
Seluruh tubuh Crystal terasa nyeri dan ngilu, pria itu seakan ingin memakannya, dia menggigit di beberapa tempat di bagian tubuh Crystal sehingga pagi itu kulitnya yang putih pun terlihat kemerahan.
Pelukan erat dari pria yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya, membuat sekujur tubuh Crystal menjadi panas, wangi pria itu dan wangi tubuhnya sangat kental tercium di ruangan itu.
Crystal membuka kedua matanya, dia merasakan tubuhnya menyentuh sesuatu di belakangnya, dia hendak bergerak ingin melepaskan rengkuhan pria itu, tetapi sayangnya tekanan pelukannya sangat kuat, sehingga Crystal tidak bisa berbalik, dia hanya merasakan hembusan panas dari pria yang ada di belakangnya.
Ingatannya kembali pada tadi malam, pipinya bersemu merah hingga mencapai ke lehernya, dia tidak menyangka pria mengerikan itu telah bercinta dengannya, orang yang paling di takuti di dunia bawah, tidak ada yang berani mendekatinya, bahkan pamannya pun yang sangat mengerikan baginya, terlihat mengecil ketika berhadapan dengan Darko Caesaar.
"Kau sudah bangun?" Suara itu membuat Crystal tersadar dari pikirannya sendiri.
"I-iya." Suaranya begitu kecil.
"Bagus, karena sepertinya aku menginginkanmu lagi." Bisiknya di tengkuknya.
"Apa? Cicit Crystal lalu membelalakkan matanya, pagi menyambut dengan sinarnya yang terang benderang, sementara pengantin baru itu masih sibuk dengan kegiatan panas mereka, suara desahan dan erangan memenuhi kamar mereka, tanpa ragu Darko menghentak Crystal dengan serangan membabi buta, tubuh mereka begitu intens bergerak di bawah kendali Darko, setelah mendapatkan puncak kenikmatannya, dia bangun begitu saja dari tempat tidur dengan tubuh di penuhi keringat, meninggalkan Crystal yang masih bernapas dengan berat dan memburu, tubuhnya di penuhi keringat sehabis pergulatan dengan Darko.
"Apa yang telah dia lakukan, aku sampai tidak bisa bergerak." Gumam Crystal menarik selimut yang jatuh di bawah kakinya agar seluruh tubuhnya tertutup dengan rapat.
Crystal mencoba duduk, tetapi lagi-lagi rasa sakit itu masih bisa di rasakannya, apa yang harus dia lakukan, sementara Crystal sangat ingin membersihkan tubuhnya, apalagi tubuhnya berkeringat dan terasa lengket membuatnya tidak nyaman. Rambutnya berantakan terurai, semburat kemerahan di pipinya masih belum juga hilang, dia mencoba berdiri, tapi kakinya lagi-lagi gemetar tidak terkendali.
"Ughh, bagaimana ini?" Gumamnya, dia sekali lagi mencoba berdiri, dia menggigit bibirnya ketika merasakan nyeri amat sangat di daerah sensitifnya, dia akhirnya menyerah dan menunggu dan berharap agar sakit itu segera menghilang.
Darko baru saja keluar dari kamar mandi, matanya beralih kepada wanita itu, dia terlihat cantik dan seksi dengan rambut berantakan yang terjuntai jatuh di bahunya, selimut putih menutupi sebagian tubuhnya, rona merah cantik membekas di pipinya hingga ke lehernya, dan bibirnya terlihat bengkak karena ulahnya.
Dia menelan ludahnya, seakan kegiatan panasnya tadi belum cukup memuaskannya. Dia menyadari kernyitan kesakitan terlihat di wajahnya. Darko berjalan ke arah Crystal sambil mengeringkan handuk di rambutnya.
"Sakit?" Tanyanya.
Crystal sontak menganggukkan kepalanya, menolehkan kepalanya karena malu.
__ADS_1
"Kau ingin mandi?" Tanyanya lagi.
"Ya, aku ingin mandi." Ucap Crystal.
"Tunggu sebentar." Darko lalu pergi dan masuk ke kamar mandi, dia melakukan sesuatu di dalam sana, setelah itu dia kembali ke tempat crystal duduk di tepi tempat tidur. Matanya tajam menatap tubuh Crystal.
"Singkirkan itu." Sambil menunjuk selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"A-apa? Kenapa?" Tanya crystal dengan gugup, dia sama sekali tidak sanggup jika harus melayaninya lagi, tubuhnya masih sakit dan nyeri.
Darko menarik begitu saja selimutnya dan mengangkat tubuh Crystal di pelukannya. Rona kemerahan menyebar ke seluruh tubuh Crystal, dia sama sekali polos di tangan pria itu, dia membuka kamar mandi dan menurunkan Crystal di dalam bathub, kehangatan dari airnya dan wangi yang menenangkan, membuatnya sedikit memekik ketika merasakan sensasi hangat menyerang keseluruh penjuru tubuhnya.
"Mandilah, aku menunggumu di luar." Ucapnya dengan suara dingin, tetapi dia menarik dagu Crystal dan membenamkan ciumannya di sana dengan penekanan yang kuat.
"Katakan padaku jika kau sudah selesai." Ucapnya pelan. Crytsal mengangguk dengan cepat, setelah itu Darko menutup pintu kamar mandi, membiarkan Crystal seorang diri di sana agar dia menikmati waktunya.
~
"Tenanglah lexia, kau heboh sekali." Ucap Nara sambil terkekeh.
"Dia mengirimkan surat kepada Hanna, dia akan menikah dengan gadis pilihannya dan bulan berikutnya dia akan membawa istrinya dan memperkenalkannya kepada kita semua, dia bilang, kita bebas mau membuat acara apapun ketika dia tiba nanti." Ucap Nara.
Hanna menghela napasnya. Lexia lalu menatapnya. "Ada apa sayang, apa yang kau khawatirkan." Tanyanya.
"Aku mengkhawatirkan gadis itu, apakah dia akan baik-baik saja? Apakah Darko akan memperlakukannya dengan baik, katanya usia gadis itu baru 18 tahun, dia masih sangat muda dan dia memiliki seorang adik, apalagi istri Darko tidak lagi memiliki orang tua." Ucap Hanna terdengar prihatin.
"Jangan khawatir, aku percaya dengan Darko, meskipun dia terkenal kejam dan mengerikan, hal itu di peruntukkan untuk musuh-musuhnya, tidak untuk keluarganya, dia pasti akan memperlakukan Istrinya dengan baik."
~
__ADS_1
"Buka." Ucapnya.
"Apa?" Ucap Crystal tidak mengerti.
"Buka pakaianmu itu, ganti dengan gaun yang kusediakan, aku tidak mengizinkan kau memakai barang-barangmu yang dulu, kenakan gaun yang diambilkan pelayan, sekarang." Titahnya.
Crystal berdiri dari meja sarapan, dia menuruti apa yang diinginkan Darko, meskipun dalam hati dia sangat ingin bicara dan memprotes kepadanya, tetapi dia tidak memiliki daya maupun kekuatan untuk melawan pria itu.
Darko memperhatikan wajahnya, wanita itu terlihat murung dan sedih, dia berdehem dan segera berdiri dari tempat duduknya. Dia mengambil gaun yang akan dikenakan Crystal. Darko lalu berdiri di hadapannya, dia membeku di tempatnya berdiri sambil menatap tangan Darko yang mulai bergerak.
Mata mereka saling bertemu, darko melengkungkan bibirnya dengan senyum penuh arti kepadanya. Meskipun Crystal telah melakukannya dengan pria itu, tetapi jantungnya masih berdegub kencang, napasnya mulai memburu ketika sentuhan tangannya berada di leher jenjang Crystal. Dia menutup kedua matanya merasakan tangan hangat itu mulai melepaskan satu persatu helai bajunya, tubuhnya gemetar mengantisipasi apa yang akan pria itu lakukan, meskipun dia tahu persis apa yang akan dilakukannya.
"Kau takut padaku?" Tanya darko dengan berbisik.
Tanpa ragu Crystal menganggukkan kepalanya. Melihat kejujuran di mata gadis itu, membuat Darko merasa jengkel, tetapi dia tidak bisa mengutarakannya. Dia menarik begitu saja wajah Crystal dan memberikan ciuman panjang yang membuat crystal kesusahan untuk mengolah napasnya. Setelah beberapa lama, dia melepaskan bibirnya. "Sekarang kita sarapan, ganti pakaianmu dengan ini." Ucap Darko sambil mengambil gaun terusan berwarna pink lembut yang sangat sesuai untuk Crystal.
Sejak tadi Darko meliriknya, terlihat wajah murung wanita itu di hadapannya, dia memikirkan sekali lagi apa yang telah dilakukannya selama mereka bercinta, meskipun dia melakukannya dengan sedikit kasar, tetapi Darko masih bisa menahan serangan bertubi-tubinya.
"Crystal." Ucap Darko, membuat Crystal terkejut ketika namanya di panggil. "I-iya ada apa?" tanyanya.
"Kita akan keluar setelah ini, kau suka jalan-jalan?" tanya Darko. Crystal mengangguk dengan cepat, dia tidak membayangkan bahwa pria ini ingin mengajaknya keluar apalagi bersama dengannya.
Setelah ucapan Darko, Crystal segera mengganti pakaiannya dan mengenakan pakaian yang lebih tepat digunakan untuk jalan-jalan.
Wajah Crytsal berubah lagi menjadi cemberut, bagaimana tidak, Darko hanya membawanya berjalan-jalan di sekitar apartemen, meskipun apartemen itu memiliki taman yang sangat luas di belakangnya, tetapi kenyataannya mereka hanya mengitari bangunan raksasa itu, membuat Crystal tanpa sadar mendengus di samping Darko.
"Kau pasti heran mengapa aku membawamu berjalan-jalan di sekitar sini saja?"
"Ya, kenapa?" tanya Crystal.
__ADS_1
Darko berhenti, tatapannya tajam menatap Crystal, "jika musuh-musuhku tahu, ada kau di sisiku, mereka akan mengincarmu, mereka akan merenggut apa yang paling berharga dariku, jadi kita jalan-jalannya di sekitar sini saja." Ucap Darko sambil memegang erat tangan Crystal.