
~perusahaan R.Holding Burchard, 08.54
Pagi itu Daren telah tiba di pelataran parkir di perusahaannya bersama Evan, mereka berjalan diikuti beberapa pengawal-pengawal yang selalu menemani kemanapun Daren pergi.
Dia berjalan di lobi perusahaan, sementara orang-orang yang menemui mereka di sana berbalik dan menatap bos mereka yang akhir-akhir ini begitu jarang masuk ke kantor dan hanya bekerja dari rumahnya.
Mereka semua berbalik dan menatap kedatangannya dengan senyum merekah di wajahnya ketika mereka menemui bos mereka yang sudah lama tidak datang ke perusahaan, hanya Evan saja yang mengerjakan semuanya atas perintah Daren.
"Tuan Burchard?" Panggilnya.
Daren Mendengar suara itu dan berbalik melihat wanita yang memanggilnya. Dia menatap pria-pria berpakaian hitam kemudian matanya beralih kepada seorang wanita tua yang berjalan dengan percaya diri diantara pengawal-pengawal yang berdiri di antara mereka.
Daren menatap wanita tua yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum percaya diri. "Selamat pagi tuan Burchard, kita bertemu lagi." senyum merekah di wajahnya, dia mengenakan blus merah menyala dengan pencil skirt berwarna senada dengan blusnya.
Daren memandangnya dengan seringai di wajahnya tatapan aneh heran bahkan jijik berpadu menjadi satu, Daren sedikit terkejut melihat wanita ini ada di perusahaannya tetapi Daren segera menguasai dirinya, dia hanya menatapnya tanpa mengucapkan apapun, jeda yang cukup lama membuat Melda terlihat canggung karena Daren tidak membalas sapaannya.
"Apa yang anda lakukan di sini nyonya?" Tanyanya.
Dia tersenyum, nampak wajahnya dibuat semenarik mungkin dengan polesan makeup tebal agar menutupi garis kerutan di sekitar lehernya. "Sopan sekali tuan Burchard, aku datang sendiri ke sini sebagai bagian dari kerja sama perusahaanmu dan perusahaanku, bukankah sekretarismu itu sudah mengkonfirmasi meeting kita berdua?" Ucapnya.
Daren Berbalik menatap Evan. "Janji meeting yang kau maksudkan dengan perusahaan wanita ini?" Ucap Daren tidak percaya.
'Wanita ini?' hmph..menarik daren.'
"Daren !" Teriakan itu membuat Daren memandang ke asal suara yang memanggil namanya. Carol dan suaminya baru saja masuk ke dalam lobi. Carol tersenyum sumringah melihat kehadiran Daren.
"Apa kabar daren, sudah lama kita tidak bertemu, aku dengar istrimu baru saja melahirkan, selamat buatmu kau sudah menjadi seorang ayah." Ucap Carol, tiba-tiba matanya beralih kepada seorang wanita yang berdiri di hadapan daren.
Carol mengerling Daren dan memberikan isyarat kepada Daren mengenai wanita yang berdiri di hadapannya. "Kau mengenal wanita itu?" Ucap Carol dengan senyum manis sambil bergelayut manja di lengan suaminya yang berdiri di sampingnya. Carol memutar matanya dan sedikit mengerling Melda, dia kemudian sadar wanita yang berdiri dihadapan Daren itu adalah salah satu pemilik perusahaan besar di Manhattan, Tetapi sayangnya wanita tua itu terkenal dengan sifatnya yang menyukai pria muda jika dia menyukainya dia tidak akan melepaskannya.
"Daren, sebaiknya kau pergi, wanita itu mengerikan, percaya padaku, sudah banyak lelaki muda yang menjadi korbannya, pergi darinya jangan berurusan dengannya atau dia tidak akan melepasmu." Bisik Carol.
"Aku pergi daren, katakan kepada istrimu kapan-kapan kita akan berjumpa lagi."
Dia kemudian berjalan bersama suaminya sambil melirik kembali ke arah Melda yang menyipitkan matanya melihat keakraban Daren dengannya.
"Bagaimana? Kita lanjutkan pembicaraan kita, kau pastilah profesional dalam bekerja tuan Burchard, kau tidak akan mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan pribadi bukan? Aku bekerja dengan profesional daren." Senyumnya merekah.
Daren betul-betul tidak mau berurusan dengan wanita mengerikan ini, tanpa menatapnya daren berbalik memanggil Evan. "Kau urus semuanya jika perlu batalkan kerja sama kita dengan perusahaan mereka, kau mengerti." Ucapnya tanpa ragu-ragu, Daren terkenal mengerikan jika dia tidak menyukai sesuatu dia akan memutuskan semuanya secara sepihak dan tidak memperdulikan yang lainnya, asalkan dia puas dan tidak menyusahkan dirinya. Daren pergi begitu saja tidak memperdulikan dengan keberadaan Melda yang masih berdiri di sana.
Wajahnya merah padam, sudah kedua kalinya dia di permalukan apalagi di depan pengawal-pengawalnya dan di depan umum. Melda begitu geram tangannya terkepal kuat, dia masih bersikap tenang dan berjalan perlahan menuju pintu keluar diikuti oleh orang-orangnya.
~
Oklahoma, Tulas 09.00
Perusahaan itu selalu menjadi berita media ternama di Oklahoma city, di berbagai perusahaan terbesar di Oklahoma, berada di pusat kota Oklahoma city dengan bangunan tinggi menjulang menjadi pemandangan spektakuler bagi siapa saja yang melihatnya. Hari itu Nara yang sudah mengemas segala perlengkapannya dari rumah segera berangkat ke perusahaan dengan tas besar di tangannya.
Tepat pukul 09.00 Nara sudah ada di sana dengan peluh di wajahnya. Dia meletakkan tas besarnya di ujung meja kerjanya sambil mengetuk beberapa kali di pintu itu.
__ADS_1
"Masuk."
Nara membuka pintu itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan Xaphier yang sudah ada di sana mengerlingnya ketika dia sedang bekerja.
"Duduk." Ucapnya.
Nara menarik kursi yang ada di hadapan Xaphier dan duduk di sana, Xaphier masih sibuk dengan pekerjaannya, sesudah menandatangani kertas yang tergeletak di atas meja, dia kemudian mendongakkan kepalanya melihat Nara yang duduk diam.
Xaphier melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Bagus Miss Nara kau datang tepat waktu, kau sudah membawa barang-barang yang kau butuhkan?" Tanyanya.
"Ya sir."
Dia mentautkan jemarinya, menatap mangsanya yang terlihat lelah sejak kedatangannya ke kantor ini, peluh membasahi keningnya, terlihat wajah pucat cantiknya tampak merona karena sengatan sinar matahari di luar sana, bibir merahnya yang nampak Natural membangkitkan sisi liar dikepala Xaphier.
Dia tersenyum, dan seperti mendamba bibir itu berada di mulutnya, masih berlama-lama menatap bibir merekah Nara.
"Baiklah Nara, kau akan di bawa oleh jedan ke tempat yang akan kau tinggali selama kau menjadi sekretaris pribadiku. Dia akan memberikan jadwalku sehari-hari dan kau harus melakukannya dengan baik, kau boleh pergi." Ucapnya.
Nara sedikit menunduk dan segera keluar dari kantor Xaphier, seorang pria dengan mengenakan suit berwarna hitam sudah menunggu di sana. "Ikut saya nona." Matanya menunduk, Nara tidak yakin dengan pandangan matanya ketika melihatnya, sepertinya ini hal biasa yang selalu di lakukannya.
Nara membawa tas besarnya kemudian mengikuti pria yang berjalan cepat di depannya, mereka berdua masuk ke dalam Elevator, setelah sampai di lantai bawah, pria bernama Jaden itu membawanya ke satu mobil Limousine berwarna hitam dan menyuruhnya masuk.
Dengan ragu Nara masuk ke mobil itu, perasaaan takut bergelayut di tubuh Nara, matanya melirik ke arah supir dan ingin berbincang dengannya agar rasa gundahnya dapat hilang, tetapi sepertinya itu hal yang mustahil karena wajahnya yang kaku dan terbiasa menghadap ke depan begitu dingin, seakan Nara seorang diri di dalam mobil itu.
Setelah 20 menit perjalanan mereka memasuki pelataran parkiran, dengan ragu Nara membuka mobil itu kemudian melihat sebuah tempat menjulang tinggi.
~
Lexia berada di dalam kamarnya bersama Ax putra kecilnya yang tampan, terdengar deru mesin mobil yang terparkir di pelataran villa, lexia menatap jam yang ada di atas meja.
"Jam berapa ini Axton? Ayahmu sudah kembali?" Ucap lexia berbicara dengan Ax yang sudah kenyang dan bermain-main dengan ibunya karena dia tidak ngantuk.
Pintu kamarnya terbuka, nampak wajah Daren terlihat marah, rahangnya mengencang serta giginya yang terlihat menggertak. "Ada apa daren? sesuatu terjadi?" tanyanya.
Daren melepaskan jasnya dan melepaskan dasi dan melemparkannya di atas kursi begitu saja. Dia duduk di samping lexia dan menyerang bibir lexia hingga dia jatuh terbaring di atas tempat tidur, berlama-lama di bibirnya mencecapnya dan berlama-lama di sana, setelah beberapa menit dia melepaskan ciumannya dan menatap lexia yang ada di bawahnya.
Napas lexia pendek-pendek karena kurangnya asupan oksigen. "Ada apa daren, kau kenapa?" tanyanya.
Daren kembali membaringkan tubuhnya di samping lexia. "Kau tahu wanita itu ada di kantorku, dia ingin mengadakan kerja sama dengan perusahaanku, Evan mengkonfirmasi begitu saja karena perusahaan mereka terkenal di Manhattan."
"Wanita itu? maksudmu si nenek sihir? ucap lexia dengan ternganga, dia tidak menyangka wanita itu akan datang ke perusahaan Daren.
"Dia wanita sialan, nenek tua itu berani sekali." ucap lexia. "Apa yang dikatakan wanita tua genit itu padamu." tanyanya.
"Aku mengabaikannya, dan memutuskan kerja sama perusahaan begitu saja, aku tidak mau berurusan dengannya, melihatnya ada di sana saja membuatku merinding, apalagi jika aku melihatnya setiap hari, membuatku ngeri jika membayangkannya." ucap Daren mengambil napas panjang.
"Aku akan bicara dengan ayah, wanita tua itu tidak tahu diri." geram lexia.
"Sudahlah sayang, kita jangan membicarakannya lagi, membuatku muak." Daren kemudian bangun dari tidurnya menatap bayinya yang baru saja bangun, lalu bermain-main dengan Ax. Sejak saat itu lexia selalu memikirkan cara untuk menghadapi wanita tua yang selalu ingin ikut campur dengan keluarganya.
__ADS_1
~
Suara ketukan high heel terdengar di koridor panjang di mansion Caesaar, perlahan wanita itu mengetuk ruangan tuan Caesaar, tetapi dia langsung saja masuk ke dalam tanpa menunggu tanda untuk masuk, Senyumnya merekah melihat tuan caesaar dan Xaphier sedang duduk di sana, seketika tuan caesaar memukul meja kerjanya dan menatap Melda yang masih tersenyum dengan genitnya kepada mereka.
"Akhir-akhir ini sikapmu semakin tidak sopan Melda, kenapa kau masih belum kembali ke Perancis? Apa lagi yang membuatmu tertarik berada di negara ini, bukankah kenangan terburukmu beberapa kali terjadi di negara ini." ucap tuan Caesaar menatapnya dengan tajam.
Dia tertawa hingga giginya yang putih dapat terlihat. "Aku menemukan sesuatu yang menarik paman, kau tidak akan mengerti." ucapnya, dia duduk begitu saja dengan sudut bibirnya terangkat ketika duduk di samping Xaphier.
"Hal yang menarik yang Melda maksudkan karena akhir-akhir ini dia suka ikut campur di keluarga lexia, dia bahkan mendatangi rumahnya dan ingin memberikan contoh cara merawat bayi, aku heran dengan tingkahku Melda bagaimana kau akan memberikan nasehat kepadanya sedangkan kau sama sekali tidak memiliki anak." ucap Xaphier dengan tajam.
Wajah Melda berubah merah padam, dia sedikit menunduk untuk mengatur amarah ketika mendengar ucapan sinis Xaphier. "Te..tentu aku tahu Xaphier, meskipun aku tidak memiliki seorang anak, tapi sebagai wanita aku tahu dasar-dasar mengasuh bayi, kau tahu sendirikan sebelum paman menemukan Celia dia hidup cukup lama di tempat sampah, dia kasar dan tidak tidak bisa di atur dan....
Pukulan di meja mengagetkan Melda, dia terlonjak dengan suara cukup besar dari Xaphier, dia menahan keterkejutannya matanya kembali menatap Xaphier tanpa rasa takut sedikitpun.
"Sekali lagi kau bilang sampah, aku akan menutup mulutmu itu." bentak Xaphier. Melda tersenyum, seringai menghiasi wajahnya.
"Ahh, maafkan aku berkata-kata seperti itu terhadap adikmu Xaphier, meskipun begitu kau harusnya sadar jika lexia itu butuh sekolah, dia tidak terarah, dia perlu di disiplinkan." ucapnya sambil memperlihatkan wajah prihatin seakan melukai hatinya.
"Kau tidak perlu mengurus rumah tangga putriku melda, aku tahu apa yang kau inginkan dengan melihat sikapmu, jangan pernah mengganggu rumah tangga lexia, kau harus ingat kau itu sudah tua, bahkan Sebastian belum tentu mau bersama denganmu, perhatikan usiamu."
Ucapan tuan Caesaar seakan menohok langsung jantung Melda, tangannya terkepal kuat-kuat, dia tidak mau memperlihatkan sikapnya yang lemah dan gemetar.
"Apa yang kumau akan kudapatkan paman, apapun itu." ucap Melda dengan menatap tuan caesaar menantang.
Xaphier tertawa keras, kemudian memainkan ponselnya di tangannya. "Apa gairahmu belum padam juga? sekarang kau mengincar suami lexia, kau betul-betul sakit Melda, sebaiknya kau menghubungi dokter pribadimu." ucap Xaphier.
Melda berdiri, menatap geram Xaphier, dia betul-betul menghinanya. "Jangan terlalu sombong Xaphier, darahmu dan darah Celia belum tentu sama, perhatikan Ucapanmu." Gerakan meja dari tuan Caessar membuat Melda menatap pamannya.
"Hati-hati dengan yang kau ucapkan, kau tidak tahu diri." Tuan caesaar berdiri sambil menunjuknya dengan tingkat di tangannya. Wajah Daren masih tenang tanpa ada kekhawatiran ataupun terkejut dengan ucapan Melda.
Xaphier berdiri, tatapannya yang tajam sungguh mengerikan, dia berdiri di depan Melda dengan seringai kejamnya. Tamparan itu cukup keras di pipi Melda, Xaphier yang terkenal kejam dan tidak memandang siapapun jika dia berurusan dengannya, maka dia harus menerima hukuman darinya.
Wajah tua Melda memerah karena tamparan Xaphier. Dia melangkah beberapa langkah dan sungguh begitu dekat dengan Melda, dia tersenyum tipis kepada Melda.
"Sepertinya kau sama sekali tidak mengenali sifatku Melda, jika kau berani berucap seperti itu berarti kau harus menerima resiko yamg akan kuberikan, dan satu lagi berhenti mengganggu kehidupan adikku, jika tidak kau akan mendapatkan suprise dariku kau paham." ucap Xaphier sambil menjepit rahang Melda yang menatap Xaphier seakan ingin membunuhnya saat itu juga.
"Kau ! kalian akan mendapatkan pembalasanku." Melda berjalan lalu berbalik dan segera keluar dari ruangan tuan Caesaar.
Tuan caesaar menghembuskan napasnya. "Xaphier? ayah ingin bicara denganmu." ucapnya. Xaphier hanya tertawa kecil membuat tuan Caesaar heran menatapnya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tadi lexia meneleponku, dia meminta menitip sesuatu kepadaku." ucap Xaphier.
"menitip? menitip apa ?"
"Lexia menitipkan satu tamparan di pipi Melda." ucapnya. Wajah tuan Caesaar melongo, sedangkan Xaphier tertawa.
"Kalian ! hati-hati dengan Melda, dia pasti merencanakan sesuatu lagi." ucap tuan caesaar khawatir.
__ADS_1