The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 75


__ADS_3

Langkah kaki itu berada di ruang khusus pengawal, tempat memonitor seluruh titik lokasi di mansion, dan semua sistem keberadaan cctv di mansion itu, loue duduk di sana mengulang-ulang kembali kejadian yang menimpa pria hidung belang yang mencoba mengganggu pelayan wanita itu, dia bekerja hingga larut malam seperti ini, dan menunggu giliran shift berikutnya.


Dia memperhatikan dengan seksama, dan akhirnya matanya terfokus pada seorang anak kecil yang berlarian ketika melewati mereka, dia tertawa dan memperlihatkan pisau di tangannya kepada pria itu. Loue kembali mengulang kejadian tadi siang dan melihat dengan jelas apa yang terjadi, matanya membulat sempurna, dia terkejut.


"Tuan darko?" ucapnya.


loue kemudian menyimpan hasil rekaman cctv, lalu segera beranjak dari sana, dia begitu terkejut ketika hendak berbalik dan melihat nyonya lexia sudah berada di belakangnya.


"Selamat malam nyonya, ada yang bisa saya bantu, kenapa malam-malam begini nyonya ada di sini?" Tanya loue.


"Berikan hasil rekaman itu kepadaku, setelah itu kau harus menghapusnya, jangan biarkan ada yang tahu soal kejadian tadi siang."


Wajah loue begitu heran, dia menampakkan wajah penuh tanya kepada lexia dan sempat terkejut dengan permintaannya.


"Kau tidak perlu tahu kenapa aku memintanya, kau hanya harus berikan kepadaku." Perintah lexia.


"Berikan." Tegas lexia.


Loue segera mengambil file video itu dan memberikannya kepada lexia dalam bentuk USB, lexia lalu mengambil dan menyimpannya.


"Apa kau sudah menghapusnya." Tanya lexia.


"Ya, nyonya."


Lexia menatap loue dengan tajam. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, jangan sampai ada yang tahu kejadian tadi siang, siapapun itu, kau mengerti." Ucap lexia.


"Baik nyonya." Ucap loue menunduk kepada lexia.


"Aku ingin kau mengerjakan satu hal padaku loue, awasi anak itu, perhatikan apa yang di lakukannya selama dia bermain-main, jika sesuatu terjadi, segera laporkan kepadaku, jangan sampai ada yang tahu mengenai ini."


"Baik nyonya, saya akan melaksanakannya." Ucapnya.


"Bagus." Ucap lexia, dia kemudian berbalik lalu keluar dari ruangan itu.


Lexia berjalan melewati koridor yang temaram, di setiap dindingnya hanya lampu redup yang menjadi penerangan menuju keluar dari ruangan monitor itu, dia menatap ke kiri dan kanan memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya, dia kemudian beranjak dan kembali ke dalam mansion.


Lexia membuka pintu mansion, setiap ruangan sudah gelap, hanya lampu hias yang menyala agar sedikit cahaya di ruangan itu. Lexia merasa ada seseorang yang menatapnya dari ruang keluarga, dia mendekati ruangan itu, nampak dalam bayangan kecil seseorang sedang berdiri di dalam kegelapan.


"Hai Grandma lexia." Suara itu tiba-tiba muncul di ruang tengah yang gelap, lexia begitu terkejut ketika melihatnya berdiri di dalam kegelapan.


Lexia mengernyitkan alisnya. "Darko? Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini sayang? Kenapa kau tidak di tempat tidur?"


Darko terkekeh, suara kecilnya lebih mendekat ke arah lexia.


"Nenek mau bermain petak umpet denganku?" Tanya darko.


"Tidak sekarang sayang, sekarang sudah sangat larut, waktunya untuk tidur," ucap lexia, tanpa ragu dia mendekati darko dan menggendongnya. Darko lalu menatap lexia dengan mata safirnya, dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lexia.


"Apa nenek menyayangiku?"


"Tentu saja darko, semua orang menyayangi darko."


"Benarkah? Meskipun darko senang bermain pisau?" Tanyanya.


"Kau menyukainya? Kenapa kau menyukai pisau sayang?"


"Entah, aku hanya suka bermain-main dengan benda itu nenek."


"Meskipun grandma selalu melarangku bermain dengan sesuatu yang tajam." Keluh darko.


"Apa nenek suka bermain tanah dan memanjat pohon?"


"Ya aku suka, bagaimana dengan darko?" Ucap lexia sambil naik ke lantai atas menuju kamar darko.


"Suka sekali." Ucap darko dengan suara kecilnya.


Lexia kini membuka pintu kamar darko dan segera masuk ke dalam kamarnya, setelah itu membaringkannya di atas tempat tidur.


"Tidurlah sayang, kau mau nenek menemanimu?" Tanya lexia.

__ADS_1


"Okey, aku menyukai nenek, jadi nenek boleh menemaniku." Ucap darko.


"Nenek sudah melihat videonya? Apa yang akan nenek lakukan?" Tanya darko tiba-tiba.


Lexia terkejut, bagaimana anak ini tahu mengenai video cctv yang sudah di lihatnya.


"Aku sudah melihatnya sayang, kenapa darko?"


"Apa nenek akan membenciku?" Tanyanya dengan suara kecil.


"Tidak, nenek akan menjagamu, nenek akan memastikan kau berbuat seperti itu untuk melindungi orang-orang, bukan karena darko menyukainya, apalagi menyukai menyakiti orang-orang."


Darko terdiam, "Apa ini akan menjadi rahasia kita berdua? Mommy dan daddy akan marah besar jika mengetahuinya nek." Ucap darko.


Lexia menatap anak kecil itu dengan sungguh-sungguh, dia kemudian berbicara seperti halnya dia berbicara kepada orang yang telah dewasa, dia adalah anak yang cerdas dan cerdik, lexia ingin anak ini memahami apa yang di katakannya."


"Darko sayang, dengarkan baik-baik ucapan nenek, jangan menggunakan pisau itu lagi, apalagi kepada orang yang tidak bersalah sama sekali, malah sebaliknya kau harus melindungi orang yang lemah, bukan menyakitinya."


"Baik nek, tetapi bagaimana jika aku menyukainya, bagaimana bisa sesuatu yang disukai harus di tahan-tahan nek?"


Lexia ingin mendengus, kenapa anak ini pintar sekali bicara, dia seperti bukan anak berusia 5 tahun.


"Sesuatu yang di sukai tidak harus dikerjakan semau kita darko sayang, kau harus berusaha mengendalikan kesenanganmu itu, dan mengalihkan ke tempat lain."


"Aku terkadang pergi ke dapur mengambil berbagai pisau dapur dan menyembunyikannya dan membawa ke dalam taman, aku menyimpannya dan menyembunyikannya, jika aku membutuhkannya, aku tinggal mengambilnya saja."


"Bisakah kau memberitahu di mana tempat kau menyembunyikan pisau itu? Nenek juga ingin menggunakannya."


"Okey, nanti aku akan meminjamkannya kepada nenek, katakan kepadaku nenek, misalnya apa?"


Misalnya, mengalihkannya dengan berlatih."


"Berlatih apa nenek lexia."


"Kau suka senjata bukan? Kau bisa berlatih menembak dan menggunakan senjata jika kau sudah besar nanti, tapi bukan saat ini, karena kau masih kecil dan masih sangat lucu, kau mendengar nenek?" Ucap lexia.


"Okey, aku setuju ucapan nenek, tapi bolehkan sesekali aku menggunakan pisau itu?"


"Hanya memegang dan menatapnya saja." Jawab darko polos.


Lexia menyipitkan matanya kepada darko. "Berjanjilah kau tidak akan menggunakan pisau itu kepada orang-orang yang ada di mansion ini sayang."


"Oke, aku berjanji nenek lexia."


"Bagus, sekarang tidurlah sayang."


Lexia mengecup kening darko dan beranjak dari kamarnya dan menutup pintunya. Lexia masih berdiri di sana, di samping pintu darko, jantungnya berdegup kencang, dia harus merahasiakan semua ini, dia takut orang-orang akan bersikap aneh kepada darko dan akan menjauhinya, hal seperti itu akan menjadi pemicu darko akan menjadi berbahaya. Lexia mendengarkan senandung darko dari dalam kamarnya, dia menyanyikan sesuatu dengan menyisipkan nama lexia di dalam senandungnya.


Nenekku lexia tersayang, kau yang tersayang, darko akan mendengarkanmu.


Lexia mengambil napas panjang, dia segera beranjak dari kamar darko dan segera pergi ke kamarnya, dia harus menutupi segala perbuatan yang di lakukan darko nantinya, anak itu masih belum bisa membedakan baik dan buruk, dia akan melakukan keinginannya tanpa merasa itu benar atau salah, dia masih sangat kecil, untuk itu lexia harus selalu mengawasi dan membimbing darko seperti keinginan ayahnya dan menjadi penerus keluarga Caesar.


~


Hari itu seluruh keluarga berkumpul, mereka semua duduk di meja makan besar yang memang di sediakan untuk keluarga besar mereka.


Suasana hari itu sangat ribut dan berisik, apalagi anak-anak berlarian di sekitar meja makan, mereka akan duduk ketika ibu mereka masing-masing memanggilnya.


Lexia melirik ke tempat darko duduk, dia seperti anak kecil pada umumnya, bermain, tertawa dan bersenda gurau, dan menolak makanan yang juga tidak di sukainya.


"Kenapa sih nenek melihat ke arah darko, bagaimana dengan aku?" Ucap putri Ax yang berusia 11 tahun bernama Michaela Axton Caesaar.


"Apa? Tidak sayang, ayo duduk di sini di dekat grandma." Ucap lexia.


Cucu lexia yang satu itu sangat cemburuan, dia selalu mengatakan bahwa lexia adalah grandmanya, sedangkan Darko dan daneil junior mereka melarang mendekati lexia, karena mereka sudah memiliki grandma masing-masing.


~


Axton memang memiliki seorang putra bernama david, tetapi sifat dan sikapnya sangat mirip dengan Ax, dia sama sekali tidak tertarik dengan dunia bawah, dunia gangster dan dia terlihat tidak perduli, karena bagaimanapun Ax sudah mengantisipasi agar putranya berkecimpung di dunia bisnis saja, apalagi dia harus menangani perusahaan burchard dan Caesaar yang di pegang oleh daren dan Ax.

__ADS_1


Sementara itu Michaela putri kedua Ax dan fairley tidak begitu tertarik dengan hal itu, jadi kandidat satu-satunya yang suatu hari akan menggantikan tuan Caesaar adalah darko, meskipun itu butuh waktu yang cukup lama, lexia sudah harus mengawasi anak itu, apakah dia sanggup akan memegang kursi Caesaar setelah Xaphier ataupun dazon.


Lexia menghembuskan napasnya, mengapa ayahnya memberikan tugas sulit ini, bagaimanapun masa depan anak itu, dia yang menentukannya sendiri, tetapi dia akan tetap memegang janjinya.


~


"Mommy? bolehkah darko main di taman?" tanyanya.


Hanna yang sedang sibuk berbicara mengalihkan perhatiannya kepada anaknya. "Jangan kesana seorang diri sayang, nanti kau hilang." ucap hanna.


"Tidak akan mommy, aku hanya akan main di pinggir taman saja." Ucapnya lagi dengan suara kecil yang terputus-putus.


"Mommy beri waktu 10 menit, setelah darko selesai bermain, darko harus kembali ke dalam mansion." Dia membersihkan permukaan mulut putranya yang blepotan karena makan kue Cream coklat dengan sapu tangannya, setelah bersih, dia merapikan rambut putranya kemudian membiarkannya pergi.


Darko lalu mengangguk, dan segera berlari keluar dari ruangan santai. Dia membuka pintu mansion, dan berlarian di taman. Setelah cukup lelah berlari, darko kembali ke tempat di mana barang-barangnya di sembunyikan.


Dia mengambilnya, lalu menatap ketajamannya, darko mengangkat pisau itu mengarah ke matahari agar kilau tajamnya pisau dapat terpancar.


"Kau, yang bersembunyi di sana, keluarlah." Ucap darko. Dia lalu beridiri menghadap ke belakang taman.


Loue keluar dari persembunyiannya, dia sangat terkejut karena anak ini tahu dia ada di sana dan sejak tadi telah mengikutinya.


"Paman loue? kenapa kau ada di sini?" tanya darko.


"Tuan darko, sebaiknya anda kembali ke mansion, nyonya sudah menunggu anda." Ucapnya lagi.


Darko tersenyum, lalu menatap jam robot di pergelangan tangannya. "Masih ada 4 menit paman, mommy memberiku waktu 10 menit untuk bermain di taman."


"Tuan darko, sebaiknya saya memegang pisau itu, nanti tangan anda terluka." Ucap loue.


"Kenapa? Pisau ini tidak akan melukaiku paman, oh ya kenapa paman loue mengikutiku?" tanyanya.


"Aku harus mengawasi anda tuan darko, taman ini sangat luas, bisa-bisa anda hilang."


Darko tertawa, "Kata-kata paman sama seperti mommy, aku bahkan bisa masuk ke taman ini dengan mata tertutup, apa paman mau bermain petak umpet?" tanya darko.


"Tapi tuan, anda harus segera kembali ke mansion." Ucapnya, tiba-tiba suara ranting kayu terdengar dari dalam taman, meskipun tempat ini di sebut taman, tetapi orang-orang yang melihatnya akan merasa dia seperti berada di hutan. Pepohonan rindang yang tinggi dan bertiup sepoi, serta suara serangga dapat menghanyutkan siapa saja di dalam sana.


Loue berbalik, dia segera mendekati darko dan berdiri di hadapannya, dia lalu memegang tangan darko.


"Apa paman mendengarnya juga? kadangkala aku mendengar suara langkah kaki dari dalam sana, paman." Ucap darko.


"Di sini berbahaya tuan, kita sebaiknya pergi." Ucap loue. Dia menggendong darko dan mengarahkan pistolnya kepada seseorang yang berada jauh di dalam hutan. Ketika loue berjalan cepat sambil menggendongnya, darko lalu menatap dari dalam taman dan melambaikan tangannya. Seseorang itupun juga melambaikan tangannya kepada darko.


~


"Sialan ! Aku tidak akan mungkin berada di rumah sakit ini jika bukan gara-gara orang yang tinggal di mansion itu." Erangnya.


"Aku melihat seorang anak kecil di sana, dia melambai kepadaku sambil memegang pisau, apakah anak kecil itu yang telah menyakitiku? Sial."


~


Malam itu, dazon dan Thomas serta Paulo harus berangkat ke milan menyelesaikan urusan pekerjaannya di sana, sementara itu Ax dan daneil harus kembali ke Manhattan juga mengurusi pekerjaan mereka, mereka sangat sibuk dan tidak bisa berlama-lama di Atlanta.


Malam itu loue di tugaskan menjadi kepala keamanan di mansion dan membawahi semua pengawal dan memberikan tugas kepada mereka masing-masing.


Tiba-tiba saja malam itu Darko sudah ada di samping loue, dia terkikik ketika melihat loue terkejut sambil memegang dadanya.


"Kau takut padaku paman loue?" tanya darko.


"Tuan darko mengagetkanku, tadinya aku akan menutup ruangan ini." ucap loue sambil menunjuk ruangan monitor tempat semua sistem beroperasi di mansion.


"Aku akan membisikkan satu hal kepada paman loue, tetapi paman harus mempercayaiku." Ujar darko.


"Ada apa tuan darko, katakan kepada saya."


Darko mendekat kepada loue dan membisikkan sesuatu. "Seseorang telah menyusup ke dalam mansion, dan dia sedang menyamar paman, aku sendiri melihat mereka, tetapi aku terlalu kecil untuk menghadapi para penyusup itu." Ucap darko.


Loue terkejut, bagaimana bisa seorang penyusup bisa masuk dengan sistem keamanan tinggi di mansion ini, "Saya akan segera memeriksanya tuan darko." Loue segera masuk ke dalam ruang monitornya kembali, dia mempercayai ucapan darko, karena anak itu pantang berbohong meskipun dia masih kecil, dia selalu mengatakan apa yang dilihatnya. Loue memperhatikan dengan seksama, dan benar saja, di monitor nomor 4 dua orang pria sedang bersembunyi di dalam gudang tempat penyimpanan anggur, setelah menyusup dari balik taman.

__ADS_1


"Sekarang paman percaya? jadi, apa yang akan kita lakukan paman loue? grandma lexia bilang aku boleh menggunakan pisauku kepada orang-orang jahat, bolehkan aku menggunakannya sekarang?" senyuman dan ucapan anak kecil yang berdiri di dekatnya membuat loue bergidik, dia seakan merasa riel berada di sampingnya.


__ADS_2