya dengan kepergiannya ke Eropa." Bisik william.
~
Napas lexia menjadi pendek-pendek ketika dia menemukan klimaksnya, Daren menghentikan kegiatannya manakala lexia mendorong tubuh Daren karena dia tidak sanggup lagi menerima serangan Daren kepadanya.
"Cukup Daren, aku tidak mau lagi, kau betul-betul mesum." Ucap lexia memukul tangan Daren yang mulai bergerak kembali di tubuhnya.
"Cukup, aku lelah dan lapar, kau tidak membiarkan aku keluar dari kamar ini." Ucapan lexia terpotong karena Daren menarik kembali tubuhnya hingga dia kembali merasakan kenikmatan yang diberikan daren untuk lexia. Ketukan pelan di tengah kesibukan daren membuatnya mendesis marah, dia menarik dirinya begitu saja dari tubuh lexia, hingga lexia sedikit teriak karena terkejut.
Daren keluar dari kamarnya dan menemukan Evan sedang berdiri di sana.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Sir, tuan Robert mengerahkan Semua orang-orangnya mencari nona lexia, sir dan...
Daren memicingkan matanya menatap Evan sambil melipat kedua tangannya. "Nyonya, panggil dia Mrs. Daren."
Dengan salah tingkah Evan mengulangi kembali kalimatnya. "Erm..tuan Robert mencari nyonya lexia dan sepertinya dia sudah mengerahkan orang-orangnya sir, Alvin juga berusaha mencari tahu keberadaan nyonya." Ucap Evan.
"Sial ! Ini berbahaya bagi keselamatan lexia, jika tuan Robert sudah memutuskan, maka dia akan berusaha keras mencarinya sampai dia menemukan keberadaan lexia."
Lexia yang suka menguping sedang berdiri di balik pintu dan mendengarkan semuanya, tubuh lexia bergetar, 'tuan Robert mencariku?' bisik lexia, dia segera kembali ke tempat tidur manakala Daren kembali masuk dan menatap lexia yang berdiri di samping jendela.
__ADS_1
Dia menghampiri lexia dan memeluknya erat dari belakang. "Jangan khawatir aku akan melindungimu." Bisik daren.