The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 87


__ADS_3

"Lari ! pria itu datang, ayo pergi dari sini." Mansion itu terkepung, puluhan mobil telah berada di depan mansion, mereka semua keluar dari mobil mereka masing-masing, para pengawal itu belum bergerak sama sekali, pintu mobil limousine terbuka, seorang pria keluar dari sana, rambutnya tertata rapi kebelakang, rambutnya dibiarkan panjang sebahunya. Dia turun dari mobil dan berjalan dengan para pengawal di belakangnya.


Seisi mansion itu berlarian berteriak panik, tetapi malam ini mereka tidak bisa lari kemanapun.


"Apakah sampai seperti ini kelompok Caesaar ingin menguasai distrik-distrik kami, meskipun dulu kami bermusuhan dengan kakek dan ayahmu, tetapi kami menjaga agar teritori kami tidak tersentuh, demi melindungi semua kelompok kami, kau tidak bisa begini, kau tidak bisa menghancurkan kelompok kami." Teriak seorang pria paruh baya, sepertinya dia adalah seorang pelayan yang sudah melayani ketua mereka hingga sekarang.


"Jangan khawatir, teritorimu akan menjadi milikku, kau hanya perlu tutup mulut." ucap Darko.


"Habisi mereka." Suara senjata memekakkan telinga di tengah malam buta itu, tidak ada yang berani keluar dari rumah mereka masing-masing meskipun mereka mendengarkan suara meminta tolong. Menjelang subuh, suara teriakan itu akhirnya berhenti.


"Tuan, kami telah selesai, sebagian menyerah dan akan menjadi pengikut kita, dua keluarga dari Forton masih hidup, bagaimana dengan mereka."


Darko berbalik, "Keluarga, siapa mereka."


"Mereka adalah putra dan putri Keluarga Forton bernama Nona Crystal Forton berusia 18 tahun dan Luke Forton berusia 6 tahun, bagaimana, tuan?"


"Hem, bawa mereka."


"Baik tuan."


Darko berjalan melewati tubuh-tubuh yang tergeletak di sana, berjalan tanpa memperdulikannya. Senandung terdengar dari mulutnya, dia berjalan dan masuk ke dalam mobil limousine yang menunggunya.


"Bakar tempat itu." Perintahnya.


"Baik tuan."


~


Suara tangis terdengar dari anak kecil di sampingnya, gadis itu memeluknya dengan erat, setelah melihat langsung kelompok keluarga Forton di habisi begitu saja, tidak membuat gadis itu menangis seperti adik laki-lakinya yang menangis ketakutan karena melihat banyak tubuh bergelimpangan di lantai, dia ketakutan di pelukan kakaknya.


"Kakak Crystal, apakah mereka akan membunuh kita?" Bisik adiknya dengan gemeter.


"Jangan khawatir aku akan melindungimu Luke, jangan menatap mereka, hanya menatap kepada kakak." Adik laki-lakinya mengangguk meskipun tubuhnya bergetar ketakutan.


~


Darko berjalan di Hall, setiap orang tunduk dan mundur beberapa langkah ke belakang, dia berjalan dengan pandangan kedepan, sunyi dan tidak terdengar suara apapun dari mereka semua, meskipun di ruangan besar itu di penuhi banyak orang, tetapi hanya langkahnya saja yang terdengar.


Rumor mengenai Darko sang Killer berkembang pesat, setelah namanya diangkat sebagai pewaris tunggal keluarga Caesaar, semuanya berubah drastis di bawah kekuasaannya, hal itu sangat mencengangkan bagi dunia bawah yang terkenal dengan pekerjaan mereka yang tidak jauh dari senjata, pembunuhan dan barang ilegal lainnya, serta kelompok-kelompok yang di takuti di negara itu.


Usianya masih 21 tahun, tetapi dengan sangat singkat dia dapat menguasai distrik-distrik di negara itu tanpa kendala apapun, tanpa melakukan kerja sama dengan kelompok mafia lain, dia terus menghancurkan setiap kelompok yang menghalangi jalannya. Setiap orang yang mendengar namanya akan berlarian, apalagi jika mereka tidak di bawah teritorial Darko Caesar.

__ADS_1


Sikapnya yang dingin, tanpa kompromi, tidak ada yang berani mendekatinya bahkan untuk sekedar menjalin komunikasi dengannya, dia bekerja seorang diri dengan strateginya sendiri tanpa meminta bantuan kelompok lain.


Rambutnya yang panjang terlihat basah sehabis mandi, hari begitu larut, dia masih duduk di sana membaca buku tanpa beristirahat. Ketukan terdengar dari pintunya.


"Masuk."


Pintu membuka, seorang pria bernama Baron masuk dan sedikit menundukkan kepalanya. "Tuan, ada surat yang datang dari Manhattan, pagi tadi surat itu datang." Dia memberikan surat itu kepada Darko, dia menunduk sebentar dan keluar dari ruangannya.


"Mom?" Ucapnya.


Darko sayang, ini mommy, kapan kau akan berjunjung lagi ke Amerika, ayah dan ibu baik-baik saja, kami sangat merindukanmu, apa kau makan dengan teratur? Tidur dengan teratur? Mommy ingin sekali memasakkan masakan kesukaanmu, pulanglah akhir bulan ini, ibumu sudah sangat tua, dan ingin sekali menggendong cucu, aku berharap dapat mendengar kabar gembira dari putraku tersayang. Mommy dan Daddy always love you.


"Apa mom masih menganggapku bocah berusia 5 tahun? Ugh, apa maksudnya dengan cucu?" Ucap Darko sambil menyandarkan tangannya di atas meja. "Apa mereka bermaksud menjodohkanku." Ucapnya.


"Aku tidak memiliki keinginan seperti itu sekarang ini mom, maafkan aku, sepertinya tahun ini mom dan dad akan kecewa lagi." Ucapnya.


~


"Kakak, kita akan di bawa kemana?" Ucap bocah kecil itu, mereka berjalan mengikuti dua orang pria yang membawanya jauh ke dalam mansion.


"Pegang tangan kakak erat-erat jangan pernah kau lepaskan, kau mendengarku Luke?"


Sampai di ujung koridor yang begitu luas, seorang wanita berkacamata tebal sedang berdiri di sana, menunggu kedatangan mereka.


"Siapa mereka." Ucap Wanita itu dengan nada tegas.


"Mereka berdua keluarga Forton yang tersisa, tuan muda tidak menghabisi mereka berdua, sekarang, aku serahkan kepadamu Nyonya Len."


"Serahkan mereka padaku, kalian boleh pergi." Ucapnya.


Dua pengawal tadi telah pergi dan meninggalkan kakak beradik itu pada seorang wanita tua dengan kaca matanya yang tebal, wajahnya terlihat menakutkan, membuat luke gemetar, sekali lagi memegang erat tangan kakaknya.


"Ikut aku, dan kalian akan lihat tempat tinggal kalian yang baru, jika kalian ingin selamat di tempat ini, kalian harus mengikuti peraturan yang ada di mansion, kalian mengerti."


"Baik nyonya." Ucap Crystal.


Mereka memasuki tempat yang sangat berbeda dengan ruang yang luas dan terasa dingin, tempat ini lebih hangat, di penuhi oleh para pekerja dan pelayan yang menyediakan makanan dan membersihkan mansion sebesar ini.


Tidak ada suara yang keluar dari setiap pelayan yang sedang bekerja, mereka bekerja dalam diam mengikuti perintah, mereka berdua masih mengikuti Wanita tua itu dan sampai pada sebuah kamar kecil di ujung koridor, bersampingan dengan kamar-kamar yang berjejer rapi di tempat itu.


"Mulai besok, kalian berdua akan bekerja kepada keluarga Caesaar, besok akan ada pelayan yang memberikan penjelasan mengenai pekerjaanmu, jadi malam ini kalian boleh beristirahat." Ucapnya. Gadis itu mengangguk, meskipun suara wanita itu terdengar tegas dan menakutkan tetapi, ada nada tertentu yang membuat krystal merasa aman jika bersamanya.

__ADS_1


"Baik Nyonya." Ucapnya.


"K-kakak, apa kita akan di kurung di sini dan mati kelaparan, apa kita akan memakan kecoa dan tikus atau nyamuk untuk menahan rasa lapar kita?" Tanya sang adik.


"Kau terlalu banyak menonton film Luke, mulai hari ini kita berdua akan bekerja kepada keluarga ini, jadi nyawa kita akan baik-baik saja." Ucapnya.


"Haaah, nyonya itu harusnya bilang dari tadi, aku hampir saja pipis di celanaku, kak."


"Sst, jangan banyak bicara luke, kita masih belum aman, kita harus mematuhi perintah di mansion ini, kalau tidak, nyawa kita jadi taruhannya."


~


Darko menyimpan kembali surat yang dikirimkan oleh ibunya ke dalam laci, dia berdiri dari meja kerjanya, dan berdiri di depan jendela menatap terbitnya matahari pagi di bulan yang dingin itu.


"Salju." Ucapnya.


Hari ini dia berbaring sebentar di atas tempat tidurnya, lalu memejamkan matanya, "Ck, mereka berisik sekali, aku bisa mendengar suara ribut-ribut dari luar." Gumam Darko, meskipun mansion itu sangat besar tetapi Darko memiliki pendengaran yang tajam sehingga suara sekecil apapun dapat mengganggunya


Matahari tentu saja tidak tampak, langit terlihat mendung dan salju mulai turun sedikit demi sedikit menutupi pepohonan dengan warna putih kemilaunya. Darko menatap dari jendela mansion dan memikirkan surat-surat dari ibunya yang datang dari Manhattan, ayah dan ibunya tidak lagi tinggal di Atlanta, dia lebih memilih menetap di kota Manhattan untuk mereka tinggali berdua dan bersama setiap saat. Darko tidak memiliki adik, tidak seperti bibi dan pamannya, mereka semua memiliki dua sampai tiga orang anak, sehingga orang tuanya tidak merasa kesepian, beda halnya dengan Darko, dia tidak memiliki adik setelah keberangkatannya ke london, jadi Hanna dan Dazon mengharapkan Darko segera menikah dan memiliki seorang anak.


"Tch, mereka bercanda ya." Ucapnya.


Senandung aneh kembali terdengar dari bibirnya, dia menatap suasana pagi dari jendelanya, tampak para pekerja sedang membersihkan halaman mansion dari salju yang menumpuk, agar mobil-mobil yang masuk dapat lewat ke halaman mansion dengan aman.


"Tuan, kami sudah memberikan tempat kepada keluarga terakhir Forton."


"Bawa gadis itu kepadaku." Ucap Darko tiba-tiba.


"Maaf?" Ucapnya terdengar kaget.


"Kau tidak mendengarnya, bawa dia kehadapanku."


"Oh, B-baik tuan." Pria itu segera keluar dari ruangannya dan segera melaksanakan perintah tuannya.


Senyuman terbersit di bibir Darko, dia memiliki rencana di kepalanya, baru kali ini dia memikirkan masalah wanita karena gara-gara orang tuanya yang terus mendesaknya dan terus mengirimkan surat untuknya, tidak ada pilihan lain, dia tidak pernah mengenal banyak wanita, mereka semua takut kepadanya, meskipun kekayaannya melimpah dan namanya sangat terkenal, tidak ada yang berani untuk mendekatinya, apalagi berani menggodanya dan menjadikan seorang pembunuh mengerikan sebagai seorang pendamping, wanita-wanita itu lari ketakutan.


~


Krystal Forton gadis berusia 18 tahun, dia memiliki seorang adik bernama Luke Forton, mereka adalah keponakan dari Chris Forton yang merupakan ketua mafia yang menguasai sebagian distrik di wilayah selatan Italia, tetapi sayang sekali, nasib keluarga Forton habis di tangan Darko, Keluarga Forton terkenal dengan semua transaksi ilegalnya, sehingga tibalah hari dimana kehancuran kelompok itu sirna di tangan Darko. Keluarga itu menyisakan seorang gadis dan anak kecil, Darko tentu saja tidak menghabisi mereka apalagi wanita dan anak-anak, dia membawa mereka dan memperkerjakannya sebagai pelayan di mansionnya.


Gadis itu memiliki wajah khas gadis eropa, matanya berwarna biru seperti langit biru yang cerah, rambutnya panjang terurai berwarna coklat terang, meskipun dia keponakan seorang mafia tetapi mereka tinggal di sana sama halnya dengan tinggal di sebuah penjara.

__ADS_1


__ADS_2