
Jantungnya berpacu manakala mendengar ucapan kakeknya kali ini, meskipun mereka di bawa oleh kakeknya ke mansion agar Fairley mendapatkan perawatan dari dokter, tetapi kali ini ada sesuatu hal yang dikatakan oleh tuan Caesaar yang membuat jantung Ax berdetak kencang.
"Kakek akan memberikan dua pilihan untukmu Axton, pertama, kau bisa Ikut bersama ayahmu ke Italia di Milan dan belajar mengenai segala sesuatu tentang Holding Burchard Corporation dan Caesar Corporation, kau tidak perlu kembali ke desa Turtle itu lagi dan bekerja dengan susah payah di sana, namamu akan kembali seperti semula dan Fairley akan tinggal di mansion." Ucap tuan Caessar.
"Benarkah kakek?" Ucap Ax, tatapannya berbinar mendengar itu semua.
"Tetapi, selama dua tahun kau belajar di sana, kau tidak boleh membawa Fairley, dia akan berada di mansion bersama ibumu dan belajar bersamanya.
"Ap...apa? Kakek ?!" Ucap Ax protes menunjukkan ketidaksetujuannya.
Tuan Caesaar mengangkat tangannya menghentikan ucapan Ax yang ingin protes. Ax tidak menyangka kakeknya akan membuatnya memilih seperti ini, Dia bisa gila jika berpisah dengan Fairley selama dua tahun.
"Pilihan kedua, setelah Fairley sembuh dan mendapatkan perawatan medis yang sempurna, serta dia betul-betul sehat, dan baik-baik saja, kalian berdua bisa bersama, asalkan kalian kembali menerima tantangan kakek seperti semula tinggal di sana, bekerja mencari kehidupan kalian sendiri dari hasil jerih payahmu sendirian tanpa bantuan dariku maupun dari ayahmu, sampai batas waktu yang kakek tentukan, Oh ya, tentu saja aku menghitung Dazon yang sudah dua kali melanggar aturanku."
Mulut Ax ternganga lebar, mengapa kakeknya harus membuat peraturan seperti ini? Ax berdiri disana seolah dia patung yang tidak bergeming, tubuhnya kaku sempurna.
"Selagi Fairley di rawat, kau bisa memikirkan Keputusanmu, kakek akan menunggunya sampai Fairley sehat kembali." Ucap tuan Caesaar.
Ax keluar dari ruangan kakeknya, dia kemudian duduk di salah satu kursi di sana, dia sudah merasakan bagaimana sulitnya mencari kerja di desa itu, apalagi Fairley tiba-tiba saja sakit ketika tinggal di rumah itu. Ax memegang kepalanya, dia bingung memutuskan semuanya, dan dari semuanya, yang paling menyiksanya adalah harus berpisah dari Fairley.
~
Ax berjalan lunglai, dia seakan terhipnotis oleh sesuatu, dia membuka pintu kamarnya dan duduk di sana di samping tempat tidur Fairley.
Fairley merasakan sesuatu bergerak di sampingnya, akhirnya terbangun dan membuka kedua matanya. "Ax?" Ucapnya.
Dia memandang wajah Ax yang kelihatan murung, "Ada apa Ax?" Tanya Fairley. Dia kemudian duduk di tempat tidur dan mengikat rambutnya yang berantakan.
Ax tersenyum menenangkan. "Tidak ada apa-apa, jangan khawatir." Ucapnya, dia memegang kening Fairley dan memeriksa panas di keningnya.
"Katakan Ax, jangan coba menyembunyikan apapun dariku, aku pasti akan mengetahuinya." Ucap Fairley.
Ax Kemudian terdiam sebentar, lalu menatap Fairley. "Kali ini, Kakek memberikanku dua pilihan untuk kita berdua."
"Dua pilihan, apa itu Ax?"
"Pertama dia akan membiarkanku kembali ke mansion dan pergi ke Milan serta belajar mengenai segala sesuatu tentang perusahaan Caesaar dan perusahaan Burchard, dan mengembalikan semuanya padaku." Ucap Ax.
"Benarkah?? Itu bagus Ax." Ucap Fairley senang.
"Tetapi kakek memiliki syarat, aku akan berangkat ke Italia di Milan, dan kau akan berada di mansion bersama ibu dan itu selama 2 tahun."
"Benarkah?" Ucap Fairley terkejut.
"Dan pilihan yang kedua, kita akan kembali ke desa, sama seperti sebelumnya, tinggal di sana dan bekerja di sana sampai waktu yang di tentukan oleh kakek, dia memberikan waktu untukku berpikir." Ucap Ax menarik napas dalam-dalam, dia menyandarkan kepalanya di sofa dan bersedekap.
"Apa yang kau inginkan Ax?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja aku ingin bersamamu." Ucap Ax menatap Fairley yang terlihat tidak setuju dengan pilihan Ax.
~
Di ruangan kerja Xaphier yang luas, Dazon sedang duduk di hadapan ayahnya, Xaphier sedang menuntut penjelasan kepada Dazon tentang insiden yang dilakukan Dazon di balkon bersama seorang pelayan, tatapan penuh curiga di berikan Xaphier kepada putranya.
"Apa dad tidak mempercayaiku? Aku tidak sengaja berada di balkon bersama pelayan itu, dia sedang makan, jadi aku hanya mencari suara ribut-ribut yang kudengar di balkon."
"Kenapa kau ada di luar pada jam seperti itu Daz?" tanya Xaphier.
Dazon menyandarkan tubuhnya dan mengambil napas panjang. "Oke, aku akan jujur pada ayah, malam itu, aku ikut bersama thomas menjemput Ax di desa Turtle, aku...menyelinap dan masuk ke dalam pesawat, setelah menjemput Ax, aku kembali ke mansion dan melihat pintu balkon terbuka, dan aku melihat pelayan itu sedang makan, jadi aku tegur saja, karena dia ketakutan aku akan memecatnya, dia lalu memegang jaketku, itu saja dad." Ucap dazon.
Xaphier mengambil napas panjang, sambil memegang kepalanya. "Daz, jangan sampai ayah mengetahui tingkahmu ini, aku tidak bisa berbuat banyak jika kakekmu yang bertindak, kau mengerti?" Ucap Xaphier.
"Oke Dad." Dazon segera beranjak dari ruangan ayahnya dan segera kembali ke kamarnya.
"Tch, ini semua gara-gara gadis itu, haaa, nyaris saja." Ucap Dazon.
~
Pagi itu, pukul 07.10 semua orang masih belum keluar dari kamar mereka, tetapi Dazon pagi-pagi sekali sudah berolahraga di sekitar taman, beberapa pengawal sudah berdiri di posisi mereka masing-masing.
Dari arah belakang dapur, Dazon mendengarkan suara dua orang yang berbicara dengan cukup keras. Dazon menghentikan langkahnya dan melihat dua orang pelayan sedang menyudutkan gadis yang di temui Dazon semalam.
"Jadi, selama ini kau yang makan sembunyi-sembunyi? Kau tahu, roti yang kau makan itu milikku." Bentak salah seorang pelayan wanita kepada gadis itu.
"Hanya malam itu saja aku mengambil roti itu, tiba-tiba perutku sangat lapar, jadi aku memakannya." Ucap gadis itu.
"Kalau begitu kau tidak boleh makan siang ini, jatahmu nanti untukku, kau paham."
"Gadis bodoh itu, kenapa dia tidak melawan." Gumam dazon, dia menghentikan langkahnya, kemudian dia menelepon thomas dan segera menuju ke tempatnya berada.
Tidak lama menunggu, Thomas datang dan menghampiri Dazon yang sedang menunggunya. "Ada apa tuan?"
"Pecat kedua wanita itu." Dazon menunjuk dua orang wanita yang sedang bertolak pinggang dan sedang menyudutkan gadis tidak berdaya itu.
Tanpa menanyakan alasannya, Thomas segera mematuhi perintah Dazon.
"Baik tuan."
~
Fairley segera bangun dari tidurnya ketika merasakan tubuhnya sudah lebih baikan, dia duduk di tempat tidur dan menatap Ax yang masih berbaring di sampingnya, matanya tertuju pada jendela kaca yang terbentang di depannya, memperlihatkan pemandangan taman dari kamar tempat mereka berada.
Fairley kembali mengingat mengenai syarat yang diucapkan oleh tuan Caessar kepada Ax, sementara Ax terlihat bingung, Fairley mengingat kembali saat-saat mereka berada di desa turtle the Reaves, meskipun semua tampak sederhana dan apa adanya tetapi bersama dengan Ax, hari-hari Fairley begitu bahagia.
Meskipun begitu dia juga memikirkan kesulitan Ax dalam bekerja, dia harus berada di bawa sinar matahari terus menerus, dan hal itu membuat Fairley cukup sedih melihat tuan muda yang biasanya di layani, harus bekerja keras untuk mendapatkan beberapa dollar untuk hidup mereka di desa.
__ADS_1
Fairley mengambil napas panjang, dia memiringkan kepalanya lalu menyandarkan pada lututnya yang ditekuk, dia ingin agar Ax bahagia.
"Apa yang sedang kau pikirkan Fairley?" Ucap Ax, mengerjapkan matanya dan memiringkan tubuhnya ke samping.
Fairley tersenyum dan menghampiri Ax dan memberikan kecupan selamat pagi. "Em, aku memikirkan tentang kita." Ucapnya.
"Aku sudah mengambil keputusan Fairley, aku akan kembali ke desa itu dan kita bisa tinggal di sana bersama, meskipun sulit untuk kita, tetapi kurasa aku akan baik-baik saja selama kau ada di sampingku." Ucap Ax menarik Fairley dan memeluknya erat.
Fairley menggeleng, "Ax? Apa sebaiknya kau mengikuti ayahmu saja ke Milan? Aku..aku akan menunggumu selama kau berada di sana."
Ax menarik Fairley dan menatapnya lekat-lekat. "Kau tidak ingin bersamaku?" Tanyanya protes.
"Tentu saja aku sangat ingin bersamamu, tapi, aku tidak mau membuatmu menderita karena aku," ucap Fairley.
"Kau tahu yang lebih membuatku menderita?" Tanya Ax.
Fairley menarik tangan Ax yang sedang memeluknya erat. "Jika kau tidak bersamaku," ucap Ax.
~
Dazon berada di meja sedang sarapan seorang diri, suara-suara kembali terdengar dari jendela kaca di sebelah meja makan, suara tawa yang membuat Dazon melirik dan melihat gadis itu sedang menyiram tanaman sambil tertawa bersama seorang bibi yang berada di sampingnya.
Dazon memperhatikannya, gadis itu tertawa lepas setelah mengatakan sesuatu kepada wanita itu.
"Apa yang mereka bicarakan sampai-sampai dia tertawa seperti itu? Gadis pengunyah itu harusnya berterima kasih kepadaku, dia tidak akan lagi dipojokkan oleh mereka." Gumam Dazon, memperhatikan senyum manis yang terpancar dari wajahnya.
"Cukup manis, tapi tentu saja dia bukan apa-apa bagiku, aku hanya menolongnya karena rasa kemanusiaanku bergerak." Gumamnya lagi.
"Jadi, seperti itu tipemu ya?" Suara itu mengagetkan Dazon, dia berdecak ketika melihat Ax sedang menarik kursi di sampingnya.
"Apa yang kau katakan, mana mungkin gadis itu tipeku, lagi pula dia itu seorang pelayan." Ucap Dazon mendengus ke arah Ax.
"Ck, benarkah? Tapi kenapa kau menatapnya dengan pandangan lembut seperti itu? Kau menyukainya?" goda Ax, dia sedang mengambil sandwich dan segera melahapnya.
"Kau bercanda? Aku menatapnya karena kasihan saja." Ucap Dazon sambil mendelik ke arah Ax, dia kemudian mengecilkan suaranya ketika melihat kakeknya dan semua orang akhirnya keluar dari ruangan mereka masing-masing.
"Morning kakek, dad, mom." Ucap Dazon.
"Selamat pagi kakek, bibi, paman." Ucap Ax.
Mereka semua duduk di meja makan. "Dimana lexia dan Daren?" Tanya tuan Caesaar kepada mereka semua.
"Mereka berdua masih sibuk di kamar, mereka tidak pernah sarapan pada jam seperti ini." Ucap Xaphier, Nara menegurnya dan mencubit perut suaminya, Xaphier tertawa dan memberikan senyum aneh kepada Nara, sementara itu, Dazon yang melihat kedua orang tuanya, menggeleng lalu memutar matanya.
"Kita sarapan saja dulu." Ucap tuan Caesaar.
"Bagaimana keadaan Fairley, Axton?" Tanyanya.
__ADS_1
"Dia sekarang sudah lebih baikan kek, Sebentar lagi dia akan turun untuk sarapan." Ucap Ax, tidak lama kemudian, Fairley bergabung dengan mereka dan duduk di samping Ax dan sarapan bersama.
Pelayan itu membuat Dazon membelalakkan matanya ketika dia datang membawa nampan berisi beberapa piring sandwich, dia berjalan perlahan dan meletakkan sandwichnya di atas meja di depannya, Dazon meliriknya, dan menatapnya hingga gadis itu pergi menjauh, tatapannya jatuh kepada Ax, dia menatap Dazon dengan seringai, membuat Dazon mendengus kepadanya dan mengalihkan pandangannya.