
Malam itu tidur lexia begitu gelisah, dia memikirkan permintaannya kepada Alvin, suara tawa yang ringan dari Alvin membuat lexia curiga, tidak ada seorangpun yang kini lexia percayai, dia begitu cepat mencurigai orang-orang, karena hidup seorang diri membuatnya selalu waspada dengan orang di sekitarnya, apalagi semenjak dia tinggal di keluarga Burchard.
Lexia bangun dari tidurnya, dia mengambil barang yang di simpannya di bawah tempat tidurnya, lalu memasukkan beberapa pasang pakaiannya dan Segala sesuatu yang menjadi miliknya.
Setelah memastikan semuanya lengkap, lexia kembali menyembunyikannya di kolong tempat tidur dan memastikan tidak ada seorangpun yang yang tahu tempat itu. Lexia berjalan perlahan ke dekat jendela besar menatap luasnya taman yang temaram oleh lampu yang meredup dari jendelanya yang besar.
Suara-suara yang cukup besar kembali terdengar dari luar, lexia berjalan dengan perlahan dan menempelkan kembali telinganya ke pintu kamarnya.
"Apa maksudmu menikah dengan gadis itu Daren, apakah kau sudah gila?" Suara itu seperti suara ibu lovelia, Sepertinya penerbangannya ke UK di batalkan setelah mendengar telepon dari Daren.
"Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Kau adalah satu-satunya putra pewaris dari keluarga Burchard Daren, mengapa kau begitu sembrono, dan kau ingin menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya itu !" Teriak Barbara.
Dia memijat-mijat keningnya karena frustasi dengan keputusan Daren.
Sementara itu lexia mencibir di balik pintu itu, 'siapa juga yang ingin menikahi pria itu nyonya ! Aku hanya ingin pergi dari sini dan tidak mau terlibat lagi dengan keluargamu!' bisik lexia dalam kegelapan.
"Pembicaraan ini selesai Daren, aku akan berbicara dengan tuan Robert dan meminta maaf dengan segala kebohongan kita kepadanya dan membawa Lovelia kepadanya agar dia mengerti mengapa kita berbohong padanya."
"Aku yang akan mengurus masalah tuan Robert, kau hanya perlu mengurus lovly saja."
"Jika tuan Robert ingin melakukan sesuatu kepada gadis itu, aku pikir itu sudah menjadi urusannya, biarkan dia pergi, biarkan gadis itu kembali dimana dia berasal, dan biarkan dia bersembunyi dari tuan robert untuk selamanya, bukankah kau sudah membayarnya? Jadi kau tidak memiliki kewajiban untuk melindunginya." Ucapnya.
Daren menatap kakaknya tajam, "Aku tidak bisa Barbara, aku tidak bisa membiarkan lexia pergi." Ucap Daren dengan suara begitu pelan sampai-sampai lexia harus menempelkan telinganya lebih dekat agar dia bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
"Mengapa? Mengapa kau tidak bisa membiarkan dia pergi? Jangan katakan kau jatuh cinta pada gadis kecil itu Daren, ini tidak seperti dirimu." Ucap Barbara sambil melotot.
"Akupun tidak tahu Barbara, cinta atau apapun itu aku tidak perduli yang aku inginkan hanya lexia tidak menghilang dari pandanganku, itu saja." Ucap Daren.
Barbara menggeleng tidak percaya, melihat adik laki-lakinya yang playboy yang digilai wanita manapun dapat mengatakan kalimat seperti itu, selama ini dia cepat bosan kepada wanita manapun, bahkan tunangannya bernama Carol diputuskannya begitu saja dan baru-baru ini Carol datang dan membujuk Barbara agar dia bisa kembali kepada Daren. dan itu yang akan dilakukan oleh Barbara, yaitu menyatukan kembali Daren dan Carol untuk mencegah Daren melaksanakan rencana gilanya itu.
__ADS_1
Lexia berjalan mundur setelah mendengarkan percakapan mereka, "Ugh, apa yang sebenarnya Daren pikirkan? Apakah dia menyukaiku? Tapi mengapa, selama ini dia selalu bertindak kasar kepadaku dan berbuat semaunya dan kadang dia membentak dan menatap jengkel kepadaku."
Lexia kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya, dia kemudian berusaha menutup matanya yang tidak mengantuk.
~
Pagi ini lexia dikejutkan dengan hadirnya ibu lovelia di meja makan, ketika dia turun ke lantai bawah dan menatapnya yang tengah sarapan membuat lexia ogah-ogahan melanjutkan langkahnya.
'Ck, nenek sihir....kupikir dia baik, ukh untuk apa dia kembali ke sini, hei nyonya akupun tidak ingin menikahi adikmu yang mesum itu, aku juga ingin pergi dari tempat ini.' gumam lexia sambil mendengus dia akhirnya sampai di meja makan dan dengan perlahan menarik kursi untuknya agar dia duduk.
"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di meja makan ini? Seharusnya kau sarapan dikamarmu saja, pelayan akan membawakan sarapan di kamarmu." Ucapnya sambil masih menatap sarapannya tanpa memandang wajah lexia.
'Untung benar, aku juga tidak ingin sarapan dengan nenek sihir sepertimu.' gumam lexia.
"Apa kau bilang?" Barbara menghentikan kegiatan makannya dan kini menatap lexia dengan tajam.
"Kau masih sama dengan dirimu yang pemulung yang berada di tempat sampah, percuma saja Daren mengajarimu selama ini, tidak ada satupun yang bisa mengajari jika pada dasarnya kau berasal dari tempat sampah yang kotor itu."
Lexia tersenyum miring lalu menaikkan satu alisnya. "Aku lebih menyukai tinggal di tempat sampah dari pada tinggal di rumah ini nyonya bar, jika kau mau, aku bisa pergi kapanpun kau inginkan." Ucap lexia menantangnya tanpa takut sedikitpun.
"Nyonya bar??Gadis kurang ajar, seharusnya kau bersyukur kau sudah hidup mewah di rumah ini, dan makan tiga kali sehari dengan gratis, lihat dirimu sekarang seakan-akan kau nona di rumah ini, kau harusnya selalu diingatkan dari mana kau berasal." Ucap Barbara dengan napas memburu karena begitu marahnya.
"Berterima kasih?? Jangan bercanda nyonya bar, aku tidak mendapatkan ini dengan gratis, aku bekerja di sini menjadi pengganti anakmu, bukankah seharusnya kau yang berterima kasih kepadaku, kau Sepertinya hilang ingatan." Ucap lexia sambil melipat kedua tangannya.
Ibu lexia sudah gemetar dan memijat-mijat keningnya karena menghadapi kelakuan lexia yang kurang ajar.
"Kau ! Kembali sekarang ke kamarmu, aku tidak mau kau keluar dari kamarmu dengan seenaknya dan duduk di meja kami, kau gadis kurang ajar." Teriaknya. Beberapa pelayan mengintip sembunyi-sembunyi perdebatan sengit mereka berdua yang saling melotot dan saling menyilangkan kedua tangannya.
"Tanpa kau suruhpun aku akan pergi nyonya bar, jangan teriak dan marah-marah kerutanmu nanti bertambah." Lexia mengedipkan satu matanya kepada Barbara lalu beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Dasar nenek sihir." Ucap lexia ketika dia berbalik dengan suara yang besar pula.
Ibu lovelia memegang kursi dengan erat karena begitu geramnya, dia akhirnya duduk karena pening yang di rasakannya. Beberapa pelayan berlarian menghampiri nyonyanya.
"Nyonya, nyonya baik-baik saja, apakah nyonya mau minum obat?" Ucap salah satu pelayan yang menghampirinya dan mengipas-ngipas Barbara.
"Jangan bawakan sarapan untuknya, biar gadis itu tau rasa jika dia berani melawanku." Ucap Barbara yang kini beranjak dari meja makan dan langsung ke kamarnya ingin beristirahat karena sakit kepala yang di rasakannya.
~
Lexia menghempaskan tubuhnya di sofa empuknya sambil melipat kedua tangan dan kakinya.
"Wanita tua itu, ck harusnya kuberi pelajaran sebelum aku pergi dari sini, berani sekali dia menghinaku, aku tidak akan tinggal diam seperti ini." Ucap lexia yang melotot pada kursi yang ada dihadapannya, sebuah ketukan tiga kali dengan begitu pelan terdengar dari kamar lexia, ketukan ini sangat di kenalnya, lexia segera bangkit dari tempat duduknya dan kemudian membuka pintu kamarnya.
"Sudah kuduga Ov kau pasti datang, apa yang kau bawa" ucapnya.
Ov membawakan nampan berisi roti isi dan segelas susu untuk lexia, dia sudah mendengar dari dapur jika nyonya di rumah ini melarang siapapun membawakan sarapan untuknya, tetapi karena Ov bekerja untuk Alvin maka dia hanya mengerjakan apa yang di perintahkan tuannya.
Setelah memberikan sarapan kepada lexia, Ov segera beranjak dari kamar lexia dengan cepat agar pelayan lainnya tidak memergoki apa yang dilakukannya.
Lexia memakan Dengan lahap sarapannya, tanpa menghiraukan ketukan dari pintu kamarnya, tetapi kamar itu begitu saja membuka dan Daren berdiri diambang pintu sambil menatapnya.
"Masalah apa yang kau timbulkan hingga kakakku berteriak-teriak seperti itu lexia?" Tanyanya.
Lexia mengangkat bahunya, dia tetap menikmati sarapan, Daren kemudian duduk di hadapannya sambil meletakkan tangan di dagunya sambil memperhatikan lexia makan.
Daren menghembuskan napasnya.
"Mengapa aku ingin menikahi gadis pembuat masalah sepertimu, aku mungkin sudah tidak waras." Ucap Daren.
__ADS_1