
Laboratorium itu berada di sebuah universitas terkenal yang tersembunyi dalam suatu bangunan, tempat itu begitu strategis dan tidak ada kecurigaan sama sekali ketika orang-orang melihat bangunan tua itu, mereka sudah memasuki pelataran parkir, laboratorium milik pria tua bernama Rey Vandash juga teman baik dari Tuan Caesaar, terlihat tidak mencolok dibandingkan bangunan lainnya.
Riel masuk ke dalam labnya, dia menerawangi setiap sudut tempat aneh itu, dia di bawa di dalam suatu ruangan besar dan luas, di penuhi dengan berbagai alat-alat laboratorium canggih berteknologi tinggi, dengan beberapa percobaan-percobaan yang telah di lakukan oleh professor yang kini menyalakan lampu di lab itu.
"Kau tinggal di sini?" Riel menatap dokter itu yang terlihat tampak santai, dia masuk lalu melepaskan jasnya dan langsung mengenakan perlengkapan Labnya.
"Sudah lama aku tinggal di sini. Dulu, selain bekerja menjadi seorang pengawal Caesaar, aku juga sangat tertarik di bidang ini, menciptakan obat-obatan, serta mengembangkan penelitianku, serta banyak hal lain yang bisa kulakukan di tempatku ini." Ucapnya sambil tersenyum.
Riel masih berdiri di tengah-tengah ruangan, dia masih memakai mantelnya yang separuh menutupi wajahnya. "Kemarilah Riel, ada baiknya kita berbincang dulu sebentar, mengenai apa yang kau rasakan ketika keinginan membunuhmu menguasaimu lagi." Ucap prof Vandash, suaranya masih tetap ringan, seakan bertanya kepada Riel kau ingin makan apa malam ini, sesantai itu dia berbicara kepada Riel.
Riel memelototi prof Vandash yang masih duduk tenang di kursinya, dia masih tersenyum ramah kepada riel.
"Ini perlu Riel, kita perlu membahasnya, untuk mencari serum penyembuh dari racun yang masih betah di tubuhmu, kita terlebih dahulu harus mempelajarinya dengan cara mengetahui kondisi tubuhmu ketika serangan itu merasukimu."
Riel mendekat, tatapannya tetap tajam menatap prof itu, sulit untuk menyerangnya, seakan perintah di otaknya mengatakan rambut piranglah targetmu, bukan pria tua lemah yang sedang tersenyum itu.
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu prof." Jawab riel dengan suaranya yang dalam dan berat.
"Bagus Riel, kita butuh jujur dan terus terang untuk mendapatkan hasil akhir dan kita bisa saja mendapatkan obat yang mampu menyelamatkanmu dan juga menyelamatkan adikmu dan anak-anaknya nanti."
"Baiklah, riel kita akan memulai dengan menggambarkan bagaimana respon di tubuhmu ketika kau terdorong untuk melakukannya lagi, apa yang kau rasakan." Ucapnya.
Riel terdiam sebentar, wajahnya beralih tidak menatap pria tua itu lagi, melainkan dirinya seakan menerawang dan memutar ulang memorinya, seperti dia berbicara kepada dirinya sendiri.
"Panas, tubuhku menjadi panas ketika perasaan itu datang lagi, sakit di kepalaku seakan mau meledak, darah yang mengalir ditubuhku berpacu, aku tersiksa karena itu, kadang untuk menahan keinginan iblisku, aku mengunci diriku berhari-hari di flat, berteriak, melakukan garukan di sepanjang dinding sampai melukai jari-jariku, kepuasanku belum berakhir, aku tersiksa sampai saat aku tidak bisa menahannya lagi, aku seperti meninggalkan jiwaku yang manusiawi, membiarkan sosok iblis yang ada di tubuhku menguasaiku sepenuhnya dan melakukan apa yang diinginkannya." Jawab riel.
Prof Vandash merekam setiap ucapan Riel, dia bisa melihat ucapan dan gerak tubuhnya yang merasa puas, dia bisa tahu apa yang berputar di kepala pembunuh di hadapannya, dia membayangkan korban-korban yang pernah di renggut nyawa olehnya.
"Apa yang kau rasakan Riel?" Tanyanya.
"Hehehe, kau bertanya? Kau pasti tahu apa jawabanku prof, aku merasa hidup dan terpuaskan, sakit di kepalaku berhenti, jantungku tidak lagi berpacu dan kembali berdetak normal, semua itu normal bagiku." Jawab riel dengan enteng.
"Ok, untuk saat ini kau sudah menjelaskan dengan sangat bagus perasaan yang kau alami, ini bisa menjadi acuan untuk menemukan sesuatu yang akan menjadi obat penawar bagi racun yang kini berkembang di dalam tubuhmu."
~
Wanita itu menghentak kakinya, dia tidak menerima di perlakukan seenaknya. "Hebat sekali wanita itu, dia sudah bisa mengambil hati mereka semua, apalagi menjadi bagian keluarga dari orang terhebat di Amerika, sial ! Wanita itu betul-betul membuatku muak, apa mata mereka semua buta? J4lang itu betul-betul membuat hidupku tidak tenang, aku tidak bisa bernapas lega jika perempuan j4lang itu menikmati kemewahan di keluarga besar itu, sedangkan aku yang bekerja keras mendapatkan gelar tertinggi dan bersekolah di unversitas terkenal di Amerika dan bekerja dengan keras, di kalahkan oleh wanita kotor pembuat kopi itu? aku merasa tercemarkan, harga diriku seakan melompat sampai ke dasar bumi jika aku kalah darinya."
Dia melangkah tegak dan berbelok, kemudian masuk ke sebuah mini bar, memesan minuman lalu masuk ke dalam suatu ruangan kecil, dia menelepon seseorang sambil bersandar santai di sofanya.
"Hal Marco sayang, ini aku Audy, aku ingin membuat kesepakatan denganmu, bagaimana? Kita bertemu sejam lagi di apartemenku, sebelum kita melakukan kesepakatan, tentu aku akan membayar di muka, kau tentu tahu apa maksudku marco, oke, aku tunggu sejam lagi." Ucapnya sambil tersenyum.
"Lihat saja Hanna, kau akan segera di tendang dari keluarga itu, aku akan memastikannya, dan satu lagi yang membuatku tidak suka, meskipun dia putri tuan Caesaar, tetapi dia membuatku jengkel dan geram, berani sekali dia menamparku, Cih aku pernah mendengar kisahnya juga, seorang pemulung eh, mereka sekumpulan perempuan j4lang tidak tahu diri, tunggu saja, pertama-tama aku akan bermain-main dulu dengan wanita kasar bernama lexia, suaminya juga sangat tampan, setelah itu giliran perempuan itu, hanna tan, lihat dan tunggu saja, aku akan merebut suamimu bagaimanapun caranya ." Dia tersenyum miring sambil meneguk habis minumannya.
~
Dazon baru saja kembali dari pekerjaannya, dia pulang larut malam, karena mengurus hal penting yang berkaitan dengan kelompok Crounus, dia membuka pintu kamarnya, mencari-cari hanna. Dia melihatnya sedang berbaring menyamping dan terlihat dia sedang tidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1
"Ck, cepat sekali hanna tidur? Ini baru saja jam 11 malam, apa dia sengaja?" Ucap dazon, dia kemudian menghampiri hanna yang masih tertidur lelap, dazon membungkukkan sedikit tubuhnya lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya, dazon lalu menyentuh hidungnya, dan turun ke bibirnya yang sedikit membuka.
"Ck, dia tidur, apa dia begitu lelah?" Gumam dazon.
Dazon kemudian beranjak dari samping hanna, dia melepaskan jasnya, lalu membuka satu persatu kancing kemejanya, lalu segera menuju pantry dan mengambil segelas minuman.
Dazon duduk di kursi sambil menatap hanna yang masih tertidur. Dazon mengupayakan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin hari ini, dia baru saja menikah masih ingin berlama-lama dan bermesraan dengan istrinya, tetapi pekerjaan itu tidak bisa di tunda, apalagi mengenai kelompok itu.
Setelah pekerjaannya selesai, dazon secepat mungkin pulang, tetapi hanna sudah tertidur lelap, dazon menghembuskan napas dia harus bersabar, untuk menenangkan hasratnya ketika melihat istrinya yang sedang tertidur.
Ponselnya tiba-tiba berdering, dan melihat nama Thomas tertera di sana.
"Ada apa thom?"
"Tuan, Saya akan mengirimkan video yang terjadi tadi siang, sesuai dengan permintaan anda untuk melaporkan segala sesuatunya kepada anda." Ucap thomas.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyanya.
"Ya sir, siang tadi ada seorang wanita bernama Audy Ricardo, dia datang mencari Nona Hanna dan mereka sempat bertengkar, untung saja Nyonya lexia datang membantu Hanna, karena perempuan itu sepertinya tidak akan mundur hanya karena sebuah gertakan atau pemecatan dari hotel ini saja."
Dazon mengernyitkan alisnya dan tampak geram ketika melihat melalui video yang dikirimkan thomas melalui ponselnya, Hanna terlihat di dorong keras oleh wanita itu.
Dazon kemudian menghubungi paulo.
"Ya tuan."
"Cari tahu perempuan bernama Audy Ricardo sampai ke latar belakangnya yang paling dalam, jika dia berani mengambil resiko bertengkar dengan keluarga Caesaar apalagi dengan sikap angkuhnya, berarti dia memiliki orang yang kuat yang membackupnya dari belakang, hingga dia tidak takut mendengar nama Caesaar."
Setelah selesai menelepon, Dazon mengenakan kimono tidurnya yang berwarna hitam lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
~
Lampu dari tadi telah padam, hanya sinar dari luar jendela yang berwarna keemasan yang masuk lewat pantulannya ke jendela kaca mereka. Terlihat Dazon berguling ke samping kiri dan kanan, menatap di dalam kegelapan, malam ini, dia sama sekali tidak bisa tidur, tubuhnya panas, menginginkan sesuatu dari hanna.
Dia mendekati hanna, tampak wajahnya masih damai dibuai oleh alam mimpi, dazon memberikan kecupan ringan di wajahnya, hingga hanna mengernyitkan alisnya dan mendorong tiba-tiba wajah Dazon kemudian berbalik dan membelakanginya.
"Hanna kau betul-betul akan membunuhku." Bisik dazon, dia kembali merentangkan tubuhnya berharap istrinya bangun malam ini, dan menuntaskan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya dan ingin segera di bebaskan.
Hanna tiba-tiba mengucek matanya, merasakan pergerakan di sampingnya yang cukup menariknya dari tidurnya yang lelap, gerakan dazon membuat hanna terbangun.
Dia meraba dazon yang berada di sampingnya, lalu meraba wajahnya di kegelapan.
"Kau sudah pulang? Aku tidak mendengar kedatanganmu daz." Ucap hanna dengan suara serak, dia masih terbuai dari rasa kantuk yang menyergapnya. Tiba-tiba senyum kemenangan terlihat di wajah dazon.
"Kau bangun sayang?" Bisik dazon serak, dia menarik pinggang hanna hingga tubuhnya menimpa dazon, mata hanna kini membelalak karena mengetahui apa yang diinginkan suaminya ini.
"Malam ini giliranku membuat dirimu terjaga sayang, tubuhmu membutuhkanku begitupun diriku, malam kita masih panjang hanna sayang, jadi jangan cemberut dan mengeluh lagi, aku sudah cukup bersabar tidak memaksamu untuk bangun sayang." Bisik dazon.
__ADS_1
"Hmph, kau baru saja bersabar sekitar 3 jam saja, apa itu akan membunuhmu jika kau tidak menyentuhku sedikit saja." ucap hanna.
"Tentu, kau tidak tahu rasanya, hal itu akan membunuhku tanpa menyentuhmu, malam ini aku akan mengajarimu bagaimana memuaskanku sayang." Bisik dazon, sekali lagi hanna menutup mulut suaminya dengan tangannya. Dazon lalu tertawa melihat pipi hanna merona, dia kemudian mengecupnya, istrinya sungguh membuatnya ingin cepat-cepat menenggelamkan dirinya dalam-dalam ke tubuhnya.
~
~
Malam itu lexia dan daren sedang berada di luar, mereka menghadiri undangan pesta dari salah satu rekan bisnis suaminya daren. Seperti biasa, lexia datang dengan begitu anggun dan cantik, dia tampak mempesona. Mereka sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnis daren, sesuatu membuat Lexia terkejut, seorang wanita yang dilihatnya tadi siang berada di tengah-tengah pesta, dia sedang berdansa dengan seorang pria, tiba-tiba dia berjalan menuju ke tempat di mana lexia dan daren berdiri.
Wanita bernama Audy merasa bangga dengan kecantikannya, dia yakin suami dari bibi ini pasti akan melirik kecantikan dan keseksian tubuhnya.
Dia tersenyum ramah kepada lexia dan berdiri angkuh di hadapannya.
"Kita berjumpa lagi Nyonya, terima kasih dengan hadiah tamparan yang kau berikan padaku tadi siang, karenanya, aku harus pergi ke rumah sakit untuk mengobati memar di pipiku."
Perempuan itu sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang di dalam pesta mendengar semuanya.
Sekarang kau malu bukan? lihat saja, aku akan mempermalukanmu di depan orang-orang di pesta ini, dia sekarang pasti malu, Hmph rasakan !
Lexia berjalan tegak, maju beberapa langkah dan berdiri dengan tampak wajar di hadapannya.
"Bagaimana pel*cur sepertimu bisa masuk ke pesta ini? kau itu bukan lawanku, kau ! tidak selevel denganku, kau masih perlu belajar banyak bagaimana mempermalukan seseorang di depan orang banyak, mau kuajari?" Senyum lexia.
Daren tehu betul sifat istrinya, dia tidak menghalangi apa yang ingin di lakukan lexia, dia hanyalah mengambil umpan dari wanita bodoh yang menghampirinya.
Lexia menuangkan segelas penuh minuman ke atas kepalanya, lalu tanpa ragu dia menampar kembali pipi di sebelah kiri wanita itu, orang-orang menahan napas melihat adegan yang tidak di sangka-sangka itu.
Audy mundur beberapa langkah, dia memegang pipinya, orang-orang kini memperhatikannya, wajahnya kini di penuhi minuman manis berwarna merah. Lexia melangkah begitu dekat dengannya. Dia tersenyum puas dan mendorong bahunya dengan jari telunjuk lexia.
"Carilah wanita yang selevel denganmu, mungkin seorang j4lang yang sama denganmu, kau tahu? kau mencari musuh yang salah ! pergi dari sini, sebelum pengawal-pengawalku menyeretmu." Ucap lexia tenang.
Wanita itu menghentak kakinya keras, dia hampir saja tergelincir dan jatuh, orang-orang memandanginya dengan wajah penuh ironi, ada pula yang tertawa mengejek melihatnya.
"Lihat saja, aku akan membalas perbuatan wanita itu !"
Lexia menatap perempuan itu dari kejauhan, sebuah mobil mercedes mewah menjemputnya, berhenti tepat di depannya, dia masuk dan membanting pintu. Hati Lexia gelisah, lexia yakin perempuan itu sedang merencanakan sesuatu, anehya dia menyerang lexia, apa tujuan wanita itu?
Lexia segera menghubungi Paulo dan memerintahkan sesuatu kepadanya.
"Ya, Nyonya Lexia."
"Paulo aku ingin kau menyelidiki dan suruh orang-orangmu mengikuti seorang wanita bernama Audy Ricardo, periksa sedetail mungkin tentangnya, serta latar belakang keluarganya, Aku ingin kau melaporkan hasil intaian kalian secara berkala." Perintah Lexia.
"Baik Nyonya."
Lexia masih berdiri di dekat jendela kaca, tiba-tiba daren menyandarkan dagunya di bahu lexia.
__ADS_1
"Sedang apa sayang? kau tampak mengkhawatirkan sesuatu, apakah gadis tadi?" tanya daren.
"Wanita itu terlihat aneh, dia terlihat sengaja ingin membuatku marah, aku pikir dia memiliki sebuah rencana jahat, aku memerintahkan paulo dan orang-orangnya untuk mengikutinya, dia wanita licik dan licin, entah rencana apa yang dia siapkan kali ini."