
Perjalanannya dari Milan membuat tuan Robert merasa lelah, dia segera kembali ke Manhattan ketika mendengar informasi aneh mengenai lovelia. Ketika tiba di mansionnya meskipun lelah, tuan Robert mengumpulkan semua informasi dari orang-orangnya pada saat itu juga. Salah satu orangnya mengatakan lovelia sedang melakukan pengobatan di UK tepatnya di kota London, dan menurut mereka, proses penyembuhan lovelia berlangsung begitu lama, dan dia sudah sakit-sakitan sejak kecil hingga dia tidak bisa keluar dari rumah selangkahpun.
"Apa maksudmu dia tidak bisa keluar selangkahpun, aku menemuinya ketika pertama kali tiba di Manhattan dan dia kelihatan baik-baik saja." Dia melepaskan syalnya lalu duduk di kursi kerjanya menatap orang-orangnya dengan sorot mata yang membunuh.
"Selidiki kembali, dan dapatkan informasi seakurat mungkin, aku ingin mendengarkan detailnya, jika saja Keluarga Burchard menyembunyikan sesuatu mengenai cucuku, mereka harus merasakan akibatnya." Ucap tuan Robert dingin.
Suara langkah kaki itu melangkah pelan lalu berhenti di depan pintu ruangan tuan Robert, dia mendengarkan semua percakapan ayahnya.
"Sial ! Ayah sudah mengetahuinya, lexia harus segera pergi dari keluarga Burchard sebelum ayah menangkapnya." Gumam Alvin lalu kembali ke kamarnya dengan terburu-buru.
~
Beberapa hari telah berlalu sejak pertengkaran Barbara dengan lexia dan pertengkaran itu semakin memanas, lexia selalu membalas nyonya Barbara ketika dia melakukan sesuatu hal yang membuat lexia jengkel, dia akan mengerjai nyonya Barbara dengan sesuatu yang konyol hingga membuat lexia tertawa tetapi tentu saja dia tertawa dengan sembunyi-sembunyi.
Misalnya seperti hari ini, semua pelayan sedang sibuk menyiapkan makan siang dan menghidangkan berbagai makanan di atas meja, pemilik di rumah ini akan keluar ketika kepala pelayan mengetuk kamar mereka dan mempersilahkan mereka untuk ke meja makan.
Lexia keluar dari kamarnya, beberapa hari yang lalu dia sempat ke taman dan menemukan kecoa, dia mengambilnya dan menyimpan kecoa itu, setelah keluar dari kamar, dengan terburu-buru lexia masuk ke dalam lift dan menekan angka 1 hingga lexia sampai keruang makan.
Tidak ada seorangpun yang ada di ruang makan itu tetapi sebagian makanan sudah tersaji di atas meja, lexia kemudian menaruh kecoa itu di atas sup nyonya Barbara, tetapi sialnya seseorang keluar dari dapur pada saat lexia menaruh kecoa itu di dalam sup.
Ov menatap lexia, dia tidak bergerak dan juga tidak bersuara, dia melakukan tugasnya seakan-akan apa yang dilakukan lexia tidak pernah terlihat olehnya. Dengan berlari-lari kecil Lexia kemudian masuk ke dalam lift dan naik ke lantai lima sambil terkikik senang.
"Ugh, aku tidak menyangka kehadiran nenek tua itu dapat menghilangkan rasa bosanku, ukh jantungku berdebar keras, aku pikir aku sudah ketahuan, untung saja Ov yang keluar."
__ADS_1
Lift itu membuka dan daren berdiri di sana, mereka saling menatap, daren menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jika Barbara melihatmu berkeliaran dia akan mengunci pintu kamarmu, kau dari mana saja?"
"Dari taman, aku sedang bosan jadi aku sedikit berjalan-jalan di taman." Ucap lexia tanpa memandang wajah daren.
Daren menarik tangan lexia dan segera menuju ke ruangannya. "Kita makan bersama saja di ruanganku, aku tahu, kau pasti berbuat sesuatu kepada Barbara, lebih baik aku tidak ada di sana dari pada mendengarkan omelannya terhadapmu."
"Duduklah, pelayan akan membawa makan siang kita sebentar lagi." Ucap Daren yang memainkan ponselnya tetapi matanya masih memandang lexia yang sedang mengambil beberapa buku dari rak buku yang ada di sampingnya.
Mata Daren menjelajah ke bibir ranum lexia yang sedang komat Kamit ketika membaca buku yang dipegangnya.
"Ck, aku heran kau tertarik dengan buku sejarah lexia." Ucap daren menghampiri lexia dan mengambil buku yang dibacanya.
"Bagus, kau memang harus belajar dengan sungguh-sungguh dan serius dengan pelajaranmu lexia."
Lexia hanya mengangkat bahunya, dia kemudian menyimpan kembali buku itu diraknya dan kembali duduk di sofa.
"Jika aku tidak mengerjakan tugas Mr. Anville, dia berjanji akan menambah jam pelajarannya dan itu tentu saja akan membunuhku." Ucapnya.
Daren tiba-tiba duduk di sebelah lexia, mengarahkan pandangannya kepada bibir lexia.
"Apa? Mengapa kau duduk di sini? Jangan berani-berani kau melakukan sesuatu kepadaku atau....
__ADS_1
Ucapan lexia terputus karena Daren Sudah menyerang bibir lexia hingga tubuhnya terbaring di sofa dan merasakan kerasnya bibir Daren yang menekannya. Ciuman intens Daren membuat lexia kesulitan mengatur napasnya yang pendek.
Semakin lexia berontak semakin gencar ciuman daren kepadanya, hingga sebuah ketukan menyadarkan Daren dan begitu saja ia melepaskan lexia dari cengkraman tangan dan bibirnya, dia segera menarik lexia agar dia kembali dengan posisi duduk.
Napas lexia masih memburu dan rambutnya sudah berantakan dalam sekejap saja, sumpah serapah di gumamkan lexia. Para pelayan Sudah menyajikan makanannya di atas meja lalu mereka akhirnya meninggalkan daren dan lexia.
Senyuman terbentuk dari bibir daren, dia beranjak dari kursinya karena sejak tadi dia mendengar umpatan lexia kepadanya.
"Berhenti bergumam lexia aku bisa mendengar semuanya, Kau ingin makan sekarang atau aku akan melanjutkan ciumanku yang tadi kepadamu." Ucap daren sambil mendekati lexia yang sudah tersudut di ujung kursi.
Tarikan keras Daren pada tangan lexia membuat lexia terangkat begitu saja, hingga dia duduk di atas pangkuannya, senyuman terukir di wajah daren, seakan mangsanya sudah berada di cengkeramannya.
"Lepaskan aku, kau memang pria brengsek daren, apa dipikiranmu hanya itu saja, kau memang mesum." ucap lexia sambil mendorong keras dada Daren yang bidang. Pelukan daren semakin erat di tubuh lexia.
Ucapan lexia terhenti manakala bibirnya sudah di lahap oleh Daren, jantung lexia seakan ingin melompat, tubuhnya tiba-tiba memanas dan merasakan sesuatu menjalari aliran darahnya, ciuman daren semakin menuntut hingga lexia tidak bisa lagi merasakan bengkak di bibirnya.
Suara erangan kecil lexia membuat daren semakin bergetar dan menciumnya semakin dalam, setelah beberapa lama, Daren melepaskan lexia, mereka saling menatap. Daren menempelkan keningnya kepada Lexia, mencoba menenangkan napasnya, terlihat dengan jelas keinginan Daren ingin memiliki Lexia begitu kuat tetapi ditahannya dalam-dalam.
"kau.milikku.lexia. ingat itu." Bisikan Daren membuat lexia merinding, tanpa melanjutkan makan siangnya, lexia segera berlari dan keluar dari kamar Daren dan kemudian masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.
"Dasar penjahat....", Napasnya tidak beraturan, dia memegang jantungnya yang berdetak kencang, lalu memegang bibirnya yang terasa sakit.
"Mengapa...?
__ADS_1
"Mengapa tubuhku tidak menolak sentuhannya? Sial, bahkan tubuhku pun mengkhianatiku." ucap lexia.