
Rodrigo Caesar adalah Salah satu pemilik saham terbesar di kota milan di sebelah Utara italia. Sedangkan putranya bernama Xaphier Caesar memiliki status sebagai bos terbesar mafia di Milan, separuh kota di 170 distrik dari 188 distrik dikuasainya, bahkan Rodrigo Caesar dapat masuk dan merubah perekonomian di kota itu dan menjadi penentu kebijakan yang ada di dalam pemerintahan berkat koneksinya.
Salah satu perusahaan yang di pegang putranya berada di Manhattan, dia pemegang saham terbesar di 4 borough di new York. Selain itu putranya itu salah satu bos mafia terbesar di Milan hingga siapapun yang mendengar namanya akan ketakutan.
Malam itu diadakan pesta pertemuan di salah satu hotel besar di Manhattan, para pemegang saham terbesar hadir di sana termasuk pria berwajah tampan dengan mata safirnya yang tajam, separuh dari perusahaan-perusahaaan ternama berusaha mencari celah untuk bisa sekedar berbicara kepadanya tetapi tentu saja tidak mudah untuk berbincang dengannya, dia tidak mudah di temui jika kau tidak memiliki koneksi besar terhadapnya.
Pria Bermata safir dengan rambut rapi berwarna hitam mengkilap sedang melenggang lalu mengambil minuman dan menyandarkan tubuhnya di salah satu tembok, menatap orang-orang yang memandang kepadanya.
"Paulo, kapan acara ini akan selesai? Dan mengapa aku yang harus menghadiri pertemuan ini, meskipun aku harus datang dan mewakilinya karena aku putranya tentu saja." dia terkekeh.
Paulo hanya menunduk dan berdiri di belakangnya bersama para pengawalnya, dia adalah pria asli berkewarganegaraan Italia, berkacamata dan berwajah datar tetapi tampan. Xaphier mengambil gelas kedua dan perlahan meneguk minumannya.
"Tidak adakah yang menarik?" Ucapnya. Para wanita yang datang melenggang di depannya hanya ingin menarik perhatian Xaphier meskipun sulit untuk mendapatkan perhatiannya.
Suara-suara di pintu membuat semuanya berbalik, tuan Juan Robert baru saja tiba, para pengawal mengiringi kedatangannya. Seketika matanya mengerling sosok yang berdiri di tempat yang jauh namun siapa saja akan menatapnya dengan sejuta pesona yang di pancarkan dari auranya. "Putra Rodrigo bukan?" Ucap tuan Robert kepada Sebastian yang menunduk kepadanya.
"Ya tuan, dia putra tuan Rodrigo Caesar namanya Xaphier Caesar, dan erm..putra satu-satunya." Sebastian terdiam, tuan Robert menyadarinya, Sebastian tahu semua peristiwa yang terjadi ketika persahabatan pernah terjalin antara tuan Robert dan Rodrigo Caesar, tetapi itu terjadi sudah lama terjadi sewaktu tuan Robert masih sangat muda.
"Jangan menatap terlalu lama kepadanya." Ucap tuan Robert.
"Ya tuan."
Pesta itu berlangsung cukup lama tetapi Xaphier yang bosan sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh pengawalnya.
Kepergian Xaphier tidak terlepas dari pandangan mata tuan robert, dari sudut matanya diapun tahu jika Xaphier sekilas menatapnya hanya sebentar. Robert mengingat kejadian yang sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu tetapi ingatan akan peristiwa itu tidak akan terlupakan olehnya.
Tuan Robert membisikkan sesuatu kepada Sebastian dan dia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi setelah pidato yang di ucapkannya. Dia ingin memastikan sesuatu, dan baru sekarang dia ingat foto lama yang disimpannya yang sudah bertahun-tahun lamanya.
~
Sore itu lexia duduk di dekat kolam renang memandang matahari terbenam, Sedang Daren masih berada di ruangannya sedang mengerjakan pekerjaannya yang banyak tertunda.
Dia memegang ponselnya dan menatap wallpaper foto pernikahannya bersama Daren, lalu menatap beberapa fotonya bersama Daren yang mesra, lexia heran ketika melihat salah satu fotonya yang hanya mengenakan selimut tanpa pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Ini pasti ulah Daren." Ucap lexia ingin menghapus foto yang terlihat fulgar Karena foto itu di ambil ketika lexia kelelahan setelah bercinta dengan Daren.
Tangan lexia hendak menekan tombol hapus tetapi Daren mengambil ponselnya dari tangan lexia. Membuatnya berbalik dan menatap marah kepada Daren.
"Daren? Foto apa yang kau ambil itu? Mengapa kau begitu mesum? Berikan kepadaku aku mau menghapusnya." Ucap lexia lalu berdiri berusaha mengambil ponsel itu dari tangan besar daren.
"Kenapa harus di hapus lexia, aku suka melihatnya jika sedang bosan, kau tidak boleh menghapusnya." Ucap daren. Merengkuh tubuh lexia dan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajahnya membuat lexia mendorong Daren keras hingga ia jatuh ke kolam renang.
Tawa lexia membuat Daren memicingkan matanya, dia berenang lalu menarik lexia yang tidak memperhatikan jika Daren mengendap-endap menghampirinya. Tubuh mereka berdua sudah basah semua, lexia memercikkan air di wajah Daren dan masih tertawa karena mengingat wajah Daren ketika terjatuh.
"Wajahmu sangat lucu ketika kau terjatuh." Ucap lexia memegang tepian kolam bermaksud untuk naik ke tepian. Daren menarik lexia dan menciumnya keras dan kasar, tubuhnya melekat erat di tubuh Daren yang menguasai lexia dalam sekejap.
Daren melepaskan ciumannya, dia tersenyum dan menyapu bibir lexia yang membuka. "Kau kedinginan?" Tanya daren. Lexia menggelengkan kepalanya lalu memeluk leher Daren dengan kedua tangannya.
"Aku menginginkanmu lexia, sekarang !" Ucap daren dengan hembusan napas yang keras dan kasar. Lexia menganggukkan kepalanya lalu menatap wajah Daren yang basah. Mereka berdua saling berpelukan dan melepaskan hasrat mereka di tengah-tengah kolam renang yang luas di latar belakangi dengan terbenamnya matahari.
__ADS_1
Lexia terbaring di atas tempat tidur, wajahnya memerah mengingat percintaannya bersama Daren malam ini, Daren yang berada di sampingnya telah terlelap dengan tubuhnya yang tidak tertutupi selimut, lexia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil selimut yang jatuh dilantai kemudian menyelimuti tubuh Daren.
Matanya melirik kepada Daren kecil tetapi lexia segera menutupnya karena meskipun benda itu selalu berada di tubuhnya entah mengapa dia masih belum terbiasa ketika melihat benda besar itu, lexia memalingkan wajahnya dengan melirik-lirik lalu segera menutupnya.
~
Pagi itu Daren dan lexia berencana untuk menghabiskan waktu mereka dengan berlibur di kota Oklahoma city, lexia ingin berjalan-jalan karena selama ini dia hanya berada di dalam villa dan tidak pernah berjalan bersama-sama Daren.
Hari itu lexia mengenakan dress panjang berwarna hitam di atas lutut dengan denim jaket berwarna biru pudar, rambutnya yang coklat di gerai bebas sehingga nampak kecantikannya, sedangkan Daren dengan pakaiannya yang kasual di balut jaket kulit berwarna hitam dan jeans hitam, dia begitu tampan dan menggoda.
Mereka berkendara berdua saja, lexia sedang duduk nyaman di samping daren yang mengemudikan mobilnya, hari itu jalanan cukup padat dan udara begitu cerah, meskipun panas di luar sana tetapi mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju pusat kota.
Mobil yang di kemudikan oleh Daren berhenti karena lampu merah, kesempatan itu Daren gunakan dengan mencium lexia hingga punggungnya melengkung mengikuti setiap gerakan daren. Ketukan dari kaca jendela mobilnya menghentikan aktivitas fisik mereka, Daren yang terlalu bergairah lupa jika mereka berada di tengah jalan raya sehingga satu ketukan membuat bibir lexia terlepas.
Daren segera melajukan mobilnya tanpa membuka kaca mobilnya. "Daren? mengapa kau pergi begitu saja, harusnya kita minta maaf karena tindakan kita tadi." ucap lexia menyilangkan tangannya menatap Daren.
"Sebaiknya kita pergi saja sayang, kau tidak lihat bagaimana ekspresi wajah pria yang mengetuk tadi? kau pasti akan berpikiran sama sepertiku, dari pada kita meladeni kemarahannya." ucapnya sambil menarik tangan lexia dan mengecupnya.
~
"Mengapa macet Gorgon?" tanyanya.
"Mereka terlalu lama berciuman di mobil sir, sampai tidak memperdulikan rambu lalu lintas." ucap gorgon kembali masuk ke dalam mobil dan kemudian melajukan mobilnya.
"Mobil itu sir, mereka pergi begitu saja, tanpa membuka kaca jendelanya. "Benarkah?" ucap Xaphier menatap mobil berwarna hitam yang tepat di sampingnya.
"Erm, lihat ! sepertinya pria yang mengetuk jendela kaca mobil berhenti di samping mobil kita, bagaimana ini Daren?" tanyanya.
"Tenanglah sayang." bisik daren memegang tangan lexia dan masuk ke restaurant itu, suasana yang mewah di balut dengan interiornya yang megah membuat lexia berpikir dia tidak cocok makan di tempat itu lalu memperhatikan dress-nya.
"Jangan khawatir mengenai itu sayang." bisik daren mengecup pipi lexia. Dua orang pelayan mengantarkan mereka di ruangan khusus vip atas permintaan Daren, mereka masuk ke dalam ruangan khusus.
"Mengapa kita makan di sini?" ucap lexia duduk dengan tenang sambil memandang daren yang sedang menjawab panggilan ponselnya.
"Ugh, dia tidak mau mengakui kalau dia sibuk, padahal kita bisa menunda jalan-jalannya, ponselnya dari tadi berbunyi terus." gumam lexia.
Mereka akhirnya makan siang. "Aku mau ke kamar mandi." ucap lexia segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan menuju ke kamar mandi. Lexia berjalan melewati tiga orang pria yang mengikuti pelayan membawanya di ruangan khusus. Salah satu pria mengerling lexia, mereka sempat bertatapan, Xaphier lalu mengedipkan matanya, tetapi di balas dengan mendengus pada hidung lexia.
Mata safir mereka bertemu, hanya di pihak Xaphier saja yang terlihat terkejut, tetapi lexia berjalan seperti biasanya.
"Ada apa sir." ucap Paulo menatap Xaphier yang tiba-tiba berhenti berjalan dan masih memandang lexia dari kejauhan. "Tidak ada apa-apa." ucapnya.
"Mirip sekali." gumam Xaphier.
Lexia baru saja keluar dari kamar mandi, dia berjalan lalu berhenti karena ada seseorang yang menghalanginya untuk melangkah. Mata safirnya saling menatap, lexia menatap tajam ke arahnya.
"Tuan, kau menghalangi jalanku." ucapnya. Xaphier menatap wajah lexia lekat-lekat. "Siapa namamu?" tanyanya.
"Mengapa aku harus memberitahukan namaku kepada orang asing, aku tidak segila itu sir." ucap lexia kembali melangkah dan meninggalkan Xaphier yang masih menatapnya.
__ADS_1
"Terlalu mirip." ucapnya.
Dia mengikuti lexia yang berjalan kembali ke ruang VIP tempat Daren sedang menunggunya. "Lama sekali lexia." ucap Daren mengawasi lexia yang duduk di hadapannya. Lexia hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan makan makanan penutupnya.
~
Hari itu tuan Robert sedang menatap sebuah foto lama yang digenggamnya, wajah mereka berdua begitu mirip, istri dari tuan Rodrigo yang telah wafat dan juga teman dekat dari tuan Robert, mereka terlalu lambat menyadari perasaan mereka masing-masing sehingga pernikahan mereka begitu lama dilaksanakan, akan tetapi Rodrigo dan Agne akhirnya memiliki buah hati yaitu seorang putra tampan bernama Xaphier, tapi mengapa, mengapa wajah lexia begitu mirip dengan agne? aku menyadari wajah gadis itu nampak familiar.
"Apa hubungannya lexia dan Rodrigo mengapa wajah Agne begitu mirip dengan gadis itu!" ucap tuan Robert.
~
Sebuah ketukan di pintu terdengar beberapa kali membuat wajah wanita yang telah di serang mabuk berbalik sambil menghapus jejak-jejak minuman di bibirnya.
"Siapa ! siapa sepagi ini membangunkanku?" ucapnya dengan jalan sempoyongan sambil menabrak benda-benda yang ada di sekitarnya. Nampak wajah lovelia sedang membawakan makan siang untuk ibunya.
"Lovelia? untuk apa kau membawakan ibu sarapan pagi, ibu tidak perlu itu semua.." Barbara cegukan Karena minuman keras yang di minumnya sepanjang hari.
"Ini bukan sarapan pagi mom, hari sudah siang mommy." ucap lovelia, menaruh nampan itu di atas meja lalu menatap ibunya yang memijat-mijat keningnya karena sakit kepala yang menderanya.
"Mom? sebaiknya hentikan kebiasaan ibu yang minum seperti ini, mom akan sakit dan..
"Cerewet, kau sungguh cerewet lovelia, biarkanlah ibu menderita seperti ini, aku ingin melihat wajah Daren jika dia mendapatiku seperti ini gara-gara ular kecilnya yang telah merusak keluarga Burchard, aku ingin Daren menyesali apa yang telah di lakukannya kepada ibu, dan sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan gadis tengik itu yang telah mencuri semuanya." ucapnya sambil mulutnya terbuka dan kembali cegukan.
Lovelia tidak berdaya dengan tingkah ibunya, dia akhirnya pergi dan kembali ke kamarnya. Lovelia beberapa hari ini cukup sedih karena paman Alvin tidak meneleponnya lagi, katanya dia sedang sibuk. "Paman sedang apa ya? apa aku saja yang meneleponnya, tetapi nanti aku mengganggu pekerjaan paman." ucap lovelia sambil menggenggam ponsel di tangannya.
~
Daren berdiri tepat dihadapan Xaphier yang menghalangi jalan Daren dan lexia yang berada di parkiran di luar restaurant. "Apa yang anda lakukan?" ucap Daren menatap heran karena pandangannya yang tidak terlepas dari memandang lexia.
Daren menarik lexia dan menyembunyikannya di balik punggungnya. "Apa yang anda inginkan?" tanyanya.
"Siapa, siapa nama gadis yang sembunyi di belakangmu." ucapnya.
"Dia istriku, ada keperluan apa dengannya." ucap Daren waspada.
"Siapa namanya." Xaphier bertanya sekali lagi tetapi Daren tidak menjawabnya dan menarik tangan lexia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Xaphier memegang bahu Daren.
"Beritahu aku siapa nama gadis itu." ucapnya dengan wajah nampak seperti putus asa.
"Dia istriku, namanya lexia Kenzo." ucapnya.
"Lexia? lexia kenzo? namanya bukan Celia?" ucapnya, ia menatap wajah lexia dengan tatapan sedih dia wajahnya.
"Maaf sir, anda salah mengenali orang, namanya lexia ." ujar daren masih berhati-hati dengan pria yang nampak familiar dihadapannya ini. Tanpa mengucapkan apapun dia pergi tetapi matanya tidak terlepas dari wajah lexia.
"Dia memanggilku Celia?" ucap lexia, Daren masih menatap kepergian Xaphier yang kembali masuk ke dalam restaurant itu. "Sekarang aku mengenal wajahnya, dia adalah putra dari tuan Rodrigo Caesar, tapi mengapa dia menanyakan tentang lexia?" ucap Daren.
"Kita pergi lexia, sebaiknya kita kembali ke villa, kita tunda dulu jalan-jalannya." ucap Daren membuka pintu mobil untuk lexia, lalu Daren masuk ke dalam mobilnya, wajah tampan itu masih berdiri di kaca jendela besar menatap kepergian mobil Daren.
__ADS_1