The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Pertemuan 2


__ADS_3

Setelah ancaman daren kepada lexia, dia tidak dapat berkutik, sebisa mungkin dia menghindari hal-hal yang tidak di sukai oleh daren, karena ancamannya akan benar-benar dia lakukan dan hal itu membuat lexia waspada kepadanya.


Mereka berada di dalam mobil, lexia diam sejak tadi, dia marah tetapi dia tidak mau memprovokasi daren karena pria gila ini akan betul-betul melakukan ancamannya.


Daren mengerlingnya. "Kita akan makan malam di hotel Manhattan." Ucap daren. Ucapannya membuat lexia terkejut.


"Apa? Mengapa makan malam di hotel? Aku lelah, aku mau pulang saja, makan malamnya lebih baik di mansion." Ujar lexia, kata 'hotel' membuat lexia terkejut.


Daren tersenyum miring, "Aku ingin makan di sana, jadi sebaiknya kau menurut dan diam." ucapnya.


Mereka tiba di salah satu hotel berkelas di Manhattan, beberapa pelayan dengan siap melayani kedatangan mereka berdua.


"Aku ingin di tempat biasa." Ucapnya.


"Baik tuan."


Mereka mengantar daren dan lexia di lantai tertinggi di hotel itu lalu menuju ruangan besar dengan tulisan Room suite VVIP.


"Jika anda sudah siap kami akan segera menyiapkannya." Ujar pelayan pria itu, dia menutup pintu meninggalkan mereka berdua.


"Siap apa? Mengapa mereka tidak segera menyiapkan makanannya?" Geram lexia, wajah daren seakan menari-nari senang melihat kekhawatiran di wajah lexia.


Daren melepaskan jasnya lalu melemparkannya begitu saja di atas sofa empuk berwarna putih, dan melonggarkan dasinya, dia berjalan ke meja pantry dan menuangkan botol minuman dari ember kecil berisi es ke dalam gelas.


"Kau mau minum?" Tanyanya.


Lexia hanya menatapnya tajam. Apa yang diinginkan pria ini? Apa yang dia rencanakan? Pikir lexia.


"Katakan! Mengapa kau begitu lama di toilet lexia, sebab aku tidak mempercayai semua kata-katamu tadi, dengan siapa kau berbicara." Ucap daren sambil bersandar di kursi dengan menyandarkan satu tangannya.


"Terserah jika kau tidak percaya, aku sudah bilang kepadamu, tidak ada seorangpun yang kutemui." Lexia menjauhinya dan berdiri di dekat jendela masih memegang tas kecil di tangannya.


"Aku tidak segampang itu mempercayai bibir manismu itu, sedikitpun aku tidak mempercayai kata-katamu karena kau pandai berbohong, katakan ! dengan siapa tadi kau telah bertemu." Tanyanya lagi.


Lexia menutup matanya berupaya mengambil napas karena menahan kemarahannya, dia ingin sekali memukul pria ini, dia seperti bersenang-senang dengan pertanyaannya itu, dia hanya ingin mengurung lexia bersamanya di sini tanpa ada gangguan.


Daren berdiri lalu menghampiri lexia yang mundur beberapa langkah.


"Kau takut padaku?" Ucapnya.


"Berhenti bicara omong kosong, aku ingin pulang." Bentak lexia.


"Jangan mencoba menentangku lexia, kau akan tahu akibatnya." Bisik daren yang sudah memojokkan lexia ke dinding kamar di hotel itu.


~


Sebuah rencana yang tidak di duga, William ada di sana melihat daren membawa lexia ke hotel Manhattan, tentu saja dia tidak tahu jika tujuan kedatangan mereka hanya untuk makan, karena di kepala William hanya berputar tentang lexia yang memberikan tubuhnya kepada daren


William berjalan menuju lantai yang ditujunya dan melihat ruangan VVIP dengan tulisan berukir emas dan di jaga oleh beberapa bodyguard yang tidak jauh dari pintu besar itu.

__ADS_1


"Rupanya daren sedang bersenang-senang? Seharusnya aku memberikan kejutan buat mereka berdua." ucap william menyeringai.


~


"Duduk lexia, sebentar lagi hidanganya akan segera datang." ucap daren telah duduk di depan jendela besar, meja makan itu di tata seromantis mungkin dengan penerangan yang minim sehingga terkesan begitu romantis.


Lexia berjalan perlahan dan akhirnya duduk di hadapan daren, lexia menatap meja makan itu dengan bunga mawar yang menghiasi meja dengan daren yang duduk di hadapannya sambil menatap wajah lexia.


"Apa? kenapa kau melihatku sir?" ucap lexia.


"Sir?" Daren tersenyum. "Panggil aku Daren." titahnya.


Lexia hanya diam, bibirnya tertutup rapat.


"Kau benar-benar keras kepala lexia. Daren menatap lexia lalu menyunggingkan senyumnya. "Apa kau tidak tahu? Sebentar lagi usiamu 18 tahun bukan? kau ingin hadiah apa?" tanya daren sambil menautkan kedua tangannya.


"Hadiah? kau ingin memberikanku hadiah?? padahal aku tidak pernah ingat ulang tahunku sendiri."


"Apa yang kau inginkan?" tanyanya lagi.


"Erm...apapun itu?" ucap lexia.


"Ya, apapun itu.". bisiknya.


"Aku akan memikirkannya, jika aku sudah mengetahuinya aku akan mengatakannya kepadamu." ucapnya.


Sebuah ketukan terdengar dari pintu dan beberapa pelayan sudah masuk ke dalam dengan membawa hidangan yang menggiurkan selera lexia, semuanya tersaji di atas meja.


"Makanlah." ucap daren. Lexia kemudian makan dengan lahap, wajahnya penuh dengan makanan. Daren lalu mengambil piringnya lalu menatapnya.


"Kau harus memperhatikan caramu makan Lexia, bukankah kau sudah belajar banyak dengan nona Lucie? apakah aku harus memecatnya dan mencari pengganti barunya yang lebih kompeten untuk mengajarimu?" ucap daren.


Selera makan Lexia tiba-tiba hilang, wajahnya merenggut marah menatap daren, apakah dia tidak bisa membiarkan lexia sedikit saja? lagi pula tidak ada orang di sana hanya dia dan daren.


"Kenapa kau berhenti?" tanyanya.


"Aku kenyang." ucap lexia dia lalu berdiri dari meja makan dan masuk ke dalam toilet.


"Dia pria yang menyusahkan, kenapa dia tidak membiarkan aku sendiri saja, dia selalu cari cara agar aku membencinya. Lexia mencuci tangannya setelah puas mengatai daren di dalam toilet dia akhirnya keluar.


~


Lexia menatap daren yang sedang menelepon seseorang, matanya mengerling menatap kedatangannya.


Bahkan sebuah ponselpun aku tidak memilikinya, pikir lexia, tiba-tiba saja ide itu terlintas begitu saja, dia memukul tangannya lalu senyuman terbentuk di wajahnya.


"Oh ya, aku minta ponsel saja sama dia, lagi pula dia bilang hadiahnya apapun itu." gumam lexia.


"Jadi kau mau ponsel untuk hadiah ulang tahunmu?" ucap daren duduk di depan lexia setelah selesai menelepon.

__ADS_1


"Kau bisa memilikinya dengan satu syarat lexia."


"Syarat?? bukankah itu hadiah ulang tahun? mengapa harus ada syaratnya?" ucap lexia bersedekap menatap daren.


Sebuah senyuman terukir di wajah daren, dia lalu duduk di samping lexia dan mengurungnya dengan kedua tangannya.


"Apa sih maumu?" tanya lexia.


"tidak ada, hanya ingin menatapmu saja." daren mengambil napas panjang. "Ck, tidak menarik jika hanya melihatmu saja." ucap Daren.


Sebuah ketukan membuat daren meninggalkan lexia dan membuka pintu kamar.


"Daren?? kau sudah lama menunggu?" ucap nency tersenyum senang lalu melompat ke tubuh daren dan memeluknya erat.


"Aku senang sekali waktu aku mendengar kau memanggilku kemari daren, aku tidak menyangka kau...." dia lalu menyadari jika daren tidaklah sendirian di kamar itu, dia menatap lexia, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi marah dan kecewa.


"Apa ini daren?! Apakah kau mempermainkanku?" ucapnya sambil memandang tajam lexia.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu nency, tapi aku tidak pernah memanggilmu kemari, kau yakin kalau aku yang meneleponmu?" ucap Daren.


"Tentu saja aku yakin daren, apakah kau pikir aku berbohong?"


"Lagi pula kenapa kau berada di kamar ini bersama lovelia? mengapa kau mengajaknya ke hotel?" ucap nency.


"Apa yang kulakukan bukanlah urusanmu nency, sebaiknya kau pulang, kami hanya makan malam dan sebentar lagi kami akan pulang." ucap daren tanpa menatap wajah nency yang sudah memerah karena begitu marahnya.


"Tunggu daren, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap nency memegang lengan daren dan memeluknya.


"Sebentar saja daren hem." bisiknya.


Lexia melangkahkan kakinya lalu menuju ke pintu kamar. "Kalian bisa bicara, aku lebih baik pulang duluan." ucap lexia.


Daren tidak menghentikan lexia yang keluar dari pintu kamar. Daren lalu menelepon seseorang.


"Lovelia akan segera turun, siapkan mobilnya." Ucap daren menatap kepergian lexia tanpa berbalik memandangnya, Pintu itu kemudian menutup.


"Ck, dasar pria mesum, kalau ada wanita sedikit saja merayunya, dia langsung saja menyambutnya dengan tangan terbuka, ugh untuk apa aku memperdulikan apa yang dilakukannya, itu urusannya tidak ada hubungannya denganku."


"Kau cemburu?"


Suara seseorang membuat lexia terkejut, dia menatap pria tinggi yang tiba-tiba berjalan di sampingnya.


"Sudah lama kita tidak bertemu lexia, bagaimana kabarmu?" ucap William yang sedang berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat senang ketika bertemu dengan lexia.


"Kau ! kenapa kau berada di sini?"


"Kebetulan saja aku melihatmu berada di hotel ini bersama daren, apakah dia sedang bersenang-senang di dalam sana dengan wanita lain sementara dia mengirimmu pulang?" ucapnya.


"Kebetulan yang aneh, kau memang penguntit." ucap lexia. "Bukan urusanku apa yang di lakukan daren di dalam sana, jadi jangan bertanya tentang daren kepadaku." ucap lexia berjalan tanpa memperdulikan William yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


William mengerlingnya lalu tersenyum, dia menarik tangan lexia dan mengecup bibirnya.


"Apa? apa yang kau lakukan??" teriak lexia, dia kemudian menendang kaki William dengan keras lalu kabur dengan cepat, lexia masuk ke dalam lift dan segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2