
Dua hari ini Nara merasa aman karena Xaphier belum pulang juga, dia memikirkan bagaimana menghadapi Xaphier dengan dirinya yang sama sekali minim pengalaman mengenai keintiman antara pria dan wanita, Nara sama sekali polos dan lugu mengenai hal tersebut, dia mencoba browsing di internet mengenai kegiatan pria dan wanita selama bercinta membuat Nara menutup matanya karena penjelasan hal-hal privat antara pria dan wanita.
Nara memeluk ponselnya dan menyingkirkan dari ingatannya mengenai penjelasan itu, dia menelan ludahnya kasar. "Apakah aku akan mengalami hal seperti itu juga?" Tubuh Nara seketika merinding, setiap saat dirinya ketakutan karena setiap saat juga Xaphier akan kembali dari Oklahoma.
Kegiatannya tidak begitu banyak hari ini, tetapi tubuh Nara begitu letih, dia telah terlelap dalam tidurnya, kamarnya sedikit gelap hanya sinar dari lampu kamar mandi yang masuk dari sela-sela pintunya hingga menimbulkan sedikit efek cahaya.
Pria itu menatapnya dari dalam kegelapan, dia berdecak karena tidak melakukan apa yang diinginkannya, gadis ini masih saja tidak mendengarkannya, seharusnya dia tidur di kamarnya setiap malam sehingga kapan saja dia datang, Nara sudah siap untuknya.
Xaphier masih mengenakan kemejanya dan dasinya masih menggantung longgar di dadanya, dia mengangkat tubuh Nara ke dalam pelukannya dan membawanya ke kamarnya, tubuh Nara melayang-layang, Xaphier menidurkannya di atas tempat tidurnya dan kembali menatap wajah polos yang begitu sangat dirindukannya.
Dia melepas satu persatu kancing di kemejanya dan membuka ikat pinggangnya, dia berjalan dengan ketelanjangannya kemudian mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memberikan kesegaran pada tubuhnya.
Malam ini dia ingin mengambil kepemilikannya kepada Nara dan menikmati tubuh polos itu, menunggu semua itu membuat Xaphier tersenyum mendamba, setelah mandi, Xaphier mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambutnya yang basah, dia masih menatap lekat gadis yang telah tertidur dengan rentan kapan saja Xaphier bisa mengklaimnya.
Sentuhan itu membuat Nara mengerutkan alisnya, jejak-jejak basah yang dirasakannya sepanjang punggungnya membuat Nara merasa tidak nyaman, dia berusaha menepis dengan tangannya tetapi suara kekehan kembali masuk ke pendengaran Nara hingga dia membuka kedua matanya dengan lebar.
Nara mengerjap, Nampak wajah Xaphier menjulang tinggi di atasnya memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Kau bangun sayang?" Bisik Xaphier kembali memberikan gigitan kecil di lehernya. Nara terlonjak, ketakutan menyergapnya dia berusaha menghindari tubuh Xaphier, tetapi terlambat kedua tangannya di cengkram erat olehnya di atas kepalanya dengan satu tangan besar Xaphier dan tangan lainnya bermain di wajah dan tubuh Nara.
"Jangan melawanku sayang, kau sudah menjadi milikku, kau jelas mengetahui dengan baik apa yang kuinginkan dengan menjadi wanitaku dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu Nara jadi jangan mencoba melawan padaku dan terima sentuhanku malam ini."
Tubuh Nara bergetar, dia tahu hal seperti ini pasti akan datang juga tetapi bagaimanapun juga dia masih belum bisa menerimanya, tubuhnya yang tidak mengenal sama sekali keintiman antara pria dan wanita membuatnya ketakutan, dia takut tersakiti dengan segala sentuhan Xaphier.
Senyuman Xaphier seakan membuat Nara sontak terlonjak karena bibirnya tiba-tiba di serang oleh Xaphier, dia tidak kuasa melawan Tubuh besar itu, gerakannya yang perlahan membuat Nara terhipnotis, kali ini dia mengikuti permainan Xaphier, tangan dan bibirnya mulai bermain di tubuh Nara, tanpa Nara sadari dia sudah terlena dengan dekapan Xaphier.
Dering ponsel beberapa kali berbunyi di atas Nakas, Xaphier tidak memperdulikannya karena terlalu sibuk dengan kegiatannya sekarang, Nara mulai mendesah tetapi ponselnya pun tidak kalah ributnya hingga Xaphier dengan berdesis marah turun dari tempat tidur dan segera menjawab ponselnya.
"Apa Paulo? Jika tidak penting kau akan kuhabisi." Bentaknya.
Suara Xaphier yang menggelegar membuat Nara membuka kedua matanya, kini dia sadar sepenuhnya dan melihat ketelanjangannya di atas tempat tidur Xaphier. Nara mencoba menggapai apapun yang ada di samping kiri dan kanannya tetapi di atas tempat tidur hanya tubuh polosnya saja tanpa sehelai benang yang menutupinya. Nara tidak mengingat sama sekali ketika Xaphier melucuti semua pakaiannya.
Setelah mendapat telepon dari Paulo yang ada di Manhattan, Xaphier terlihat marah dengan wajah mengerikan. "Sial ! Seharusnya kubereskan saja pria itu sebelum aku kembali ke sini, dia benar-benar merepotkan." Ucap Xaphier, matanya tiba-tiba mengerling sosok Nara yang menggeliat di atas tempat tidurnya, dia tersenyum miring karena tahu jika Nara berpura-pura tertidur.
Tubuhnya yang begitu seksi yang selalu ditutupi oleh pakaian tebal sekarang dapat terlihat jelas oleh Xaphier, dia kembali naik ke atas tempat tidur dan memberikan satu ciuman panjang dan menggoda Nara dengan jarinya yang lihai, hal itu membuat Nara menjerit terkejut ketika jari-jari Xaphier memberikan pijatan di bawah sana.
"Akhirnya kau membuka matamu sayang, sepertinya aku harus berhenti dulu sampai di sini kita akan lanjutkan kembali setelah aku kembali dari Manhattan." Bisik Xaphier. Dia memberikan kecupan singkat lalu beranjak dari tempat tidur membiarkan Nara menginginkan lebih dari sekedar sentuhan Xaphier kepadanya.
~
__ADS_1
Pukul 06.15 Oklahoma, mansion Tuan Caesaar
Pagi itu lexia terbangun dengan Daren tertidur lelap di sampingnya begitupun putranya Ax masih tertidur, dia duduk dan memberikan kecupan singkat kepada putranya dan Daren kemudian dia beranjak ke kamar mandi, hari ini mereka akan bersiap-siap untuk kembali ke villanya di Tulas, mereka sudah terlalu lama berada di mansion ayahnya.
Setelah segar kembali lexia membuka pintu kamarnya dan ingin membuat sarapan untuk ayah dan suaminya karena lexia senang memasak. Langkah kakinya terhenti ketika suara-suara terdengar dari pintu yang selalu tertutup, tetapi suara itu terdengar dari pintu kamar Melda.
"Dimana kotak itu, aku yakin menyimpannya di tempat ini." Ucap seorang wanita yang lexia yakin itu adalah Melda. Pintu yang sedikit terbuka membuat lexia mengintip Sebentar lalu menatap Melda membuka-buka semua lemarinya.
'Wanita bodoh itu tidak memeriksa kotak yang ada di bawah lemari, dia kan memang menyimpannya di situ, berani sekali dia masuk kemari, di mana para penjaga?' langkah kaki itu membuat lexia terkejut, dia melihat seorang pria bersamanya, Tetapi dia tidak mengenal wajah pria itu, sepertinya dia salah satu penjaga yang sudah tergoda dengan iming-iming kekayaan Melda.
"Cepat cari Sebelum penghuni sialan di mansion ini bangun." Gumamnya.
'kau tidak akan lolos melda.' gumam Lexia sambil tersenyum. Dia kembali ke kamarnya kemudian menekan interkom, lalu menyampaikan kepada kepala keamanan dan memberitahu jika Melda ada di kamarnya.
Thomas segera ke lantai 2 dengan beberapa penjaga, mereka semua menuju ke kamar Melda tetapi sialnya entah bagaimana caranya mereka berdua bisa meloloskan diri meskipun begitu cctv menunjukkan Melda berada di kamarnya dengan seorang penjaga.
Lexia mendengar dari luar pintunya, dia tidak mau membuat keributan sepagi ini, tetapi sesuatu membuatnya terlonjak kamarnya sedikit terbuka dan kerlingan mata tua berwarna coklat sedang memandangi sosok Daren yang tertidur bersama Ax.
Lexia membuka pintunya lebar-lebar ketika menyadari wanita itu ada di sana. Dia terkejut dengan kehadiran lexia tetapi Melda segera menguasai dirinya.
"Beraninya kau datang ke mansion ayahku, dan mengintip di kamarku." Teriak lexia menggelegar. Senyuman itu membuat lexia naik darah, dia mengingat jika semua ide tentang kematian ibunya dan dirinya yang dibuang sewaktu kecil semuanya atas campur tangan wanita tua di hadapannya.
Tamparan keras melayang di wajah Melda dia begitu geram dengan ucapan Melda yang tidak tahu malu itu, dia sama sekali tidak menganggap keberadaan lexia dan terus membicarakan Daren.
"Berani-beraninya kau gadis licik." Desis Melda.
Pengawal di belakangnya hendak berbuat sesuatu kepada lexia tetapi dengan cepat Thomas datang tepat waktu dan meringkusnya. Lexia sangat geram menatap Melda yang masih dengan tenangnya memberikan senyum simpul setelah satu tamparan lexia kepadanya.
Dengan berani lexia berjalan mendekati Melda lalu berdiri dihadapannya. "Kau pembunuh ! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam keadaan tenang Melda, kaulah pembunuh ibuku."
"Apa yang kau bicarakan itu darling, khayalan apa lagi yang kau katakan, aku pembunuh?" Dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Jika kau pikir aku yang membunuh ibumu tidak masalah, jadi berikutnya kau harus berhati-hati jika berhadapan denganku young girl." Ucapnya.
Lexia meninju wajah tertawa itu tepat di hidungnya, dia terlonjak dan wajahnya mundur kebelakang, darah keluar dari hidungnya. "Kita lihat saja, apa yang akan terjadi denganmu Melda, aku akan melakukan berbagai cara agar kau menerima semua perbuatanmu." Ucap lexia.
"Bawa mereka." Ucapnya kepada Thomas dan Pengawal-pengawal lainnya.
Melda memegang hidungnya yang merah dan mengeluarkan darah. Matanya tajam menatap lexia seperti ingin melenyapkannya sekarang juga.
__ADS_1
Lexia masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil ponselnya dan menelepon Xaphier.
"Halo Xaphier kau di mana?" Tanyanya.
"Aku sekarang menuju ke Manhattan, ada apa lexia?"
Lexia terdiam, lalu kemudian dia menceritakan mengenai kotak yang ada di dalam kamar Melda dan menemukan memo ibunya Sebelum dia wafat, beserta surat kerja sama Melda dengan tomas paman Xaphier.
Xaphier terdiam tidak ada suara yang terdengar dari telepon lexia.
"Xaphier? Kau mendengarku?" Tanyanya.
"Apa kau yakin itu tulisan mom?"
"Tentu saja aku yakin, kotak itu berisi semua perbuatan melda terhadap ibu dan rencana mereka yang membuangku."
"Benarkah itu?" Suara Xaphier terdengar sangat marah.
"Aku akan mengirimkan foto surat itu dan kau bisa membacanya." Lexia bergegas mengirimkan surat yang di fotonya kemudian mengirimkan kepada Xaphier.
"Apa yang kau inginkan lexia?" Tanya Xaphier.
"Aku menginginkan wanita itu hancur, nama baiknya dan juga perusahaan yang di banggakannya, aku ingin dia merasakan kehilangan semua itu, aku tidak bisa tenang membiarkan pembunuh ibu berkeliaran dan menggoda pria-pria muda di luar sana, apalagi dia masih mengganggu Daren."
"Tunggu kabar dariku lexia, kita akan segera bertemu, sebaiknya kau jangan dulu kembali ke villamu di Tulas sebelum masalah ini kita selesaikan."
"Baik Xaphier, sampai jumpa." Lexia menutup teleponnya, dia terlonjak ketika matanya beralih kepada sosok Daren yang berdiri dihadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mengapa kau tidak memberitahuku semua itu lexia?" Ucap Daren terlihat kecewa.
"Aku ingin memberitahumu, tetapi tadi malam kau lebih dulu menyerangku sebelum mendengar Semuanya." Ucap lexia.
"Kau meminta bantuan Xaphier dan tidak meminta bantuanku?" Tanyanya memenjarakan lexia di tempat duduknya.
"Apa kau tahu wanita itu tadi sedang mengintipmu yang tertidur?"
Daren terkejut. "Dia ada di sini?" Ucap Daren dengan memberikan ekspresi wajah jijik dan ngeri.
"Ya, dia ada di sini sedang mencari bukti-bukti yang di simpannya di dalam kotak, tetapi sayangnya aku menemukannya lebih dahulu dan memberikannya ke Xaphier.
__ADS_1