
Dua hari sudah berlalu sejak lexia meninggallan mansion Burchard, pencarian masih terus dilakukan oleh daren, entah mengapa dia mati-matian ingin menemukan lexia secepatnya sebelum tuan Robert yang lebih dahulu menemukannya.
Sebuah ketukan terdengar dari ruangan Daren malam itu.
"Masuk." Ucapnya.
Evan masuk dan segera memberikan beberapa dokumen Kepadanya.
"Sir, kami sudah menyelidikinya, wanita yang membantu nona lexia, identitasnya tidak di ketahui, tetapi ada sesuatu yang aneh sir, menurut data yang dia cantumkan ketika bekerja di sini, wanita itu bernama Loren, ini data tentang wanita itu sir, kami sudah memeriksa alamatnya tetapi semua datanya palsu sir."
"Bagaimana bisa mereka begitu teledor membiarkan wanita yang identitasnya tidak jelas bekerja di kediaman Burchard, cih...siapa orang yang berani memasukkan mata-matanya ke keluarga Burchard." Ucap Daren membanting dokumen yang diberikan Evan kepadanya.
"Sir, malam ini pertemuan akan di adakan di kediaman tuan Robert dia ingin seluruh keluarga Burchard untuk menghadiri pertemuan keluarga mereka." Ucap Evan.
"Pertemuan? Ck, apa yang diinginkan tuan robert?" Daren menatap jam di pergelangan tangannya, lalu segera mengambil jas yang tergantung lalu mengenakannya.
"Siapkan mobil, Evan, aku akan pergi menghadiri pertemuan itu."
"Baik sir."
~
Hari itu hujan kembali menghiasi langit dengan derasnya. Mansion mewah malam itu sedang mengadakan pertemuan di antara anggota keluarga.
Seluruh keluarga yang bertalian dengan keluarga Robert semuanya telah hadir di aula besar itu begitupun keluarga Burchard.
"Kau datang Daren, aku pikir kau tidak akan hadir di pertemuan seperti ini." Ucap nency yang melihat daren yang baru saja tiba dari pintu depan.
Daren berbalik dan menatap nency yang sedang berjalan menghampirinya dengan dua gelas minuman di tangannya. Dia memberikan gelas berisi wine itu kepada Daren.
"Apa yang membuatmu tertarik datang ke pertemuan ini Daren, bukankah kau mudah bosan untuk hal semacam ini?"
"Tidak juga, aku memang ingin datang ke pertemuan ini."
"Oh ya, dimana lovelia? Dia kan harus datang untuk pertemuan keluarga." Ucap nency dengan suara sinis, entah mengapa dia tidak senang dengan kehadiran lovelia semenjak insiden di hotel itu.
"Dia akan datang dengan Barbara sebentar lagi." Ucap Daren sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"Kalau begitu, kita bisa melanjutkan makan malam setelah pertemuan ini usai Daren, kita bisa melanjutkan apa yang tertunda sewaktu di....
"Aku tidak bisa nency, aku harus pergi." Ucap Daren meninggalkan nency dengan wajah geram sambil menghabiskan wine dengan sekali teguk.
"Lihat saja Daren, nanti dengan sendirinya kau akan datang kepadaku." ujarnya.
Pertemuan itu sungguh berbelit-belit dan menyita waktu daren, dia terus-menerus menatap jam, lalu seketika matanya jatuh kepada Alvin yang sedang mengobrol dengan beberapa kerabatnya. Mereka saling memandang, dan Alvin melambaikan tangannya kepada Daren.
Daren mengangguk ketika mata mereka saing bertemu. Siapa, siapa yang berani membantu lexia lari dariku? Apakah william Luther ataukah Edo? Kening Daren seketika berkerut ketika melihat kedatangan barbara, tetapi kali ini dia datang seorang diri, meskipun begitu penampilannya membuat orang-orang menatapnya, dia betul-betul menarik perhatian dengan penampilannya.
~
"Tuan, ada berita penting."
"Apa itu?" Ucap william di dalam kantornya, dia menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Menurut pengawal yang bekerja di kediaman Burchard, gadis itu telah melarikan diri lagi sir, sampai sekarang mereka belum menemukannya." Ucapnya.
William terkejut kemudian dia terkekeh. "Lexia hebat juga, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, segera hubungi orang-orang kita, cari lexia dan bawa dia di hadapanku, kali ini aku akan membuat lexia jadi milikku, bagaimanapun juga." Ucapnya.
"Baik tuan."
Seseorang mendengarkan percakapan william dengan pengawalnya, kemudian dia pergi dan masuk ke ruangan sebelah agar tidak ada yang mencurigainya.
"Lexia melarikan diri? tapi dimana dia bersembunyi sekarang? Dia kan tidak punya tujuan." Ucap Edo, dia segera keluar dari club itu dan masuk ke dalam mobil kusamnya, meskipun hujan waktu itu begitu derasnya tetapi Edo segera melajukan mobilnya mencari lexia.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah dia mendengar semuanya."
"Ya sir, anak itu tadi berada di luar pintu."
"Bagus, sekarang kau ikuti kemana dia pergi, dengan bantuan kecil darinya kita dengan mudah menemukan lexia bukan?" Ucapnya sambil terkekeh senang.
~
"Akh, bosan sekali, meskipun apartemen ini luas sekali tetapi aku sendirian di sini. "Oke aku akan ke perpustakaan, sudah beberapa hari aku menghindari tempat itu, tapi akhirnya aku ke sana juga." Lexia melangkahkan kakinya ke ruangan perpustakaan yang luas dengan buku-buku di setiap raknya.
"Emm, coba buku ini, mm..ini novel ya, baiklah aku coba membaca buku ini sepertinya boleh juga." Lexia duduk di sudut meja dengan jendela besar yang ada di sampingnya.
Dua jam telah berlalu semenjak lexia berada di perpustakaan, dia kemudian terbangun karena hari sudah mulai gelap.
"Ugh sial aku ketiduran, gelap sekali, tempat ini seram juga kalau gelap seperti ini."
Lexia melangkahkan kakinya dan menyalakan lampu di perpustakaan itu kemudian dia beranjak dari sana.
Makan malam telah disiapkan di atas meja, lexia kemudian mengedarkan pandangannya, tidak ada seorangpun pelayan yang ada di sana, hanya makanan yang tersaji di tempat itu.
"Ck, hebat juga mereka, bisa menyiapkan semuanya dan menghilang, seperti ninja saja." Lexia mulai menyantap makanannya.
Lexia kemudian menonton tv, beberapa jam kemudian dia menguap dan merasa mengantuk dan akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya, dia pun tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
~
Alvin datang ke apartemennya di pagi harinya setelah pertemuan melelahkan itu selesai, dia masuk dan tidak menemukan lexia di manapun.
"Apakah dia masih tidur, Ov bilang kerjaannya hanya berkeliling apartemen ini dan masuk ke dalam perpustakaan setelah itu dia tertidur beberapa jam, apakah dia begitu bosan ya?" Pikir Alvin membuka kamar lexia tetapi terkunci dari dalam.
"Dikunci?"
Alvin mengetuk beberapa kali tidak lama berselang lexia menjulurkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah yang masih ngantuk.
"Kau sudah bangun? Kita sarapan bersama lexia." Ucap Alvin sambil mengacak rambut lexia.
Alvin dengan bersenandung menyiapkan sarapan pagi ini, dia sendiri yang mau memasak sarapan mereka, dan beberapa pelayan kemudian pergi setelah mendengarkan titah Alvin.
"Lexia suka apa ya? Bagaimana dengan pancakes, apakah dia menyukainya? Atau Omelette, Oky aku akan membuat keduanya." Alvin memasak sendiri sarapannya sambil bersenandung.
Lexia baru saja selesai mandi dan menatap Alvin yang sedang sibuk di dapur.
"Kau memasak apa? Kau bisa membuatnya?" Ucap lexia sambil mengintip dan berjinjit dari balik bahu Alvin.
"Tentu lexia, aku pernah mempelajarinya koq, tenang saja rasanya pasti enak. Siapkan piringnya saja lexia, sebentar lagi sarapan kita akan siap." Ucapnya.
Lexia berjalan mengambil beberapa piring dan cangkir kemudian dia kembali melirik ke arah Alvin. 'kenapa dia riang sekali?'
Ponsel di atas meja berbunyi dan lexia sempat menatap nama yang ada dilayar ponsel Alvin, lexia begitu terkejut karena nama yang ada di layar ponsel Alvin adalah Daren.
~
Mobil kusam itu masih mengelilingi kota Manhattan, Edo masih menerka-nerka keberadaan lexia sedangkan beberapa mobil dari suruhan William Luther mengikutinya dari belakang. Edo menepikan mobilnya di sebuah gang sempit tempat berkumpulnya sampah yang sebentar lagi akan di daur ulang, baunya yang menyengat tentu saja membuat siapa saja akan menutup hidungnya.
Rumah yang dulunya di tempati oleh lexia bersama kakek dan neneknya sudah rata, hanya serpihan dan kayu yang lapuk menghiasi pemandangan menyedihkan itu. Edo menatap rumah yang sudah rata dengan tanah itu, lalu memikirkan kemungkinan lexia berada.
Beberapa orang yang berada di dalam mobil melihat dari kejauhan, kemudian dia kembali mengikuti Edo ketika dia memutuskan masuk kembali ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya.
"Dimana kau lexia, di mana kau sembunyi." Jalanan pada hari itu begitu padat, klakson terdengar dari mobil-mobil yang tidak sabar menunggu karena kemacetan memang sering terjadi di sekitar kawasan padat itu.
Edo mengerling kaca spionnya dan melihat kejanggalan mobil hitam yang ada di belakangnya. "Sial! Apakah mereka mengikutiku?" Kemudian Edo memperhatikan mobil yang melaju terus mengikuti mobilnya. "Orang-orang itu suruhan William Luther, dia membuntutiku, lihat saja kemana akan kubawa mereka, sebaiknya aku tidak mencarimu Lexia, sepertinya kau tidak akan aman juga ketika bersamaku." Ucapnya.
~
__ADS_1
"Bagaimana? Rasanya enak bukan?" Ucap Alvin menunggu reaksi lexia ketika dia mencicipi hasil karya alvin pagi ini.
"Mm, iya lezat, rasanya sama dengan sarapan lezat yang disiapkan oleh chef terkenal." Ucap lexia sambil kembali memasukkan potongan omelette besar ke mulutnya.
"Kau suka masak ya?" Tanya lexia.
"Bukan suka sih, bisa dikatakan aku ahli dalam membuat sesuatu, bukan hanya masak saja."
Lexia mencibir, pria ini selalu saja memuji dirinya setinggi langit tanpa berpura-pura.
"Hari ini aku memiliki acara pesta pertunangan temanku, kau mau menemaniku lexia? Kau pasti bosan karena beberapa hari ini kau tidak pernah keluar dari apartemen ini, bagaimana?" Ucap Alvin sambil menaikkan satu alisnya.
"Bisakah aku pergi? Bagaimana jika Daren ada di sana? Dia bisa saja menangkapku kapan saja." Lagi pula lexia mengingat panggilan telepon Daren di ponsel Alvin, mengapa Daren menghubungi Alvin?
"Jangan khawatir, Daren kali ini tidak akan mengenalimu."
"Tidak mengenaliku? Caranya bagaimana?" Tanyanya.
Alvin mengedipkan matanya, "serahkan padaku lexia, aku juga ahli dalam hal ini." Ucapnya percaya diri. Dengan sekali panggilan telepon beberapa orang sudah datang membawa beberapa perlengkapan make up yang lengkap serta gaun yang berderet rapi yang di bawa oleh beberapa pelayannya.
"Bagaimana? Aku akan datang menjemputmu setengah jam lagi, dan kita akan pergi bersama ke pesta, pasti menyenangkan." Alvin tertawa riang, entah apa yang membuatnya begitu senang hanya karena lexia bersamanya pergi ke sebuah pesta.
~
Setengah jam telah berlalu dan lexia membuka matanya dan tidak menyangka dengan wajah yang balas menatapnya dari pantulan cermin.
"Siapa ini? Apakah wanita ini aku?" Bisik lexia, tetapi mereka yang mendengarnya tersenyum dengan kalimat lexia.
Lexia berdiri menatap gaun panjang dengan belahan sampai ke pahanya, gaun itu memperlihatkan bahunya yang mulus, gaun itu berwarna pastel dengan belahan dada yang rendah sehingga payudaranya yang cukup besar terekspos sehingga lexia menutupi nya dengan kedua tangannya.
"Kenapa gaun ini seperti ini? Aku merasa seperti tidak mengenakan apapun." Ucap lexia kepada wanita yang masih memperbaiki gaunnya agar nampak semakin sempurna.
"Ini pilihan tuan Alvin nona." Ucapnya datar.
"Tetapi aku tidak menyukainya." Lexia sedikit berputar dan melihat punggungnya yang juga terekspos indah.
"Ck, bagaimana jika gaun ini jatuh? Tidak ada tali apapun yang menahannya." Ucap lexia, menatap pancaran matanya yang berwarna safir kini telah berubah menjadi berwarna coklat terang dengan rambutnya yang di sanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan terlepas.
"Gunakan sepatu ini nona." Ucapnya. Lexia menatap Stiletto yang tidak begitu tinggi dengan warna yang senada dengan gaunnya melengkapi penampilan lexia yang sangat berkelas, elegan dan seksi.
"Nona, tuan Alvin sudah menunggu anda di lobi, silahkan ikuti saya nona." Pelayan itu membantu lexia berjalan, gaun itu menjuntai dengan indah, belahan pada gaun itu membuat lexia sedikit risih karena dia seperti memamerkan setiap lekukan di tubuhnya.
Alvin mengenakan tuxedo, wajahnya yang tampan membingkai dengan sorot mata terkejut, kemudian dia tersenyum miring, lalu menghampiri lexia yang berdiri di sana menjadi pusat perhatian orang-orang yang melewatinya.
"Sempurna, kau suka dengan pilihanku?" Ucap Alvin mengelilingi lexia dan menilai gaun yang dikenakan lexia.
"Gaun ini tidak bisa membuatku bebas bergerak, aku takut jika bergerak gaun ini akan jatuh dan...
Ucapan lexia terpotong, karena Alvin sudah tertawa mendengarnya ocehannya.
"Jangan khawatir, gaun ini di desain oleh perancang terkenal dunia, jika gaun ini jatuh aku akan langsung memecat perancangnya." Ucap Alvin lalu mengulurkan tangannya kepada lexia.
Wajahnya tampak begitu senang, matanya menari-nari dengan kegembiraan yang terlihat di wajah Alvin.
'Mengapa dia senyum terus, apa yang pria ini rencanakan?' gumam lexia.
"Tidak ada yang kurencanakan lexia kau tenang saja, aku hanya senang, karena baru kali ini aku pergi dengan partner pesta seorang wanita, biasanya aku selalu menemani ayah kemana-mana."
"Serius? Ugh itu pasti hal yang paling membosankan bukan?" Ucapan lexia membuat Alvin sekali lagi tertawa.
Tidak lama berselang, mereka akhirnya tiba di hotel yang mewah itu, mereka masuk di ballroom yang megah dengan banyaknya para tamu yang sudah hadir di sana. Alvin membawa lexia ke tengah-tengah ruangan, beberapa orang menyapa Alvin lalu kemudian melirik kehadiran lexia yang begitu cantik, mata-mata para pria tidak terlepas dari sorot lexia yang begitu cantik dan seksi.
Seseorang menatap tajam mereka berdua, dia membanting keras gelas yang telah di minumnya hingga tidak tersisa. Dia menghampiri Alvin dan lexia, matanya berkilat tajam menatap lexia seringai di wajahnya nampak jelas menyeramkan.
__ADS_1
"Jadi, ini yang kau bilang dengan kejutan Alvin." Ucap Daren menatap lexia dengan sorot mata berbahaya.
Seketika wajah lexia begitu pucat, matanya membelalak menatap Daren lalu menatap Alvin, sudah lexia duga pria ini tidak menolongnya dengan tulus, dia sedang bermain-main dengan Daren, apa yang diinginkan Alvin yang membongkar persembunyian lexia?