
Atlanta, Georgia Lima tahun kemudian.
Atlanta adalah ibukota negara bagian Georgia Amerika serikat, merupakan wilayah metropolitan ke delapan terbesar di Georgia. Sebagai pusat metro, Atlanta dikenal sebagai kota hutan yang rimbun dengan pepohonan, diantara pohon yang terkenal adalah Magnolia, Pinus selatan, pohon Ek dan Dogwood. Kota itu di sibukkan dengan segala aktivitas masyarakatnya, kota metropolitan dengan gedung menjulang menandakan tingkat perekonomian kota ini salah satu yang terbesar di Amerika Serikat.
Malam itu bunyi Sirine polisi terdengar di sepanjang jalan, membuat orang-orang menatap barisan mobil polisi yang sedang menuju ke suatu tempat. Tempat itu adalah pusat kota yang selalu ramai, lalu lalang orang-orang dengan segala aktivitas mereka.
~
Wanita itu baru saja keluar dari swalayan, dia membeli segala kebutuhan pokoknya untuk beberapa hari ini, meskipun kerjanya masih belum menentu, tetapi dia berusaha keras untuk mencari kerja di setiap perusahaan yang ada di kota ini. Sambil menengok kekiri dan ke kanan, dia menyeberang jalan ketika lampu merah menunjukkan pejalan kaki dapat melintasi zebra cross. Dia berjalan terburu-buru sambil memeluk belanjaannya yang tidak begitu banyak. Saat itu musim semi yang hangat telah berakhir, digantikan dengan musim gugur yang membawa angin dingin.
Terdengar Sirine di sepanjang jalan. "Ini sudah ketiga kalinya, mobil polisi berlalu lalang di tempat ini." Ucapnya.
"Semoga Yessy tidak pulang telat, atau membawa pulang seorang pria malam ini, aku tidak ingin mendengar suara berisik Yessy yang mendesah dan mengerang malam ini, aku ingin setidaknya tidur dengan tenang." Gumam Hanna Setelah naik ke atas bus dan duduk di samping jendela dan menatap pemandangan di jalan raya.
Untuk ke sekian kalinya, kembali mobil dengan sirine berbunyi memekakkan telinga. "Ini sudah ke empat kalinya, sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Hanna menatap deretan mobil polisi di sepanjang jalan. Bus berhenti di depan halte, mengambil penumpang dan beberapa turun dari bus. Hanna tiba di lokasi di dekat jalan 356Toen Street, salah satu gedung di antara gedung-gedung tinggi di Atlanta yaitu flat kusam yang di sewa oleh Hanna bersama temannya yossy, mereka sudah bersahabat sejak usia mereka 14 tahun.
Setelah lulus sekolah, Hanna melanjutkan kuliahnya di Mcity of Manhattan, begitu selesai, dia meninggalkan Oklahoma dan tempat kerjanya di mansion Caesaar dan segera menyusul temannya dan tinggal bersamanya di Atlanta Georgia, dia ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Teman Hanna yang bernama Yessy, adalah gadis club yang bekerja sebagai bartender di salah satu night club di Atlanta, jika siang hari dia berjualan kopi Truck di jalan Complex city bersama Hanna, di pusat Perusahaan-perusahaan terbesar di kota itu.
Salah satu flat kusam berdiri tegak dengan catnya yang sudah mengelupas di sana sini, meskipun begitu, flat itu cukup lumayan untuk di jadikan rumah berteduh dan memberikan kenyamanan untuk kembali pulang ketika seharian sudah bekerja.
Malam itu, waktu menunjukkan pukul 7 malam, udara cukup hangat dan lampu jalan sudah menyala. Hanna berjalan dan segera masuk ke flatnya, dia kemudian menekan angka 7 dan Segera naik ke dalam lift.
Hanna menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, ketika tiba di dalam flatnya. Dia merogoh tasnya dan mencari ponselnya. Lalu menatap pesan masuk dari Yessy.
__ADS_1
"Aku tidak pulang, jangan lupa kunci pintu sebelum tidur Hanna, oh ya, satu hal lagi, pria yang kuincar sedang duduk di depanku, aku berencana menghabiskan malam dengannya."
Hanna menggelengkan kepalanya kemudian menyimpan ponselnya diatas nakas. "Semoga malam ini kau beruntung Yessy." gumam Hanna mulai memejamkan matanya.
~
"Kenapa banyak sekali polisi malam ini Riel?" tanya Paulo yang berdiri di sana setelah melakukan transaksi.
"Sepertinya terjadi kasus pembunuhan sir." ucapnya.
"Oh ya, banyaknya polisi tidak menguntungkan kita malam ini." ucapnya.
"Kapan tuan Dazon akan menuju ke Atlanta?"
"Sampai saat tuan tiba, lebih baik semua persenjataan ini di simpan di dalam kontainer di pelabuhan, setelah tuan Dazon tiba, biar nanti dia yang memutuskan."
"Baik sir."
Dazon Caesaar akan kembali ke Amerika serikat, dia lebih memilih bekerja di dunia bawah milik ayahnya di bandingkan bekerja di perusahaan kakeknya, jadi saat ini Dazonlah yang mengambil Alih semua pekerjaan Xaphier di milan yang berbahaya, melibatkan transaksi persenjataan ilegal serta kerja sama
dan persaingan dengan beberapa geng mafia di New York dan di Milan, serta tindakan menjauhkan pekerjaan nyatanya dari tangan-tangan detektif yang mencurigai perusahaan Caesaar milik kakeknya.
Sementara Axton mengambil Alih pekerjaan Kakeknya di Caesaar Corporation di Oklahoma dan Manhattan. Sudah 5 tahun Dazon berada di Eropa, entah mengapa dia lebih memilih datang ke Atlanta dibandingkan kembali ke Oklahoma.
~
__ADS_1
~
Pria itu berjalan bersungut-sungut, matanya tajam menatap setiap pejalan kaki, dia mengenakan Hoodie berwarna hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Tubuh tinggi dan membungkuk, suara ketukan sepatunya terdengar aneh, kedua tangannya di saku celananya.
Dia tiba-tiba berhenti berjalan, matanya menelisik kepada seorang gadis yang baru saja keluar dari gang sempit bersama seorang pria. Senyum miring terbit di wajahnya, dia berubah haluan, dan mulai mengikuti gadis berambut pirang strawberry itu yang telah berpisah dengan prianya.
Pukul 10 malam
Wanita itu baru saja masuk ke suatu club kecil, setengah sejam, dia kemudian keluar dari club itu, dia kembali melambaikan tangannya kepada seorang pria dan berpisah di jalan saat itu juga.
Pria memakai Hoodie berwarna hitam itu masih mengikutinya perlahan.
Pukul 23.45 Malam
Wanita itu berjalan serampangan, dia memegang tasnya begitu saja, seperti sedang menyeretnya, dia terlihat sempoyongan sehabis keluar dari club, dia berhenti dan memegang tiang listrik di jalan agar pusingnya dapat hilang, terdengar kekehan dari belakangnya. Wanita itu berbalik, dan menatap seseorang yang berdiri di hadapannya dengan pandangan matanya yang kabur.
"Siapa kau?" tanyanya.
Dia menyipitkan kedua matanya, mencoba mengenali pria yang masih terkekeh di depannya.
"Pergi, aku tidak butuh pria malam ini, aku lelah." ucap Wanita itu, dia berbalik dan mengusir dengan tangannya, seakan mengusir seekor lalat.
"Sayang sekali, tapi aku membutuhkanmu."
Suaranya serak, seakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya. Ucapan pria itu membuat sang wanita berjalan cepat, sialnya karena malam ini dia begitu mabuk, sehingga dia tidak bisa berlari, bahkan berjalan lurus pun dia kesulitan. Wanita itu masuk di sebuah gang sempit, sayangnya nasib tidak memihaknya, gang itu jalan buntu, sehingga malam itu hanya terdengar teriakan keras yang tertahan darinya dan Seketika suaranya perlahan mulai menghilang di telan malam.
__ADS_1