The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Desa Turtel The Reaves


__ADS_3

Jangan Lupa Tekan Voteee, like and comentnya yaaaa tmn2 readers 😆 Selalu ku tunggu.


🌺HAPPY READING🌺





Flashback


Mobil itu melaju kian kencang hingga lexia mengambil kesempatan itu untuk memegang setir mobil agar pria botak itu berhenti, tetapi ketika ada truk yang lewat, mobil tetap menikung tajam dan akhirnya mobil menabrak pembatas jalan hingga terguling kebawah jurang menabrak bebatuan dan pepohonan.


Mobil itu kini terbalik dan kaca depan pecah berserakan di mana-mana. Asap keluar dari mobil itu, lexia merasakan sakit yang sangat di bagian kepala, tangan dan kakinya, tubuhnya berada di atas sedangkan kepalanya menyentuh bagian bawah, kesadaran menghantamnya, suara tetesan terdengar dari mobil yang mengeluarkan asap itu. Lexia memegang kepalanya dan membuka matanya lebar-lebar, dia menatap sekelilingnya dan berusaha membuka seat beltnya yang macet.


"Sial ! Ukh kumohon terbukalah." Lexia menarik sekuat tenaga, akhirnya seatbelt itu terlepas dan kini dia tinggal berusaha membuka pintu mobil yang posisinya telah terbalik. Lexia memukul-mukul pintu mobil dan mencari gagang pintunya, dan untung saja terbuka, dengan menyeret tubuhnya yang penuh luka dan kepalanya yang mengeluarkan darah, lexia segera keluar dari mobil yang berasap itu.


Matanya mencari-cari pria botak yang telah membawanya hingga hampir saja maut menjemputnya, tetapi dia tidak menemukannya di mana-mana.


"Pecundang itu lari, dan tidak berusaha menyelamatkanku dan pergi begitu saja, awas saja kalau kita bertemu lagi." Ucap lexia berusaha mencari tempat untuk dirinya beristirahat. Kepalanya sangat sakit, bajunya yang berwarna putih sudah dipenuhi dengan bercak darah.


Lexia bergegas menjauhi mobil itu, beberapa menit kemudian mobil itu meledak dengan ledakan yang dahsyat, lexia menundukkan tubuhnya berlindung di balik batu dan pepohonan, ledakan itu susul menyusul membuatnya harus menunduk hingga ledakan itu berhenti.


Asap mengepul berwarna hitam menutupi tempat itu beberapa saat kemudian lexia mulai menatap puing-puing yang berserakan di sekitarnya, dia menatap tempat tidak berpenghuni itu, tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya, dia tidak sanggup untuk berjalan jauh, kepalanya sangat sakit dan pening, lexia menatap sekitarnya dengan pandangan yang kabur dan akhirnya dia jatuh pingsan di antara bebatuan itu.


~


"Kenapa kita harus jauh-jauh datang ketempat ini paman?" Ucap salah seorang pemuda yang berjalan dengan langkah berat sambil menopang dirinya dengan kayu, wajah cemberut menghiasi wajahnya.


"Paman dan bibi Mendengar ledakan ketika berada di kebun tadi, ledakannya cukup besar, ikuti saja paman, jangan cerewet Roy." Ucapnya.


Pemuda berusia 21 tahun itu tetap mengikuti pamannya, mereka melihat dari kejauhan asap yang cukup tebal dari kebun mereka yang jaraknya cukup dekat.


Pemuda bernama Roy tiba-tiba berhenti, matanya menatap pada tubuh yang tergeletak di dekat bebatuan dekat dengan mobil yang meledak itu.


"Pa..paman lihat ada wanita yang terbaring di sana." Ucapnya sambil menyenggol tubuh pamannya. Mereka segera bergegas mendekati tubuh yang tergeletak itu.


Pria paruh baya itu memeriksa kondisi lexia yang jatuh pingsan. "Apa dia mati?" Tanyanya.


"Tidak, dia masih hidup, untungnya wanita ini keluar dari mobil itu sebelum meledak, sebaiknya kita bawa ke desa, kita harus mengobati luka-lukanya." Ucapnya.


"Tapi paman, kau tahu bagaimana peraturan di desa, mereka tidak akan membiarkan paman membawa sembarang orang untuk masuk ke desa kita, paman bisa di denda sangat besar oleh tuan Arlond." Ucap pemuda bernama Roy tadi.


"Jadi kau ingin membiarkannya begitu saja sampai dia mati hanya karena Tuan Arlond yang pelit itu, biar nanti aku yang akan mengurusnya, jadi kau ikuti saja apa yang paman katakan."


Pemuda itu menarik napas panjang dan mengikuti perkataan pamannya. Mereka membawa lexia sebentar ke rumah kecil yang ada di kebun mereka, di sana sudah ada sang istri dari pria paruh baya itu.


"Astaga..Hendrik, siapa wanita ini?" Tanyanya menatap lexia yang dibaringkan di atas tempat tidur kayu.


"Kalian keluarlah dulu, aku ingin mengganti bajunya dan mengobati luka-lukanya." Ucap wanita itu. Mereka berdua mendengarkannya dan akhirnya keluar dari rumah itu.


"Apa yang terjadi sampai-sampai mobilnya bisa terjatuh ke jurang?" Ucap pria paruh baya yang bernama Hendrik itu.


"Mungkin dia mabuk dan akhirnya jatuh begitu saja di jurang ini."


"Tutup mulut Roy, Jangan bicara sembarangan." Ucapnya sambil memukul punggung pemuda itu.


Setelah lexia diberi perawatan oleh wanita itu, mereka akhirnya membawanya ke desa yang bernama Turtle the Reaves, meskipun para penduduk tidak menyambut baik kedatangan orang asing yang datang ke desa mereka tetapi keluarga ini yang bernama Hendrik Delvario merawat lexia dengan baik, meskipun mereka berada di desa itu tetapi sikap mereka sangat ramah kepada penduduk luar desa.


Lexia di baringkan pada satu kamar kosong, wanita itu menatap lexia dan menyeka keringat yang ada di keningnya, hal ini mengingatkannya akan putrinya yang telah meninggal dunia, jadi mereka begitu saja menolong lexia tidak perduli pendapat para penduduk dan officer yang meminta uang denda kepada mereka dengan jumlah besar.


Lexia mulai membuka matanya yang berat meskipun tubuhnya sakit semua tetapi sedikit-sedikit dia mulai merasakan kesadarannya, dia kemudian menatap sekelilingnya.

__ADS_1


"Ugh dimana ini?" Ucap lexia mencoba duduk, dia menatap sekitarnya, tidak lama kemudian wanita paruh baya yang merupakan istri dari pria yang bernama Hendrik segera masuk ke dalam kamar dan tersenyum ramah kepada lexia.


"Kau sudah siuman? Bagaimana dengan kepalamu, apa kau masih pusing?" Tanyanya.


Lexia mengangguk dan menatapnya.


"Ya, tentu kau akan pusing, benturan cukup keras terkena di bagian belakang kepala kamu nak jadi sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak dulu." Ucapnya memperingati sambil menaruh nampan yang diatasnya terdapat semangkuk bubur dan air putih.


"Dimana ini Nyonya?" Tanya lexia.


Dia tersenyum ramah. "Kau berada di tempat yang aman, kau berada di desa turtle the Reaver, kau pernah mendengar tentang desa kami?" Tanyanya.


Lexia menggeleng pelan.


"Tentu kau belum pernah mendengarnya bukan? Desa ini sangat terpencil dan jarang dikunjungi orang luar apalagi kami memiliki peraturan yang ketat mengenai siapa saja yang masuk dan keluar dari desa kami, jadi saya ingin mengingatkanmu jangan dulu keluar dari rumah ini karena tidak semua penduduk yang ada di sini ramah kepada orang asing." Ucapnya.


"Ba..baik." ucap lexia heran, dia tidak tahu kalau di zaman modern seperti ini ada desa yang masih terisolasi dan tidak menerima orang-orang dari luar desa mereka.


"Saya tahu kamu pasti terkejut bukan? Tetapi itulah peraturan di desa kami sudah turun temurun dari nenek moyang kami yang pertama mendiami tempat ini hingga sekarang, Oh ya ngomong-ngomong siapa namamu Nak?" Tanyanya penasaran.


"Namaku lexia Burchard." Ucap lexia menggunakan nama belakang Daren alih-alih menggunakan nama Kenzo atau Caesaar.


"Burchard?" Tanyanya.


"Itu nama belakang suamiku." Ucap lexia lagi.


Wanita itu terkejut, kemudian tersenyum ramah. "Jadi kau sudah menikah? Apa kau sudah memiliki anak?" Tanyanya.


Lexia tersenyum dan mengangguk.


"Ya, aku memiliki putra, dia baru berusia 1 tahun dua bulan." Ucap lexia.


"Benarkah? Kau pasti sangat merindukannya." Ucapnya tersenyum. "Kalau begitu istirahatlah, nanti kalau kau sudah baikan, kau bisa menghubungi Keluargamu." Dia tersenyum kemudian meninggalkan lexia agar dia bisa beristirahat.


~


Lexia nampak cemas, sudah dua hari ini lexia tidak bertemu dengan suami istri itu, entah kemana mereka, tetapi tiap hari makanan tetap di bawakan untuk lexia oleh pemuda bernama Roy. Dia sama sekali tidak ramah tetapi dia tetap membawa makanan untuk lexia.


"Ini makanlah, kau tidak bertanya?" Tanyanya ketika dia membawakan makan siang untuk lexia.


"Ya, ada yang ingin aku tanyakan, dimana Nyonya dan tuan Hendrik?" Tanya lexia.


Pemuda itu kemudian bersandar di pintu dan tersenyum mengejek. "Ini semua gara-gara kamu, tahu ! paman tidak bisa membayar denda karena memasukkan orang asing ke desa ini, dan tuan Arlond meminta dua kali lipat dari yang seharusnya karena sudah beberapa lama kau berada di sini." Ucapnya jengkel.


"Benarkah? Berapa yang diminta oleh pria yang bernama tuan Roland itu?" Tanya lexia.


"Bagaimana bisa kau akan menolong mereka? Untuk menolong dirimu sendiri saja kau kesusahan."


"Hei, kau tidak mendengarku, berapa yang diminta oleh pria bernama Arlond itu?" Ucap lexia jengkel.


"Hem, kenapa? memangnya kau punya uang berapa banyak? Pria itu meminta 500 dollar kepada paman." Ucap roy dengan jengkel.


"Denda apaan itu, bukankah itu namanya pemerasan, ck ck ck apa kalian yakin tidak dibodohi olehnya?"


"Sstt, jangan sampai penduduk desa mendengarmu, bisa saja kau langsung diusir dari desa ini atau kau akan di bawa ke jeruji mereka, kau tidak tahu bagaimana mengerikannya jeruji tuan Arlond." Ucapnya.


"Makan itu, aku Melakukan semua ini karena permintaan paman dan bibiku, jika dia tidak memintanya aku mana mau mengerjakan semua ini." Dia kemudian menutup pintu dan pergi dari rumah itu.


~


Helikopter itu menuju ke titik lokasi desa bernama Turtle The Reaves, mereka sudah mencari tempat teraman untuk melakukan pendaratan setelah berada di udara sekitar 6 jam perjalanan jarak yang mereka tempuh.


Pepohonan yang lebat membuat helikopter itu kesulitan untuk melakukan pendaratan, untungnya tidak jauh dari desa ada sebuah lapangan kecil, di tempat itulah helikopter itu bisa melakukan pendaratan.

__ADS_1


Daren dan yang lainnya turun dari helikopter dan segera berlari dan sedikit menunduk, setelah tiba di tempat yang aman, helikopter itu akhirnya berhenti dan mendarat di sana.


"Dimana desa itu?" tanyanya.


"Kita harus berjalan sebentar, mungkin sekitar 15 menit dari tempat ini."


"kalau begitu kita harus berangkat secepatnya." ucap Daren.


~


Lexia tidak bisa tinggal diam saja, dia tidak bisa membiarkan Suami isteri itu dalam masalah karena dia, tubuh lexia masih dibalut perban tetapi dia sudah bisa bergerak dan berjalan, dia melangkah sampai ke depan pintu rumah yang semuanya di dominasi oleh kayu dari hutan. Lexia mengintip Sebentar dan menatap para warga yang melakukan aktivitasnya.


"Sial, kenapa jantungku berdebar? apa aku akan di seret ke penjara jika aku keluar dari rumah ini?" ucap lexia bingung dan sedikit takut. Kakinya ingin melangkah akan tetapi keraguan terus membayanginya.


~


"Tuan Daren kita sudah sampai." Ucap pria itu.


Mereka menatap gerbang besar yang panjang dan cukup besar layaknya seperti benteng. Gerbang itu terbuat dari kayu dan beberapa orang menjaga di sana. Mereka bertiga berdiri ketika melihat 6 orang pria mendatangi desa mereka.


"Ada perlu apa di desa kami." Ucapnya tidak ramah. Mereka menatap satu-satu dari keenam pria yang terlihat berbahaya bagi mereka meskipun mereka berenam tidak memegang senjata sama sekali, malah sebaliknya mereka bertiga memegang panah dan tombak di tangannya.


"Kami sedang mencari seseorang, apakah kalian menemukan seorang wanita yang terjatuh dari jurang?" tanyanya.


Mereka saling melirik dan salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Daren. "Tidak ada wanita seperti yang anda katakan, sebaiknya kalian pergi, kami tidak menerima warga asing memasuki wilayah kami." ucapnya kasar.


Daren menatap mereka tajam. "Bagaimana jika kalian membiarkan kami untuk memeriksa sebentar? berikan kami sedikit waktu." ucap daren berusaha seramah mungkin.


Mereka tertawa mengejek, salah satu dari mereka menggosok hidungnya lalu maju selangkah dan berdiri tepat di depan Daren, Keempat pengawal mereka langsung saja maju, Daren menaikkan satu tangannya memberikan isyarat kepada mereka agar tenang.


Ketiga pria itu melihat bagaimana Daren memerintah keempat pria yang ada di belakangnya, membuat para penjaga gerbang mundur beberapa langkah.


"Biarkan aku memeriksa Sebentar, bagaimana?" Ucap daren mulai jengkel.


Mereka masih bergeming, tetapi salah satu dari mereka segera masuk ke dalam gerbang untuk melaporkannya kepada pria tua bernama Tuan Arlond. Mereka menunggu beberapa menit, setelah itu pria kurus itu keluar kembali dari gerbang.


"Tuan kami tidak mengizinkan kalian untuk memeriksa, jika kalian bersikeras kami tidak akan segan-segan untuk....


Daren tidak tahan lagi dengan sikap kasar mereka, dia menarik kerah baju salah satu pria itu, dua pria lainnya membidikkan tombaknya akan tetapi empat pengawal Daren mengeluarkan senjata api kepada ketiga pria itu, hingga mereka begitu saja menjatuhkan senjatanya.


"Selama aku masih bersikap baik, maka bekerja samalah, jika tidak, kalian lihat saja bagaimana desa ini akan berakhir di tanganku." Ucap Daren sambil mendorongnya cukup keras.


"Si..siapa kalian ini?" Ucap salah satu dari mereka, Roy berjalan-jalan di sekitar gerbang dan menghampiri keributan yang di dengarnya.


"Ada apa paman Bill?" Tanya Roy menatap Daren dan orang-orang yang berdiri di belakang mereka.


"Pergilah, ini buka urusanmu, sebaiknya kau pergi saja ke paman dan bibimu, urus dia selama mereka di tahanan." Bentaknya.


Roy menatap kurang ajar kepada pria bernama bill dan menggumamkan umpatan kasar kepadanya, matanya kini beralih kepada Daren yang juga menatapnya.


"Anda mencari seseorang sir?" Ucap roy membuat ketiga pria di sampingnya menatap jengkel kepadanya.


"Ya, aku mencari seorang wanita yang terjatuh dari jurang, aku ingin memeriksa desa ini sebentar, mungkin saja dia ada di sini." Ucap Daren.


"Wanita yang jatuh dari jurang?" Ucapnya.


Kata-kata Roy membuat Daren menatapnya. "Apa kau menemukan wanita yang terjatuh dari jurang bersama mobil yang meledak di dekatnya.


"Kalian mencari wanita itu? Erm..aku lupa namanya, Oh ya aku ingat sekarang, kalian mencari Wanita bernama Lexia Burchard bukan? Kalau begitu ikut aku." Ucapnya enteng.


Daren dan yang lainnya sangat terkejut, Daren melangkah cepat menghampiri Roy dan memegang kedua bahunya. "Dimana..dimana dia sekarang?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Kalian bisa ikut aku." Ucapnya sambil tersenyum sinis kepada ketiga pria yang ada di sana yang menatap jengkel kepada Roy.

__ADS_1


__ADS_2