The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 78


__ADS_3

Musim semi telah berakhir dan di gantikan dengan musim gugur, udara sudah mulai terasa dingin sampai ke tulang, terlihat awan putih dilangit menampakkan kelabu yang menyelimuti pagi itu, suara tawa bocah kecil terdengar di mansion milik keluarga besar Caesaar, berlari-lari mengejar sesuatu.


Pria kecil berwajah imut nan tampan, dengan pipi memerah tampak sangat imut dan begitu lucu, siapa saja yang melihatnya akan terpesona dengan mata saphier indah yang dimilikinya, wajah babynya membuat orang-orang selalu menatapnya.


Dia berlari-lari disekitar halaman pekarangan mansion, tampak wajahnya yang tampan tertawa dengan menggemaskan, Darko mengenakan pakaian tebal berwarna putih dengan tudung topi menutupi kepalanya.


"Mommy, mommy lihat ! Kelinci." Ucapnya dengan terbata-bata.


"Di mana kelincinya Darko sayang?" Ucap Hanna mengikuti putra kecilnya yang menengok dan mencari-cari ke dalam pohon besar.


"Tidak ada, apa Darko salah melihatnya? Tidak ada kelinci di sekitar sini sayang." Ucap hanna tersenyum lalu menunduk mensejajarkan dirinya dengan putra kecilnya yang cemberut.


"Tapi Darko melihatnya, mommyyyy."


Hanna tertawa mendengar rengekan putra tampannya. "Baiklah sayang, kita akan mencarinya " ucap Hanna mengambil putranya dan menggendongnya.


Seorang pengawal terlihat berlari tergesa-gesa menuju ke tempat Hanna.


"Ada apa Paulo?" Tanya Hanna dengan mata membelalak melihatnya berlari kencang seperti itu.


"Silahkan ikut kami Nyonya." Ucap Paulo.


"Tuan Dazon menunggu anda di ruangannya." Ucap Paulo dengan wajah gelisah dan tertunduk.


"Sebenarnya ada apa?"


Dia tidak menjawab, Hanna segera mengikutinya, dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


Hanna tiba di depan ruangan kerja Dazon, terdengar suara-suara marah dan bentakan panjang dari seseorang, sepertinya itu suara Daneil dan terdengar isakan seorang perempuan, mungkin itu adalah Jennifer.


"Kami melihat sendiri Daz, dia hendak menyerang putraku saat di taman, Darko memegang pisau dan membawanya kemanapun, dia bermain-main dengan pisau itu di depan anak-anak lainnya sampai mereka ketakutan."


"Kau tidak bisa membiarkannya begitu saja, dia terlalu berbahaya untuk tinggal bersama kita semua." Ucap Daneil dengan kemarahan yang mencekam.


Hanna berdiri di depan pintu sambil menggendong putranya. "Mommy, mana kelinciku mom." Bisik Darko.


Hanna hanya tersenyum tertahan, dia mengangkat satu jarinya ke bibirnya agar darko tidak ribut, dia ingin mendengarkan apa yang mereka katakan, Hanna hanya menenggelamkan wajah putranya di pelukannya dan menggendongnya erat, dia mengambil langkah di samping pintu ruangan Dazon dan mendengarkan percakapan mereka.


"Harus kau akui Daz, putramu sakit, dia sakit sama seperti kakek dan pamannya, harusnya dari awal kau menentang pernikahanmu, harusnya kau tidak menyetujui pernikahanmu dengan Hanna, meskipun itu permintaaan kakek yang terakhir kalinya."


"Perhatikan ucapanmu Daneil, apa yang kau katakan." Ucap Dazon kepada Daneil.


Dazon nampak termenung, dia memijat kepalanya dan mengangkat tangannya kepada daneil. "Aku tahu dari awal, jika darah Hanna tidak seperti wanita lainnya, 80 persen di dalam darahnya mengalir racun mematikan itu, tetapi dia nampak normal dan tidak terjangkiti sama sekali, berbeda dengan ayah dan kakanya."


"Sejak dulu kami sudah mengkhawatirkan kondisi Darko ." Ucap Dazon, seakan melamun.


Daneil menatap Dazon tajam, kedua tangannya di taruh di atas meja, dia menatapnya dengan wajah serius penuh amarah.


"Kau harus bertindak Daz, aku tahu dia darah dagingmu tetapi ketahuilah, anak itu akan membunuhmu kelak, anak itu yang akan menghancurkan keluarga ini, jika tidak di singkirkan dari sekarang, dan kau tahu itu, tingkat racun di dalam tubuhnya akan berubah menjadi 100 persen ketika dia mulai tumbuh, racun itu akan merubahnya sebagai mesin pembunuh, kau tahu racun itu sangat bereaksi terhadap anak laki-laki di bandingkan anak perempuan." Daneil menghembuskan napas dengan kesal, dia mengepalkan tangannya erat dan menghela Jeniffer di sampingnya.


"Jadi, aku tunggu keputusanmu malam ini, kalau perlu pisahkan dia dari Hanna, buatlah sesuatu, atau cari dokter untuk menyembuhkan putramu dan bawa dia, agar putramu itu menjauh dari keluarga Caesaar." Ucap Daneil dengan geram.


Hanna menutup mulutnya, tangisnya pecah, dia segera mencari kamar kosong ketika Daneil dan jennifer membuka pintu ruangan Dazon dan keluar dari sana.


"Apa yang harus ibu lakukan Darko, ibu lebih baik mati dari pada harus berpisah denganmu." Bisik Hanna.


"Mommy? Kenapa mom menangis?" Ucap Darko sambil menghapus tetes air mata ibunya.


Suara-suara dapat terdengar dari ruang sebelah, rupanya Jennifer dan Daneil telah keluar dari mansion dan membawa putranya menjauhi mansion, mereka berjalan cepat, dan segera pergi meninggalkan kediaman Caesaar.


Kembali terdengar suara pintu menutup. Dazon keluar dari ruangannya dan menelepon Thomas.


"Dimana istriku?" Tanyanya.


"Paulo tadi sudah memanggil nyonya, tuan. Tapi kami tidak melihat nyonya Hanna."


Dazon kembali menekan-nekan ponselnya dan segera menelepon Hanna, untung saja Hanna tidak membawa ponselnya, jadi dia sama sekali tidak tahu jika dia di telepon oleh Dazon.


"Kemana dia?" Ucap Dazon, dia segera berjalan menuju kamarnya di lantai atas, langkah sepatunya menggema di sepanjang koridor lalu tembus keruang tengah, terdengar gema dari kejauhan, sepatu suaminya yang menuju ke lantai atas.


Hanna segera keluar dari ruangan kecil tempat penyimpanan alat kebersihan itu, dia segera berjalan keluar, ke taman, agar mereka tidak tahu bahwa Hanna mendengar semua percakapan mereka.


"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak akan membiarkan seorangpun memisahkanku dari putraku, sekalipun dia suamiku sendiri, aku akan mati jika mereka mengambil anakku." Ucap Hanna di dekat taman buatan yang di kelilingi pohon-pohon pinus, dia cepat-cepat menghapus air matanya agar tidak ada yang tahu bahwa dia sedang menangis.


"Kau di sini sayang?" Suara itu membuat Hanna terkejut, cepat-cepat dia memasang ekspresi tersenyum seakan tidak ada kejadian apa-apa. Dia lalu bersenandung memutar-mutar tubuh putranya dan bermain-main dengannya.


"Mommy?" Ucap Darko dengan suara kecilnya.


"Hai sayang, kau sudah selesai bekerja? Aku tadi ketemu dengan Paulo tetapi Darko ingin ke taman jadi aku ke sini sebentar, agar dia tidak merengek lagi.


"Mommy bohong." Bisik putranya di telinga ibunya.


Mata Dazon yang tajam memindai putranya sendiri yang berada di gendongan Hanna. Raut wajahnya selalu seperti itu sejak Dazon kembali dari italia, meskipun dia mengatakan Darko putranya, tetapi ketika dia mendengar semua perkataan orang-orang yang melaporkan sikap Darko, dia tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Senyumnya terlihat terpaksa hanya karena ingin membuat Hanna berhenti menatapnya, dia seakan-akan memandang Darko bukan putranya.


"Sebaiknya kita bicara sayang, biarkan Darko bersama pengasuhnya dulu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Ucapnya.


"Daddy?" Ucap Darko dengan mata sayu memandang sang ayah. Dazon hanya tersenyum lalu mengacak rambut anaknya, sejak usia Darko yang semakin membesar, Dazon sangat jarang menggendong putranya, karena terlalu sibuk, sehingga dari hari ke hari Darko hanya bersama ibunya.


"Tidak ! Aku akan membawa anakku." Tegas Hanna.


"Kenapa? Ada apa sayang? Biarkan dia bermain-main di ruang bermain bersama pengasuhnya, Darko pasti lelah dan ingin menikmati waktunya sendiri."


Hanna menatap canggung dan gelisah kepada Dazon, dan menatap kepada putranya. Dia tidak boleh ketahuan jika Hanna mengetahui rencana mereka yang ingin memisahkannya dari Darko, jadi dia berusaha bersikap tenang seperti biasanya.


"Baiklah, aku juga lelah." Ucap Hanna memperlihatkan wajah lelahnya, dia kemudian memberikan kecupan kepada putranya.


"Jangan nakal Darko, dengarkan Mommy." Ucap Hanna.


"Yes Mommy."


Dazon melirik, menatap mereka berdua, dia heran dengan dirinya sendiri, dia tahu dengan jelas bahwa dia adalah darah dagingnya sendiri, wajahnya pun menggambarkan wajah Dazon, matanya seperti warna mata kakek Caesaar, tetapi mengapa dia tidak bisa memeluk anak itu, memeluk putranya sendiri dengan erat, apakah karena racun itu? membuat dirinya memandang Darko seakan dia adalah gambaran Riel, paman Darko.


~


Hanna berada di ruangan Dazon, dia berdiri menghadap ke jendela besar yang menghadap ke arah taman. Sedangkan Dazon memberikan segelas wine berwarna merah pekat kepada Hanna.


"Minumlah sayang, kita akhir-akhir ini jarang bersama, karena aku akhir-akhir ini sangat sibuk, pulang pergi keluar kota, setelah itu langsung berangkat ke Milan."


Hanna tersenyum tertahan, dia menyandarkan tubuhnya di sofa di ruangan Dazon.


"Sampai akhir-akhir ini aku tidak dekat dengan putraku sendiri." Ucapnya.


Hanna terdiam, dia tidak merespon ucapan Dazon.


"Kau marah?" Tanyanya, sambil menatap Hanna yang masih terdiam.


Hanna berbalik dan meletakkan segelas wine di atas meja, dia memeluk dazon erat. "Kenapa aku marah? Kau sedang sibuk mengurusi pekerjaanmu, aku dan Darko selalu menunggumu." Ucap hanna, dia mencoba mengurai kecanggungan di antara mereka, dan mencoba bertahan.


Hanna merasakan ketegangan di tubuh Dazon, dia berdiri kaku ketika mendengar nama anaknya di sebut. Hanna mendongak menatapnya.


"Ada apa Daz?" Tanya Hanna.


"Hanna, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu, aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu."


Tiba-tiba suara teriakan menggema dari ruangan sebelah, suara itu memecah keheningan di sore itu, Hanna dan Dazon segera berlari menuju ke tempat bermain putranya, dan segera membuka pintu itu, betapa terkejutnya mereka berdua, ketika melihat wajah pelayan itu sudah di penuhi dengan darah, pipinya tergores sehingga darah memercik di wajahnya, mengotori seluruh bajunya.


Darko menangis tatkala melihat ibunya. "Mommy? Mommmmy." Rengeknya. Hanna cepat-cepat menuju kepada putranya, tiba-tiba saja tangannya tercekal, Dazon memegang erat tangan Hanna.


"Jangan, jangan ke sana." Ucapnya, mata Dazon terarah kepada pisau yang masih di pegang oleh Darko.


"Kau kenapa Dazon, anakku menangis, lepaskan tanganmu sialan." Teriaknya. Seketika Dazon melepaskan tangan istrinya, dia sedikit heran, baru kali ini Hanna memanggilnya dengan kata sialan, biasanya dia jarang menggunakan kata-kata itu lagi kepadanya.


Hanna memeluk putranya dan menenangkannya, dia membuang pisau yang ada di tangan putranya. "Kemarilah sayang, kau tidak apa-apa?" Ucap Hanna menghapus air mata putranya.


Para pengawal sudah tiba di sana, pengasuh itu segera di bawa oleh pelayan lainnya untuk segera di obati. Hanna nampak terlihat tidak perduli, dia hanya menenangkan putranya yang terus-terusan menangis.


"Ssh, ssh diamlah sayang, kau tidak apa-apakan? Jangan menangis lagi, mommy ada di sini." Ucapnya. Darko sesenggukan di bahu ibunya, matanya kini tertutup tanda dia sedang mengantuk.


Hanna membaringkan putranya di sofa, dan dia duduk di sana, seakan menunggu vonis apa yang akan diberikan Dazon kepada mereka berdua.


Dazon melangkah dan duduk di hadapan Hanna, begitupun Thomas dan Paulo berdiri di belakang Dazon, serta Daneil yang tiba-tiba saja datang dan turut bergabung di sana, matanya tajam memandang Darko yang sedang tertidur lelap.


~


"Dari ekspresimu, sepertinya kau tahu mengenai keadaan Darko, Hanna." Ucap Dazon. Dia masih duduk tenang menatap tajam ke arah istrinya.


"Keadaan apa yang kau maksudkan?"


"Kau tahu, tapi kau berpura-pura tidak tahu sayang, anak kita sakit, Darko perlu di rawat, dia sama seperti kakeknya dan pamannya, dia harus di rawat dan butuh penanganan khusus." ucap Dazon.


"Apa maksudmu penanganan khusus? Maksudmu kau akan membawa dia? kau akan memisahkan kami dan membawa putraku entah kemana?" suara Hanna meninggi, dia menatap mereka semua dengan permusuhan yang nyata darinya. Napasnya naik turun ketika dia mendengar semua omong kosong itu.


"Hanna kau harus lihat video ini, kau harus tahu resiko besar yang akan kau bawa, jika kau tetap bersama dengan putramu, dia berbahaya untukmu." Ucap Daneil.


Hanna tertawa tertahan, "Apa kau bilang? anakku berbahaya bagi diriku sendiri, kalian bodoh ya? aku yang melahirkannya, aku yang membesarkannya, aku yang paling tahu siapa putraku, kalian tidak bisa memisahkan kami begitu saja." Ancam Hanna, dia akan melawan siapa saja yang akan mencoba mengambil putranya.


Mereka semua cukup terkejut, Hanna yang bisanya lembut ketika berbicara dan selalu tersenyum, berubah drastis layaknya seekor singa yang akan menerkam siapa saja yang mencoba mendekati anak-anaknya.


Dazon menatap tajam kepada istrinya.


"Kalian semua keluar." perintahnya.


Mereka semua keluar dari ruangan


itu, lalu menutup pintunya. Dia masih terdiam, tatapannya seakan menembus tubuh Hanna.

__ADS_1


"Apa maksudmu Hanna? apa yang ingin kau katakan kepadaku? kau berpikir aku adalah ayah yang sama sekali tidak memperdulikan putranya? Aku sangat sedih mendengar penyakit sialan itu mengalir di dalam darah putraku." Ucap Dazon.


Hanna tidak mau mendengar semua alasan Dazon, dia tidak mau menatapnya. "Kau tidak bisa mengambil putraku dariku, apa kau akan memperlakukan Darko seperti pamannya Riel? Putraku tidak akan berakhir seperti kakeknya ataupun pamannya."


Dazon mendekati Hanna, dia berlutut dan memegang kedua tangannya. "Hanna, hei sayang, apa kau tahu bagaimana besarnya cintaku kepadamu? Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin putra kita terluka, aku ingin dia sembuh, percayalah padaku sayang, ada seorang dokter bernama Dokter Reges dia berasal dari perancis, dia akan menyembuhkan putra kita, aku mendengar dia pernah menangani kasus seperti ini, aku sudah menghubunginya, jika putra kita sembuh, dia akan kembali bersama kita lagi sayang." bisik Dazon. Dia menarik tubuh Hanna dan memeluknya erat.


"Benarkah Daz?" ucap Hanna sambil menangis. "Benarkah apa yang kau katakan itu? Aku sangat takut, aku ketakutan jika suatu saat Darko berubah menjadi seperti ayah dan kakak, dan aku paling takut jika aku berpisah darinya." bisiknya.


"Tenanglah sayang, aku di sini bersamamu." bisik Dazon, sambil menatap tajam pria mungil yang sedang tidur di atas sofa yang lembut itu.


~


Malam itu Dazon sama sekali tidak melepaskan tubuh hanna, seakan percintaan yang mereka lakukan tidak ada habis-habisnya. Hingga menjelang tengah malam, Hanna tidak kuat lagi, dia mendorong tubuh Dazon agar dia berhenti bergerak.


"Berhenti Daz, aku tidak kuat lagi, aku akan pingsan jika kau tidak berhenti." ucap Hanna masih dengan memegang seprai kuat-kuat untuk menahan hasrat Dazon.


Pukul 02.45


Dazon bangun dari tidurnya, dia segera mengenakan kimono tidur berwarna hitamnya dan segera menyelimuti tubuh polos istrinya. Dia memberikan kecupan di keningnya, lalu segera berjalan ke sofa yang tidak jauh dari tempat tidur mereka.


Hanna mengernyitkan alisnya. Dia mengerjap, dan berkedip beberapa kali. "Bau cerutu?" bisik Hanna. "Siapa yang merokok?" ucapnya.


Dari kejauhan dia bisa mendengarkan suara Dazon sedang berbicara kepada seseorang. Hanna mendengarkan dengan seksama isi percakapan mereka.


"Siapkan pesawat menuju ke Eropa, aku akan mengirimnya ke sana, rupanya dokter Reges telah wafat karena ulah pasiennya sendiri, perubahan rencana, aku tidak punya pilihan lain Neil, selain mengikuti saranmu, aku akan membawa Darko ke sana, di tempat itu memiliki sistem pengembangan dan perbaikan mental dan tingkah laku abnormal, aku akan membawanya ke sana, jangan memberitahu Hanna, dia pasti akan menentangnya. Tempat itu seperti sebuah asrama di peruntukkan bagi orang-orang yang mengalami mental dan kerusakan otak yang parah."


DEG


Jantung Hanna berdegup kencang ketika mendengar percakapan Dazon.


"Kapan aku bisa membawanya, urus segala berkas-berkasnya Niel, kau yang akan mengurusnya, karena kau yang memberikan saran mengenai tempat itu."


"Oke, besok aku akan menunggu kabarmu, kau harus segera mengabariku Niel, aku tidak mau melihat anak itu menyerang orang lagi, meskipun dia masih kecil, tetapi kontrol dirinya sepertinya sudah hilang, dia bisa saja setiap saat akan menyerang Hanna dan menyerangku."


Hanna cepat-cepat menutup kedua matanya ketika Dazon berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Dia mematikan cerutunya dan minum segelas air agar bau rokok dimulutnya hilang, dia kemudian kembali naik ke atas tempat tidur dan menarik tubuh Hanna dan memeluknya erat.


Hanna mencoba menetralkan napasnya seakan dia sedang tenggelam dan terbuai mimpi. Hanna dapat mencium bau asap rokok dari napas Dazon yang berhembus, wangi mint dan bau rokok. Sejak kapan Dazon merokok? pikir Hanna.


Dazon membuka matanya, dia menatap hanna di gelapnya malam di ruangan itu. "Aku mencintaimu Hanna, aku akan melakukan apa saja untuk melindungimu." Bisik Dazon. Dia mengangkat tubuh hanna dan memeluknya erat-erat.


~


Pagi-pagi sekali hanna sudah terbangun, dia menatap Dazon yang masih tertidur di sampingnya. Hanna segera berdiri perlahan-lahan, dia mengenakan bathrobenya lalu segera keluar kamar menuju ke kamar putranya. Terdengar suara tawa dari dalam kamar putranya. Hanna segera membuka pintu.


Darko sedang duduk seorang diri di sana dengan semua mainan mengelilinnginya, dia sedang bermain-main dengan mainannya.


"Mommy?" Teriaknya senang, dia mengulurkan kedua tangannya agar ibunya segera menggapainya dan menggendongnya.


"Mommy merindukan Darko, apa darko tidak merindukan mommy?" ucap Hanna kepada putranya di depan jendela kaca di kamarnya.


"Ehhe, yes mommy Darko sangat sayang mommy." Ucapnya.


"Kau memang putraku yang paling pintar, mau sarapan bersama Mommy, kita makan di kamar saja sembunyi-sembunyi." ucap Hanna. Darko mengangkat tangannya dengan senang.


"Yey, aku akan makan bersama mommy sembunyi-sembunyi." Teriak Darko dengan senang.


"Kita mandi dulu, setelah itu kita sarapan bersama sayang." bisik Hanna. Darko mengangguk setuju dengan semua usul ibunya.


~


Hanna turun ke lantai bawah, tidak ada seorangpum yang duduk di meja sarapan, kali ini mansion menjadi sepi semenjak kepergian bibi lexia ke Manhattan dan mertuanya yang berangkat ke Oklahoma.


Hanna tahu ada perubahan suasana di mansion sejak peristiwa penyerangan Darko kepada putra Daneil dan kepada pelayan yang menjaganya. Sikap pelayan bahkan pengawal menatapnya dengan pandangan aneh, mereka seakan menjauhinya dan mencela sikapnya atas tindakan tidak perdulinya kemarin.


"Dimana sarapannya?" Tanya Hanna.


"Belum siap Nyonya, kami belum siap-siap karena mengantar pengasuh Nina ke rumah sakit."


Hanna menampar keras wajah pelayan itu hingga kepalanya menghadap ke kanan. "Apa kalian semua harus ke sana sampai-sampai aku harus memerintahkan kalian menyiapkan sarapanku dan putraku." Ucap hanna tajam.


"Maaf nyonya, kami akan segera menyiapkannya." Pelayan itu berlari dan segera masuk ke dalam dapur. Hanna membuntuti pelayan itu, dia mengintip dari balik tembok, dia sedang mengadu kepada pelayan-pelayan lainnya, bahwa dia di tampar oleh Nyonya Hannah.


Hanna membenci mereka yang memperlakukan Putranya berbeda, dia mengintip dari balik dapur dan segera kembali ke kamar putranya. "Mommy? mana sarapannya?" Tanya Darko sambil memegang mainan di tangannya. Hanna mengusap wajah putranya dan mendekatkan wajah mereka.


"Darko, kau ingin ikut bersama Mommy?" Ucap Hanna.


"Kemana Mommy?"


"Kita hanya akan pergi berdua saja meninggalkan mansion ini, kita akan pergi berpetualang, kau maukan?" senyum Hanna menahan tangisnya.


"Kita tidak mengajak Daddy?" Tanya Darko, Hanna menggelengkan kepalanya.


"Hanya kita berdua saja, malam ini kita akan berangkat dan meninggalkan mansion, kau maukan ikut kemanapun mommy pergi?"

__ADS_1


"Tentu, kemanapun mommy pergi Darko akan ikut bersama mommy." Bisiknya.


__ADS_2