The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 27


__ADS_3

Oklahoma city, Mansion Caesaar


Jari-jarinya mengetuk beberapa kali di atas meja kerjanya, matanya tajam mengisyaratkan bahwa dia sedang marah dan tidak ingin di bantah, dan dia sedang menunggu cucu bandelnya di ruangannya.


~


Pagi itu, tuan Caesaar sudah berada di dining room untuk sarapan, dia kemudian menunggu cucunya Dazon untuk sarapan bersama, dia sengaja pulang lebih awal ke mansion untuk bertemu Dazon, karena orang tuanya sedang berada di Italia, dia tidak ingin cucunya itu kesepian dan merasa diabaikan.


Tetapi, lagi-lagi cucunya telah melanggar aturan yang telah dibuatnya, dan ini sudah ketiga kalinya, Setelah Thomas memeriksa cctv, terlihat Dazon, Daneil dan Jennifer naik ke Helikopter, dan tuan Caesaar menduga mereka pergi mengunjungi Axton di desa Turtle.


Dan satu hal lagi, kesaksian seorang pelayan yang mengatakan kepada Thomas bahwa dia melihat helikopter berwarna hitam mengudara pada pukul 1 malam. Thomas mengumpulkan semua pelayan di mansion dan menanyakan siapa saja yang melihat helikopter pergi malam itu, seorang pelayan mengangkat tangannya, dia adalah seorang asisten cheff yang tengah malam terbangun dan sedang ingin menghirup udara malam karena dia tidak bisa tidur, jadi dia sedikit berjalan-jalan di taman, saat itu dia melihat dengan jelas, tuan Dazon dan teman-temannya naik ke Helikopter dan pergi.


Penjelasan dari Thomas membuat tuan Caesaar duduk di ruangannya sambil memikirkan sesuatu, jari telunjuknya masih mengetuk-ngetuk meja kerjanya dan sedang menunggu kedatangan cucunya.


~


"Kita akan mati, sial ! Apa yang terjadi, mengapa kakek pulang ke mansion secepat ini?" Ucap Dazon ketika Sebentar lagi helikopter mereka akan melakukan pendaratan di lapangan mansion.


"Kau yang akan mati Daz, bersiaplah, kakek Caesaar akan mendepakmu ke Inggris, entah berapa lama dia akan mengirimmu ke sana." Ucap Daneil, matanya tertuju langsung ke arah mansion.


"Jangan khawatir Neil, kakekmu akan berkerja sama dengan kakekku dan kita akan bertemu di asrama sebentar lagi." Jawab Dazon asal, dia terlihat seperti melamun.


"kalian berdua bisa tenang tidak sih, harusnya kita pikirkan cara supaya kakek tidak marah kepada kita, setidaknya kepada kalian berdua, ya, karena dari awal aku tidak berbohong kepada ibuku, jadi setidaknya aku hanya mendengar kemarahan dari kakek Caesaar saja." Ucap Jennifer menaikkan bahunya.


"Senang mendengarnya Jenn, lain kali ajari aku cara untuk berkata jujur kepada kakek Robert, dia pasti akan langsung membawaku bersamanya kemanapun dia pergi, haa, apa sih masalahnya, kita kan cuma berkunjung di satu desa, bukannya kita mau pergi untuk membuat kerusuhan." Ucap Daneil.


Jennifer menghembuskan napasnya dengan putus asa. "Jadi, kalian pergi ke desa itu tanpa tahu cerita mengenai desa itu?" Ucapnya penuh ironi.


"Memangnya kenapa?" Tanyanya.


Jennifer menarik napas, dengan sabar dia kemudian menceritakan cerita mengenai desa Turtle. "Desa itu baru-baru ini berkembang dan mulai menerima orang dari luar masuk ke desa mereka, desa itu dulunya sangat berbahaya bagi orang asing, ketika kita masuk ke sana tanpa seizin mereka, kita bisa di tangkap dan di penjara lalu di sembunyikan di penjara bawah tanah hingga kita meninggal dan menjadi tulang belulang. Dan bagaimanapun penduduk desa yang hidup pada masa itu, masih tinggal di desa turtle.


"meskipun sudah banyak yang berubah, tapi siapa yang tahu, apa yang penduduk desa itu pikirkan tentang orang dari luar yang datang ke desanya." Ucap Jennifer selesai menjelaskan kepada mereka berdua yang ternganga mendengarnya.


"Jika desa itu begitu mengerikan kenapa kakek membiarkan Ax tinggal di sana?" Tanya Daneil.


"Entah, mungkin dia memiliki pemikiran sendiri, siapa yang tahu apa yang di pikirkan kakek Caesaar." Ucap Jennifer.


Helikopter telah melakukan pendaratan, ketika sudah aman, ketiganya keluar dari helikopter begitupun Riel yang mengawal mereka.


"Pegang lehermu baik-baik Daz, bisa-bisa nanti hilang di bawa angin." Ucap Daneil tanpa rasa bersalah.


"Ck, diam Neil, jangan berisik, Sepertinya kita sudah ketahuan, lihat wajah Thomas di sana." Ucap Dazon berjalan menuju mansion.


"Tidak bisakah aku langsung pulang saja? Setelah di omeli oleh kakekmu, aku akan mendapatkan sesion ke 2 ketika tiba di rumah nanti, pasti kakekmu sudah menghubungi kakek Robert." Ucap Daneil berjengit, tiba-tiba merasakan dingin di tulang belakangnya.

__ADS_1


Mereka akhirnya tiba di dalam, Thomas melirik dan sedikit menunduk kepada Dazon dengan wajah setengah prihatin.


"Anda di tunggu oleh tuan Caesaar di ruangannya tuan dazon, dan tuan Daneil dan Nona Jennifer silahkan ke ruang makan untuk sarapan pagi." Ucap Thomas.


~


"Kau membuat tuan Dazon dalam masalah Efro, kenapa kau tidak bilang saja, 'aku tidak tahu', lihatlah akibat mulutmu itu, tuan Dazon bisa-bisa di kirim ke Inggris oleh tuan Caessar karena ulahmu." Ucap salah satu pelayan.


"Ma..mana aku tahu jika tuan Dazon akan mendapat masalah seperti ini, aku di tanya oleh Thomas, jadi kujawab saja." Elaknya.


Para pelayan berkumpul di belakang dapur, mereka semua sudah mendengar gosip jika tuan Caesaar sedang marah besar kepada tuan Dazon yang sudah beberapa kali melanggar peraturannya.


Hanna mengintip di balik tembok, "Setidaknya bukan aku yang mengadukan tuan muda itu." Gumam hanna, "dia pasti dalam masalah besar sekarang."


~


Sorot matanya tajam memandang Dazon, dia sudah duduk di depan kakeknya, tetapi tuan Caesaar belum sekalipun berbicara, hal itu membuat jantung Dazon cukup berdetak kencang.


Tuan Caesaar melepaskan kacamatanya, lalu menghembuskan napasnya, dia kemudian memperbaiki posisi duduknya.


"Melalui bukti cctv dan pengakuan seorang pelayan, tadi malam kau sudah melanggar aturan kakek dan pergi ke desa turtle." Ucapnya.


"Seorang pelayan?" Gumam Dazon, dia memikirkan siapa yang telah melihatnya malam itu dan pikiran Dazon langsung tertuju pada gadis pengunyah itu.


Dazon menganggukkan kepalanya. "Saya tahu kek." Ucapnya pasrah.


"Sayang sekali Daz, kakek akan mengirimmu ke inggris, supaya kau lebih banyak belajar di sana." Ucap tuan Caesaar penuh penyesalan.


"Kakek ingin kau belajar, bahwa ada batas-batas yang tidak boleh di langgar ketika kakek sudah memutuskannya, aku membuat keputusan itu untuk kebaikan kalian, dan aku melarang kalian kesana karena aku memiliki alasan kuat yang masuk akal dan itu untuk kebaikan dan keselamatan kalian." Ucapnya lagi.


"Kau mengerti apa yang kakek maksudkan?" Tanyanya.


"Ya, kek." Jawab Dazon sedikit menunduk pasrah dengan nasibnya.


"Kakek yakin, kau pasti sudah mendengar cerita tentang desa itu, dan bagaimana kehidupan di sana serta peraturan mereka."


"Saya sudah mendengarnya dari Jennifer." Jawabnya.


"Bagus, sering-seringlah mendengar, sehingga kau akan tahu alasan di balik pelaranganku jika kalian pergi ke sana." Ucap tuan Caesaar.


"Tapi kek, kalau desa itu berbahaya, mengapa Ax, maksudku kak Axton tinggal di sana? Bukankah di desa itu berbahaya." Tanyanya.


Tuan Caesaar memakai kacamatanya lalu menjelaskan kembali kepada dazon, "Meskipun Ax tinggal di desa itu, tetapi kakek sudah bernegosiasi dengan kepala desa di sana dan kakek menempatkan pengawal-pengawal yang mengawasi mereka terus menerus sampai batas waktu yang kakek telah tentukan, dan sayangnya negosiasi kakek hanya berlaku kepada Ax dan Fairley, jadi mereka memberikan perlindungan hanya kepada mereka berdua dan menjamin keamanannya, tetapi jika ada orang luar yang datang tanpa persetujuan kakek berarti keamanannya tidak bisa mereka pegang." Ucapnya.


Tiba-tiba Dazon bergidik, untung mereka tidak berlama-lama di sana, bagaimana jika mereka di sekap dan di bawa ke ruang bawah tanah? Pikir Dazon.

__ADS_1


"Kau sekarang mengerti kan Dazon?" Tanya tuan Caesaar.


"Saya mengerti kek." Ucap Dazon.


"Meskipun begitu Daz, kakek sudah memutuskan kau akan kubawa ke Inggris, ini sudah menjadi aturan kakek." Ucapnya.


"Ya, kek." Ucap dazon.


~


Dia berjalan lunglai, tubuhnya Seketika menjadi lemas tidak bersemangat, dia berjalan di sepanjang koridor seperti sedang menghayal. Meskipun kakeknya bukan tipe yang suka berteriak marah-marah tetapi kekecewaan yang terpancar dari wajah kakeknya kepada Dazon membuat itu lebih parah di bandingkan jika kakeknya melemparkan sesuatu kepadanya atau memarahinya.


Ponselnya berdering, Dazon menatap panggilan telepon dari ayahnya. "Ck, sial sepertinya aku mendapat kemarahan sesion ke 2 dari ayah."


~


Dazon berada di kamarnya, dia sedang duduk di depan mejanya, kepalanya terasa berdenyut, kemarahan ayahnya yang menggelegar telah melewati fase berbahaya untuk Dazon, Xaphier memarahi Dazon hampir dua jam lebih, Dazon menghembuskan napasnya pasrah dengan keadaannya, tetapi tiba-tiba ingatannya jatuh kepada pelayan yang melaporkannya.


"Gadis itu melaporkanku, aku sudah memperingatinya untuk tutup mulut tetapi sepertinya dia lebih memilih jujur kepada kakek." Gumam Dazon.


Dazon menekan ponselnya, dan menyuruh pelayan bernama Hanna untuk mengantar teh jahe untuknya.


Dazon menunggu Hanna di kursinya, dia menutup kedua matanya, terdengar ketukan dari luar kamarnya.


"Masuk." Ucap Dazon.


Hanna masuk, dan dengan tenang menaruh secangkir teh jahe di depan Dazon. Mata Dazon tajam menatapnya.


"Kenapa kau tidak mendengarkanku? Sudah kubilangkan kau harusnya diam dan tutup mulut, bukannya mengadukanku kepada tuan Caesaar." Ucap Dazon.


Hanna terkejut, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh tuan muda di depannya ini. "Apa maksud anda mengadukan?" Tanyanya bingung.


"Ck, berhenti berpura-pura, bukankah kau yang melaporkan aku kepada kakekku jika aku pergi semalam?" Tanyanya tajam.


Hanna menggeleng dengan cepat, "Bukan aku yang melaporkan kepergian anda tuan, yang melaporkan anda adalah...


"Sebaiknya kau keluar, aku tidak ingin mendengarkan alasanmu." Ucap Dazon jengkel.


Hanna masih berdiri dan terdiam di tempatnya berdiri, matanya bulat menatap dazon. "Kau tidak mendengarku?" Ucap Dazon, suaranya sedikit meninggi.


Hanna mundur beberapa langkah, dia sedikit membungkuk dan Dazon masih sempat melihat gadis itu menghapus sesuatu dari pipinya.


Pintu tertutup, Dazon masih memandang kepergian Hanna. "apa tadi dia menangis?" Gumamnya.


__ADS_1


__ADS_2