
Sebuah mobil berhenti di pelabuhan, mobil hitam itu sedang menunggu seseorang yang baru saja tiba, dia mengenakan jas hitam dengan mantel hitam. "Thomas, lama tidak bertemu, kenapa sekarang kau menghubungiku? Apakah kehidupan tenangmu sudah terusik lagi? Jadi kini kau menghubungiku?" Ucap pria berambut pirang dengan mata berwarna coklat dengan wajah lonjong dan ada bekas luka di wajahnya.
"Kau benar, hidupku mulai tidak tenang, sepertinya Caesaar akan melakukan penyelidikan ulang mengenai penculikan putrinya, aku ingin kembali meminta bantuanmu." Ucap Thomas dengan ekspresi wajah tergesa-gesa dia kadang berbalik ke kanan dan kiri seakan ada yang mengintainya.
"Kau tahu anak kecil yang pernah kau culik? Sebenarnya kemana kau membuang anak itu?"
"Ada apa dengan anak kecil itu? Tentu saja aku menyimpan anak itu di panti asuhan, lalu kabar terakhir yang kudengar dia diambil orang, memangnya kenapa." Tanyanya.
"Anak kecil yang dulu kau culik itu telah kembali ke keluarganya, "Celia, dia telah kembali dan ayahnya akan mencari tahu siapa dalang penculikan anaknya, dan kau tahu kan bagaimana jika aku sampai ketahuan? Bukan hanya aku saja yang terseret, kau juga akan terseret." Ucapnya.
"Jadi apa yang kau inginkan." Tanya pria itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Apakah kau ingin menculiknya?" Tanyanya. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, menculiknya hanya membuatnya hidup dan akan kembali mengganggu ketenangan Xaphier, kedatangan anak itu mengganggu kedudukan Xaphier sebagai anak pertama dari Caesaar." Ucapnya.
"Aku ingin kau menghabisi gadis cilik itu, aku akan memberitahukan kapan waktu tepatnya, kau mengerti?" Tanyanya.
"Bukan masalah." Kekehnya. "Pria itu segera pergi setelah berbicara dengan thomas, dia melirik ke kanan dan kiri lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
~
Malam itu lexia akan kembali memasak untuk mereka berdua, saat yang menyenangkan untuk dirinya setelah lama beraktivitas di kolam renang dan berakhir di tempat tidur karena Daren tidak bisa menahan gairahnya. Lexia sedikit mengernyitkan keningnya ketika sakit diantara kakinya terasa berdenyut.
Dia kemudian duduk untuk meredakan nyerinya. Hari ini lexia berencana membuat taco isi daging dan sayuran karena menurutnya masak taco sangat mudah. Dia berjalan lalu mengambil daging yang ada di dalam kulkas, tiba-tiba saja perutnya bergejolak, tetapi dia menahannya.
Lexia memegang keningnya. "Tidak panas." Ucapnya. Lexia kembali memotong-motong daging serta sayurannya, setelah itu dia mulai menumis isiannya berupa irisan daging dan sayuran, tetapi perutnya kembali bergejolak dan dirinya terasa mual.
"Ukh, kenapa aku merasa mual kalau mencium bau tumisan ini?" Ucap lexia. Dia masih mengaduk tumisan itu sambil menutup hidungnya dengan tangan kirinya tetapi tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk masakannya. Evan baru saja kembali dari kantor Daren, kemudian dia mengerling lexia dan menatap gerakannya yang menumis sambil menutup hidungnya.
Dia mengetuk ruangan Daren, Evan masuk dan memberikan hasil laporan dari perusahaan, sebelum Evan pergi dia berbalik dan menceritakan mengenai lexia kepada Daren.
"Sir, apakah aku harus memanggil dokter?" Tanyanya.
Sewaktu aku melihat nyonya lexia memasak dia menutup hidungnya dan terlihat ingin muntah." Ucap evan. Daren berhenti dari kegiatannya. "Kapan kau melihatnya?" Tanyanya.
"Baru saja sir."
"Baiklah, panggil dokter Jhon." Daren berdiri dari tempat duduknya, kemudian keluar dari ruangannya kemudian menuju ke dapur dan melihat lexia sedang menghidangkan masakannya tetapi sambil menutup hidungnya lalu menyiapkan piring untuknya dan untuk Daren.
Daren menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Kau sakit lexia, ada apa?" Tanyanya.
Lexia menggelengkan kepalanya. "Entah, aku merasa mual setelah mencium bau masakan ini, aku tidak tahu mengapa wangi masakan ini membuatku mual dan ingin muntah." Daren mengernyitkan dahinya kemudian dia membopong tubuh lexia dan menghentikan kegiatannya yang sibuk menyiapkan makan malam mereka.
"Daren! Ada apa? Kemana kau akan membawaku? Tubuhku masih nyeri, aku tidak bisa untuk....." Ucapannya terpotong karena Daren mengecup bibir lexia yang sejak tadi bicara tanpa henti. Ciumannya begitu perlahan dan lembut hingga lexia terasa terhipnotis dengan kecupan Daren.
"Istirahatlah dulu lexia sebentar lagi dokter akan datang." Ucapnya.
"Dokter? Mengapa kau memanggil dokter? Aku tidak sakit koq." Ucap lexia memegang keningnya. Daren tersenyum lalu duduk di tepi tempat tidur, dia membelai wajah lexia dan mengurung wajahnya dengan kedua tangan Daren, kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah lexia.
Sebuah ketukan terdengar dari kamar Daren, dia membuka pintu dan membiarkan dokter Jhon masuk, dan mempersilahkan untuk memeriksa kondisi lexia.
~
Lovelia sedang berbaring miring, entah perasaan apa yang di rasakannya ini? Setiap dia bertemu dengan pamannya Alvin tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, wajahnya mulai merona dan dia merasa gugup setiap kali dia berbicara dengan pamannya di telepon. "Apakah aku menyukai paman Alvin?" Ucap lovelia. Dia mengambil Novel pemberian Alvin dan memeluknya, setelah itu dia memegang wajahnya dan masih merasakan ada guratan kecil di pipinya.
"Apakah keadaanku akan kembali normal? Aku ingin tampil cantik di hadapan paman Alvin." Ucap lovelia. Membayangkan dirinya sembuh membuat dirinya tersenyum bahagia, dia ingin tampil cantik seperti halnya lexia yang akhirnya menikah dengan paman Daren padahal usia paman Daren dan lexia terpaut jauh, apakah aku bisa seperti lexia dan menikah dengan orang yang aku cintai?" Bisik lovelia dalam keheningan malam seorang diri di lantai 7 tanpa siapapun menemaninya.
~
"Istri anda hamil sir, usia kandungannya sudah seminggu." Ucap dokter itu. Daren terlihat bengong, dan menatap dokter dengan wajah tidak percaya.
"Selamat sir, saya sarankan agar nyonya tidak banyak melakukan kegiatan yang membahayakan janin yang dikandungnya." Setelah memberikan berbagai informasi mengenai ibu hamil, Dokter itu pun pergi setelah memeriksa lexia.
Daren menatap lexia dan tiba-tiba memeluknya erat, dia membenamkan wajahnya di ceruk leher lexia. "Sebentar lagi kita akan memiliki bayi yang cantik sayang." Bisik daren, mengecup pipi lexia dan kembali memeluknya erat. Lexia hanya terbengong, dia tidak menyangka akan memiliki bayi di usianya yang masih sangat muda.
"Be..benarkah Daren? Tapi.. tapi bagaimana caranya merawat bayi?" Ucap lexia dengan tatapan mata cemas. "Tenanglah sayang, perlahan kau akan tahu dengan sendirinya." Bisik daren senang, dia memeluk erat lexia dan memberikan kecupan-kecupan di wajah lexia.
~
Kedua wanita itu berjalan di pesta yang di selenggarakan khusus untuk para pengusaha-pengusaha besar di kota New York, Nency yang mulai menyerah dengan Daren kerap kali mendatangi pesta seperti ini bersama Carol, dan kini ia terobsesi dengan Sosok Louis, dia hadir di pesta karena ajakan Carol yang senang berpesta. Semenjak usaha Carol yang menjodoh-jodohkan nency dengan Louis membuat nency kini mengejar Louis.
"Kau yakin dia datang Carol?" Tanya nency. Carol memutar kedua bola matanya.
"Jangan gugup gadis bodoh, dia tidak suka cewek yang canggung, kau harus tampil berani dan seksi." Ucap Carol membusungkan dadanya.
__ADS_1
"Wah, kau hebat Carol, dengan mudahnya kau menghempaskan pria yang tidak kau inginkan lagi, dan dengan mudah mereka berdatangan kepadamu lagi Carol." Puji nency.
Carol dengan percaya diri berjalan dan mendekatkan diri dengan seorang pria tinggi yang nampak tampan dan kemudian menyenggol lengannya. "Ouch sorry, aku tidak sengaja." Ucap Carol.
"Tidak apa-apa Miss, apa kau terluka." Tanya pria itu lalu mendekat kepada Carol.
"Mungkin dengan satu gelas minuman dan aku akan baik-baik saja." Ucap carol mengajak pria itu dengan isyaratnya. Nency yang menunggu dari balik tembok ternganga tidak percaya, dalam beberapa menit dia bisa menemukan pria yang dia inginkan.
"dia sialan beruntung." Ucap nency.
Nency mengetuk-ngetukkan sttilettonya saat menunggu kedatangan Louis, matanya mencari-cari sosok louis, tetapi sekali lagi nency merasa kecewa karena malam itu Louis datang dengan seorang wanita cantik. "Ugh, apakah aku harus menyingkirkan wanita itu?" Ucapnya. Tiba-tiba dia bersinggungan dengan seorang pria berambut pirang dan berwajah lonjong dia menatap nency dan mengedipkan matanya sebelah.
"Ugh, menjijikkan." Ucap nency. Pria itu terkekeh mendengar ucapan nency. Pria dengan rambut pirang itu berjalan mendekati nency dengan percaya diri membawakannya minuman.
"Bagaimana dengan seteguk campaign ini nona cantik." Ucapnya. Nency menjauhi pria itu dengan tatapan jijik dia berjalan seorang diri di koridor ingin mencari Carol, tetapi sesuatu mencegahnya berjalan. Pria dengan tatapan mengerikan itu mendekati nency dan menutup jarak diantara mereka.
"Apa yang kau lakukan ! Jauhkan tangan kotormu itu pecundang !" Gertak nency. Tetapi pria itu terkekeh senang dia suka dengan kemarahan nency, dia terlihat menggoda dengan matanya yang bulat yang sedang melotot ke arahnya. Pria itu memandang bagian menonjol milik nency sambil terkekeh mengerikan.
Dia menarik wajah nency ke arahnya dan mencoba menciumnya tetapi sesuatu menghentikan kegiatannya karena seorang pria berdiri di sana menunggunya. "Cih, kau mengganggu saja, ada apa!" Tanyanya.
"Kapan tepatnya kau menghabisi Celia? Bos sudah lama menunggu kabar darimu." Ucapan pria itu membuat nency mengambil kesempatan itu untuk lolos dari pria berambut pirang itu. Dia mendorongnya lalu berlari di tengah keramaian pesta. Napasnya tersengal mendengar pembicaraan mereka.
"Celia? Bukankah Celia nama asli dari ular kecil itu? Mereka bilang akan menghabisinya?" Ucap nency dia mengambil minuman dan meneguk habis isinya dia merasa tubuhnya bergetar. Dia terduduk di salah satu kursi dan berpikir sebentar kemudian senyum sumringah terpampang di wajahnya.
"Apakah kesempatan kini berada di pihakku? Dengan sendirinya ular kecil itu akan pergi selamanya dari sisi Daren dan kesempatanku untuk mendekati Daren akan terbuka lebar. Sialan aku sungguh beruntung." Ucapnya, Tawanya terdengar keras sampai-sampai orang-orang di pesta menatapnya dengan pandangan aneh.
"Dasar bodoh ! Perhatikan apa yang kau ucapkan, wanita itu mendengar semuanya." Bentak pria berambut pirang, wajahnya yang luka masih menjulurkan kepalanya mencari-cari keberadaan nency tetapi sayangnya dia telah pergi dari pesta itu.
~
"Daren? Mengapa kau harus memegangku seperti ini? Aku bisa turun tangga seorang diri kau tidak perlu memegang tanganku, aku terlihat seperti orang sakit." Ucap lexia yang masih melangkah perlahan dengan diiringi Daren yang memegang tangannya dan tidak membiarkan lexia untuk berjalan seorang diri.
"Jangan membantah sayang, ikuti kata-kataku kau harus berjalan sepelan mungkin dan jangan mencoba berlari di tangga berbahaya ini, seharusnya aku membuat tangga dengan pijakan yang empuk supaya tubuhmu tidak merasakan hentakan dari lantai ini." Ucap Daren dengan mengernyitkan alisnya menatap marmer berwarna merah maroon yang nampak berbahaya bagi lexia.
Lexia terkikik melihat tingkah Daren yang konyol. "Kau sungguh lucu Daren." Tawa lexia membuat Daren menarik tubuh lexia dan memberikan kecupan singkat di bibirnya. "Aku suka tawamu sayang." Bisiknya sambil tersenyum miring.
"Ada satu hal penting yang aku lupa tanyakan ke dokter Jhon, sebentar aku akan meneleponnya." Lexia mengangkat kepalanya menatap Daren.
"Em selama kehamilanmu apa kita masih diperbolehkan bercinta? Apa tidak menyakiti janin di kandunganmu dan posisi bagaimana yang harus aku lakukan ketika kita sedang bercinta sayang." Ucapan Daren membuat lexia memicingkan matanya.
"Apa hanya itu saja yang ada di kepalamu Daren?"
Daren tidak mendengarkan ucapan lexia dia seperti sedang berpikir keras, lalu menggumamkan sesuatu dan terdengar kembali nama dokter Jhon di sebut-sebut dari mulut daren. Lexia bergelayut manja di pelukan Daren dan membenamkan wajahnya di dada hangat tubuh bidang Daren, dia menghirup wangi tubuhnya dan memulai menjalankan jari-jarinya di dadanya. Daren menaikkan satu alisnya merasakan tangan itu mulai lebih berani memasukkan ke dalam kemeja Daren, ia memandang wajah lexia seperti sedang menginginkan sesuatu.
~
Pria itu sedang mengawasi kediaman villa Daren, tiga orang pria tengah mengawasi ketatnya pengamanan villa yang di tiap sisinya terdapat cctv dan penjaga yang 24 jam selalu mengawasi sekitarnya.
"Sangat tidak mungkin untuk menyusup di tempat dengan keamanan seperti ini, katakan kepada bos kita kembali dan menuggu wanita itu keluar dengan sendirinya." ucap pria berkepala botak dengan hidung bundar dan mata melotot.
"Bos, sepertinya rencana A tidak akan berhasil, kita akan menggunakan rencana B dan kami akan menghabisinya." ucap pria itu.
Mobil itu mulai menjauh, tetapi mereka tidak menyadari salah satu mobil hitam yang selalu mengawasi villa Daren sedang mengamati mereka, dia adalah suruhan Xaphier yang di perintahkan untuk selalu mengawasi villa Daren. Pria itu langsung menghubungi Xaphier dan melaporkan semua yang dilihatnya.
Xaphier yang sedang berada di kantornya dan akan berangkat makan malam dengan tuan caesaar tiba-tiba berhenti berjalan dan mendengarkan semua laporan dari pengawalnya.
"Terus awasi mereka dan cari tahu mengenai pengintai itu, cari tahu siapa mereka !" ucapnya. Xaphier berjalan cepat dan segera masuk ke dalam Elevator, dia menghubungi Daren dan ingin berbicara tanpa di dengar oleh lexia.
~
Tawa itu membuat Carol menggelengkan kepalanya. "Kau gila nency, apa yang sedang kau tertawai? dari tadi kau seperti itu, kau sakit?" tanyanya. Carol sekarang berada di salah satu Club bersama teman-temannya salah satunya nency yang sejak tadi tidak berhenti meneguk minuman di tangannya.
"Aku hanya merayakan sesuatu, kau tidak akan mengerti perasaan senang yang sedang kualami ini Carol." ucap nency. Carol memutar kedua bola matanya, sesekali melirik kepada nency dan segera rasa penasaran menyergapnya, dia ingin tahu apa yang membuatnya senang seperti itu? "Kalau begitu ceritakan kepadaku, apa yang membuatmu senang seperti itu?" bujuk Carol.
Nency menaruh telunjuknya di bibirnya. "Sst, ini masih rahasia aku tidak akan mengatakan kepada siapapun berita menggembirakan ini, semuanya akan kembali pada tempat yang tepat, begitupun aku nantinya." Hanya itu ucapan yang di dengar Carol dari nency, selebihnya dia bicara tidak karuan dan menari gila-gilaan di club itu.
~
Tulas, villa Daren 00.12
Matanya tidak bisa terpejam, dia kembali ke ruangannya setelah mendengarkan telepon dari xaphier, Daren melihat kedua tangannya bergetar, dia tidak pernah merasakan ketakutan seperti yang di rasakan saat ini. Xaphier menghubungi Daren saat lexia sudah terlelap tidur. Dia memberitahukan jika villa mereka tidak aman, karena seseorang mengintai villa mereka.
Daren memikirkan berbagai cara agar lexia aman, siapa mereka? untuk apa di memata-matai villa miliknya? apa tujuannya? pikiran itu membuatnya terjaga sepanjang malam. Dia menatap jam di dinding ruangannya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya, setelah mengganti pakaiannya dia naik ke atas tempat tidur dan menarik tubuh lexia lalu memeluknya erat.
__ADS_1
Daren menatap wajah cantik istrinya, dia memberikan kecupan selamat tidur. "Jangan menghilang dari pandanganku." bisik daren.
~
Pagi itu lexia bangun dengan tempat tidur kembali kosong, dia tidur dan mendapati tempat tidur Daren sudah kosong, lexia mengucek-ucek matanya lalu bangun dari pembaringannya. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Pagi itu sarapan sudah tersaji di atas meja, karena Daren melarang keras lexia untuk memasak dan membuat dirinya letih.
Lexia duduk seorang diri di meja makan menunggu kepulangan Daren dari jogingnya. lexia mengetuk-ngetuk meja makan karena Daren begitu terlambat datang untuk sarapan pagi ini. Ponsel milik lexia berdering dan lexia segera mengangkatnya.
"Halo?" Tidak ada suara yang dapat di dengar.
"Halo? kenapa tidak ada yang menjawabnya?" tiba-tiba ponsel milik lexia terlepas dari tangannya, Daren menariknya dan segera mendengar suara kekehan pria di ponsel itu. Dia mematikan ponselnya lalu mengantongi di saku celananya.
"jangan mengangkat panggilan apapun lexia." geram daren. Lexia ternganga melihat kemarahan Daren, mengapa dia begitu marah hanya karena tidak ada suara di ponsel itu. "Kau kenapa Daren?" tanyanya. Daren dengan sikap kaku tidak memperdulikan pertanyaan lexia, dia segera naik ke dalam kamar dan membersihkan dirinya sehabis berolahraga.
Lexia menunggu Daren, meskipun sarapannya telah habis dan piringnya telah kosong tetapi dia tetap duduk di meja makan menunggu Daren untuk menemaninya sarapan bersama. "Kau baik-baik saja Daren?" tanyanya.
Daren baru saja turun dari lantai atas kamarnya, dia menghampirinya dan mengangkat wajah lexia kearahnya dan memberikan kecupan kilat di bibirnya lalu menarik satu kursi di hadapan lexia.
"Ada apa daren? kenapa kau tampak marah?" tanyanya.
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya memikirkan masalah kantor saja." ucap Daren. Pandangan mata lexia tidak mempercayai kata-kata Daren, dia berbohong, dia sedang menutupi sesuatu.
"Ck, baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya, aku tidak akan bertanya lagi." ucap lexia sambil mengerucutkan bibirnya. Dia berdiri dan ingin kembali ke kamarnya dan berbaring sambil membaca kembali novelnya. Daren memegang tangan lexia.
"Jangan pergi lexia temani aku makan, aku tidak mau makan sendiri." ucap Daren sambil menarik lengan lexia dan kembali menyuruhnya duduk di sebelahnya. Lexia menatapnya dengan pandangan aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa sikap Daren begitu tegang? apa yang membuatnya seperti itu.
Langkah Evan dari arah pintu masuk ke ruang makan membuat lexia dan daren berbalik dan menatap kedatangannya. "Ada apa Evan?"tanyanya.
"erm..sir, nona Nency ingin menemui anda tetapi saya menahannya di depan gerbang dan tidak membiarkannya masuk." ucap evan.
"Tetapi sir, dia mengatakan sesuatu yang aneh." ucap evan.
"Apa yang dikatakannya?" tanyanya.
"Dia bilang jika anda tidak menemuinya anda akan menyesalinya seumur hidup anda."
"Biarkan dia masuk." ucap lexia cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan nency kepada Daren.
"Jangan menemui wanita itu lexia, dia hanya mencari-cari cara membuatmu jengkel dan itu berbahaya bagi kandunganmu sayang." ucap Daren sambil mengelus perut lexia.
"Biarkan dia masuk aku ingin mendengar penyesalan apa yang akan dihadapi Daren jika dia tidak menemuinya." geram lexia. Mereka berdua sudah duduk di ruang tamu dan melihat kedatangan nency yang mengenakan dress hitam yang melekat ketat di pinggulnya.
Mereka menatap nency tanpa mengucapkan sepatah kata. "Apakah kau harus menyambutku dengan sedingin itu Daren?" ucapnya.
"Katakan! Apa maksudmu berkata seperti itu." ucap Daren. Nency melengkungkan bibirnya seperti membentuk senyuman licik.
"Aku akan mengatakannya jika dia tidak ada di ruangan ini Daren." ucap nency menaikkan alisnya. Daren melihat nency seakan ingin melemparkannya keluar dari villanya.
"Kau tidak memiliki hak untuk mengatur di rumahku, jika kau tidak mau bicara, sebaiknya kau pergi." ucap Daren merasa jengkel karena menghabiskan waktunya yang berharga hanya untuk mendengar omong kosong nency.
"Katakan ! jika tidak aku akan memanggil penjaga." ucap daren. Nency merasakan hatinya sakit dengan ucapan Daren, dia Seakan-akan melihatnya seperti wanita gila. Dia kemudian berdiri dan menatap benci kepada lexia.
"Baik ! aku tidak akan mengatakan apapun, kau membuatku terluka Daren padahal aku telah memberikan segenap hatiku padamu, bahkan setelah Carol menghilang dari...."
"Cukup, segera keluar!" ucap daren menunjuk pintu keluar. Lexia menatapnya sambil bersandar di bahu Daren.
"Baik aku akan bersabar kali ini dengan sikap kasarmu Daren, setelah ular kecil ini menghilang selamanya kau akan kembali ke sisiku." ucap nency dengan menunjukkan wajah kemenangan.
Daren begitu geram dia baru saja hendak berdiri tetapi sosok di belakang nency telah memberikan tamparan keduanya kepada nency. Suara tamparan itu cukup keras ketika mendarat di pipinya. Wajah Xaphier yang terlihat marah berdiri di belakang nency.
Nency memegang pipinya, dan melihat sosok yang menamparnya. "Kau..kau berani menamparku?" ucap nency dengan tatapan benci kepada Xaphier yang berdiri di hadapannya.
Tanpa mengucapkan apapun, Xaphier menarik wajah nency. "Katakan ! ancaman omong kosong apa yang membuatmu berkata seperti itu kepada Celia !" bentak Xaphier.
Nency merasakan wajahnya sakit di tarik seperti itu, dia berusaha melepaskan diri dari pegangan kuat di rahangnya. "Katakan !" ucap Xaphier.
Nency mendorong kuat tubuh Xaphier. "Kau tidak perlu tahu, apa yang kukatakan bukan urusanmu." ucap nency sambil memijat-mijat rahangnya yang terasa sakit. "Aku tidak akan mengatakannya ! Daren aku pulang, aku akan datang lagi." ucapnya. Sebelum dia keluar terdengar suara Daren yang cukup keras di dengarkan oleh nency.
"Dasar wanita gila !" Ucap daren.
Nency menghentikan langkahnya, dia menghapus air mata dengan kasar di matanya, Senyuman terpeta di wajahnya. "Kau akan menyesalinya Daren dan kau akan kembali kepadaku." ucapnya.
__ADS_1