
Suasana pesta malam itu sungguh meriah untuk ketiga wanita cantik yang sedang mengobrol bersama, selain mereka bertiga berkumpul dan saling mengobrol, Nara dan lovelia tengah tertawa saat lexia bercerita kepada mereka tetapi tiba-tiba saja wanita itu menghampiri mereka bertiga.
"Wah, wah Nyonya-nyonya muda rupanya berkumpul di sini, kenapa kalian tidak mengajakku bergabung? aku bisa menambah seru suasana dan keakraban kita nona-nona, bagaimana?" Ucapnya. Nara dan lovelia saling melirik tetapi tidak mengungkapkan apapun kecuali lexia yang tersenyum sinis melihat wanita paruh baya itu berdiri dengan menampilkan sikap manis yang dibuat-buat.
"Pergi !" Usirnya. Lovelia dan Nara membelalak menatap lexia.
"Sebelum aku menarik rambut berubanmu itu, jadi sebaiknya kau pergi dari hadapanku." Ucap lexia sambil menggoyangkan gelasnya, dia tersenyum miring menatap ekspresi Melda yang selalu menampilkan senyum pura-puranya.
"Kau selalu bersikap kurang ajar lexia, tidakkah kau bisa menunjukkan sedikit sopan santunmu kepadaku? Aku wanita terhormat dan lagi pula bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau kita harus menghormati orang yang lebih tua?"
Lexia menyunggingkan senyumnya.
"Wanita terhormat? Jangan membuatku tertawa Melda Harper, wanita sepertimu yang menjerat pria-pria muda untuk memuaskan hasratmu apakah bisa disebut terhormat? Dan aku memilih siapa yang kuhormati dan tidak, jadi sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri nenek." Ucap lexia sambil bersedekap menatapnya.
Melda tersenyum sinis, tatapannya jatuh kepada Nara dan lovelia, mereka berdua tidak keras dan tidak kurang ajar seperti lexia, gadis-gadis itu berhati lembut dan merupakan tipe yang mudah dimangsa oleh Melda.
"Bagaimana kalau kita dengar pendapat dari....
Ucapannya terhenti karena siraman air minuman dari gelas milik lexia yang langsung menampar wajah Melda. Dia menutup matanya, merasakan air bersoda yang melengket di wajahnya.
"Pergi ! Sebelum aku lebih mempermalukanmu, jangan pernah memunculkan wajah jelekmu dihadapanku." Ucap lexia berdiri tanpa rasa bersalah sedikitpun. Melda lebih memilih mundur dan segera pergi dari sana memandang lexia dengan seringai di wajahnya, semua tamu undangan menatap ke meja mereka bertiga sambil berbisik-bisik.
Nara dan lovelia terkejut sambil menutup mulut mereka karena begitu kaget dengan aksi lexia.
Lexia mendengus tanpa memperdulikan pandangan orang-orang kepadanya. "Lexia? Orang-orang menatap kemari." Ucap Nara berbisik-bisik.
"Jangan perdulikan mereka, Sebentar lagi kita akan pulang, mereka lama sekali sih ngobrolnya." Ucap lexia mengarah kepada Daren Xaphier dan Alvin yang sedang bertemu rekan-rekan bisnis mereka di tempat lain.
Mata biru yang dalam itu memandang langsung sosok wanita itu dari kejauhan, meskipun orang-orang disekitarnya sedang berbicara serius tetapi matanya tidak beralih kepada gadis yang sekarang ini mendapat perhatian orang-orang karena sikap impulsif yang dilakukannya.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman yang licik. Semakin dia memperhatikannya semakin membuatnya tertarik, dia hanya ingin mengetahui siapa gadis itu?
~
"Ada apa? Kenapa wajah Nara pucat?" Tanya Xaphier kepada lexia sedangkan lovelia meskipun ketakutan tetapi hal yang dilakukan lexia begitu membuatnya kagum.
"Melda tadi kemari ingin bergabung bersama kami jadi kuusir saja dia." Ucap lexia sambil menatap Daren yang sedang menatapnya.
"Apa?" Tanya lexia.
"Sebaiknya kita pulang, sepertinya apa yang telah dilakukan lexia membuat semua orang menatap ke arah kita." Ucap Daren memegang tangan istrinya.
__ADS_1
Xaphier tertawa. "Bagus lexia, hajar wanita itu jika dia berani mengganggu kalian." Ucap Xaphier. Dia tahu lexia yang memiliki watak dan karakter keras seperti dirinya tidak akan mudah di tindas oleh siapapun juga, hal itu membuatnya mengacak rambut adiknya dengan sayang. Dia tahu lexia lebih berani dibandingkan dua wanita ini. Nara yang lembut dan lovelia yang ceria tetapi mereka berdua belum mampu menghadapi konfrontasi langsung ketika orang-orang menyerang mereka, berbeda dengan lexia yang sejak kecil sudah hidup dengan keras dan menghadapi masyarakat yang memandangnya sebelah mata, hal seperti tadi bukanlah masalah baginya.
Pria yang sejak tadi memperhatikan lexia sekarang begitu terkejut, pasalnya pria yang mengacak-acak rambut gadis itu adalah Xaphier caesaar, saingan terbesar keluarganya dan Perusahaannya. Dan baru kali ini dia melihat Xaphier tertawa lebar kepada seorang wanita.
"Siapa wanita yang berada dekat dengan Xaphier caesaar?" Tanyanya kepada sekretaris pribadinya yang berada di sampingnya.
Sekertaris pribadi yang mengetahui segalanya mengenai keluarga Caesaar segera menjawabnya.
"Dia adalah adik perempuan tuan Xaphier Caesaar, namannya Celia Caesar." Jawabnya.
"Benarkah? Seringai melintas di wajah tampannya.
"Aku tidak tahu jika Xaphier memiliki seorang adik perempuan." Ucapnya sambil menyesap minumannya.
"Dia adalah putri kandung dari tuan Caesaar yang di temukannya beberapa tahun ini, insiden yang mengerikan pernah terjadi kepada keluarga Caesaar sehingga mereka kehilangan putri satu-satunya tetapi gadis itu telah kembali dan tinggal bersama ayahnya dan tuan Xaphier."
"Menarik." Ucapnya.
Entah mengapa mata Adrick Rudolf tidak mau beranjak dari gadis itu, wajahnya tentu saja cantik, tubuhnya yang berlekuk Sempurna dengan dadanya yang besar membuatnya menjadi sorotan pria-pria pemangsa, dia berjalan dengan anggun dan percaya diri, tetapi ada satu hal yang mengusiknya, siapa pria yang memegang tangannya dengan posesif? Siapa pria itu? Apakah dia kekasihnya? Pikir Adrick.
"Aku ingin kau membawa semua data lengkap mengenai keluarga Caesaar, dan segera berikan kepadaku." Perintahnya.
"Baik tuan."
"Ada apa Alfon kenapa kau begitu gelisah?" Tanyanya.
"Erm, ada yang ingin bertemu dengan anda tuan Adrick." Ucap Alfon sambil melirik ke sebelah kanan di mana Melda tengah duduk mengawasinya dengan tenang dari jarak cukup jauh.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Seseorang ingin menemui anda tuan." Ucapnya.
"Siapa?"
"Erm..dia dulunya salah satu anggota keluarga Caesaar dia ingin bicara dengan anda." Ucapnya.
"Dulunya?" Adrick menyeringai menatap rendah kepada Alfon. "Jadi kau ingin mempertemukan aku dengan orang yang sudah dibuang oleh keluarga Caesaar berarti kau sudah merendahkan keluargaku Alfon, orang yang sudah dibuang oleh keluarga itu berarti sudah tidak pantas untuk bertemu denganku apalagi ingin berbicara denganku, kau sepertinya belum mengenal dengan baik diriku Alfon, jangan membuatku membuang waktuku, segera pergi." Ucap Adrick. Tanpa berkata-kata lagi Alfon beranjak dari sana dengan sedikit membungkuk.
Adrick masih duduk di sana tidak memperdulikan orang-orang yang hendak menyapanya, beberapa pengawal pribadi menjaga agar mereka tidak mengganggu tuannya. Alfon berjalan melewati Melda yang sedang menunggu dengan harapan yang besar bahwa tuan Adrick mau bekerja sama dengannya, Alfon kemudian menggeleng kepadanya lalu beranjak pergi, rencananya tidak berhasil, tangannya terkepal kuat, bibirnya berubah menjadi sangat tipis.
'Sial ! Aku tidak akan menyerah tuan Adrick Rudolf, sebentar lagi kita akan bertemu dan bersama-sama menghancurkan keluarga Caesaar." Ucapnya.
__ADS_1
~
Sejak tadi Daren memandang lexia dengan sorot mata yang marah tetapi sampai sekarang dia sama sekali tidak mengatakan apa penyebab kemarahannya. Lexia baru saja keluar dari kamar mandi, kemudian mengeringkan tubuhnya yang basah sambil duduk di depan meja rias lalu menempelkan sedikit cream di tubuhnya.
"Kau kenapa sayang, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanyanya. Daren duduk di sofa empuk di dekat lexia duduk, matanya masih terpaku kepada lexia.
"Ada apa sih?"
Daren menatapnya tajam, lalu dia kemudian berdiri dan memberikan ciuman kasar dibibir lexia, hingga lexia kesulitan bernapas tubuhnya mengikuti kemana Daren membawanya mengangkatnya begitu saja hingga handuk yang melilit di tubuh lexia jatuh begitu saja di lantai.
"Daren? kau kenapa?" tanyanya
"Diam !" bentak daren.
Lexia begitu terkejut, baru kali ini Daren membentaknya dan ciumannya sangat kasar kepada lexia. Daren sedang marah? kenapa dia marah, apa yang telah kulakukan sampai dia marah? pikir lexia sambil menahan erangan yang ingin keluar dari bibirnya. Tubuhnya tidak bisa menanggung lagi gempuran Daren di tubuhnya, suara napas yang tertahan dengan desahan kuat, beberapa kali lexia mendapatkan pelepasannya tetapi Daren masih belum bisa berhenti, dia menghentakkan tubuhnya cukup kuat hingga lexia kembali mendapatkan dirinya mengerang keras. Tubuhnya tidak sanggup lagi hingga lexia akhirnya berhenti melawan dan menerima serangan Daren hingga dia benar-benar berhenti.
Daren memeluk tubuh lexia erat-erat, matanya masih terbuka sementara lexia sudah tertidur lelap. ingatannya masih segar ketika di pesta tadi, pada saat dia sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya, salah satu dari mereka sedang membicarakan pria itu, Adrick Rudolf.
"Kau lihat, siapa yang diperhatikannya sejak tadi ketika dia keluar dari balkon luar? coba perhatikan, dia sedang melihat kepada ketiga gadis muda yang duduk di pojok sana, siapa yang diincarnya?"
Daren mengamati tatapan mata pria itu yang menjurus langsung dimana mereka bertiga sedang duduk dan mengobrol. Siapa yang sedang dia tatap? Daren mengamati setiap gerak gerik pria itu, tatapannya jatuh kepada lexia, meskipun ragu karena ketiganya sedang berada di tempat yang sama tetapi Daren Segera mendatangi tempat mereka dan mengajak lexia pulang. Tatapan pria itu masih tertuju kepada lexia.
'Balkon?' bukankah lexia juga dari balkon? apakah mereka bertemu di sana?'
Daren membalikkan tubuh lexia agar dia dapat menatapnya. Daren mengambil rambut-rambut kecil yang menempel dipermukaan wajah lexia, memberikan kecupan di bibirnya yang sedikit terbuka. Aku tidak perduli siapa Adrick Rudolf, jika dia berani mengganggu milikku, dia harus mati di tanganku." ucap Daren sambil menarik tubuh lexia dan memeluknya erat-erat.
~
"ini semua data-data mengenai keluarga Caesaar tuan." Ucapnya.
Adrick sedang duduk di kursi singgasananya menatap pemandangan malam dari tempat duduknya. Dia kemudian memutar kursinya sambil menatap kertas-kertas yang di taruh di atas mejanya.
Dengan malas dia mengambilnya, kemudian membacanya. "Lexia Kenzo?" ucapnya.
"Ya, namanya lexia Kenzo tetapi sejak dia kembali kepada keluarganya Namanya yang sebenarnya adalah Celia Caesaar." ucapnya.
"Dia sudah menikah? diusianya yang masih muda?" ucapnya lagi.
"Ya tuan, wanita itu telah menikah, suaminya bernama Daren Burchard dari perusahaan besar Burchard Holding di Manhattan dan juga di Oklahoma." ucapnya lagi.
Dia sedang menopang dagu menatap berkas-berkas di hadapannya dengan malas. "Menikah?? ck tidak menarik, kau boleh pergi."
__ADS_1
"Baik tuan."