
Perjalanan cukup jauh di tempuh mereka berdua menuju villa di Tulas, hari yang begitu cerah dan sinarnya membuat tubuh lexia rileks. Suasana yang nyaman dan udara yang bersih membuat lexia sangat betah tinggal di tempat itu, dia merindukan saat-saat berkumpul dengan mereka semua, berbincang tertawa sampai melakukan hal-hal kecil di rumah bibi Elma, lexia akan merindukan semua moment itu.
"Ada apa sayang?" Ucap Daren, sejak tadi memperhatikan lexia.
Lexia menggeleng, "aku hanya rindu suasana seperti ini nantinya." Ucapnya. Daren membelai lembut rambut lexia.
"Kita akan berkunjung kembali ke tempat ini jika nanti kau merindukan mereka."
~
Suasana pesta saat itu cukup menyedihkan bagi lovelia, dia tidak pernah berpikir bahwa paman Alvin memiliki seorang wanita di sampingnya, dia terlalu larut dengan perasaan sukanya sampai-sampai melupakan bahwa wanita cantik bisa saja ada dalam kehidupan pamannya.
"Lovelia?" Suara itu membuat lovelia terlonjak dan berdiri dari duduknya seorang diri di balkon, dia menatap pria yang baru saja menyusup di pikirannya. Paman Alvin sedang berjalan bersama seorang wanita cantik, dia berambut pirang dengan garis rahang yang tajam dan mata abu-abunya yang menawan, bibir merekah itu menciutkan nyali lovelia untuk bersaing dengan wanita yang tampak sempurna di mata lovelia.
Lovelia mencoba tersenyum. "Dimana ibumu lovelia? kenapa kau sendirian di sini?" Tanyanya.
"Aku hanya ingin beristirahat paman." Ucap lovelia matanya mengerling wanita yang tersenyum kepadanya dengan lembut.
"Oh ya, perkenalkan dia Lusy Hans, partnerku malam ini." Ucap Alvin sambil mengedipkan matanya kepada wanita yang berada di gandengannya. "Hai lovelia, namamu sangat cantik, seperti dirimu, pamanmu sering menceritakan tentang dirimu, aku sangat senang bertemu denganmu malam ini." Ucapnya dengan suara yang lembut.
Lovelia tersenyum dan menjabat tangannya. "Sebaiknya kau masuk lovelia, udaranya mulai dingin." Lovely hanya tersenyum tipis dan segera berdiri lalu masuk ke dalam ruangan. Hatinya terasa sakit tetapi lovelia tidak menampakkan perasaannya, sejak dulu dia pandai menyembunyikan perasaan yang di pendamnya.
Lovelia mencari-cari Barbara, dia melihatnya sedang berbincang bersama teman-temannya di ruangan lain, tempat berkumpulnya Nyonya-nyonya besar. Lovelia menghampiri ibunya, dia ingin menyampaikan kalau dia lelah dan ingin segera pulang, tetapi sesuatu menghentikan langkahnya dia mendengar dengan jelas suara ibunya sedang berbicara kepada mereka semua.
"Kenalkan kepadaku, putriku itu terlalu pemalu untuk sekedar berbincang dengan seorang pria, biarkan aku mempertemukan mereka."
"Tapi nyonya Barbara, meskipun dia memiliki perusahaan raksasa di Perancis tetapi dia terkenal suka bergonta-ganti pasangan lho, apalagi dia memiliki dua orang putri, usianya pun seperti lovelia, apa tidak apa-apa?"
"Berikan saja kartu namanya, mungkin saja dengan bertemu loveliaku dia akan berubah dan menjadi pria setia, apalagi yang kudengar dia menyukai gadis muda bukan?" Ucap Barbara. Lovelia yang begitu geram ingin segera pergi dari sana, di ingin menjauh dari ibunya. Tiba-tiba suara pintu itu membuka, nampak Alvin berdiri dengan marah menatap wajah barbara.
"Mulai hari ini lovelia tinggal di rumah ayahku, jika kau ingin mengunjunginya, kau bisa datang kapan saja, aku akan menceritakan semua ucapanmu kepada tuan robert, kau mengerti !" Alvin memegang tangan lovelia dan segera pergi dari tempat itu. Sementara itu Lusy mengikuti kepergian mereka di belakangnya.
Barbara tersenyum kecut kepada semua mereka yang ada di sana, dia segera menyusul kepergian Alvin dan lovelia.
"Alvin.. maksudku tuan Alvin kau tidak bisa membawa loveliaku, dia putriku." Ucapnya keras ketika berada di tempat parkir, Alvin lalu Berbalik dan menatapnya tajam.
"Lovelia yang akan kau jual ke pengusaha kaya untuk keuntunganmu sendiri? Aku tidak pernah lihat ibu sepertimu, lovelia baru saja sembuh dari sakitnya dan kau ingin menjualnya ke pengusaha kaya? Aku tidak tuli dengan ucapanmu tadi." Geram Alvin masih memegang erat tangan lovelia.
"Bu..bukan begitu maksudku, lovelia akan kukenalkan dengan pria yang cocok untuknya dan....
"Pikirkan kembali kata-katamu, mulai hari ini dia bersama kami, lovelia adalah keturunan Robert, dia tidak bisa bersama pria yang kau jodohkan semaumu "
Alvin membawa lovelia naik ke dalam mobil, sementara lovelia masih terisak ketika melihat wajah ibunya yang mengiba agar dirinya kembali kepadanya.
~
Mereka telah tiba di tempat yang sangat Lexia rindukan, villa itu nampak seperti biasanya, tetapi pengamanannya tidak seketat dulu, kali ini lexia bisa berjalan-jalan kemanapun dia inginkan, meskipun dia seorang diri, sesampainya di villa nampak Evan dan pelayan lainnya menyambut kedatangan lexia.
"Istirahatlah sayang, kau pasti lelah." Ucap daren.
"Erm ya, aku ingin tidur." Bisik lexia tetapi ada kilatan di matanya yang memberikan isyarat kepada Daren, hal itu tentu saja membuat Daren terkejut tetapi senang, lexia menariknya ke lantai atas dan menyerang bibir Daren begitu pintu membuka.
"Aku menyukai dirimu seperti ini." Bisik daren, mengangkat tubuh lexia, membawanya larut dalam gairahnya. Malam itu lexia yang liar mampu mengendalikan Daren, tubuh mereka larut dalam percintaan yang panas.
~
Hari itu lovelia dibawa oleh Alvin ke kediaman kakeknya tuan Robert, dia tidak akan membiarkan lovelia bersama dengan ibunya jika Barbara memperlakukan putrinya seperti itu. Lovelia duduk di samping Alvin dan mendengarnya sedang menelepon seseorang.
"Sebastian, ini aku Alvin, siapkan kamar dan semua kebutuhan lovelia." Dia menutup ponselnya lalu mengerling lovelia yang masih diam tidak bicara sedikitpun, hanya air matanya saja yang jatuh ke pipinya. Alvin menghapus air mata lovelia yang menetes, dengan perlahan, lovelia berbalik menatap wajah Alvin dengan tatapan sendu. Ingin sekali lovelia mengungkapkan perasaannya kepada Alvin tetapi di tahannya kuat-kuat.
'jadi selama ini ibu menginginkan aku segera sembuh agar dia bisa menjadikanku tempat menghasilkan uang? Menjualku pada pria kaya, meskipun dia sudah tua sekalipun.' hati lovelia terasa sangat sakit.
"Jangan menangis lagi lovelia, paman akan melindungimu." Ucapnya.
Mereka tiba di mansion Tuan Robert, mobil terparkir di pelataran mansion, Alvin memegang tangan lovelia, membawanya masuk menemui kakeknya. Pintu itu terbuka, seorang pria berdiri di sana di samping para pengawal-pengawal Alvin. Mata lovelia mengerjap, dia memandang sosok pria yang sering di temuinya.
'Bukankah pria itu Edo?" Ucap lovelia, dia menatapnya sedang berdiri di depan pintu ruangan pribadi tuan Robert. 'Dia menjadi pengawal Alvin?' gumamnya.
Tuan Robert menatap heran kedatangan lovelia cucu yang di sayanginya datang bersama Alvin.
"Ada apa Alvin mengapa lovelia datang malam-malam begini, dan kenapa dia menangis?" Dia menatap wajah lovelia yang sembab. "Aku akan menceritakannya Ayah, setelah lovelia beristirahat." Ucapnya.
__ADS_1
~
Malam itu lexia bangun dari tidurnya, dia lalu duduk begitu saja dengan menahan berat badannya kemudian berbalik dan tidak mendapati Daren ada di sana. "Apa dia ada di ruangannya?" Ucap lexia matanya masih berat tetapi dia memaksa dirinya bangun lalu mengenakan dress panjangnya. Lexia turun dari lantai atas lalu menatap kosong ruangan.
Lexia jalan perlahan dan mendengarkan suara seseorang bercakap dari dalam ruangan Daren.
"wanita yang mati terbakar itu nency, mayatnya sudah diidentifikasi, dan kecocokannya 99% , ya.. mobilnya di temukan di perbatasan kota Tulas, semua identitasnya ada di sana, sepertinya dia di culik ketika baru keluar dari villaku Alvin, aku turut berduka cita" ucap Daren.
Lexia menutup mulutnya, 'Nency? Dia wafat?' shock di wajah lexia seketika membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Daren berdiri karena mendengar suara-suara dari luar pintunya.
"Lexia? Apa yang kau lakukan di sini sayang?" Tanyanya. Lexia memeluk tubuh Daren dan memeluknya erat-erat. "Tidak apa-apa, aku baru saja bangun dan kau tidak ada di sana." Bisik lexia.
"Aku mau menemanimu bekerja, bagaimana?" Ucap lexia sambil menarik-narik kemeja Daren. "Aku tidak akan bisa bekerja jika kau menggodaku seperti ini." Bisik daren membawa lexia masuk ke dalam ruangannya.
"Bagaimana dengan perutmu sayang? Tidak sakit lagi? Kau tidak mual lagi?" Tanyanya.
Lexia menggeleng, "Aku hanya ingin makan masakanmu Daren, buatkan aku sekarang, bayiku ingin makan masakan ayahnya, dia mau masakan yang spesial." Ucap lexia.
Daren tertawa, "Oke sayang semua akan tersedia Sebentar lagi, tunggu di sini masakannya sebentar lagi akan datang." Ucap daren, dia lalu berdiri dan segera menuju ke dapur.
Lexia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan kerja Daren, dia berdiri dan melihat satu hal yang menarik perhatiannya, sebuah buku yang di pajang di dalam lemari. "Apakah ini novel yang dikoleksi Daren?" Lexia membuka lemarinya dan mengambil salah satu buku yang menurutnya menarik, dia membukanya nampak di buku itu inisial sebuah nama dengan huruf C besar.
"Huruf C siapa dia?"
Lexia berpikir sebentar dan kembali membuka-buka buku di sampul, akhirnya tertulis.
'Kita akan bertemu lagi, ini hadiahku untukmu?' From C.
"Bukankah inisial C itu singkatan dari Carol? Kenapa dia masih menyimpan bukunya?" Lexia mengambil beberapa buku di lemari dan semua masih buku pemberian si inisial C.
"Apa dia masih mencintai wanita itu?" Lexia yang emosinya naik turun membongkar isi lemari Daren dan menurunkan semua buku-buku yang tertata rapi di lemari itu, dia kemudian pergi dari ruangan kerja daren dan naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya kemudian berbaring di ranjang. Air matanya jatuh begitu saja, dia merasa begitu emosi, mengapa dia masih menyimpan buku pemberiannya?
Daren yang selesai memasak membuka pintu kerja ruangannya mencari lexia, tetapi dia tidak ada di sana, kemudian dia melihat buku-buku yang di bongkar dari lemari kacanya. Daren berjalan dan mengambil salah satu buku kemudian meletakkannya kembali.
Daren naik ke lantai 2 mencari lexia, dia membuka pintu kamar dan melihat lexia berbaring di sana, tubuhnya sedikit bergoyang karena menangis.
Daren menarik napasnya lalu menghembuskannya, dia lalu duduk di tepi tempat tidur lalu mengusap kepala lexia.
"Kenapa kau marah lexia?" Tanyanya. Lexia menatapnya dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya.
"Kau masih mencintainya, kau masih mencintai Carol !" Ucap lexia. Daren kemudian tersenyum lalu mengelus rambutnya, kemudian memberikan kecupan di bibirnya. Lexia mendorongnya agar dia tidak menyentuhnya.
"Buku itu bukan pemberian carol, buku-buku itu pemberian temanku sewaktu masih kuliah dulu, namanya Colin Harold." Lexia kemudian mengangkat kepalanya.
"Siapa Colin Harold?" Tanyanya, matanya merah dan sembab.
"Kami kuliah di tempat yang sama, dia berasal dari British, kalau dia kembali ke negaranya kami saling bertukar buku, aku pun memberikannya buku dan menuliskan inisial namaku." Lexia menelan ludahnya, karena kecemburuannya dia sudah mengacak-acak lemarinya dan menghamburkannya di lantai.
"Aku...aku pikir buku itu pemberian carol." Ucap lexia, pipinya kini merona karena malu. Daren tertawa dan memeluk lexia kemudian memberikan kecupan singkat padanya.
"Carol? Kenapa kau pikir Carol yang memberikanku buku? Kau kan sudah melihat dirinya seperti apa? Buku adalah kata terakhir di dalam otaknya." Ucap Daren.
"Kau sepertinya tahu benar apa yang di sukai dan tidak disukai oleh Carol, kalian kan sudah cukup lama bersama, dan kalian pernah tunangan." Ucap lexia.
Daren mengambil napas dan mencoba bersabar. Bahkan sekarang ini Daren begitu malas membahas tentang Carol, tetapi dia mencoba menjelaskan kepada istri pencemburunya ini.
"Aku sudah pernah bilang lexia, aku sudah melupakan masa laluku bersama siapa saja dan itu semua tidak penting bagiku, sekarang ini kau yang terpenting dan bayi kita." Ucap Daren terdengar tegas, hingga lexia menciut.
"Jadi, siapa yang akan membereskan buku-buku yang berserakan di bawah?" Ucap Daren menarik lexia agar duduk dihadapannya. Lexia menghindari tatapan mata Daren.
"Emm mungkin Daren, atau evan." Ucap lexia mengangkat bahunya Tidak mau pusing dengan buku-buku Daren yang berantakan. Daren memberikan kecupan cukup lama di bibirnya sampai-sampai lexia menggapai-gapai udara agar dia dapat bernapas. "Itu hukuman untukmu."
"Mana makanannya Daren? Bawa kemari aku lapar !" Titah lexia. Daren memicingkan matanya menatap lexia dengan sengaja lalu mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Tidak ada makanan, kali ini kau harus menerima hukumanmu lexia." Malam itu Daren membawa lexia larut ke dalam gairahnya akan tetapi Daren membiarkan lexia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya."
~
Mansion milik tuan caesaar terlihat sibuk karena kali ini tuan caesaar ingin lexia agar beberapa hari ini dia menginap di mansionnya, semenjak dia tahu bahwa lexia putrinya, lexia belum pernah bermalam di sana dan bercengkrama bersama ayahnya dan itu membuatnya sedih.
"Teleponlah daren, Xaphier katakan kepadanya untuk membawa putriku besok, dan aku ingin dia menginap di sini." Ucap tuan Caesar.
__ADS_1
"Baik ayah, Sebentar lagi aku akan menghubungi Daren."
Xaphier segera menelepon Daren dan memberitahu agar mereka datang dan menginap di mansionnya karena ayahnya sangat merindukan lexia.
"Kami akan berangkat ke sana sore ini." Ucap Daren ketika menerima teleponnya.
~
pagi itu lexia bangun dengan pandangan mata yang masih berat, dia duduk di tempat tidur lalu menatap sosok Daren yang tidur di sebelahnya, Lexia mengingat kegiatan panasnya semalam membuat lexia marah kepada Daren yang tidak memberikan apa yang diinginkannya, Daren mempermainkannya, malam itu lexia harus memohon kepada Daren agar dia bergerak hingga lexia mendapatkan pelepasannya, tetapi Daren berhenti di saat lexia menginginkannya.
Lexia memencet hidung mancung Daren dan mencubitnya kemudian dia berdiri dari tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi. Setelah kembali segar, lexia turun ke lantai bawah ingin membuatkan sarapan untuknya dan untuk Daren, tetapi semua hidangan sudah ada di atas meja, dan yang menyiapkan makanan itu adalah koki handal terkenal.
"Ck, padahal aku ingin membuatkan Daren sarapan, aku sudah bisa memasak berkat bibi Elma, erm.. bagaimana kabar mereka ya?" Lexia mengambil ponselnya dan menghubungi Nara.
"Ini aku lexia, bagaimana kabar kalian di sana?" Tanyanya. Lexia tertawa mendengarkan cerita Nara dan cerita mengenai anak-anak yang tinggal di rumah bibi Elma. Tidak terasa lexia begitu merindukan mereka semua.
"Berkunjunglah kemari Nara, bukankah kau ingin kuliah di salah satu kota besar di New York?" Tanyanya.
"Ok, lain kali hubungi aku jika kau ada di Oklahoma, berikan salam sayangku kepada semuanya." Setelah mendengar jawaban dari Nara, lexia menutup ponselnya. Daren baru saja turun dari lantai atas lalu bergabung dengan lexia, dia mengacuhkan Daren dan tetap makan sarapannya tanpa memandangnya.
Daren setengah tersenyum melihat sikap lexia kepadanya, dia berjalan dan menghampiri lexia, Daren menarik paksa wajah lexia dan memberikan kecupan selamat pagi.
Lexia mengerutkan bibirnya mendapatkan ciuman paksa dari Daren. Lexia melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Daren yang duduk di sana sambil menyilangkan kedua tangannya dan menatapnya.
"Kau marah sayang?" Tanyanya. Lexia hanya diam, tidak memperdulikannya, seperti tidak mendengarkan apapun lexia dengan acuh menyuap sepotong sandwich di mulutnya. Daren mulai sarapan tapi matanya masih terpaku kearah lexia. Dia menyimpan garpu dan pisaunya dan meninggalkan lexia dengan kemarahannya.
"Dia bahkan tidak berusaha membujukku?" Ucap lexia dengan bibir mulai menipis. Dia pun meninggalkan meja makan dan pergi ke perpustakaan kecil di villa itu dan mulai membaca bukunya. "Ck harusnya aku yang marah karena tingkahnya semalam, mengapa dia yang mengabaikanku?" Ucap lexia di sela-sela mengambil buku dan mencari cerita yang menarik.
Dia mulai fokus membaca dan duduk di salah satu sudut jendela kaca yang cukup besar. Lexia melihat mobil hitam Mercedes terparkir di pelataran villa, dan seorang wanita baru saja turun dari mobilnya.
"Bukankah itu Carol? Mengapa dia datang kemari?" Ucap lexia. Dia memperhatikan Carol berjalan dengan cepat, lexia melihat dari kejauhan Daren yang berjalan-jalan di dekat tepi pantai seorang diri, tetapi saat itu Carol mendatanginya. Lexia memperhatikan mereka berbicara cukup serius. 'sepertinya Carol menangis akan sesuatu, mungkin tentang kematian nency?' tetapi tiba-tiba saja Carol memeluk erat Daren dan menangis di pelukannya.
Lexia melihatnya dari kejauhan, Carol masih memeluknya dan Daren menepuk punggungnya beberapa kali. Kini carol melepaskan pelukannya kepada Daren, mereka terlihat berbincang-bincang bersama tidak lama kemudian carol memberikan kecupan singkat di pipi Daren lalu dia tersenyum dan pergi dari villa itu.
Lexia menyaksikan mereka berdua, tiba-tiba saja Daren mengalihkan matanya dan dapat melihat lexia dari kejauhan di lantai atas sedang membaca buku, lexia pura-pura tidak melihat adegan tadi dan serius melihat ke arah bukunya, sementara itu Daren menghembuskan napasnya dan segera masuk ke dalam villa.
"Wanita itu sengaja melakukannya, dia tahu aku sedang duduk di sini dan memberikan kecupan di pipi Daren." Ucap lexia sambil mendengus.
"ck..apa dia cinta pertamanya Daren? Dia berulang kali menolak nency tetapi aku tidak pernah melihat dia menolak Carol seperti sekarang ini, dia malah menepuk beberapa kali punggungnya karena dia menangis."
Pintu perpustakaan itu terbuka dan Daren masuk ke dalam perpustakaan menuju ke tempat lexia. Daren duduk di hadapan lexia, Suasana canggung tiba-tiba tercipta diantara keduanya, mereka yang biasanya mesra kini terasa ada jarak yang memisahkan. Lexia membentangkan jarak itu, dia sangat marah kepada Daren tetapi dia tidak mau berteriak-teriak seperti wanita pencemburu.
"Kau masih marah!" Tanyanya. Lexia tidak menatap wajahnya. "Tidak, aku sedang serius membaca sebaiknya kau pergi." Ucap lexia.
"Apa tadi kau melihat Carol datang?" Tanyanya lagi. Lexia tahu Daren sedang menahan emosinya karena sikap lexia kepadanya.
"Ya, aku melihatnya." Ucap lexia, matanya masih menatap buku yang dibacanya tanpa memandang wajah Daren yang mulai kesal.
"Apa kau akan seperti ini?" Ucap daren, mulai terlihat marah menatap lexia yang acuh kepadanya. Lexia Tiba-tiba berdiri tidak memperdulikan kata-kata daren. Tangannya di tahan oleh Daren agar tidak pergi dan memaksanya untuk duduk.
"Aku lelah, aku tidak bisa berlama-lama duduk !" Bentaknya kepada Daren. Lexia berjalan dan keluar dari perpustakaan dan meninggalkannya. Dia turun ke kamar belakang dan mengunci pintunya kemudian dia berbaring di sana.
Daren duduk seorang diri di perpustakaan ketika lexia telah meninggalkannya. Daren menghembuskan napasnya lalu kembali ke ruangan di kantornya. Dia begitu sibuk sampai-sampai dia lupa kalau hari sudah malam, biasanya lexia akan memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba tetapi karena dia sedang marah, Daren melewatkan makan siangnya.
Daren meregangkan otot tubuhnya setelah itu dia berdiri dan akan naik kelantai atas tetapi dia melihat makanan yang dibuat oleh koki itu belum tersentuh sama sekali.
"Apa Nyonya tidak makan malam?" Tanya daren kepada pelayan yang sedang membersihkan meja makan.
"Ini menu makan siang sir, Nyonya tidak datang ketika makan siang telah disiapkan." Ucap pelayan itu. Rahangnya terkatup rapat, Daren naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar tetapi lexia tidak ada di sana, kemudian Daren turun ke lantai 1dan segera menuju ke kamar belakang tempat biasanya lexia sembunyi.
Pintu itu terkunci. "Lexia ! Lexia buka pintunya, buka lexia !" Gedoran pintu dari Daren tidak membuat lexia bergerak untuk membukanya, sakit di perutnya sakit lagi dan terasa nyeri, dia tidak bisa bergerak untuk membuka pintu itu, tiba-tiba Darah keluar dari sela-sela dress yang di kenakan lexia dan perutnya terasa melilit.
Pintu itu terbuka karena dobrakan Daren, dia melihat lexia tidur terlentang dengan wajahnya yang pucat. Daren menghampirinya dan menepuk-nepuk pipinya.
"Lexia ! Sayang bangunlah, lexia !" Sekali lagi dia memanggil namanya tetapi lexia pingsan dan bibirnya memucat. Daren segera membopongnya lalu merasakan cairan di tangannya, dia begitu terkejut karena darah melekat di dress yang di kenakan lexia dan berbekas di seprei tempat tidur. Wajahnya sangat pucat, Daren berulang kali mengucapkan kalimat maaf kepada lexia yang sedang pingsan.
Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaan lexia. Setelah menunggu dengan cemas. Dokter kemudian berbicara kepada daren.
"Kandungan nyonya lexia baik-baik saja, darah yang keluar itu karena lecet dan luka saat kalian berhubungan intim, sebaiknya hindari aktivitas fisik yang membahayakan kandungannya, dan satu lagi jangan membuatnya stress atau berpikir terlalu berat itu akan mempengaruhi emosi sang ibu dan bayi yang dikandungnya, perutnya yang sakit karena nyonya belum makan apa-apa sejak siang, itu membuat kondisi ibu dan bayi menjadi lemah."
Setelah pemeriksaan selesai dan daren mendengarkan nasehat dari dokter, akhirnya dokter pun pergi, pelayan menghidangkan kembali makanan untuk lexia ketika dia bangun nanti. Daren memegang tangan lexia dan mendekatkan di wajahnya, wajah daren sama pucatnya seperti wajah lexia, dia duduk di sana menunggu lexia sadar kembali.
__ADS_1