The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 38


__ADS_3

Hanna tidak bisa menggerakkan kakinya, seakan membeku di tempatnya berdiri. Thomas membantu Hanna keluar dari tempat persembunyiannya.


Hening sejenak, Hanna sudah duduk di sofa menghadap kepada pria bermata tajam itu. Dia seperti menuntut jawaban dari Hanna, tanpa kasihan sama sekali dengan ketakutan yang di rasakan oleh Hanna. Mereka berdua duduk di sofa, Thomas menatap tajam kepada Hanna, "Ceritakan semua yang kau ketahui mengenai pria tadi."


"Apa kau mengetahui pria itu?" tanyanya. Hanna perlahan menggeleng, dia tertunduk dan mengambil napas panjang dan ketika dirinya sudah siap berbicara, dia mulai menceritakan semua yang di alaminya kepada Thomas.


"Cakaran di pintu itu sering kali kudengar di samping kamarku, di flat yang kutempati dulu, hampir setiap hari aku mendengarnya, seakan pria itu tahu aku mendengar cakarannya, tetapi anehnya, mengapa pria itu ada di sini? mengapa dia bisa tahu aku ada di tempat ini?" Ucap Hanna dengan mata membelalak, air matanya masih menggenang di pelupuk matanya, menghalangi sedikit penglihatannya.


Thomas terlihat sedang berpikir keras, karena kecurigaannya terbukti benar, maka dia akan memberitahu tuan Dazon ketika dia tiba nanti, malam ini dia memang sengaja bersembunyi di salah satu ruangan pribadi tuannya, inipun juga karena perintah tuan Dazon untuk mengawasi wanita itu, jadi jam 11 lewat, Thomas sudah bersembunyi, tetapi tidak lama setelah itu, dia melihat Hanna keluar dari kamarnya dan berdiri di depan jendela tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Dia sengaja menelepon di ruang pribadi Dazon untuk menghentikan pria itu mengetahui tempat persembunyian mereka.


"Kau melihat wajah pria tadi?" Tanyanya.


Hanna menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak melihat wajahnya cuma, dia memiliki bau parfum yang menyengat, setiap kali dia datang wanginya semakin menyengat." Ucap Hanna.


"Bau parfum?" Ucap Thomas, dia terlihat sedang berpikir dan tenggelam dengan pemikirannya sendiri.


"Kembalilah ke kamar anda nona Hanna, sebaiknya anda segera tidur, saya akan berjaga di sini." Ucap Thomas.


Hanna menganggukkan kepalanya, dia kemudian berdiri dan segera masuk ke dalam kamarnya. Matanya menatap bekas garukan pria aneh itu, dia merinding menatapnya.


~


Hanna merasakan sesuatu bergerak di sampingnya, dia menyipitkan matanya dan menatap ruangan itu, sudah pagi tapi di luar masih gelap. Hanna ingin meneruskan tidurnya, tetapi sesuatu membuatnya terkejut setengah mati, dia merasakan ada yang bergerak di sampingnya. Hanna terduduk dan menatap seseorang yang tidur di samping bantalnya.


Pandangannya masih tidak jelas karena lampu kamar itu di matikan, Hanna kemudian menatap punggung seseorang yang membelakanginya.


"Pria itu, kapan dia kembali? Kenapa dia tidur di sini?" Gumam Hanna, "Apa dia tidak melakukan apa-apa padaku tadi malam?" Ucap Hanna menatap dirinya, pakaiannya masih utuh tidak kekurangan sesuatu apapun.


"Jangan bergumam-gumam di sana, aku tidak akan menyerang wanita yang suka mendengkur sepertimu." Ucap Dazon masih menutup matanya.


"Mendengkur? Aku tidak mendengkur." Ucap Hanna, dia segera mengambil bantal-bantal dan melemparkannya kepada Dazon. Hanna berlarian dan keluar dari kamar.


"Kalau dia mau menahanku di sini, setidaknya dia harus menyiapkanku satu kamar untukku, aku tidak bisa berada di dalam kamarnya terus menerus, lama-lama aku memiliki wangi yang sama seperti dirinya." Gumam Hanna.


Pintu kamar terbuka, Dazon melangkah mendekat di mana Hanna sedang duduk.


"Kau berbicara dengan siapa?" Tanyanya.


Hanna mendengus, "tidak ada, aku tidak berbicara dengan siapapun." Ucapnya mengelak.


Hanna meliriknya, dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Dazon, tetapi bibirnya masih tertutup rapat.


"Kemarilah !" Perintahnya.


Hanna tiba-tiba mundur semakin jauh dari tempatnya duduk, matanya berkilat tajam menatap dazon, "Untuk apa, kau mau apa?" Teriak Hanna.


"Aku ingin memelukmu." Ucap Dazon terus terang. Hanna dengan marah malah semakin menjauh, Dazon terkekeh, dia sepertinya bersenang-senang dengan ketakutan dan kekhawatiran Hanna.


"Me..menjauhlah ! atau aku akan teriak." Ancam Hanna.


Dazon tertawa, "Mereka yang ada di luar sana adalah pengawalku, sebesar apapun teriakanmu, tidak ada yang akan datang menolongmu." Ucap Dazon melangkah perlahan mendekati Hanna, dia sengaja berjalan perlahan hendak menakut-nakutinya.


"Kau salah, yang di luar sana tidak semua patuh padamu." Ucap Hanna. Dazon menaikkan alisnya, dia kemudian berjalan cepat dan berdiri tepat di depan Hanna yang tersudut di depan pintu.


"Apa maksudmu?" Tanyanya.


"Jangan tanya padaku, kau bisa mendapatkan jawabannya dari pengawalmu bernama Thomas." Ucap hanna pelan.


Dazon bersedekap, lalu mengambil dagu Hanna agar dia menatap matanya. "Jadi, selama kepergianku beberapa hari ini, kau sudah menghapal nama pengawalku?" Tanyanya.


"Kebetulan saja aku tahu namanya." Ucap Hanna mencoba melepaskan diri dari tangan Dazon yang semakin memegang dagunya erat dan hendak memberikan ciuman di bibirnya.


"Kau tidak bisa menciumku seenaknya." Ucap Hanna memukul tangan Dazon, agar genggamannya terlepas.


Ketukan terdengar dari ruangan mereka. Hanna membalikkan kepalanya sebentar, dia menjadi lengah, Dazon lalu mengambil kesempatan itu membenamkan bibirnya, membuat Hanna begitu terkejut, Dazon memegang tengkuknya menahan kepalanya agar tidak menjauh darinya, dia merengkuh Hanna, membawanya ke sofa dan menahannya di sana, dia melingkarkan tangannya di punggung hanna, kemudian berlama-lama dibibirnya.


Ketukan itu tiba-tiba berhenti, begitupun dengan Dazon, Hanna mencoba mengambil napas sebanyak mungkin untuk menghirup oksigen, napasnya tidak teratur, dia masih duduk di atas pangkuan Dazon, tangannya masih melingkar di sekitar lehernya.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


Hanna akhirnya dapat mengumpulkan pikirkannya, dengan marah dia mencoba turun dari pangkuan Dazon. "Kau ! Pria mesum." Ucap Hanna, mendorong tubuh Dazon, dan akhirnya turun dari pangkuannya, Sebelum dia pergi, dia menendang kaki Dazon tetapi sayang sekali tendangannya meleset, hanna kembali berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


Dazon terkekeh, dia tertunduk sambil menahan tawanya, melihat wanita itu sering kali mencoba menendang kakinya tetapi tendangannya selalu meleset,


Suara ketukan kembali terdengar di pintunya.


"Masuk." Ucap Dazon .


Thomas melangkah masuk ke dalam ruangan, dia sedikit menunduk kepadanya. "Ada apa thom, kenapa pagi-pagi sekali kau menggangguku?" Tanya Dazon sambil merentangkan kedua tangannya di atas sofa.


"Tuan, ada yang harus aku katakan kepada anda." Ucapnya.


~


Hanna mengosok giginya dengan kasar, dan beberapa kali menghapus bibirnya dengan air di westafel. Dia kemudian menatap wajahnya yang sedikit pucat, mata coklatnya terlihat sayu dan ada sedikit lingkaran di bawah matanya, semalaman dia gelisah karena kejadian mengerikan itu.

__ADS_1


"Mengapa aku berada di tempat ini? Pasti yessy sangat mengkhawatirkanku, dia pasti bingung karena gedung itu sudah di beli, pasti saat ini dia sedang mencariku, apa yang harus aku lakukan."


"Bagaimanapun caranya aku harus keluar dari sini, aku harus mencari cara agar bisa menghubungi Yessy." Ucap Hanna.


~


Mereka sekarang berada di ruangan kerja Dazon, sekarang ini, di ruangan itu hanya ada Dazon dan Thomas. "Apa yang terjadi thom, kenapa kau terlihat khawatir." Tanyanya.


"Tuan, kejadian pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini, saya sangat yakin, pelaku pembunuhan itu ada di sini sir." Ucap Thomas.


"Ada di sini?" Tanyanya.


"Seperti yang juga anda curigai, bahwa pelaku itu adalah salah seorang pengawal yang bekerja kepada anda, dan saya dapat memastikannya, pria itu semalam datang ke ruangan anda, dan mencoba menakuti-nakuti nona Hanna, dia sering melakukan cakaran panjang di pintu, begitupun semalam, sepertinya dia juga tinggal di sebelah kamar Nona Hanna ketika dia masih tinggal di flat itu, karena nona Hanna seringkali mendengar garukan yang sama di samping kamarnya."


"Apa kau yakin?" Tanya Dazon.


"Ya sir, dan satu hal lagi, dia selalu memakai parfum yang menyengat di tubuhnya, sama halnya dengan kejadian yang menimpa tuan Daneil, sebelum dia jatuh pingsan, dia membaui wangi yang tajam di seluruh koridor." Ucap Thomas.


"Katakan, siapa orang yang kau maksudkan Thomas, jika memang sudah ada bukti kita harus menyingkirkan orang itu, dia sangat berbahaya jika dibiarkan bekerja di bawah nama keluarga Caesaar." Ucap Dazon.


"Dia adalah....


Ketukan terdengar di pintu, Thomas berbalik lalu menatap dua orang yang masuk dan menghadap kepada Dazon.


"Ada kabar apa Paulo, Riel." Tanyanya.


"Tuan Xaphier dan Nyonya Nara serta Nona Alice telah datang tuan." Ucapnya.


Dazon terkejut, dia sama sekali tidak tahu, jika ayah, ibu dan adiknya datang berkunjung.


"Aku akan segera ke sana, bawa ayah dan ibuku ke lantai 4, dan jangan pernah biarkan mereka pergi ke lantai 5." Perintah Dazon.


"Baik sir." Ucap Riel dan Paulo.


Thomas menatap tajam kepadanya, senyum miring mengerikan darinya balas menatap kepada Thomas secara terang-terangan, dia kemudian berbalik dan segera keluar dari ruangan.


~


Hanna menatap dari jendela bawah, sedikit keramaian yang terlihat dari atas tempatnya berdiri, dia menatap banyak mobil masuk ke pelataran penthouse ini. "Apakah ada tamu yang datang, kenapa ramai sekali." Ucapnya.


Aku harus segera kembali ke flat, barang-barangku dan tabunganku semua ada di sana, aku tinggal pergi dari sini, dan kembali ke flat lalu pergi menjauhi kota ini bersama Yessy, dan memulai hari yang baru di kota lainnya.


Tapi bagaimana caranya? Tempat ini keamanannya sangat ketat, dimana-mana pengawal berdiri di setiap sudut ruangan. Pikir Hanna.


Hanna menekan tombol lift yang menuju ke lantai 1, tetapi matanya tiba-tiba teralihkan dengan melihat pintu darurat yang menghubungkan ke pintu belakang.


Hanna lebih memilih pintu itu, resikonya terlalu besar ketika dia menggunakan lift untuk keluar dari tempat ini, bisa saja dia berpapasan dengan pengawal atau bahkan tuan muda itu.


Hanna turun dengan cepat melalui tangga yang meliuk, meskipun penerangannya gelap, dia tetap turun menuju lantai paling bawah. Hanna memegang dinding, dia memastikan bisa turun ke lantai bawah dan kemudian lari dari sini. Dia sudah berada di lantai tiga, dia harus berani, segelap apapun tempat yang akan di lewatinya, dia harus berani melaluinya.


Lantai 3 di tangga darurat itu sangat gelap, Hanna memegang dinding di sekitar tangga, supaya dia tidak terjatuh, tiba-tiba kakinya berhenti bergerak, bau itu lagi, sangat menyengat di bawah sini, suara geraman seseorang dan tetes air terdengar jatuh setetes di lantai, yang entah dari mana asalnya, Hanna berhenti di tengah-tengah tangga itu, matanya menatap ke bawah, kegelapan itu sungguh pekat, sama sekali tidak ada cahaya yang menyinari tempat itu.


Hanna kembali naik selangkah, ketika mendengar suara tapak kaki di tempat yang gelap itu, menggema seakan menuju ke arahnya, Jantungnya berpacu dengan cepat, tubuhnya kerap kali gemetar semenjak tinggal di penthouse ini, dia memegang dinding dan kembali melangkahkan kakinya naik kembali ke atas dan setelah itu hanna berlari sekuat tenaga.


Hana melihat pintu di lantai 4 dan begitu saja membukanya dan lari ke tengah-tengah ruangan. Semua mata tertuju kepadanya.


Hanna berhenti, menatap mereka semua yang sedang duduk di ruang santai dan menatap Hanna dengan pandangan menyelidik yang tajam.


"Ups, apa itu wanita yang kau sembunyikan Dazon?" Ucap Daneil tersenyum ironis melihat Dazon gusar dan memijat keningnya, ayah dan ibunya menatapnya tajam, mereka ingin meminta penjelasan kepada putranya.


~


"Kau baik-baik saja?" Jennifer membawakan segelas air putih kepada Hanna yang duduk di salah satu kursi kosong, matanya terpaku pada Dazon, dia meneguk air di gelas hingga tidak tersisa sama sekali dan menyeka keringatnya karena kelelahan sehabis berlari, Hanna tertunduk, dia tidak mau menatap semua orang yang duduk di sana, seperti meminta penjelasan kepadanya.


"Te..terima kasih." Ucap hanna."


"Dazon, bisakah kau jelaskan semua ini? Kupikir cerita yang kudengar dari para pengawal hanya kebohongan belaka, tetapi sepertinya tidak, apa yang sedang kau pikirkan Daz." Ucap Xaphier.


Dazon menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatap tajam ke arah Hanna.


Gadis ini mengacaukan segalanya, dia sama sekali tidak mendengarkan aku. pikir Dazon.


"Dad, seharusnya tidak bertanya bagaimana hubunganku dengan seorang wanita, aku tidak akan menjelaskan masalah privasiku dad, ini adalah hidupku, yang jelas aku tidak melakukan tindakan kriminal seperti menyekap atau menyembunyikan seseorang." Ucap Dazon.


Hanna lalu berdiri dan menunjuknya, "Tapi sudah seminggu kau...." Dazon menarik Hanna ke pelukannya, dan menutup bibirnya dengan tangannya.


Dazon tersenyum ironis kepada wanita yang juga datang bersama Daneil dan Jennifer, tidak lama ketika ayah dan ibunya datang, entah mengapa wanita itu ikut datang ke penthousenya, mungkin karena dia mendengar dari Jenni bahwa orang tuanya akan datang mengunjunginya dan dia dapat bertemu dengan mereka.


"Aku sudah memiliki seorang wanita jadi, sebaiknya kau tidak mengharapkan apa-apa padaku, nona Lorenz." Ucap Dazon terus terang.


Mulut wanita itu ternganga, dia bahkan belum mengungkapkan isi hatinya kepada Dazon dan dengan percaya dirinya dia bahkan sudah di tolak Sebelum mengutarakan perasaannya. Wajahnya merah padam seakan telah di tampar, dia begitu malu karena penolakan Dazon yang terang-terangan.


"A..aku pulang Jenni, nanti kuhubungi, permisi." Ucapnya, dia pergi dan tersenyum sopan kepada Xaphier dan Nara, tetapi dia melirik sedikit kepada Hanna, seorang wanita yang mengalahkannya bahkan sebelum dia memulai pertarungan.


~

__ADS_1


Dazon menarik tangan Hanna, dia membawanya ke lantai 5, para pengawal menatap dazon dan Hanna, mereka semua tidak menyangka wanita itu bisa keluar dan melarikan diri dari ketatnya penjagaan.


"Lepaskan aku, bukankah jalan terbaik kau melepaskan aku, apalagi orang tuamu sudah menuduhmu menculikku, bagaimana kalau aku lari lagi dan memohon kepada mereka agar membebaskanku." Ancam Hanna.


Dazon menarik tangannya keras dan membawanya masuk ke dalam lift menuju ke lantai 5. "Kenapa kau harus mengunciku di ruanganmu, aku ingin pulang." teriak Hanna dengan suara nyaris menangis.


"Diam!" bentak dazon.


Dazon mendorong Hanna agar masuk ke dalam lift dan melepaskan tangannya, tubuh Hanna tersentak dan hampir menabrak dinding lift, untungnya Dazon kembali memegang pinggangnya sebelum dia membentur keras dinding lift itu.


"Kau tidak apa-apa?" Ucap Dazon dengan wajah khawatir.


"Kau mendorongku, sekarang kau bertanya kepadaku." ucap Hanna dengan gusar. Dazon menarik tubuhnya, lalu menggenggam jemari tangannya dan membawanya kembali ke ruangan pribadinya ketika lift membuka.


Hanna tidak lagi memberontak, dia takut jika sekali lagi dia memprovokasi pria ini, bisa-bisa dia berakhir di tempat tidur bersamanya dan pria ini akan memaksakan kehendaknya, jadi Hanna sebisa mungkin menjadi tenang dan akan mencari kembali celah untuk bisa melarikan diri.


"Duduk !" perintahnya.


Hanna duduk di salah satu kursi berlengan, matanya menatap punggung Dazon yang sedang menuju meja pantry mengambil dua minuman dingin. Dia kembali dan memberikannya kepada Hanna.


"Minumlah !" perintahnya lagi.


Hanna menatap minuman berwarna merah pekat itu dan membauinya, dia kemudian menyesapnya sedikit dan merasakan dinginnya minuman ini masuk ke mulutnya, sehingga tenggorokannya terasa lega.


"Bagaimana kau bisa keluar dari tempat ini?" tanya Dazon.


Hanna kemudian melipat kedua tangannya, tanpa takut dia menatap langsung kepada Dazon. "Seseorang membuka pintunya begitu saja, tidak ada seorangpun pengawal yang berjaga di sepanjang koridor, jadi aku kabur saja," ucapnya.


"Seseorang membukanya?" tanyanya.


"I..iya, aku mendengar seseorang membuka pintu itu."


Mata Dazon menyipit menatap Hanna. "Aku berkata jujur, aku saja heran, kenapa pintu itu terbuka dengan sendirinya, tanpa seorangpun ada di sana."


"Bagaimana kau bisa berada di lantai 4, kenapa kau berlari seperti ada yang mengejarmu?" tanyanya.


Hanna menelan ludahnya kasar. "Aku, aku melewati tangga darurat, alih-alih menggunakan lift, aku masuk ke sana, dan semakin aku turun, ruangan di bawah semakin gelap, pada saat di lantai berikutnya, aku...aku mendengar suara aneh." ucapnya sambil merinding.


"Suara aneh?"


"I..iya, suara aneh dan bau yang menyengat memenuhi ruangan di lantai tiga itu, aku mendengar ada suara seperti tetesan air." ucap hanna, dia memeluk dirinya sendiri mengingat geraman aneh yang di dengarnya tadi.


Dazon segera mengambil ponselnya dari saku celananya, dia menelepon Thomas tetapi anehnya dia tidak mengangkatnya, hal ini baru pertama kali terjadi, Thomas yang perfeksionis dan disiplin serta tidak pernah lalai dari tugasnya bahkan sekali deringan telepon dari salah satu tuannya, dia akan segera mengangkatnya, tetapi kali ini sudah deringan ke lima kalinya, tetapi Thomas seakan mengabaikan teleponnya.


Dazon berpikir sebentar, kemudian matanya beralih kepada Hanna, tadi siang Thomas sempat menceritakan tersangka pembunuh itu, tetapi dia tidak sempat mendengar nama yang hendak di sebutkan oleh Thomas. Tiba-tiba Dazon berdiri.


"Ikut aku." perintahnya.


"Kemana?" ucap Hanna takut-takut.


"Ke lantai tiga di tangga darurat, kau mendengar suara aneh bukan?" tanyanya.


"Pergi kesana?" Ucap Hanna dengan mata melotot.


"Kau takut?" tanyanya.


"Si..siapa yang takut, kalau kau mau kita bisa pergi sekarang." Dazon mengulurkan tangannya kepada Hanna.


Hanna menatap tangan Dazon yang terulur dengan gamang. "Kau mau apa, aku bisa berjalan, tanpa kau pegang, aku juga tidak akan melarikan diri." ucap Hanna menjauhkan tangannya dari Dazon.


"Kenapa kau cerewet sekali, sini tanganmu, aku akan memastikan kau tidak akan melarikan diri seorang diri jika kau mendengarkan lagi suara aneh itu." ucap Dazon menarik tangan Hanna dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kenapa, kau juga takut?" ucap Hanna sedikit tersenyum.


Mereka berdua menuju ke pintu darurat, pintu itu di rancang untuk memberikan akses pintu alternatif, selain lift jika terjadi masalah, tetapi selama ini, tidak pernah terjadi masalah apapun dengan lift di penthouse mewah ini.


Dazon membuka pintu itu, kemudian mereka berdua masuk ke dalam. Tempat itu lebih menakutkan di malam hari, apalagi mereka masuk ke sana pada jam 10 malam.


"Kenapa di tempat ini tidak ada lampunya?" tanya Hanna mencari-cari tombol lampu di sekitar dinding.


"Lampu di sini akan menyala dengan otomatis jika ada orang yang datang ke tempat ini." ucap Dazon sambil melihat tangga menuju ke lantai bawah yang mulai menggelap.


"Benarkah? tetapi tadi siang, lampu ini sama sekali tidak menyala." gumam Hanna.


Mereka sedikit lagi sampai ke lantai 3, udara di sana begitu aneh, bau disinfektan tercium menyengat mengelilingi tempat itu, mereka berdua menutup hidungnya, tanpa rasa takut Dazon berjalan, dan benar saja, lampu di lantai tiga itu sama sekali tidak menyala.


"Errgghhh."


Suara geraman itu membuat Dazon dan Hanna terlonjak, mereka sangat terkejut, Hanna secara spontan memeluk Dazon dari belakang kuat-kuat.


Dazon mengeluarkan ponselnya, dia menyalakan Flashlight di ponselnya. Hanna seakan terseret, dia mengikuti ke mana kaki Dazon melangkah. Genangan air itu berwarna merah, semakin mendekati tempat itu, tercium bau anyir darah yang tertutupi dengan bau disinfektan. Dazon melebarkan matanya ketika melihat seseorang yang tersungkur di lantai bersimbah darah, erangan tertahan terdengar darinya, matanya melebar ketika dia melihat kedatangan tuannya bersama dengan Hanna.


"Thomas !" teriak Dazon, dia segera berlari menghampirinya, dia kemudian menatap luka-lukanya yang cukup dalam di bagian perutnya, luka tusukan itu bukan hanya sekali dua kali, tetapi Thomas sungguh hebat, dengan luka sebanyak itu dia masih bertahan dan masih hidup. Dazon segera menghubungi Ambulance dan menghubungi pengawal-pengawalnya.


Ambulance sudah menunggu di pelataran parkiran di penthouse mewah itu, dan Thomas sudah di bawa masuk ke dalam Ambulance dan akan di bawa ke rumah sakit, Paulo dan Loue naik ke dalam mobil Ambulance menemani Thomas, sedangkan dua mobil berwarna hitam mengikutinya dari belakang, Dazon memerintahkan kepada pengawalnya bahwa selain dokter atau perawat, tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruangan Thomas tanpa seizinnya, dan beberapa Pengawal akan di tempatkan di luar pintu untuk berjaga.

__ADS_1


__ADS_2