
Suara tawanya terdengar di ruangannya, tawa putus asa, kecewa, dan tawa seakan meratap karena merasakan kemarahan Daren yang tidak pernah dia temui sebelumnya.
Dia mengambil botol berisi minuman berwarna hitam dan meneguknya sekaligus lalu terkekeh panjang. "Dia memperlakukanku layaknya seperti saudara kandungnya sendiri tapi lihatlah sekarang, hanya dalam beberapa jam dia mendepakku demi ular kecil itu, membuangku yang telah lama tinggal bersamanya."
Dia berjalan dengan langkah terhuyung-huyung, tatapannya tidak fokus menatap lukisan besar orang tua angkatnya yang mengasuhnya sejak usia 14 tahun, dia sudah menganggap Daren adik kandungnya sendiri.
"Kau ingin mengambil namaku? Aku bahkan tidak mengenal dengan nama belakangku sendiri dan kau ingin mengambilnya dariku, nama kebanggaanku?? Hanya karena gadis sialan itu!" Langkah kaki lovelia berhenti tepat di depan pintu ruangan ibunya.
"Mommy!" Ucap lexia mengintip dari balik pintu, dia sedih menatap ibunya menangis dan tertawa di saat bersamaan. Tubuh kecilnya berjongkok di balik pintu mendengarkan tawa dan ucapan-ucapan ibunya yang menyumpahi Daren dan lexia.
~
Napas mereka terdengar bersahutan, tubuhnya yang seksi dan sedang tegang tengah bergerak liar, membuat lexia melengkungkan tubuhnya mengikuti alur percintaan Daren. Napas mereka bersahutan manakala puncak yang di tunggu-tunggunya telah datang di saat bersamaan. Malam panas mereka terus berlanjut hingga lelah mendera dan menghempas mereka dan masuk ke buaian mimpi-mimpi indah mereka.
Daren terbangun dan beranjak dari tempat tidur tanpa membangunkan lexia yang sudah terlelap, dia menatap lexia yang terlihat lelah, dia menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi seluruh tubuh lexia.
Daren menatap pemandangan dari jendela kaca, malam berangin dan deburan ombak yang dapat terdengar dari jarak jauh, membuat daren memikirkan banyak hal, dia
mengambil minuman dari pantry dan menyesapnya lalu duduk di salah satu kursi, dia mengingat kembali ucapannya mengenai Barbara, keputusannya sudah bulat, Barbara yang sudah diluar batas terhadap dirinya.
"Kau harus belajar Barbara, tidak semua yang kau inginkan selalu berjalan sesuai dengan keinginanmu." Ucapnya.
~
Tuan Robert sedang duduk di ruangannya, dia tidak bisa melupakan kejadian tadi pagi, mata safir gadis itu pernah di lihatnya, tetapi entah dimana wajah gadis itu begitu familiar. Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
Langkah kaki Alvin berhenti tepat di depan meja kerja ayahnya, sorot matanya terlihat tajam menembus wajah ayahnya yang masih duduk dengan tenang.
"Sekarang ayah sudah puas melihat kematian lagi? Kenapa ayah harus mengejar gadis itu? Dia hanya bekerja pada keluarga Burchard, yang harus di salahkan itu mereka yang memperkerjakan lexia." Ucap Alvin masih dengan suara datar tanpa intonasi yang tinggi kepada ayahnya.
Tuan Robert memperbaiki duduknya lalu menatap Alvin putra keduanya dan kini menjadi putra satu-satunya setelah kematian putra pertamanya dalam kecelakaan mobil.
"Mengapa kalian pikir aku akan membunuh gadis itu? Apakah aku terlihat sekejam itu? Aku hanya ingin berbicara dengannya dan menghukumnya sesuai dengan perbuatannya, tetapi bukan berarti menghukum seperti yang ada dikhayalan kalian semua yang berlebihan dan brutal, karena gadis itu berasal dari lingkungan seperti itu aku berniat mengirimnya ke asrama untuk belajar agar dia memiliki pendidikan dan menjadi gadis yang terdidik." Ucapnya.
"Sudah terlambat, karena pengejaran ayah yang berlebihan itu akhirnya dia tewas, ancaman-ancaman yang ayah katakan selalu membuat siapa saja ketakutan mendengarnya, termasuk lexia, hidupnya yang menyedihkan berakhir seperti ini." Ucap Alvin berbalik dan meninggalkan ruangan ayahnya.
Tuan Robert mengambil ponselnya.
"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu, cari tahu identitas gadis bernama lexia Kenzo dan segera laporkan kepadaku." Ucapnya.
Setelah menutup ponselnya, tuan Robert menghela napasnya. "Apakah gadis itu betul-betul telah wafat?" Ucapnya.
~Pukul 11.12 Oklahoma
Siang ini lexia sedang sibuk di dapur, dia ingin makan siang kali ini dia yang memasak dan menghidangkan untuk Daren suaminya.
Daren sebelumnya melarang lexia untuk memasak karena tubuhnya masih banyak butuh istirahat dan selain itu Daren ragu apakah masakan lexia tidak membahayakan kesehatan mereka berdua, tapi Lexia kukuh ingin memasak buat daren, Entah mengapa hobinya kini berganti menjadi memasak.
Hari ini lexia akan memasak makanan simpel yaitu ayam panggang dan salad, itu saja yang lexia mampu buat untuk makan siang mereka kali ini.
Setelah membaca resep melalui ponselnya, lexia merasa yakin membuatnya, apalagi makanan hari ini sangat simpel. Lexia sedang di dapur dan seseorang mengintipnya dari ruang sebelah, dia begitu heran mengapa dia masih bisa hidup? Sebenarnya apa yang terjadi? Evan melangkah ingin menemui daren di ruangannya.
"Hai Evan." Sapa lexia.
Evan berhenti dan tiba-tiba mematung, dia sedikit menunduk dan melanjutkan langkahnya. Lexia menatap heran kepadanya karena Evan sepertinya terlihat ketakutan akan sesuatu hal. Pikirnya.
Ketukan terdengar dari pintu ruangan daren. Setelah mendengar suara daren, evanpun masuk.
Daren berdiri di depan jendela sedang memikirkan sesuatu, dia kemudian berbalik ketika Evan sudah ada di di belakangnya.
"Bagaimana kabar di mansion?" Tanyanya.
"Tuan Andres telah menemui nyonya Barbara setelah ia sampai di mansion."
"Bagus, dan satu lagi mengenai tuan Robert bagaimana pergerakannya."
"Tidak ada sir, mereka tidak mengikuti kita lagi, sepertinya mereka juga shock karena mengira nyonya lexia telah wafat."
"Hemm, tetapi saya masih tidak tenang, tidak semudah itu tuan Robert akan berhenti bergerak, ikuti pergerakan orang-orang Robert, mungkin saja dia melakukan sesuatu." Ucap Daren.
"Baik sir." Evan segera keluar dari ruangan Daren setelah membungkuk sebentar.
"Mengapa aku merasa tidak tenang?" Ucap Daren. Dia menghembuskan napasnya dan akhirnya keluar dari ruangannya ingin menemui lexia dan melihat masakan apa yang telah di buatnya.
Daren berdiri di tangga dan melihat lexia sedang berkutat di dapur, lexia mengenakan celemek sambil memperhatikan masakannya yang berada di dalam oven. Daren turun dari tangga lalu melangkah di belakang lexia dan memeluknya erat.
"Masak apa sayang?" Bisik daren.
"Makan siang kita."
"Hem, kau yakin kita bisa memakannya." Ucap daren di sertai tawanya yang menempel di tengkuk lexia.
__ADS_1
"Kau meragukanku? Aku sudah masak sesuai dengan resep yang aku browsing daren, lihat ini, bentuknya sama saja kan dengan yang aku buat." Ucap lexia sambil memperlihatkan menu yang di masaknya.
"Kau yakin rasanya akan sama persis?" Tanyanya.
"Te..tentu saja, aku kan sudah melakukannya sesuai dengan petunjuk." Ucap lexia sedikit ragu dengan hasil masakannya.
"Oke, kita akan tahu kan setelah masakannya selesai, masakanmu bisa dimakan atau tidak." Ucap Daren yang mulai memainkan jarinya di tubuh lexia.
"Ihs, Daren jangan di sini aku sedang masak." Ucap lexia Memukul tangan Daren yang menyusupkan tangannya di dalam celemek lexia.
"Tidak ada yang akan datang sayang, aku sudah memerintahkan mereka tidak masuk ke dalam jika kita berdua ada di sini." Kecup Daren di ceruk leher lexia.
"Tapi masakanku akan hangus Daren." Ucap lexia mendorong Daren hingga tubuh mereka terlepas.
Daren membantu lexia mengerjakan sisa masakannya yaitu membuat salad, lexia duduk di hadapan daren dan mengamatinya, 'kenapa dia bisa memotong sayurannya dengan cepat? 'ucap lexia memandang wajah tampan Daren.
Tangannya memeluk pinggang Daren dan membelai punggungnya, tubuhnya dia dekatkan hingga dia dapat menyentuh bagian favorit Daren, lexia ingin membuyarkan konsentrasi Daren.
"Kau mencoba menggodaku lexia sayang, jangan salahkan aku jika kita tidak bisa makan siang untuk hari ini, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar selangkahpun." Ancaman Daren menciutkan nyali lexia, tentu saja dia lalu berhenti karena dia tidak mau di gempur habis-habisan oleh Daren tanpa makan siang, apalagi perutnya sudah lapar.
Daren tersenyum ketika lexia berhenti bermain-main dengan tangannya di tubuh Daren dia melepaskannya, lalu kembali duduk di depan meja sambil menopang dagu menatap wajah Daren.
Daren tertawa melihat lexia menyerah dengan ancamannya. "Nah selesai, tinggal menunggu hasil pangganganmu sayang." Ucapnya, dia membopong tubuh lexia dan mendudukkannya di atas tubuhnya.
Mereka saling menatap. Daren mendekatkan wajahnya ke wajah lexia namun terdengar langkah kaki evan menuju kearah mereka, hingga lexia mendorong wajah Daren yang tidak perduli kedatangan siapapun itu.
"Sir, nona Nency sedang menunggu di ruang tamu." Ucap Evan.
Daren terkejut begitupun lexia. "Nency? Mengapa dia bisa datang kemari?" Ucapnya.
"Daren, sebaiknya aku sembunyi, bagaimana jika dia melihatku dan mengatakannya kepada tuan Robert?"
"Bukan masalah dia tahu atau tidak lexia, aku tidak mau menyembunyikanmu." Ucap daren terdengar kesal.
"Tapi semuanya akan sia-sia jika mereka tahu aku masih hidup, mereka akan mencariku lagi dan lagi, aku tidak mau berurusan dengan kakek tua itu." Ucap lexia.
"Jadi kau ingin sembunyi?" Ucap daren, lexia lalu mengangguk.
"Hm, bagaimana jika nency menggodaku? Kau tahu sendirikan jika dia menyukaiku, kau ingin aku di rebut wanita lain?" Ucap Daren menarik wajah lexia ke arahnya.
"Te..tentu saja tidak, bukan itu maksudku daren, tapi bagaimana jika dia memberitahu tuan Robert kalau aku masih hidup?"
"Tuan Robert akan berhenti mencarimu, meskipun dia tahu kau masih hidup." Ucapnya.
"Ce... cemburu? Aku? Memangnya kau akan melakukan apa dengannya?" Ucap lexia dengan mata mendelik. Daren tertawa. "Baiklah sayang terserah kau saja, aku akan segera menemuinya." Daren bangkit dari duduknya lalu melenggang ke ruang tamu tempat nency berada di sana.
Lexia membuntuti Daren dan bersembunyi di salah satu ruangan dan mengamati nency dengan pakaian minim serta tas yang di bawanya.
"Tas? Tas besar itu untuk apa dia membawanya kemari?" Ucap lexia menatap wanita itu sedang memainkan kukunya dan bersandar dengan santainya di kursi.
Daren melangkah memasuki ruangan, seketika nency berdiri dan menghampiri Daren dan memeluknya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku baru saja kembali dari jerman tetapi aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada lovelia." Bisiknya.
"Lovelia?" Daren mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan pembicaraan nency kepadanya.
Daren melepaskan pelukan nency. Daren duduk di hadapannya kemudian dia kembali duduk di sana merasa canggung karena Daren belum mengatakan apa-apa.
"Bagaimana kau bisa tahu dimana aku berada nency?" Tanyanya. Kemudian dia tersenyum manis lalu mengedipkan matanya ke arah daren. "Berkat koneksiku tentu saja, beberapa Minggu yang lalu kakakmu memberitahukan mengenai pengawal kepercayaannya yang dia tempatkan bersamamu kemanapun kau pergi Daren." Ucapnya terlihat senang.
"Jadi kapanpun aku bisa tahu kau ada dimana."
Bibir Daren menipis, lalu menaikkan satu alisnya dia mencoba menahan amarahnya. "Siapa pengawal yang kau maksudkan nency?" Ucapnya.
"Dia salah satu penjaga yang berdiri di pintu gerbang, entah siapa namanya aku lupa, mungkin Harold, gerald, jangan pedulikan itu Daren, Oh ya mengapa kau menginap di villamu di sini? Apa kau sedang liburan?" Tanyanya antusias.
Daren menatap nency dengan marah tapi dia mencoba menahannya, lalu memperhatikan tas besar yang dibawa oleh nency.
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" Tanya daren melihat tas besar yang ada di sampingnya.
"Oh, aku..sedang ingin refreshing jadi sekalian saja aku membawanya, aku tidak menyangka tempat ini sangat sesuai untuk menghilangkan kepenatanku, aku capek sekali bekerja di rumah sakit seharian aku butuh liburan, jadi tidak apa-apakan kalau aku berlibur beberapa hari di sini?" Ucap nency dengan pandangan mata memohon.
"Entahlah, tapi aku tidak tahu jika kau sudah mendengarnya atau belum karena aku sudah menikah dan villa ini adalah tempat bulan madu kami." Ucap Daren.
"Menikah? Dengan siapa Daren?" Wajahnya seketika terkejut dan langsung berdiri di tempatnya.
"Apa maksudmu menikah Daren? Kapan kau menikah, mengapa aku tidak mengetahuinya?" Ucapnya mendesis terdengar marah.
Daren masih duduk di kursi dan melihat wanita ini dengan pandangan aneh. "Mengapa kau harus mengetahuinya?"
"Kau tahu dengan jelas perasaanku padamu dan...
"Sepertinya cukup nency, sudah berapa kali aku katakan lupakan perasaanmu itu padaku, apalagi sekarang aku sudah menikah, sebaiknya kau pergi." Ucap Daren dengan dingin.
__ADS_1
'Dasar wanita culas, pergi ! Pergi sekarang !" Ucap lexia dari seberang pintu.
Daren melihat lexia sedang mengintip dan dia menghampirinya dan memegang tangannya.
'Apa yang kau lakukan daren, jika dia melihatku dia akan memberitahukan tuan robert.' gumamnya.
Daren tidak perduli dengan ucapan lexia dia tetap memegang tangannya dan membawanya bersamanya ke hadapan nency.
Nency berbalik dan menatap heran dengan keberadaan lexia di sana. "Bukankah dia gadis pembohong itu Daren? aku tahu sebagian cerita tentangnya tetapi mengapa dia bersamamu? bukankah paman sedang mencari-carinya?" ucapnya sambil menyilangkan tangannya menatap lexia dengan pandangan angkuh.
Daren memegang tangan lexia dan mengajaknya duduk di sampingnya. "Lexia adalah istriku nency, jadi apa maksudmu dengan perkataanmu tadi, sebagian yang kau dengar cerita tentang lexia itu semua rencanaku, dia berpura-pura menjadi lovelia karena aku, sebenarnya aku tidak perlu menjelaskan semua ini kepadamu tetapi kau sepertinya harus di buat mengerti nency."
"Apa...istri?? gadis penyamar ini istrimu??" ucapnya tidak percaya, "Kau pasti bercanda Daren? bagaimana bisa kau menikahinya? sekarang aku mengerti mengapa kakakmu sangat frustasi seharusnya kau berpikir rasional Daren?!" Nency menggelengkan kepalanya, dia betul-betul tidak mempercayai apa yang di lihatnya.
"Seharusnya kau yang berpikir rasional nency, berapa kali aku sudah menolakmu bahkan sebelum aku menikahi lexia, sepertinya kau masih belum mengerti juga." ucap Daren masih dengan suara datar dan normal, tetapi lexia tahu jika Daren sedang menahan kemarahannya yang sebentar lagi akan meledak.
Lexia menyandarkan kepalanya di bahu Daren mencoba memprovokasi nency yang melotot melihatnya. "Apakah kakakmu tahu semua ini, kau menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya ini?" ucap nency mendelik kepada lexia.
"Aku tidak mau mendengarkan omong kosongmu nency pergilah dari sini selama aku masih sopan berbicara kepadamu." ucap Daren sambil mengelus rambut lexia.
Nency berdiri sambil menahan air mata kemarahannya. "Aku masih belum menerima pernikahanmu Daren, itu tidak masuk akal bagiku." ucapnya.
"Masuk akal atau tidak bukan urusanmu untuk mencampuri kehidupanku, kau harusnya sadar, kau bukanlah siapa-siapa bagiku jadi sebaiknya kau pergi dari sini, demi kebaikanmu sendiri." ucap Daren sementara itu lexia menatap nency lalu menjulurkan lidahnya kepada nency.
Daren menutup mulut lexia dengan tangannya agar tidak memprovokasi nency yang menatap lexia dengan tatapan membunuh.
"Aku begitu bodoh menunggumu selama ini Daren, setelah kau berpisah dengan Carol, aku pikir kita bisa...., sudahlah, aku tidak percaya ternyata seleramu begitu rendahan. Lexia tiba-tiba saja berdiri dan menghampiri nency, dia menyilangkan kedua tangannya lalu menatapnya.
"Rendahan? aku tidak mau mendengarkan kata rendahan dari wanita culas sepertimu." Lexia berdiri di hadapannya, memandangnya dengan tatapan mata yang sinis.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan, tinggi keduanya tidak begitu jauh berbeda. Nency tersenyum miring dan menatap lexia dengan pandangan menantang.
"Apa yang telah kau lakukan sampai daren jatuh di perangkapmu, apakah kau menjual tubuhmu untuk mendapatkan Daren? dia bukan tipe yang menerima gadis tidak jelas sepertimu, bukan hanya itu, asal usulmu yang tidak jelas itu, bagaimana bisa.....
"Cukup !" Daren berdiri dan menghampiri keduanya. "Sebaiknya kau pergi nency, lebih baik kau pergi, selama aku masih bersikap baik padamu, lexia sedang tidak enak badan jadi dia tidak boleh terlalu banyak bergerak." ucap Daren menarik lexia kepelukannya.
Nency menatap tajam kepada Daren dan lexia. "Apakah kau seperti ini karena Carol? jika karena Carol aku bisa menghubunginya dan kau bisa berbicara dengannya, aku masih lebih menerima jika kau memilih Carol di bandingkan....
"Cukup !" bentak daren, dia begitu lelah harus menjelaskan kepada wanita ini yang sama sekali tidak mengerti.
"Kau pura-pura bodoh atau kau memang bodoh ya!?" ucap lexia. "Kau masih belum mengerti perkataan suamiku? dia menikahiku karena mencintaiku, apa harus aku menyuruhnya menciumku di depanmu baru kau akan sadar dan segera pergi?!" lexia maju selangkah melepaskan pelukan Daren lalu berkacak pinggang.
"Terima kenyataan nona, sejak Daren berpisah dengan wanita bernama Carol itu, bukankah dia selama ini selalu menolakmu? kau mengerti apa maksudnya? artinya dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu, kau bodoh ya !" Daren kembali menarik lexia mundur beberapa langkah menjauhi nency yang gemetaran dengan ucapan lexia.
Tanpa berkata-kata dia pergi menyeret tas besarnya keluar dari villa ini lalu menghapus air matanya dengan kasar. Lexia jalan menjauhi Daren, dia pergi kembali ke dapur menyiapkan makanan yang sudah dingin karena kedatangan nency.
"Lexia?" panggil Daren melihat lexia sedang menata makan siang mereka. "Kau marah?" tanyanya. lexia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak marah, cuma...em tidak apa-apa." ucapnya. Daren menarik tangan lexia dan memeluknya.
"Ada apa? katakan ! jangan menyembunyikan apapun dariku." bisik daren.
"erm..aku hanya berpikir, semua orang mengatakan asal usulku tidak jelas, sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya, tetapi semenjak menikah denganmu semua orang mempertanyakan tentang itu, aku jadi berpikir siapa orang tuaku sebenarnya." ucap lexia sambil menunduk.
"Hei sayang, tatap mataku, apakah aku pernah mempermasalahkan mengenai hal itu? tidak, karena yang kucintai adalah kau lexia jadi aku tidak perduli apa kata orang lain, selama kau di sampingku itu sudah cukup." bisik daren sambil menarik bibir lexia dan mengecupnya perlahan dan menggodanya dengan bibirnya.
"emm ya, kau benar Daren." ucap lexia. Meskipun begitu ada rasa penasaran yang terbentuk di hati lexia, dia juga penasaran mengapa nenek Kenzo menemukannya di emperan toko sedang duduk di sana seorang diri, siapa sebenarnya aku dan dimana orang tuaku? pikir lexia.
~
Masih di sekitaran Manhattan city, mobil kusam itu telah kembali ke Manhattan karena dia tidak akan mencari lexia lagi, kabar terakhir yang di dengarnya betul-betul membuat Edo shock berat, malam itu William memberitahu kepadanya tentang lexia yang telah menikah dengan Daren.
Edo sedang duduk di emperan toko lalu menatap orang yang berlalu lalang, dia membuang satu kaleng kosong ke tempat sampah tetapi sayangnya lemparan Edo meleset dan mengenai mobil seseorang, pria itu berbadan besar dia turun dari mobilnya dan menatap kaleng yang jatuh teronggok di jalanan.
"ini sampahmu anak muda?" ucap pria itu. Edo sontak berdiri dan mengambil kalengnya dan membuangnya di tempat sampah dengan benar. Pria raksasa itu maju beberapa langkah memegang kerah pakaian Edo.
"Gorgon ! hentikan, kembali ke mobil." ucap pria itu. Pria raksasa bertubuh besar itu berbalik dan melepaskan tubuh Edo dia kembali kepada tuannya dan naik ke mobil di belakangnya.
"Ck siapa mereka?" ucap Edo memandangi deretan mobil panjang berwarna hitam serta jendela Limousine yang terbuka memperlihatkan wajah seorang pria yang tampan memanggil pria besar tadi, mata safirnya menatap berbahaya kepada pria bernama gorgon.
Mobil itu kian menjauh, "Siapa mereka." ucap edo, dia hanya melihat lambang naga hitam dan huruf besar x di mobil itu. "Apakah mereka salah satu mafia di kota ini?" bisiknya.
~
Langkah itu terdengar terburu-buru sehingga dia menabrak Beberapa orang yang berjalan di koridor. ketukan itu begitu mendesak, Sebastian masuk lalu sedikit membungkuk kepada tuan Robert.
"Tuan, saya menemukan informasi jika putra Rodrigo berada di kota ini, dia berada di Manhattan." ucapnya.
"Rodrigo? benarkah? tetapi hanya putranya saja yang menghadiri pesta pemegang saham kali ini." Sesuatu membuat tuan robert tersentak entah mengapa wajahnya menjadi menyadari sesuatu hal. 'Dia memang mirip, tetapi mungkin hanya prasangkaku saja, aku tidak boleh gegabah, mereka kelompok berbahaya, salah satu mafia terbesar di Milan Italia, dan juga merupakan saingan terbesar tuan Robert.
"Ada apa tuan, anda baik-baik saja?" tanya Sebastian sedikit membungkukkan badannya agar menatap lebih jelas wajah tuannya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Sebastian, bagaimana dengan informasi mengenai gadis itu kau sudah menemukan identitasnya? siapa orang tuanya?" tanyanya. "Kami masih menyelidikinya tuan." ucap Sebastian, wajah kakunya juga tersentak, tiba-tiba Sebastian menyadari sesuatu tetapi dia enggan mengutarakan apa yang ada di pikirannya.